Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Perjanjian Dan Ledakan II | Sesuatu Di Balik Cermin


__ADS_3

Gelap seperti malam. Lampu-lampu taman menyala terang menerangi halaman. Bunga-bunga tampak bergoyang tertimpa ribuan air hujan. Dedaunan pepohonan rindang beterbangan akibat hembusan angin yang mengalir kencang. Terlihat di jalanan kastil, dedauanan itu berserakan sehingga tampak merepotkan. Tidak hanya itu, segalanya sangat basah sejak kemarin. Jutaan tetes air hujan terjatuh di atas genting lalu mengalir mengairi pipa-pipa kecil menuju selokan. Terlihat sebagian pengairan mampet karena banyaknya sampah dedaunan yang terseret arus air. Entah harus bilang apa kepada cuaca hujan ini. Saat ini sore hari seharusnya panas menyengat membuat bunga bermekaran. Serangga-serangga hadir bebas untuk menyerap sari-sari dari bunga. Burung-burung beterbangan di angkasa biru bersama kawanannya sembari berkicau mengindahkan hari. Sungguh saat-saat yang dirindukan.


Aio bersandar diam di sebuah gazebo kecil di antara pepohonan rindang. Matanya menatap langit tanpa berkutik sedikitpun. Mulutnya hanya membisu membiarkan suara hujan yang menguasai keadaan. Tapi, Aio tidak mempermasalahkan itu. Air hujan sangatlah menenangkan. Dirinya menyukai hujan sejak dulu, selalu bermain bersama kawan-kawan hanya untuk sekadar bermain air, melompat mengacaukan genangan, dan berlari-lari menghantam ribuan air hujan sembari tertawa bersama. Ah kenangan indah yang tak terlupakan, karena itulah dirinya mencintai hujan.


Sayangnya itu dulu, Aio tahu saat ini berbeda. Aio tidak ingin memercayai pemikiranya tetapi hujan saat ini seperti bukan hujan biasa. Hujan kemarahan—begitulah pemikiran Aio. Hujan ini seakan hanya deras dan gerimis lalu terulang lagi sehingga membuatnya sama sekali tidak berhenti sejak kekacauan pernikahan kemarin yang membuat akademi terpecah.


Segera Aio mengakhiri pemikirannya. Dirinya kemudian tersenyum meratapi keadaannya. Kini bukan saatnya untuk mempermasalahkan hujan. Saat ini Aio sedang merasa bersedih, dirinya merasa seakan tidak diperhatikan oleh Tuan Rom padahal sudah benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan informasi itu. "Padahal aku sudah berkorban. Kucing kesayanganku—" Aio mulai meneteskan air mata. Kucingnya terbunuh saat sedang kabur dari perbatasan Akademi Air Gakuinia bersamanya, saat itu kawannya ketahuan mengintai sehingga terpaksa kabur. Aio pun berakhir ikut terpantau oleh para gadis, pada akhirnya si kucing turun membantu menahan para gadis untuk menghambat pengejaran sedangkan Aio langsung berlari kencang meninggalkannya. Kucing pemberani yang sudah mengorbankan diri—Aio tidak tahu kini nasib kucing itu seperti apa.


Di antara lampu-lampu halaman yang menyala, terlihat seorang Shin datang melangkah kemari. Rambutnya menjadi sedikit basah sehingga tampak lebih berantakan. Dia membawa sebuah boks ditangannya—tidak tahu untuk apa dan alasannya kenapa, tapi yang jelas Shin bukanlah tipe orang yang asal main hakim dengan ocehan. Dia pria tenang yang selalu ada jika Aio bersedih.


"Ternyata kau di sini. Aio." Ucapnya ketika sampai kemari. Dia lalu duduk tepat di samping kiri Aio.


"Sejak kapan kau tahu aku di sini?"


Dia perlahan membuka boks itu. "Dasar bodoh. Memangnya ada tempat lain di luar kastil selain gubuk ini?"


"Lebih tepatnya gazebo." Balas Aio memperbaiki.


"Ya, apalah itu. Bangunan tua terbuat dari kayu."


Boks itu pun terbuka. Kepulan uap seketika keluar dari dalam kotak itu lalu menghilang. Ternyata di dalamnya terdapat dua gelas kecil berisi minuman hangat yang sangat tertutup rapat. Gelasnya berwarna abu dan terbuat dari alumunium. Di samping dua gelas itu ada makanan manis kesukaan Aio. Mochi berbentuk bulat dan berwarna putih salju. Dalamnya berisi kacang dan gula yang manis, entah gula apa tapi Aio sangat menyukainya. Kedua mata yang sedih dari Aio beralih terlihat sedikit berseri. "Pelayan mulai membuat mochi lagi?!"


"Ya, begitulah. Lebih tepatnya mochi sukabumi."


"Apalah itu, aku sangat menyukainya!"


Mochi ini biasa disebut mochi sukabumi oleh para pelayan dapur. Entah apa hubungan kata dengan sukabumi, tetapi Aio membayangkannya mungkin saja itu adalah nama sebuah tempat. Surga penuh rasa manis dengan mochi, ah keadaan itu mungkin bisa mengobati hatinya.


Dua buah mochi dari boks itu langsung diambil oleh Aio untuk segera dieksekusi oleh mulutnya. Benar-benar tak sabaran, bahkan lidahnya sempat berlinang air liur bagai kelaparan. Mochi itu seketika dilemparnya ke dalam mulut. "Ah! Lumer dimulut!" Ucapnya merasa nikmat begitu gigitan pertama. Kacang-kacang dan gula yang mencair memenuhi mulut Aio. Sangat manis dan enak. Rasanya sudah sangat lama sekali Aio tidak memakan mochi ini. Seperti ribuan tahun lamanya!


Tiba-tiba Shin tertawa. "Dasar kau. Seperti bocah saja."


"Bocah apa Shin? Ini makan Favorit Akademi Gakuin, semua orang suka. Ya, walau akademi itu sudah runtuh, tapi setidaknya rasa mochi ini tidak hilang."


Shin tersenyum. "Benar ya. Beruntung sekali Tuan Rom melindungi pelayan itu."


Aio seketika terkejut. "Apa? Jadi ada pelayan khusus?"


"Kau tidak tahu?"

__ADS_1


"Tidak, ku kira semua pelayan tahu. Aku melihat mereka selalu membuatnya."


Shin pun tertawa. "Keterlaluan juga kau. Tahunya makan saja," ucapnya canda, "di dapur itu selalu datang dengan setengah jadi. Tidak ada yang tahu seperti apa resepnya. Hanya pelayan khususlah yang tahu. Tapi selama ini aku tidak pernah melihat siapa pelayan khusus itu, orang lain juga begitu, akhirnya semua mengira makanan ini dari luar benteng."


Kali ini Aio tertawa. "Shin, seperti biasa kau selalu menjelaskan dengan sangat detail. Aku suka itu! Tapi, tetap saja aneh! Kalau seandainya Mochi ini memang dari luar benteng bagaimana?"


"Itu tentu sangat buruk. Mungkin akan ada kerusuhan baru. Apalagi tidak sedikit murid ingin kabur dari sini."


Aio mulai mengerti. "Benar juga ya. Tidak ada jalan keluar untuk melewati benteng. Tinggi, terjal, dan licin. Banyak yang terluka lalu tewas karena mendaki benteng itu, apalagi senjata apapun tidak bisa menembusnya. Seperti batu dari surga."


"Ok, kau sudah tahu itu." Shin mengambil mochi lalu memakannya.


Mereka berdua kembali menikmati mochi. Gula-gula putih bagai salju yang menyelimuti mochi sempat berhamburan ke celana, sebagian jatuh mengotori kayu gazebo lalu seketika menghilang karena basahnya kayu. Kali ini hujan kembali menguasai suasana, namun Aio merasa nyaman. Beruntung Shin memberikan apa yang dirinya suka. Mochi pun seketika habis tak tersisa sehingga meninggalkan dua gelas air hangat yang belum tersentuh. Aio mengambil gelas itu lalu membuka penutupnya. "Teh hangat?" Ucap Aio, ia pun mencium baunya sembari menutup mata. Bau yang amat sangat menenangkan.


"Itu juga kesukaanmu, kan?" Tanya Shin.


"Tentu saja. Teh ini akan membuat suasana terasa tenang."


"Kebetulan sekali."


Shin lalu mengambil gelasnya juga. Dibuklah penutupnya hingga membuat uapnya terbang lalu menghilang. Tehnya masih hangat dan wangi. Gelas di genggaman tangannya Shin ulurkan ke hadapan Aio. "Ayo kita bersulang."


Aio sedikit tersenyum. "Bersulang!"


Shin merespon itu. "Apa maksudmu?"


"Maksudku, selama ini hujan selalu saja disalahkan dengan satu dua alasan. Hujan tidak pernah berhenti sejak akhir pernikahan kemarin sehingga orang-orang membenci hujan. Padahal menurutku hujan tidak melakukan kesalahan apapun, ia menyuburkan tanah dan membantu kita untuk tidak kekeringan."


Shin mulai serius. "Baru kali ini aku melihatmu berpikir sesuatu selain dirimu sendiri. Apa kamu—" tiba-tiba Shin menghentikan perkataannya.


Aio mengerutkan kening kebingungan. "Aku? Kenapa?"


"A—tidak lupakan. Aku hanya ingat dengan satu kalimat dari buku yang pernah ku baca. Buku tentang kitab Lipus yang pernah ditulis oleh keluarga Huudy, isinya 'Orang-orang selalu merayakan hal yang tampak baik tapi melupakan hal yang buruk. Perilaku tidak adil inilah bisa membawa mala petaka bagimu.' Aku sekarang akhirnya paham apa maksud itu."


"Keluarga Huudy? Aku tidak pernah mendengar itu."


Shin tertawa. "Memang tidak ada yang tahu. Aku mencuri buku itu dari guru saat mampir ke perpustakaan pribadi mereka. Ah itu pengalaman yang lucu! Buku itu memang terlihat sangat asing, segala isinya pun sangat asing. Sayangnya buku itu terjatuh saat aku lari dari kekacauan di perumahan guru, tepatnya saat aku ingin mengembalikan buku itu."


"Bukankah kau ahli bela diri, Shin?"

__ADS_1


"Ayolah jangan bodoh. Orang ahli mana yang rela menghabiskan tenaganya untuk hal yang sia-sia. Lagi pula saat itu ratusan gadis datang untuk membuat batas wilayah mereka. Aku bisa mati bila tidak lari."


Aio sedikit terkejut dengan perkataan itu. "Air Gakuinia ya—" gumamnya sembari sedikit menampakkan raut sedih.


Shin menyadari sesuatu. "Oh iya Aio, ngomong-ngomong apa yang terjadi denganmu? Kau tadi kelihatan sedih saat membawa informasi itu. Memangnya ada apa di sana?"


"Ah tidak—" Aio sedikit tersenyum meski masih terlihat sedih, "—bawahanku ketahuan mengintai saat itu. Aku segera berlari bersamanya namun kucingku memilih diam melindungiku."


Shin terdiam tidak menampakkan raut sedih ataupun prihatin. Ia merasa tidak perlu lagi untuk mengungkitnya. Shin langsung ke inti permasalahan, "Apa kau berhasil mengintai? Atau gagal?"


Aio mengangguk. "Tentu aku berhasil. Karena itu aku tadi berniat menceritakannya pada Tuan Rom, tapi sayangnya aku terlanjur murka pada Tuan Gen lalu pergi ke mari."


"Informasi jenis apa yang kau dapatkan?"


Aio memandang serius mata Shin. "Jenis pemerintahan mereka, tujuan mereka, dan aturan-aturan mereka. Perlu kau ketahui, Shin, saat ku bandingkan dengan kita, para gadis itu sudah dua langkah maju meninggalkan kita."


"Maksudmu para gadis itu—?"


"Artinya mereka tentu sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi."


Shin sedikit terkejut. Rautnya beralih menjadi sangat serius. "Ceritakan padaku, Aio. Ceritakan tentang para gadis itu."


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••

__ADS_1


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2