
Urat-urat kening terasa menekan, menyebar layaknya ingin mencengkram. Rasa pening dari kelelahan membuat gadis seterang rembulan hanya bisa terbaring lemas, napasnya berhembus perlahan melalui hidung dan sela-sela mulut yang terbuka, bahkan beberapa kali diselingi batuk layaknya sedang jatuh sakit. Pundak terasa berat membuatnya sulit untuk bergerak. Kaki sangat lemas bagaikan sudah lama tak menahan tumpuan badan.
Pandangan mata perlahan mulai menjernih begitu dirinya memperhatikan keadaan ruangan. Tak ada sama sekali penerangan, terlihat gelap gulita layaknya tempat yang tak pernah ditinggali. Tangannya mulai meraba-raba sekitar, dirinya ternyata sedang berada di atas ranjang. Setengah tubuhnya diselimuti selimut tebal. Kepalanya diganjal bantal yang empuk.
"D—Dimana ini?" Dia tidak mengenali hawa ruangan seperti itu. Hawa dingin yang melekat menanamkan rasa kesepian. Dirinya memaksa untuk bangkit, beralih ke dalam posisi duduk. Meskipun terasa berat, dia mulai menumpukan tubuhnya pada dinding dibelakangnya.
Seseorang dari lorong datang mendekat. Tangannya memegang sebuah piring kecil yang di atasnya ada sebuah lilin berbatang putih. Apinya kecil berwarna kuning namun cahayanya mampu merambat setiap penjuru ruangan.
Wajahnya mulai terlihat Jelas. Rambutnya pirang nan berantakan. Rautnya datar seakan tidak memikirkan apapun.
"J—Jon?" Elia menyadari bahwa si pembawa lilin itu adalah Jon.
"Ternyata kau sudah bangun." Ucap Jon sembari mendekat begitu mendapati Elia memandangnya. Dia lalu menaruh piring itu di atas sebuah meja di samping kasur. Dia duduk di kursi yang diambilnya dari pojokan dinding.
"D—Dimana aku, Jon?" Tanya Elia kebingungan. Ruangan itu tampak asing dimatanya.
"Asramaku, bisa dibilang ini asrama aku dan temanku sebelum akademi runtuh. Bagaimana? Cukup indah, bukan?" Ucapnya seakan menjelaskan kesedihan hati.
Elia hanya bisa meresponnya dalam diam. Pandangannya beralih menyebar ke penjuru ruangan yang kini sudah diterangi sinar api kecil, barang-barang berserakan, meja belajar patah terbelah menjadi dua bagian, kaca jendela pecah berserakan, hingga tembok dan lantai yang putih dikotori bercakan merah seperti darah yang telah mengering—ini jauh dari kata sempurna.
Jon menyadari pandangan itu. Mata Elia beraut tak biasanya. Mulutnya membisu seakan tak sedikitpun ingin membahasnya.
"Kau tidak bertanya, kenapa ruangan ini terlihat kacau?" Jon tiba-tiba membahas itu, "asrama memang sudah sewajarnya jadi tempat pertarungan. Semua diubrak-abrik saat kekacauan—sudah pasti dengan kekuatan mereka."
"Apa 'mereka' yang kau maksud itu, Akademi Air Gakuinia?" Tanya Elia.
"Menurutmu saat kekacauan terjadi, apakah sesama gender akan saling menghancurkan?" Jon balik bertanya membuat Elia mengetahui jawabannya. Ternyata memang benar, para gadislah yang mengacaukannya—setidaknya untuk gedung asrama ini.
"Maaf, Jon." Elia merasa bersalah.
__ADS_1
"Lupakan saja hal itu," tanpa disadari tangan Jon menggenggam sebelah tangan Elia sembari memandang matanya penuh keseriusan, "sekarang aku tidak akan pergi kemana-mana sebelum mendengarkanmu."
Elia terkejut, "e—eh? Apa maksudmu?"
"Rahasia itu," potong Jon, "kau tahu kan dimana temanku?"
Raut terkejut Elia mulai luntur beralih serius. "Maksudmu, Romenia Ankara? Tentu aku tahu. Bahkan, aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
"Ya, Ankara, dimana dia sekarang?" Tanyanya lagi.
"Dia di Akademi Air Gakuinia, tepatnya dipenjara sebagai tawanan." Jawab Elia.
Jon terbelalak mendengarnya. Wajahnya seakan tidak percaya, meskipun hatinya yakin bahwa itu adalah benar. Elia terlihat tidak berbohong, selain itu bila berbohong pun tidak ada untungnya.
"Bagaimana kau yakin dia adalah Ankara? Bukankah kau hanya melihatnya?" Jon sedikit berpendapat karena tidak percaya.
"Penasaran?" Jon keheranan.
"Ya, saat itu meskipun aku anggota khusus dalam Akademi Air Gakuinia, jujur saja aku tidaklah memihak siapapun. Bagiku kekacauan itu disebabkan oleh seseorang yang bersembunyi dalam bayangan, karena itu aku berani berdialog dengan Ankara saat Penjaga tidak ada. Berkali-kali ku lakukan, dia akhirnya memercayaiku. Lalu, dia pun menceritakan tentang dirimu."
"Jadi, itulah alasanmu dan Viena bergabung dengan Tuan Gen? Hanya untuk bertemu denganku?"
Elia menggelengkan kepala. "Memang aku ingin sekali bertemu dengan dirimu, tapi tidak dengan Viena. Dia menanggung sesuatu yang lebih besar dari sekadar bertemu seseorang." Sesaat topiknya mulai beralih, "apa kau mau mendengarkanku lagi? Kali ini akan ku ceritakan, mengapa aku dan Viena sampai rela ingin bergabung dengan Tuan Gen."
"Ya, tolong ceritalah padaku. Aku tidak ingin terus-menerus tidak menyadari segala sesuatu di sekitarku. Pastinya, ini tidaklah hanya sebatas kata kebetulan."
Viena tersenyum. "Benar, orang sepertimu itu sangat logis, segala sesuatu ada sebab dan akibatnya, bukan hanya sebatas takdir yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kalau begitu, akan ku ceritakan dari awal."
Tiba-tiba Elia mengulurkan tangannya pada Jon. Wajahnya seakan tersenyum. Pandangan matanya seolah menyuruh Jon untuk menggenggamnya.
__ADS_1
"Untuk apa?" Jon tidak mengerti.
"Selain bertahan, membaca sejarah, dan menyembuhkan luka; aku bisa menjelaskan sejarah tanpa perlu berbicara. Begitu tanganmu menggenggam tanganku, akan ku kirimkan cahaya informasi agar kau dapat membayangkannya."
Jon tetap tidak mengerti namun kali ini mulai mengikuti perintahnya. Tangannya perlahan menggenggam sebelah tangan Elia. Terasa hangat dan lembut.
Tiba-tiba tangan itu bersinar bersama keluarnya suara yang aneh, terdengar seperti gesekan pedang dan teriakan. Sinarnya sangat menyilaukan hingga menghalangi seluruh pandangan Jon.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
Info tentang kepenulisan Arafura :
Twitter/instagram : @alaksinita
__ADS_1