
Sejak kehancuran akademi, bunga-bunga yang tumbuh di taman dekat kastil belum mekar sepenuhnya. Matahari tak juga hadir, mendungnya langit membuat suasana tampak gelap kembali. Lampu-lampu taman menyala terang-benderang.
Di tengah taman itu terdapat satu bunga yang sangat indah, warnanya seperti telah ditetesi darah sehingga sangat cerah kehitaman. Oh indahnya, tapi Tuan Gen tak yakin itu adalah bunga kematian.
Bunga Middlemist Merah, begitulah sebutannya, bunga itu sudah menjadi tradisi utama yang selalu dijalankan para guru—mereka setiap tahun menanamnya sehingga bunga itu tampak menguasai taman di seluruh akademi dengan nuansa merah—tak ada yang tahu arti sebenarnya dari tradisi itu.
Adapun bunga oren itu terlihat terang seperti menjadi raja di antara lautan merah, Bunga Lily Api, tampak lebih kecil namun sangat beracun. Dari rumor yang pernah ramai, katanya bunga ini selalu tumbuh di sela-sela bebatuan benteng. Tentu saja tak ada yang melihatnya, wilayah benteng bagaikan jurang kematian bagi siapapun. Tak hanya itu, ada hal yang lebih aneh—bisa disebut sebagai hal yang gila—bunga itu dapat dengan mudah tumbuh di tubuh mayat yang membusuk!—sekiranya itu yang ada di buku catatan.
Mereka memperingatkan murid akademi agar tak boleh sembarangan memasuki zona terlarang, tak hanya menyentuh benteng, berusaha mendekati pun sudah dilarang. Itu membuat semua orang selalu terjaga.
Tak ada yang berani mencabut bunga itu—bahkan menyentuh pun tidak—seperti bunga terkutuk yang sudah ditakdirkan sendirian. Tak ada rerumputan yang tumbuh mendekatinya, bahkan Bunga Middlemist Merah yang tampak seperti bunga dari darah kematian pun memiliki jarak yang cukup untuk tiga telapak kaki—entah tak bisa mendekat atau sengaja ditanam seperti itu. Tak ada yang tahu siapa yang telah melakukannya.
Perlahan Tuan Gen menuruni tangga seorang diri. Dirinya kini membawa sedikit rasa tersinggung karena kekayaan milik Rubby yang sejatinya bukan miliknya—semuanya hanya sebatas dari rampasan. Kastil megah berwarna gelap, sebuah bangunan yang dulu pernah dimiliki seorang kepala sekolah terkemuka yang kini entah berada di mana—padahal dia bisa saja mengambil kembali seluruh harta yang tersimpan di bangunan megah ini sebelum menghilang, tapi kenyataannya dia tinggalkan seolah-olah tak peduli.
Sulit dipercaya, bahkan orang paling berpengaruh saja menghilang tanpa jejak seperti guru-guru yang lainnya. Kini dikuasai sepenuhnya oleh Rubby sebagai pusat pemerintahan. Memang begitulah pria si rambut perak itu, sifat serakahnya bersembunyi dibalik kesempurnaannya!—kecam Tuan Gen dalam hati dengan raut wajah masam.
Kereta kuda terlihat sudah menunggu, pelayan itu turun dari tempat kusir untuk menyambutku ke dalam kereta. Dia membuka pintu kereta kuda lalu membungkuk dengan penuh rasa hormat. "Silahkan masuk, Tuan Gen."
Tuan Gen membalas kesopanan itu dengan senyuman tanda terimakasih tanpa berkata sepatah katapun. Tiba-tiba tepat di belakang Tuan Gen ada yang memanggilnya. Tuan Rom, entah kenapa dia datang menghentikan Tuan Gen untuk segera pergi. Tuan Gen merasa terganggu dengan kehadirannya. "Apa urusanmu kemari?"
Tuan Rom hanya tersenyum. "Tidak, aku hanya ingin bertemu teman lamaku. Sudah lama sekali aku khawatir, untung saja kamu selamat. Tuan Gen."
__ADS_1
Kata-kata itu sungguh hina ditelinga Tuan Gen. "Jangan bercanda, Tuan Rom. Kamu memang selalu seperti itu, berkata palsu."
Senyumannya berubah menjadi senyuman penindasan. "Oh begitu, maaf ya. Aku hanya bercanda. Orang sepertimu memang tak tertarik dengan perlakuan itu, tak aneh juga."
Tuan Gen membalas tatapan mata itu. "Ada apa? Tak mungkin kau datang hanya untuk berkata seperti itu. Aku benci mengatakannya, tapi kau bukan orang yang menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia."
Seketika Tuan Rom tertawa. "Bisa saja humormu itu! Tahu banyak juga ya." Tawanya perlahan memudar berganti tatapan serius kembali, "Aku ingin siang ini juga kau mampir ke kastilku."
"Oh ya? Ada perlu apa tiba-tiba?"
"Ada yang perlu kita bahas."
"Bagaimana jika aku menolak keinginanmu itu?"
Sedikit kesal, tapi Tuan Gen berhasil membuat perasaannya sendiri tetap terjaga di dalam ketenangan. Tangannya yang mengepal sejak tadi perlahan melemah. "Cih, jadi kau mengancamku?"
Tuan Rom hanya tersenyum. "Begitu kah? Aku hanya berusaha mengajakmu."
Sial, ini buruk—pikir Tuan Gen. Jika seandainya benar-benar memilih menolak, habislah sudah Tuan Gen. Sebenarnya Tuan Rom memanglah orang yang kasar sejak dahulu, tapi dia bukanlah tipe orang yang menghabisi lawannya ketika berada di sarang—setidaknya ini yang diketahui Tuan Gen. Lagi pula rasanya melelahkan apabila berkelahi, kemungkinan menangnya sangatlah kecil. Segera Tuan Gen mengakhiri berkecamuknya pemikiran. "Oke—oke baiklah! Aku terima tawaranmu!"
Pria bertopeng itu membawa Tuan Gen berjalan ke sebuah kereta kuda yang baru datang tepat berhenti di belakang kereta kuda Tuan Gen. Pintu itu dibuka oleh pria bertopeng itu. Dia melakukannya mirip seperti pelayan Tuan Gen—berlaku sangat sopan, membuka pintu, lalu menyilakan dengan berkata, "Silahkan masuk, Tuan."
__ADS_1
Tapi Tuan Gen tidak mengindahkan itu. Dia sangat kesal hingga sempat menatap topeng itu dengan pandangan sinisnya meski tak berkata sepatah katapun. Tuan Gen, lalu disusul dengan Tuan Rom, mereka berdua segera memasuki kereta kuda lalu pergi meninggalkan kastil gelap dan taman yang indah itu.
•••
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
Info tentang kepenulisan Arafura :
__ADS_1
Twitter/instagram : @alaksinita