
Kelewatan murka, Tuan Gen tak segan-segan menghantam meja berdaulat di hadapannya. Tangannya yang kuat seperti monster nyaris membuat urat nadinya keluar.
"Apa maksudnya ini?! Kenapa kau ingkar janji?!"
Rubby hanya tersenyum bersembunyi dalam ketenangan dan kesempurnaannya.
"Oh ya, Tuan Gen, sepertinya bukan anda yang menjadi atasan?" Ucapnya mengejek sangat pahit, "—dan bisakah anda ganti sebutan 'kau' dengan 'Tuanku Rubby?'"
Tuan Gen hanya bisa menampakkan taringnya dengan tatapan tajam dari bola mata merahnya.
lelaki yang terlihat sombong itu bernama Rubby, lebih tepatnya namanya berubah menjadi Tuanku Rubby. Dia adalah ketua osis Akademi Api Gakuin. Statusnya kini sudah bagaikan raja, dia bisa meminta apapun dan memenjarakan siapapun tanpa ada yang menahan.
Rambutnya berwarna perak seperti pangeran cahaya, siapapun yang sekilas meliriknya maka akan jatuh cinta padanya, apalagi dia selalu berjalan dengan raut wajah yang anggun, itu sudah seperti sihir utama baginya.
Matanya merah, hampir sama seperti mata Tuan Gen, tetapi ia sedikit hitam seolah dipenuhi api dendam—api kehancuran yang tiada tanding. Meskipun begitu, tidak ada yang tahu, dia tak pernah membuka matanya sembarangan, hanya tersenyum dan berkata manis di hadapan setiap orang.
Ini sungguh tidak adil! Kenapa dia berniat memimpin secara ABSOLUT!—hati Tuan Gen sangat kesal, tapi bukan itu yang membuatnya marah hingga berani menghantam meja.
Tuan Gen telah dikhianati oleh ucapannya. Pada janji kemarin malam, sebelum segalanya telah disepakati bersama—rangkaian pemerintahan, keamanan, keuangan, dan tatanan sosial—Rubby sudah berjanji tidak akan berurusan dengan pria yang dahulu pernah menjadi wakil ketua osis itu.
Namanya Rom, Tuan Rom, penampilannya selalu berdasi dan berompi coklat. Dia memang tidak setampan Rubby, tapi pandangan matanya lebih menindas tanpa ampun. Rambut pirangnya yang rapi dan gayanya yang mewah. Sangat dibuat muak bagi Tuan Gen. Sihir harta itu sudah cukup untuk membungkam segalanya.
Rubby hanya terus tersenyum.
"Aku yakin Tuan Gen, aku memang bersalah karena mengingkari itu, tapi keberadaannya—"
Tuan Gen memotong, "Keberadaan apa? Dia hanya membawa kesengsaraan. Segala yang dilangkahinya hanya akan berakhir terhinakan, segala yang ditujuinya hanya berlandaskan kepentingan! Kau juga tahu itu kan?!"
Bukan sekadar kebencian biasa, Tuan Gen punya alasan dibalik ini. Sebelum akademi hancur, Tuan Rom adalah wakil ketua osis bagi Rubby. Wajar saja Rubby memercayainya sebagaimana rekan seperjuangan, tapi tentu saja Tuan Rom menyembunyikan segala kelicikannya agar terlihat baik dihadapan Rubby.
Sungguh buruk, apalagi Rubby adalah pelaku utama yang membuat Akademi runtuh—yaitu mempelai pria atau calon suami bagi seorang wanita terkemuka dikalangan siswi akademi, Araria.
Rubby tetap tersenyum dan tersenyum. "Sudah ku bilang, Tuan Gen, gunakan sopan santunmu. Bisa jadi aku memecatmu sekarang juga, kau paham kan? Tuan Gen?"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali. Obrolan antara Rubby dan Tuan Gen pun seketika terhenti. Pintu itu kemudian terbuka memperlihatkan seorang pria berompi dan berdasi coklat. Tuan Rom. Dia datang dengan wajah yang pedas, terlihat penuh senyuman yang menindas.
"Hai, Tuan Gen, sudah lama kita tidak bertemu." Sapa Tuan Rom.
__ADS_1
Tentu saja Tuan Gen tidak membalasnya, ia hanya menampilkan taringnya sembari mengepalkan tangan akibat meledaknya kekesalan.
Kedatangan Tuan Rom disambut oleh Rubby dengan tangan terbuka, ia berdiri sembari mengulurkan tangannya.
"Selamat siang mantan wakilku!"
Tuan Rom terlihat sedikit tertawa. "Sapaan yang aneh."
Mereka pun bersalaman. Tuan Rom kemudian duduk di samping Tuan Gen yang telah dipersiapkan Rubby untuknya.
Sembari merapihkan kerah dari kemeja putihnya, Tuan Rom melirik ke arah sebuah kertas di atas meja berdaulat itu.
"Jadi berapa kelompok yang telah kau tentukan, Tuanku Rubby?"
Rubby terkejut. "Ternyata kau sudah tahu gelar baruku. Dari mana kau tahu itu?"
Tuan Rom sedikit tersenyum. "Tentu saja, bawahanku tahu itu. Sekalipun akademi runtuh, informasi tak akan terputus dariku."
Rubby tersenyum senang. "Aku syukur mendengarnya. Apalagi kau terlihat baik-baik saja setelah kehancuran itu."
Tuan Gen sangat kesal. "Bisakah kita memulai kesepakatan? Jangan membuat kesempurnaan kalian menjadi setara orang ***** yang tak ada harga dirinya."
Tuan Rom sedikit tersinggung. "Permisi? Apa yang barusan kau katakan?"
Tuan Gen membalas tatapan. "Ya, aku hanya sedikit khawatir padamu, Tuan Rom. Mungkin jika percakapan tadi dilanjutkan, orang-orang akan menganggap keberadaanmu tidak lebih dari orang *****."
Ucapan itu malah membuat Tuan Rom tertawa. "Tuan Gen, sekarang kau mulai menjadi humoris. Aku sangat tersanjung diperhatikan olehmu." Tangan kanan Tuan Rom menepuk-nepuk pundak Tuan Gen. Perlahan-lahan tepukan itu terhenti hingga berakhir cengkraman keras, begitupun dengan tawanya, hanya berganti senyuman penindasan.
Terlanjur tak tahan kesal, Tuan Gen langsung menangkap tangan itu dengan tangan kanannya. Tangan itu dibalas dengan cengkraman sembari membalas tatapan tajam dengan senyuman kematian.
Rubby seketika menepuk meja.
"Ngomong-ngomong soal kelompok, aku hanya menentukan dua saja. Hanya kalian."
Aksi saling tindas itu seketika berakhir. Tuan Rom menanggapi.
"Kenapa hanya kami? Tidak seperti biasanya kau begitu."
__ADS_1
Rubby tersanjung. "Ya, memang ini gaya pemerintahanku yang baru. Kalian—kelompok Margavalla yang dipimpin oleh Tuan Gen dan Kelompok Arbelen yang dipimpin oleh Tuan Rom—akan menjadi dua kakiku yang menjalankan pemerintahan ini. Setiap bawahan kalian memimpin ribuan siswa yang akan patuh, ku kira semua itu sudah ada penjelasannya di surat kalian."
Tuan Gen menambahkan. "Lalu terkait wilayah, bukankah itu belum ada catatan persetujuannya?"
Rubby menanggapi. "Aku sudah menentukan itu. Untuk Kelompok Margavalla, aku serahkan bagian selatan wilayahku padamu, dan sebaliknya bagian utara, ku serahkan pada Kelompok Arbelen."
Tuan Rom mengangguk setuju. "Itu bukan tawaran yang buruk. Meski Akademi sudah terpecah menjadi dua lalu dari setengah itu dibagi dua lagi untuk kami, itu bukan masalah."
Dasar perhitungan!—pikir Tuan Gen.
"Itu bukan masalah bagiku—" ucap Tuan Gen dengan sangat percaya diri, "—besar kecilnya wilayah, aku yakin wilayah Margavalla akan mengalahkan mereka—Air Gakuinia."
Tuan Rom menanggapi. "Bukankah wilayahmu itu adalah bagian dari Api Gakuin? Kalau begitu kita bekerja sama. Tuan Gen."
Setelahnya kesepakatan hanya berlangsung beberapa puluh menit saja, hanya memperjelas ketentuan sebelumnya tentang hal-hal yang diperlukan untuk membangun kembali kemakmuran termasuk pertumbuhan ekonomi. Setelah itu semua berakhir, Rubby pun menyilakan dua orang yang menjadi dua kakinya itu untuk segera pulang dan mempersiapkan segalanya.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
Info tentang kepenulisan Arafura :
Twitter/instagram : @alaksinita
__ADS_1