Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter II • Dengar IV | Dunia Dalam Ingatan II


__ADS_3

Empat pria bertopeng itu mengelilingi Intan. Salah satu dari mereka terlihat memberikan sebuah amplop berwarna kuning. Mereka lalu berdialog panjang, dari raut Intan terlihat sangat serius seolah memang hal penting.


"Aku sudah tahu apa isi surat itu. Mereka mengundang Intan untuk memasuki kelompok rahasia. Tapi, tahu tidak, bagian apa yang paling menarik dari isinya?" Ucap Elia terdengar serius.


Jon menggelengkan kepala, "tidak tahu. Memangnya apa?"


"Penutupan surat tertulis kata 'air gakuinia' di dalamnya."


"Bagaimana mungkin?!" Jon terkejut.


"Aku juga tidak tahu. Yang jelas, sepertinya sistem revolusi akademi sudah lama dirangkai oleh seseorang. Apa kau pernah curiga, mengapa Air Gakuinia dan Api Gakuin dapat semudah itu berdiri hanya dalam satu malam? Ini seharusnya mustahil. Pembuatan sistem Akademi tidak semudah itu, apalagi tanpa rapat besar."


Pandangan mata Jon terdiam melihat keseriusan Elia, berbeda dengan diri ingatan Elia yang hanya bisa terdiam memandang Intan. Raut wajahnya khawatir, seperti tidak berdaya.


Jon beralih memandangi Intan, dia ternyata masih berdialog dengan mereka. Sesaat Jon terpikir tentang sesuatu.


"Elia, apa menurutmu Intan setuju dengan undangan itu?" Tanya Jon tanpa berpaling.


"Dia pergi saat itu, sudah pasti dia menerimanya. Tapi—tentu saja aku masih belum percaya. Aku ingin tahu kebenaran—"


"Tanpa kau mencari kebenarannya pun, menurutku apa yang kau rasakan itu benar," potong Jon membuat Elia terkejut.


"Kenapa kau pikir begitu?"


Pandangan Jon beralih pada raut mata Elia. "Aku memang tidak tahu sedekat apa hubungan kalian, tapi ketika ku lihat wajahnya yang bahagia saat bersamamu, itu rasanya sudah cukup. Sepertinya dia memiliki alasan tersendiri untuk hal itu."


Elia menunduk. Mulutnya membisu.


"Jelaskan padaku," lanjut Jon, "apa setelah ini kau ikut bergabung dengan kelompok rahasia itu?"


"Tidak," jawabnya, "saat itu aku memang ingin ikut dengannya, namun aku takut. Aku terus mengurung diri di kamar hingga seseorang datang menjemputku."


"Seseorang?"


Tiba-tiba Elia mengangkat tangannya. Cahaya terang keluar dari sela-sela jari dan telapak tangan. Dua jarinya ia jentikkan sehingga Jon dan Elia kini tak lagi berada di kereta kuda, keberadaannya pindah ke dalam sebuah ruangan kamar yang tampak berantakan.

__ADS_1


Ternyata waktu sejarah telah dilompat. Pandangan beralih pada sebuah jendela ruangan, kini hujan berganti terik. Ruangan terasa panas dan pengap.


"Di mana ini?" Tanya Jon.


"Ini kamarku. Coba kau lihat di bawah kasur."


"Bawah kasur?" Jon menunduk mengikuti perkataan Elia.


Seketika Jon dibuat terkejut ketika pandangannya sudah menyebar ke penjuru bawah kasur, dirinya melihat Elia sedang berbaring seperti bersembunyi. Mata dan pipinya dibanjiri air mata. Mulutnya membisu, tak sedikitpun mengeluarkan suara. Rambutnya sangat berantakan seakan sudah lama tersiksa.


Suara langkah kaki terdengar dari balik pintu. Pintu terbuka perlahan menampakkan seorang gadis berambut coklat. Kulitnya putih sangat cantik. Raut wajahnya seolah dipenuhi rasa khawatir.


"Elia, aku tahu kau ada di sini. Sekarang tolong dengarkan aku," ucap gadis itu, "Aku bukanlah salah satu dari mereka, karena itu aku tidak tahu apapun tentang rencana mereka."


"PEMBOHONG!" Teriak ingatan Elia dari bawah kasur sembari terisak, "kau sebelumnya bilang kalau kau tahu tentang hal itu. Apa kau tidak berpikir seberapa berharganya Intan untukku?!"


"Maafkan aku, Elia, tapi aku tidak ada pilihan lain. Saat ini banyak kelompok ilegal berjalan dalam bayangan, aku khawatir akan terjadi sesuatu yang besar. Karena itu, aku menciptakan kelompokku sendiri sebisa mungkin," gadis itu terlihat bersedih, "aku berjanji Elia, aku akan mencari informasi tentang kelompok yang menculik Intan. Karena itu, bergabunglah denganku."


Seketika waktu terhenti kembali membuat semuanya diam bagai membeku. Elia menghentikannya dengan menjentikkan jari kembali.


"Kau tahu dia siapa?" Tanya Elia sembari menunjukkan jari pada gadis berambut coklat.


"Temanmu?"


"Bisa dibilang begitu," jawabnya, "dia Listyana Airia, gadis yang menjadi Ratu dan simbol kebangkitan Air Gakuinia."


Jon tertegun seakan tak percaya. Ternyata Airia berada diluar perkiraannya.


"Tunggu dulu, aku masih belum mengerti," ucap Jon, "apa kelompok Airia itu awalnya memang bukanlah kelompok ilegal?"


"Bukan, kelompoknya itu benar. Seharusnya tidak mungkin berujung perpecahan."


"Kalau begitu, kenapa dia jadi pemimpinnya? Bukankah dia berkontribusi dalam perpecahan?"


"Semua itu salah, Jon," ucap Elia menjelaskan sambil berjalan ke dekat jendela, "setelah Airia mengundangku, keesokan harinya aku bergabung. Di sana pun sudah ada Viena sehingga kami menjadi teman dekat. Kau tahu kan, Viena bisa membaca masa depan asalkan dekat dengan targetnya? Saat itu dia menggunakannya pada Airia secara diam-diam."

__ADS_1


"Apa yang didapatkannya?"


"Airia akan dijebak lalu dijadikan pengantin. Dia sudah dijebak beberapa hari sebelum pernikahan. Setelah pernikahan gagal, Airia ditidurkan sebagai ganti dibunuh. Sepertinya memang tak ada yang ingin membunuhnya—setidaknya akupun tidak mengerti apa alasannya," Jelas Elia dengan mata memicing, "tapi ada sesuatu yang paling penting, 'seorang pemimpin dari kalangan pria di akademi timur bisa membangunkannya,' begitu katanya."


"Itu adalah 'Tuan Gen?'"


"Ya, hanya dia. Awalnya aku tidak tahu karena ku pikir orang yang dimaksud itu adalah orang selain dia, tapi Tuan Gen telah bermimpi tentang Airia. Suatu saat dia akan mengecup bibir Airia agar terbangun dari tidurnya, namun sebelum itu terjadi, dia perlu selamat dari banyak halangan. Karena itu, aku dan Viena saat ini akan setia padanya."


"Tunggu dulu, halangan apa yang kau maksud?" Tanya Jon sangat serius.


"Pembunuhan," jawab Elia sesaat Jon terkejut, "mungkin kau sudah tahu siapa orangnya, namun ada satu hal yang mungkin sulit kau terima. Romenia Ankara, sahabatmu yang kini sedang dipenjara, dia pun akan menjadi salah satu penghalangnya."


Jon seketika terdiam.


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita

__ADS_1


__ADS_2