Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter II • Prolog - Bunga Tidur | Mawar Merah Terlihat Dalam Gelap


__ADS_3

Setitik cahaya datang dalam kegelapan. Keburukan dalam dunia yang hampa seakan ditenggelamkan bagai dikubur dalam kebenaran. Jalan bercabang seakan mulai terlihat bayang-bayang. Rembulan indah lambang kecantikan seakan meredup bersembunyi dalam malunya kepalsuan.


Tuan Gen berdiri di tempat sepi. Tak ada suara apapun. Tak ada kehidupan apapun. Langit hingga daratan, semua hanya terlihat tak berujung.


"Dimana aku?"


Ia melangkah tanpa mengetahui apapun. Suara langkahnya menggema memecah sunyinya suasana. Tempat ini seakan dunia yang mati, namun terasa lebih damai dibandingkan dunia hidup.


Seketika tanah berubah digenangi air. Di hadapannya datang seorang gadis cantik seakan membawa cahaya kehidupan. Kulitnya putih mempesona seolah diselimuti kebaikan. Rambutnya panjang berwarna coklat dan diikat oleh pita merah, bahkan beberapa helai rambut sempat berjuntai di pipinya. Pakaiannya memakai gaun panjang berwarna merah hingga menutupi kakinya.


Raut gadis itu seakan bersedih. Matanya sedikit merah seperti sedang membendung air mata, namun bibir dan pipinya naik bagai sedang tersenyum. Hal itu sungguh membingungkan Tuan Gen, apalagi gadis cantik jelita bak bidadari bukanlah orang yang dirinya kenali.


"Siapakah kau?" Ucap Tuan Gen.


Gadis itu berhenti tersenyum. Ia lalu membuka mulutnya menampakkan sedikit gigi putihnya.


"Aku Airia."


"Airia? Bukankah kau ratu dari—"


"Hentikan! Jangan ucapkan itu, Gen!"


Gadis itu mengejutkan Tuan Gen lantaran menyebut namanya seakan sudah tahu. Hal itu semakin membuat Tuan Gen penasaran.


"Kenapa? Kenapa kau megenaliku?" Tanya Tuan Gen.


Dia tidak menjawab. Dia hanya membalikkan badannya sehingga tak tampak lagi wajahnya.


"Sebenarnya aku tidak ingin perpecahan ini, Gen. Ini bukanlah kehendakku. Aku minta tolong padamu, jagalan dua gadis itu. Bawalah mereka menuju jalan lurusmu. Dan satu lagi, Gen—"


Tiba-tina langit seakan berubah terang membawa angin ribut yang sangat dasyat.


"—jangan lupa! Jemputlah aku!"


Gadis itu seketika menghilang seakan ditelan cahaya. Angin ribut membawa tubuh Tuan Gen semakin menjauh dari pijakannya.


°


°


•••


°


°


"TUNGGU!!"


Tuan Gen terbangun dari tidurnya dengan berteriak kencang. Napasnya sangat cepat seolah tergesa-gesa. Keningnya dibanjiri keringat. Pandangannya seakan memandang dengan penuh kebingungan.


Seketika seseorang membuka pintu kamar. Tubuhnya terlihat kekar namun rautnya khawatir. Ternyata adalah Yen.


"Kenapa Tuan?! Apa ada sesuatu?!" Ucap Yen sembari memegang sebuah pedang di hadapannya.


"Tidak, lupakan. Aku tadi hanya bermimpi." Jelas Tuan Gen.

__ADS_1


"M-Mimpi? Begitu, ya." Yen langsung menurunkan pedangnya. "Mohon maaf saya kira ada hal aneh, Tuan."


"Tidak apa-apa. Aku senang kau sangat perhatian."


Sesaat Tuan Gen mengingat tentang mimpi itu. Rasa penasaran semakin memakan hatinya.


Wajah Tuan Gen menjadi serius. "Yen, maaf kalau ini sangat larut. Bisakah kau panggil Elia dan Viena kemari?"


"Elia dan Viena? Apa ada sesuatu hal yang penting, Tuan?"


"Ya, mungkin ini lebih dari kata penting."


"Baiklah, Tuan. Akan saya bawa kemari."


Yen membungkuk hormat lalu segera pergi keluar menuruti perintah Tuan Gen.


Beberapa saat kemudian Yen mengetuk pintu kembali. Tuan Gen mengizinkan masuk. Pintu pun dibukanya sehingga memperlihatkan dua orang gadis cantik yang hanya memakai daster motif bunga.


"Sudah saya panggil, Tuan." Ucap Yen.


"Terimakasih, kau boleh keluar sekarang."


"Baiklah, Tuan."


Pintu kemudian ditutup oleh Yen sehingga di dalam ruangan hanya tinggal tiga orang saja. Raut dua orang gadis itu tampak seperti kebingungan, apalagi ruangan ini adalah kamar pribadi milik Tuan Gen.


"A—Anu—" ucap Viena beraut bingung, "sebenarnya ada apa memanggil kami?"


"I—Iya, Tuan. K—Kalau urusan seperti ini, mungkin kami—" Kali ini Elia berbicara, wajahnya memang merah.


Viena malah terkejut mendengar itu.


"D—Duduk?"


"Ayo, duduk saja. Ada yang ingin ku bahas dengan kalian."


"E—Eh?"


Sesaat pikiran kotor dari mereka mulai sirna begitu mendengar alasan sebenarnya dari Tuan Gen. Mereka lalu menghela napas seakan merasa lega lalu berjalan duduk di kasur sesuai perintah.


Setelah mereka duduk, raut wajah Tuan Gen berubah semakin serius.


"Aku ingin bertanya, apa kalian tahu persis penampilan Ratu Airia?"


"Ratu Airia? Kami tentu tahu, Tuan." Jawab Elia, begitu pun Viena hanya mengangguk.


"Kalau begitu, aku ingin memastikan sesuatu. Apa penampilan Ratu Airia itu berambut panjang warna coklat, ada pita merah di rambutnya, wajahnya putih, dan menyukai gaun merah. Itu benar?" Jelas Tuan Gen memastikan.


Mereka berdua terdiam sesaat.


"Anda mengenalnya, Tuan? Itu sudah lumayan detail." Jelas Elia.


"Ya, itu benar. Setahuku malah Ratu Airia menikah dengan gaun merah." Jelas Viena.


"Oh, jadi itu benar dia." Tuan Gen tampak seakan keheranan, "maaf tapi, aku sama sekali tidak tahu dia. Melihatnya saja belum. Aku hanya tahu namanya, tapi kenapa sosoknya bisa ku ketahui? Itu masih ku pertanyakan."

__ADS_1


Viena dan Elia saling bertatapan seolah tidak paham.


"Apa maksud anda, Tuan?" Tanya Elia.


"Aku baru saja bertemu Ratu Airia dalam mimpi. Dia pun sempat berbicara kepadaku sebelum akhirnya menghilang ditelan cahaya."


Mereka berdua tampak terkejut.


"A—Apa?" Viena terkejut.


"Itu mustahil. Bisakah anda jelaskan seperti apa perkataannya?" Ucap Elia.


Tuan Gen mulai memejamkan mata mengingat-ingat perkataan itu.


"Kalau tidak salah, 'perpecahan ini bukan kehendakku, aku minta tolong jagalah dua gadis itu,' dan satu lagi perkataan dia yang paling membuatku heran, yaitu 'jangan lupa jemputlah aku.' Apa kalian—"


Seketika Tuan Gen mengakhiri perkataannya begitu melihat dua gadis di hadapannya seakan menyucurkan air mata.


"K—Kalian kenapa?"


Mereka kemudian segera menghapus air mata lalu kembali tersenyum.


"Tuan Gen—" Jelas Viena, "—sebenarnya alasan mengapa Air Gakuinia dipimpin oleh perdana mentri bukan karena memang keinginan Ratu Airia."


Tuan Gen terkejut mendengar itu. "Lalu kenapa?"


"Alasannya karena Ratu Airia tidak bangun dari tidurnya lagi setelah kekacauan itu terjadi." Jelas Elia sembari menangis.


"Jadi—Ratu Airia meninggal?"


"Bukan. Ratu masih hidup namun jiwanya seakan terperangkap dalam tidurnya. Karena itu, begitu kami mendengar mimpi Tuan, perkataan itu seperti memang dari Ratu Airia langsung." Ucap Viena.


"Kami sekarang yakin, akan ada takdir kebaikan pada anda, Tuan. Mungkin, andalah satu-satunya orang yang dapat terhubung dengan Ratu dan suatu saat dapat membangunkannya." Ucap Elia.


Malam ini Tuan Gen hanya bisa membisu. Pada akhirnya dirinya tahu sesuatu yang tidak para lelaki tahu.


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••


Info tentang kepenulisan Arafura :

__ADS_1


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2