
Tubuh terasa lemas. Suara kicauan burung terdengar merdu melantun bagai kedamaian. Udara hangat berhembus menerpa wajah lalu terasa mengibasi bulu mata dan rambut.
Perlahan Tuan Gen membuka mata melihat teriknya cahaya dari jendela yang terbuka. Selimut tebal terasa menyelimuti tubuhnya. Bantal empuk terasa menahan kepalanya.
Tepat di atasnya, atap putih berhiaskan lampu mewah bergantung menghiasi ruangan. Rak lemari buku berwarna coklat di dekat pintu, terlihat banyak sekali koleksi buku—ada buku tua yang sangat besar hingga buku tipis seolah lembaran data. Lemari yang sangat besar memiliki empat pintu seakan menyimpan ribuan baju di dalamnya. Meja belajar mewah dari kayu jati, serta lampu belajar dan buku catatan putih di atasnya. Ah, semua tak asing lagi.
"Sejak kapan aku tidur di kamar?!" Ucap Tuan Gen terkejut sembari beranjak beralih ke posisi duduk.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Seseorang memasuki kamar. Badannya kekar, berambut panjang berantakan, serta sebelah matanya memakai penutup mata. Ternyata Yen.
"A—Tuan, selamat pagi. Ternyata anda sudah bangun." Ucap Yen berhenti tepat di dekat Tuan Gen dengan posisi tegap berdiri lalu membungkuk hormat.
"Pagi?" Tuan Gen beralih melirik jendela kembali. Cahaya mentari terlihat begitu terik saat ini. "Itu benar. Sekarang sudah pagi, tapi—" Mata Tuan Gen terbelalak seakan mengingat sesuatu, "—tunggu dulu, bukannya tadi aku ada di labora—"
Yen memotong. "Semua baik-baik saja, Tuan. Sebaiknya anda berterimakasih kepada Roy. Dialah yang menemukan anda tidak sadarkan diri."
"Tidak sadarkan diri? Di mana?"
"Sepertinya tidak jauh di luar benteng kastil Tuan Rom."
Seketika tubuh Tuan Gen terasa lemas mendengar itu. Ia menjatuhkan tubuhnya kembali lalu menghela napas panjang. "Ternyata semua sudah berakhir ya. Gadis itu sepertinya sudah kembali." Gumam Tuan Gen.
"Kalau begitu, kami tunggu di ruang utama, Tuan. Mohon segera bersiap."
"Oke, baiklah."
Yen sedikit tersenyum sembari membalikkan badan. Ia kemudian melangkah pergi lalu menghilang dibalik pintu kamar.
°
°
•••
°
°
Tuan Gen melangkah memasuki ruangan utama kastil. Langkahnya dari hantaman sepatu mewah dan lantai terdengar kencang membuat beberapa pelayannya berbaris lalu hormat di dekat pintu. Aura keberadaannya sangat kuat membuat siapapun yang melihatnya tak sanggup berbuat buruk padanya.
Ia lalu duduk di kursi tahtanya. Tepat di sebrang meja, empat orang bawahannya berdiri tegap penuh rasa hormat. Di atas mejanya sudah terlihat banyak tumpukan kertas laporan yang seketika membuat Tuan Gen menghela napas.
"Selamat pagi Tuan. Kami senang anda bisa kembali." Ucap Jon, rambut pirangnya seperti biasa sangat berantakan.
"Ya, aku bersyukur. Sungguh melelahkan kemarin itu." Pandangan seketika beralih pada Roy, "aku sangat berterimakasih padamu, Roy. Ternyata kau rela menjemputku dengan membawa pasukanmu."
__ADS_1
Roy hanya membungkuk hormat. "Akan saya lakukan bila anda dalam bahaya."
Tuan Gen tersenyum. "Aku sangat menghargaimu, tapi jangan pernah lakukan serangan putus asa. Nyawamu itu sangat penting bagiku."
Seketika Roy membelalakkan mata seakan terkejut. "Terimakasih atas perhatiannya, Tuan."
Pandangan Tuan Gen beralih pada lelaki berbadan kekar. "Sam. Aku sangat jarang mendengarmu bicara. Bagaimana kabarmu?"
Sam membungkuk hormat. "Tentu, saya baik-baik saja, Tuan Gen."
"Bagus kalau begitu," balasnya sembari menganggukkan kepala, "adakah informasi yang kau terima?"
"Semua sudah saya letakkan di atas meja anda, Tuan."
Pandangan Tuan Gen beralih ke mejanya lagi, matanya seakan lelah melihatnya. Hati kecilnya seakan baru saja menyadari bahwa kehancuran akademi akan membawa permasalahan lain, permasalahan yang awalnya tidak ada akan mulai bertumpukkan bagai makanan. Makanan yang Tuan Gen benci namun harus segera dimakan.
"Permasalahan itu diantaranya ekonomi kita, setelah kehancuran akademi maka ekonomi kita tak bisa berjalan. Kita perlu memperbaharuinya. Lalu tatanan sosial, kita perlu menatanya. Adapun buruknya moral siswa pada kepemimpinan anda, kita perlu memperbaikinya agar semua terkendali." Jelas Sam panjang lebar.
"Aku sudah mengira akan begitu." Ucap Tuan Gen sangat paham.
Pandangan Tuan Gen beralih pada Yen. "Sekarang satu hal yang ingin ku dengar, Yen. Apakah di luar sana sedang ada aktivitas militer?"
"Maksud anda, tentang provokasi Tuan Rom? Menurut bawahan saya, Tuan Rom sama sekali tidak mengerahkan pasukannya."
"Setidaknya Tuanku Rubby menanggapi rencana Tuan Rom dengan sikap baik." Potong Yen membuat Tuan Gen beralih terkejut.
Tangannya memukul meja di hadapannya sembari berdiri. "Apa maksudmu? Tuanku Rubby menerima itu dengan baik? Sebenarnya ada apa selama aku tidak sadarkan diri? Singkatnya jelaskan padaku!"
"Tuan Rom menjadikan aksi penyerangan kastil sebagai alasan ingin melakukan penyerangan. Anehnya semua kerugian yang mereka miliki disalahkan pada Air Gakuinia. Kerugian besar itu tentunya membuat Tuanku Rubby memihak pada Tuan Rom namun belum bisa mengabulkannya." Jelas Yen.
"Sialan si pengkhianat itu!" Kesal Tuan Gen dengan raut wajah masam, "asal kalian tahu, orang seperti itu akan segera hancur di mata kebaikan. Perbuatannya benar-benar keterlaluan!"
Raut Tuan Gen mulai tenang kembali setelah seorang pelayannya membawakannya segelas teh hangat. Aromanya langsung tercium oleh hidung Tuan Gen sehingga menenangkan hatinya yang membara. Teh manis buatan para pelayan kesukaan Tuan Gen.
"Lebih baik anda minum teh terlebih dahulu. Ada kalanya tubuh memerlukan istirahat tanpa memikirkan apapun." Ucap Yen di sampingnya.
"Baiklah, terimakasih Yen. Aku tidak menyangka para pelayan masih ingat teh kesukaanku."
Tuan Gen langsung menyeruput teh manis itu. Mulutnya seketika terasa hangat mengalir melalui tubuhnya. Otaknya seakan tenang tidak ingin lagi berpikir hal yang memberatkan, apalagi ini adalah hari yang baru.
Di kala Tuan Gen memfokuskan diri pada teh itu, seketika Sam berbicara sesuatu yang tidak biasa.
"Maaf Tuan Gen, sebetulnya kami telah membawa anggota baru." Ucap Sam terdengar sedikit ragu, namun tidak terlalu aneh bagi Tuan Gen.
Terdengar suara langkahan kaki mendekat. Aroma udara seketika tercium wangi bunga kasturi. Aura terasa menyegarkan seakan berbeda.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan Gen."
Suara itu terdengar seperti suara gadis. Sontak Tuan Gen terkejut hingga tak sengaja menumpahkan tehnya hingga berakhir jatuh membasahi celana.
"K—Kamu—Viena?!"
Gadis berambut abu itu tersenyum manis. "Ya, aku Viena. Senang bertemu denganmu lagi, Tuanku. Aku juga membawa satu teman—"
Seorang gadis berambut pendek dan memakai kimono datang. "Salam kenal Tuan, Saya Elia, teman dekat Viena."
Tuan Gen seakan tidak percaya. Gelas yang sudah tumpah terlihat bergetar-getar. Semua bawahannya sempat menahan tawa karena tidak pernah menduga ternyata Tuan Gen lemah terhadap gadis.
Seketika Sam mendekat lalu berbisik pada Tuan Gen. "Tuan, anda benar-benar memercayai mereka? Apa anda yakin mereka bukan mata-mata?"
Jon mendengar itu. Tangannya tiba-tiba menepak punggungnya. "Ayolah, Sam. Mereka adalah gadis baik-baik. Tidak mungkin mereka mata-mata. Iya kan, Viena?" Ucap Jon sembari menampakkan aura ketampanannya. Tangannya mengibaskan rambut poninya dengan penuh senyuman manis.
Viena menyambut aura Jon dengan wajah masam. "Aku kemari karena kagum dengan Tuan Gen. Aku sama sekali tidak tertarik denganmu."
Mendengar itu sontak Jon merasa sakit hati. Tubuhnya seakan terjatuh tak berdaya dalam jurang kegelapan. Sam hanya menertawakannya. Semua seakan tak merasa keberatan dengan kejadian ini.
Hari menjadi semakin indah.
"Baiklah," Tuan Gen mengerti, dia lalu berdiri sembari tersenyum, "selamat datang kalian berdua. Aku bersyukur kalian ingin bergabung bersamaku."
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
Info tentang kepenulisan Arafura :
Twitter/instagram : @alaksinita
__ADS_1