
Ruangan rapat tampak terang dan hangat. Lampu listrik seluruhnya memang dimatikan tetapi lilin-lilin berbatang warna-warni menyala bebas di atas meja bundar. Hanya kumpulan api kecil itu yang membuat suasana tampak terang, entah memang inilah kebiasaan Tuan Rom untuk menghemat listrik atau memang hal yang disukainya apabila sedang berkumpul, tidak ada yang tahu betul tentang itu. Kobaran api dari kayu bakar di perapianlah yang membuat ruangan terasa hangat. Kepulan asap yang pekat tidak menjalar meracuni sekitarnya melainkan terbang pergi seolah segera bersembunyi ke dalam cerobong asap. Dari jendela terlihat langit sedang gerimis, benar-benar tidak kunjung berubah seperti sedang bersedih hati. Angin ribut mengguncangi pepohonan, siapapun yang melihatnya akan yakin bahwa di luar sana suhu terasa dingin mencekam. Suatu keberuntungan kecil bisa berada di ruangan ini meskipun kenyataannya Tuan Gen membencinya.
Ruangan ini adalah kekuasaan Tuan Rom. Dia duduk di atas kursi yang tampak mewah persis seperti kursi raja—hampir bermandikan kilauan warna emas—sedangkan yang lainnya hanyalah kursi kayu biasa. Meja bundar yang sangat besar menyatukan semuanya dari jauhnya jarak. Berkas-berkas khusus terlihat memenuhi meja terutama bagian di dekat Tuan Rom, segala jenis kertas yang dipenuhi coretan tinta hitam dan cap khusus berwarna merah berserakan layaknya sampah biasa. Mata Tuan Rom memerhatikan segala tulisan pada kertas itu satu per satu tanpa terkecuali, rautnya sungguh serius seperti benar-benar sudah terbiasa. Tuan Gen memerhatian dua orang bawahan Tuan Rom. Lelaki bernama Anggo sedari awal terus saja menulis di buku kecil dengan pensilnya tanpa berkutik sedikitpun. Ziyo terlihat lesu dengan raut masam tak indah, entah memang bosan atau tidak, tapi yang terpenting dia tidak pergi. Matanya selalu berpaling dari pandangan Tuan Gen sehingga sempat membuat amarah Tuan Gen datang dan pergi.
Tuan Rom menggeser sebuah kertas di atas meja bundar ke arah sampingnya, yaitu pada Tuan Gen. Kertas itu rupanya sudah sangat usang seperti telah diwarnai warna coklat tanah. Saat Tuan Gen menyentuhnya, kertas itu memang kasar dan berbau tanah. Berbagai sisinya sudah robek, bahkan ada bagian-bagian kecil yang hilang meskipun tidak dengan isinya.
Tuan Rom memperjelas kebingungan yang tampak pada raut Tuan Gen. "Kertas itu di dapat dari seorang gadis yang datang kemari saat malam kekacauan. Saat itu memang sedang terjadi hujan. Kerusuhan yang melanda tempat-tempat luas membuat gadis itu berjalan kemari melewati semak-semak dan pepohonan. Gadis yang sungguh malang."
Tuan Gen sedikit penasaran. "Apa gadis itu selamat? Bukankah tempat ini dijaga ketat? Aku meragukannya."
Tuan Rom menggelengkan kepala. "Sangat disayangkan. Gadis itu baru ditemukan tewas. Tiga anak panah tertancap di dadanya dan sebagian tubuhnya terbenam dalam lumpur. Kertas inilah yang tersisa darinya."
Pembawa pesan terbunuh—hal ini tidak sekali saja terjadi. Para gadis itu memang selalu nekat untuk mengirim pesan langsung ke tempat pusat musuhnya. Tuan Gen pun pernah menerimanya, surat yang usang nyaris tak terbaca, namun ia abaikan ketika sebagian dari surat itu telah hilang. Akan tetapi kali ini berbeda. Tuan Gen merasa aneh karena isi dalam surat itu terlihat masih utuh sedangkan statusnya baru saja ditemukan—seperti yang dikatakan Tuan Rom, mayatnya ditemukan sudah dalam keadaan terbenam dalam lumpur. Hujan malam itu memang lebat, tapi seseorang tidak akan terbenam ke dalam tanah dalam waktu yang dekat, selain itu sebuah kertas yang lemah ini mustahil pula bisa bertahan keutuhannya tanpa sepotong atau sebagian besar isinya hilang tak tersampaikan. Penuh dengan spekulasi aneh yang mulai berkecamuk dalam pikiran Tuan Gen. Ah sungguh mengherankan. Tetapi Tuan Gen memilih untuk diam terlebih dahulu. Rasanya apabila langsung bertanya secara mendetail, dirinya tidak akan tahu apa yang disembunyikan Tuan Rom.
"Lalu kenapa kau memberikannya padaku?" Tanya Tuan Gen.
Sebelah pipi Tuan Rom terangkat seperti sedang tersenyum. "Sudah ku bilang, kan? Aku ingin membahas sesuatu denganmu. Sekarang lebih baik kau baca dulu."
Tuan Gen mengangguk mengiyakan, matanya kemudian beralih dari memandang Tuan Rom ke arah tulisan hitam pada kertas usang itu. Seketika pandangan matanya dibuat terkejut dengan isinya. Di dalam kertas usang itu ternyata tertulis sebuah isi yang amat menyakitkan hati. Siapapun yang mengetahuinya mungkin akan sangat kesal—setidaknya itu yang ada di benak Tuan Gen. Penawanan—itu kata pertama yang mengawali satu paragraf besar dari isi suratnya. Tuan Gen lanjut membaca isinya. "Kami telah menawan beberapa lelaki dari pihakmu. Kapan akhir bagi keberadaan mereka, semua bergantung pada apa yang kamu lakukan." Baca Tuan Gen. Tangan perlahan bergetar dengan mata terbelalak kesal. "Kurang ajar. Jadi mereka mengancam kita?!" Kesal Tuan Gen, "Berapa siswa yang telah mereka tawan?"
"30 siswa."
"30?!"
Tuan Rom hanya tersenyum. Dia lalu beralih melirik pada Ziyo yang masih saja sibuk melamun melihat api kecil yang menyala di atas lilin. "Ziyo, garis besarnya bagaimana menurutmu?" Tanya Tuan Gen.
Ziyo beralih dari memandang lilin ke arah pandangan Tuan Gen. "Bukankah sudah jelas, mereka sedang mengancam kita?" Jawabnya dengan wajah datar seolah yakin.
"Maaf Tuan Rom—" Anggo mengakhiri tulisannya. Pensilnya yang sebelumnya menari-nari untuk menyoreti kertas seketika ia hentikan, "—dari mana anda tahu jumlah yang ditawan ialah 30 siswa?"
"Shin memberitahuku." Jawab Tuan Rom, "dia telah mengirim mata-mata. Aku yakin ini bukan gertakan."
Anggo menanggapi. "Aku setuju pendapat itu tapi—apa tidak ada yang tahu alasannya? Apa tujuan mereka sebenarnya?"
Tuan Rom geleng-geleng kepala. "Sayangnya, tidak ada yang tahu. Tapi, ini masih kemungkinanku saja, mungkin mereka hanya ingin membuat kita untuk tetap diam. Mungkin ada hal yang ingin mereka lakukan."
"Diam?" Tuan Gen heran, "Memangnya kita telah melakukan apa? Bukankah sudah gencatan senjata?"
Seketika suasana menjadi hening. Mulut-mulut tak ada yang berucap, bahkan Anggo pun seolah mengabaikan keadaan dengan fokus menulis hal yang disukainya. Tuan Rom hanya menunduk. Entah mengapa raut wajahnya seperti mencurigakan. Kedua tangannya menyangga keningnya seperti berniat menghalangi Tuan Gen dari memandangi matanya. Auranya sungguh terasa buruk. Bagaimana pun ini sangat mengganjal pikiran Tuan Gen. "Tuan Rom, apa kau melakukan sesuatu?" Tanya Tuan Gen dengan kening mengerut. Matanya memicing tajam penuh kecurigaan.
Tuan Rom menurunkan tangannya ke atas meja. Dia sedikit tersenyum sembari bersandar di kursinya. "Orang-orangku masih memerangi mereka."
__ADS_1
Mendengar itu, raut Tuan Gen beralih kesal. Sungguh sangat biadab!—sekilas itu yang terbesit dalam pikirannya. Reflek tangannya memukul keras meja di hadapannya sambil berdiri menatap tajam pada Tuan Rom. "Tidakkah kau berpikir keadaan orang-orangmu? Mereka sudah putus asa!" Teriak Tuan Gen sangat lantang.
Tuan Rom ikut berdiri. Wajahnya tampak mengesalkan. "Putus asa? Mereka melakukannya karena keinginan mereka sendiri. Tuan Gen."
Tuan Gen semakin murka. "Omong kosong! Kau memerintahkannya! Kalau begitu kenyataannya, itu sama saja melibatkanku dengan perangmu! Aku tidak ingin orang-orangku mati sia-sia!"
Tuan Rom kembali duduk mengabaikan omongan itu. Napasnya perlahan terasa mulai mengencang. Rupanya kekesalannya nyaris meluap menguasai jiwanya namun dapat mereda begitu dia menghela napas panjang. Di samping itu, karena merasa sangat diabaikan, Tuan Gen berakhir memutuskan untuk angkat kaki dari ruangan ini. Tentu saja, bukan angkat kaki seperti orang pada umumnya. Tuan Gen ingin keluar dari ruangan ini sekaligus keluar dari hubungan pertemanan alias menjadi musuh baru bagi Tuan Rom. Ini bukan saatnya—sekilas terbesit kata itu dalam benak Tuan Gen. Dia hampir lupa bahwa dirinya harus tahu apa yang disembunyikan Tuan Rom. Kali ini Tuan Rom tampak santai seolah tak merasa bersalah—diam tak berkutik sedikitpun atas sikap Tuan Gen. Tanpa ajakan dari siapapun, Tuan Gen kembali duduk meski aura tak ikut berubah. "Aku tahu, kau bukanlah tipe lelaki yang mudah memberikan perintah jika itu sama sekali tidak menguntungkanmu. Kalau begitu, apa alasanmu melakukan itu?" Tanya Tuan Gen.
Tangan Tuan Rom langsung mengambil sehelai kertas yang lebih bersih. Tulisannya lebih rapi dengan cap merah di bagian bawahnya—kertas itu rupanya sebuah surat perizinan khusus. Surat itu langsung diperlihatkan pada Tuan Gen.
"Apa lagi ini?" Tuan Gen heran. Pandangan matanya mulai melirik kertas itu lalu langsung membacanya. "Yang terhormat Tuan Rom. Banyak hal yang membuat kami tersisihkan. Kekuatan seakan sudah menjadi sesuatu yang lebih mulia—" seketika Tuan Rom menghentikan Tuan Gen.
Tuan Rom menunjuk satu kalimat yang tampak berada di jajaran paling akhir. "Kaliamat atas hanya pemanis. Aku ingin kau langsung membaca bagian ini saja."
"Baiklah." Tuan Gen mengiyakan. Matanya lalu mulai membaca kalimat itu, "—kami ingin Tuan Rom mengizinkan regu kami untuk memerangi mereka. Apabila tidak, kami akan melawan teman kami sendiri sebagai bentuk amarah kami."
"Mereka mengancamku." Ucap Tuan Rom, "bagaimana pun, aku tak sanggup memperoleh kerugian itu bila mereka menyerang kepemimpinanku. Itu sungguh lebih buruk daripada bunuh diri."
"Lalu kau mengiyakan?"
"Tidak ada pilihan lain. Aku memang harus mengiyakannya, Tuan Gen."
Matanya memang sudah sangat terlihat serius. Rautnya pun begitu, sangat meyakinkan. Mungkin bila orang yang berada di sini bukanlah Tuan Gen, orang tersebut akan mengasihaninya. Orang itu akan langsung memihak padanya. Tidak semudah itu bagi Tuan Gen. Lelaki berparas pembunuh bayaran berdarah dingin ini sungguh tidak mudah percaya oranglain. Mau oranglain memohon dengan sujud sekalipun, Tuan Gen tidak mudah percaya bila hanya ditunjukkan informasi dengan drama. Tuan Rom memang terlihat lebih serius alias jauh dari sikap mendramatisasi keadaan, tetapi apabila lebih difokuskan kepada hal yang lebih merinci nan samar, terdengar dari perkataannya seperti menggambarkan bahwa dirinya sedang tak berdaya dan seakan-akan menyeret dirinya ke dalam peran sebagai korban. Ah inilah hal yang Tuan Gen benci. Lantas dari pada menanggapi ekspresi meyakinkan dari Tuan Rom, mata Tuan Gen lebih melirik ke arah surat usang yang tadi sempat ia benci. Rasanya ada hal yang mengganjil dari surat itu. Tangannya mulai mengambil kertas itu lalu diperhatikanlah dengan baik. Benar sekali, tidak ada cap khusus di bagian paling bawah tepat di bawah paragraf terakhir. Bagian itu telah hilang, tak ada sama sekali tandanya. Tidak, bukan itu yang membuat hal semakin menjadi janggal. Mengapa Tuan Rom mudah memercayai surat seperti itu padahal dia adalah mantan wakil ketua osis di masa lalu? Tidakkah dia berpikir surat itu dipalsukan?—pikiran Tuan Gen mulai sangat kacau dipenuhi kecurigaan. Dirinya terus bertanya-tanya, apa mungkin ini permainan belaka?
Seketika Ziyo menjadi kesal. Tampak wajah kebenciannya terukir jelas sembari memukul meja di hadapannya. "Maksudmu apa merendahkan Tuan Rom?" Matanya menatap tajam pada Tuan Gen dengan tatapan menindas.
"Merendahkan?" Tuan Gen mengelak tuduhan itu. "Aku tidak merendahkan! Aku hanya menertawai segala keganjalan dalam diskusi ini. Ah memalukan sekali! Padahal kau mantan wakil ketua osis. Lelaki yang amat dikenal tegas dan dipercayai sangat baik dalam memimpin, tapi kini—" Tuan Gen mengambil kertas usang itu lalu menunjukkannya tepat di depan mata Tuan Rom, "—lihatlah di bawah surat ini, sama sekali tidak ada cap! Kalau aku sebagai dirimu, aku buang surat ini, wahai Tuan Rom yang terhormat!"
Ziyo sudah sangat kesal. "Persetan dengan tuduhanmu—" Tuan Rom segera menghentikannya dari bergerak melawan sendirian. Sikapnya seolah tersirat berkata pada Ziyo bahwa dirinya tidak ingin diganggu. Dia ingin menghadapinya sendiri. Sungguh pemimpin yang pemberani—setidaknya ini yang ada dalam pikiran Tuan Gen. Tentu saja bukan menuju arti yang sebenarnya.
Tuan Rom hanya setengah tersenyum menanggapinya. "Hanya karena itu, kau menertawakanku? Jadi sejak awal, kau sudah tak yakin padaku?" Tuan Rom tertawa, "kalau begitu bukankah kau juga begitu? Hanya percaya dengan pandanganmu saja, hal itu bahkan lebih buruk. Tuduhanmu sama sekali tidak merujuk pada hal yang benar."
Tuan Gen menangkal itu. "Oh benarkah? Tuan Rom yang terhormat! Ada hal lain yang juga masih mengganjal pikiranku. Kau tadi bilang gadis pengirim pesan itu baru saja ditemukan dengan sebagian tubuhnya terbenam dalam lumpur, peninggalannya yaitu surat ini. Apa itu memang benar Tuan Rom?"
"Tentu saja! Tak ada untungnya aku berbohong padamu!"
"Sungguh? Kalau begitu sayang sekali. Aku tidak percaya! Perlu waktu lama tubuh manusia bisa terbenam dalam lumpur tanah selembut di hutan akademi sekalipun. Aku curiga, itu hanyalah caramu melebih-lebihkan informasi untuk mengelabuiku. Tapi tunggu, jika memang informasi itu sesungguhnya benar, kau bisa lihat—" Tuan Gen lagi-lagi merujuk pada keadaan kertas itu, "—kertas seperti ini tidak akan bertahan di bawah badai lebat seperti itu, apalagi di sana terdapat lumpur! Jika bisa bertahan, sudah pasti ada bagian-bagian yang hilang serta tulisan yang tidak terbaca. Bagian-bagian yang hilang di kertas ini seperti tidak alami—seperti terstruktur. Aku meragukannya! Aku meragukanmu! Apa jangan-jangan tujuanmu sebenarnya hanyalah agar aku ikut melakukan penyerangan lalu menjadikan informasi ini sebagai alasan?"
Tuan Rom kembali terduduk santai. Dia malah tersenyum atas penjelasan panjang lebar dari Tuan Gen. Tidak, itu bukan tersenyum biasa. Matanya seakan dipenuhi pandangan kebencian. Kedua tangannya pun bertepuk tangan seakan menjadikan penjelasannya sebagai sebatas pertunjukan. "Jadi begitu tanggapanmu. Baiklah, tidak apa-apa. Tidak ada yang rugi bila kau tidak bergabung denganku."
Tuan Gen terkejut dengan tanggapan itu. "Jawabanmu—apa kau mengakui itu?"
__ADS_1
"Dengar Tuan Gen. Aku hanya berpikir, mungkin lebih baik bila pasukanmu bergabung."
Mendengar itu Tuan Gen dibuat naik pitam. "Semudah itu kau bicara?!" Tuan Gen mencengkram kerah pada kemeja dan dasinya.
Tuan Rom lagi-lagi hanya tersenyum. "Kau bilang aku adalah orang yang tegas? Kalau begitu tambahkan, aku ini orang cerdik, tidak seperti dirimu, Gen si mantan osis cadangan."
"Apa?!"
Tuan Gen langsung mendorong tubuh Tuan Rom hingga terjatuh. Hal itu secara langsung menjadikan Tuan Gen sebagai musuh yang boleh diserang. Ziyo yang sedari awal memang kesal memanfaatkan keadaan itu, ia secara gesit bergerak ke arah Tuan Gen lalu tanpa pikir panjang langsung memukulnya dengan tangan kosong bagai sambaran kilat. Tuan Gen berhasil menangkisnya lalu balas memukulnya hingga Ziyo terpukul mundur hingga tembok ruangan. Ziyo mulai membentuk posisi kuda-kuda tanpa berpaling dari menatap di mana Tuan Gen berada. Kini Tuan Gen pun terlihat bersiap dengan gaya bertarungnya—gaya bertarung dengan tangan kosong. Sebelah tangannya menjulur ke depan dengan mengepal, sedangkan sebelahnya lagi siap siaga di pinggang. Auranya tidak main-main. Tuan Gen serius dalam hal ini karena kesal telah dipermainkan. Kuda-kudanya pun tak kalah sigap dengan Ziyo.
"Sekarang lawanmu adalah aku, Tuan Gen!" Ziyo mengambil sebuah pedang yang tersimpan di dekat dinding di sampingnya. Dia lalu melirik Tuan Rom, "Tuan Rom, bolehkah aku membunuhnya?"
Tuan Rom hanya tertawa. "Kalau dia terbunuh, itu berarti dia tidak pantas menjadi pemimpin. Bagaimanapun statusnya setara denganku." Ucapnya dengan sangat angkuh. Tuan Rom pun memilih untuk pergi dari ruangan ini, "baiklah Ziyo, aku serahkan padamu. Aku akan mengurus beberapa hal yang lebih penting."
"Baiklah Tuan Rom. Dengan senang hati."
Tuan Rom dan Anggo kemudian pergi dari ruangan ini seolah sedikitpun tidak merasa bersalah. Pintu pun kembali tertutup, namun ternyata kali ini Tuan Rom menguncinya dengan sangat rapat seolah menjadikan ruangan ini sebagai arena terisolasi. Tuan Gen sangat dibuat murka, tapi kali ini tidak lepas kendali. Kemarahan Tuan Gen mulai dialihkan menjadi sebuah kekuatan tersendiri. Dirinya perlu untuk fokus karena lawannya mungkin bukanlah orang biasa.
Tapi Tuan Gen menikmati hal ini. Dirinya tersenyum dan menyambut duel ini.
"Baiklah, ayo kita mulai!" Ucap Tuan Gen.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
Info tentang kepenulisan Arafura :
__ADS_1
Twitter/instagram : @alaksinita