Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Perjanjian Dan Ledakan III | Bagaikan Kilat Di Kegelapan Hujan


__ADS_3

Air Gakuinia sebenarnya tidak dikuasai oleh gadis bernama Airia seperti yang Tuanku Rubby kira. Mantan calon istrinya itu setelah memisahkan diri dari Akademi Gakuin dan menjadi wilayah independen, ia lebih memilih menutup diri dari publik. Sosoknya tak lagi terlihat kecuali keberadaan sistem pemerintahannya yang tampak tak dikenal. Perdana mentri—begitu yang mereka sebut. Jabatan itu adalah penguasa yang sebenarnya, orang yang memegang otoritas pemerintahan sebagaimana ketua osis pada umumnya. Airia memang menjadi ketua osis seperti mantan calon suaminya, Tuanku Rubby, namun Airia ternyata hanya sebatas dijadikan simbol bagi Akademinya tanpa memiliki wewenang untuk memberikan pengaruh. Keberadaan Airia sangat dihormati dan dicintai tetapi apa yang menjadi aturan di dalam akademi segalanya hanya melalui ketentuan perdana mentri.


Airia memang terlihat seperti boneka yang sekadar menjadi penghias atau simbol yang indah belaka, tetapi tak ada satupun yang mempermasalahkan itu. Aio memerhatikan lingkungan Akademi seakan tak ada satupun keburukan, mereka seakan sudah bangkit dari keterpurukan lalu dapat kembali hidup bebas dengan roda aturan yang sudah kembali berjalan. Orang yang melakukan kesalahan akan ditangkap, orang yang bermalas-malasan akan diamankan, segalanya seakan sudah sangat membaik—setidaknya begitulah apabila sekilas dipandang. Namun, tentu saja ada keanehan dalam perpolitikan di sana. Apakah hal itu memang sesuai dengan keinginan Airia? Tidak ada yang berpikir tentang hal itu, bahkan seorang Aio dan kawannya saja bisa membantah bahwa pemikiran Airia sama sekali tidak menjadi landasan pemerintahan. Kemajuan yang di dapatkan hanya dalam satu hari seolah hanya menjadi sampul awal pengindah saja dari berbagai kekotoran konflik yang disembunyikan dalam lembaran-lembaran berikutnya. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang peduli juga tentang hal itu.


Perdana mentri mereka bernama Lizza. Seorang gadis bertubuh pendek seperti anak-anak. Ia selalu memakai gaun merah seolah langsung menggambarkan dirinya sebagai gadis pemberani. Memang seperti itu kenyataannya. Gadis itu bisa saja tak segan melawan siapapun yang menentangnya lalu menghancurkannya dalam sekejap seolah tidak memberi waktu musuhnya untuk bernapas. Dia pun tak peduli apabila berjalan seorang diri di wilayah konflik, tapi anehnya tak ada satupun yang bisa menyentuhnya apalagi menaklukannya. Matanya begitu merah pekat seperti seorang pembunuh berdarah dingin lalu rambutnya berwarna hitam panjang melambangkan keanggunan rupawannya. Senjata andalannya ialah rantai besi berduri. Jangkauannya sangat jauh dan bisa menumbangkan empat musuh hanya dalam satu tebasan. Rasanya sangat beruntung bila melawannya lalu berakhir hanya sebatas tumbang saja, ada beberapa orang yang dibencinya berakhir dengan dibelenggu hingga sangat tersiksa, bila ingin balik membalas untuk melawannya maka sudah tiada kesempatan lagi, rantai itu bisa mengikat lalu menarik senjata musuh sehingga benar-benar dibuat takluk. Semua orang menghormatinya. Semua orang sangat tunduk padanya.


Empat kelompok telah didirikan di bawah otoritasnya. Kelompok-kelompok itu bernama Novelyn, Valentyn, Ravelyn, dan Varhalla. Satu per satu dari kelompok memegang bagian wilayah kekuasaan Air Gakuinia sehingga berperan penting dalam keberadaan Akademi. Bagi Aio yang telah mendapat segala informasi itu dari usaha pengintaiannya, ia mengakui keberadaan Akademi Air Gakuinia kini sudah berbeda. Tidak lagi penuh kesamaan seperti dahulu. Mustahil bila seandainya ada konflik, segalanya bisa diselesaikan hanya dengan negosiasi.


Shin terkejut dengan penjelasan panjang lebar dari Aio, ia benar-benar mengetahui secara mendetail misteri tentang Akademi Air Gakuinia. "Bagaimana mungkin kau bisa tahu sedetail itu?" Tanya Shin.


"Kami masuk perkumpulan mereka dengan menyamar. Ya, setidaknya memakai gaun dan rambut palsu itu sangat melelahkan." Balasnya.


Shin terkejut. "Memakai gaun? Tidak seragam biasa?"


"Awalnya seragam biasa. Tapi, saat itu kebetulan ada pesta—tidak, lebih tepatnya perkumpulan untuk membahas satu dua permasalahan."


Shin mengangguk. "Baiklah, aku mengerti. Tinggal satu hal yang tertinggal, sebenarnya apa tujuan mereka? Apa yang ingin mereka lakukan?"


Aio menundukkan pandangan. "Lizza hanya ingin satu hal. Ia ingin membunuh Tuanku Rubby lalu mengambil kekuasaan Api Gakuin."


Kedua mata Shin terbelalak terkejut. "Kapan mereka akan melakukannya?"


"Sejujurnya aku tidak tahu tapi menurutku rencana besar itu setidaknya tidak akan berjalan cepat."

__ADS_1


Obrolan pun berakhir sejenak. Minuman teh hangat yang sudah habis membuat dua gelas kosong terdiam di antara Shin dan Aio. Boks tempat mochi pun sudah habis, hanya menyisakan butiran-butiran gula manis yang berserakan. Shin menatap sekeliling taman sembari menghela napas seolah berkata bahwa segalanya semakin merepotkan. Apalagi Aio, dia sudah sangat paham perselisihan tidak sehat yang ada antara Tuan Rom dan Tuan Gen. Mungkin hal itu akan sangat menghambat dan membuat Api Gakuin semakin tertinggal.


Hujan tak kunjung berhenti. Tak terasa sedikit cahaya dari langit tampak menghilang. Udara semakin dingin dari sebelumnya. Ternyata waktu malam telah tiba. Wajar saja, keberadaan malam dan sore seakan tidak bisa dibedakan bila sedang dalam keadaan mendung, tapi hembusan udara dingin seakan membawa aura lelah pada tubuh. Ingin rasanya tidur nyenyak seperti zaman di mana Akademi masa lalu masih berdiri. Tak ada gangguan. Tak ada halangan. Ah! Aio membenci segala keterbatasan ini!


Di antara ketenangan dari ribuan suara hantaman air hujan, terdengar suara aneh dari balik semak halaman. Tidak, itu sangat berbeda dengan suara-suara yang berkaitan dengan hujan—lebih terdengar seperti patahan ranting yang dibarengi suara dedaunan. Pandangan Shin mulai terdiam—seakan mulai semakin waspada, namun sayangnya Aio tidak menyadari itu, ia malah melirik ke arah semak di mana suara itu berasal lalu terdiam selama beberapa detik. "Suara apa tadi?" Ucap Aio dengan pandangan polos.


Shin seketika kesal. "Cih, dasar tidak peka!"


Seketika tanpa pikir panjang Shin melempar sebuah pisau ke arah semak itu. Seorang gadis berambut abu melompat keluar sembari memegang banyak pisau ditangannya. Pisau itu seketika ia lempar ke arah Shin dan Aio berada.


"Awas Aio!!"


Pisau itu langsung mengenai kayu pondasi gazebo. Sebuah bola kecil yang terikat dengan pisau itu menyala lalu meledak tanpa diduga. Ledakan itu membuat gazebo rubuh melahirkan debu-debu dan gemuruhnya suasana.


"Sial. Aio!!" Kesal Shin pada Aio, "jangan bilang kau selalu tak peka dengan sekitarmu?!"


Shin memotong ucapannya. "Bukan tentang suara semak tadi maksudku, gadis itu pasti membuntutimu sejak kau kabur!"


Aio kesal. Gadis itu seakan terlihat seperti mesin pembunuh. Wajahnya seperti datar penuh kepolosan lalu pandangan matanya kosong tanpa pikiran. Tak ada yang tahu siapa gadis itu, tapi Shin berpikir gadis itu sedang mengincar Aio.


"Aio." Ucap Shin dengan posisi tubuh bersiap bertarung, "sepertinya kau yang jadi targetnya. Itu berarti informasi yang kau dapatkan sangatlah penting. Aku ingin kau segera kembali pada Tuan Rom."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Ayolah! Jangan buat aku menunggu! Aku ingin kau segera sampaikan informasimu pada Tuan Rom. Cepat!"


Aio kemudian berlari menuju kastil. Bola-bola kecil tampak dilemparkan ke wilayah kastil oleh gadis itu. Ledakan-ledakan besar tak terbantahkan membuat kastil terguncang dan pepohonan terbakar.


"Sial, gadis ini merepotkan." Gumam Shin kesal.


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••

__ADS_1


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2