Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Ruang Rahasia II | Di Balik Jeruji Transparan


__ADS_3

Setitik cahaya datang di antara kegelapan. Cahaya itu perlahan melebar bagaikan mentari fajar yang menghapus malam. Tuan Gen merasa arusnya sudah semakin tenang, ia bisa bergerak sesuai dengan keinginannya dengan cara berenang, namun pandangannya terfokus pada cahaya di sebrang sana—terlihat seperti adanya ruangan besar yang dipenuhi terang-benderang lampu listrik. Sepertinya ruangan itu bukanlah tempat sembarangan.


Tuan Gen memasuki celah dinding yang memisahkan antara saluran air dan ruangan. Tampak sekeliling ruangan itu sangat bersih seperti memang masih terawat. Lantainya bersih berwarna putih. Atapnya tinggi dan dikelilingi lampu listrik. Dindingnya terlihat kokoh, tak berbeda jauh dengan lantainya. Tepat di samping-samping aliran air terdapat pagar besi pembatas dan sebuah jembatan penyebrangan.


Seketika terdengar suara langkahan kaki dan orang saling berbincang. Reflek Tuan Gen menenggelamkan sosoknya bersembunyi di balik keruhnya air, meskipun begitu bukan berarti Tuan Gen tidak bisa melihat keadaan di luar sana. Dua orang lelaki berbaju putih berjalan menyebrangi jembatan besi itu. Mereka saling berbincang sangat serius meskipun tidak begitu terdengar jelas apa yang dibicarakannya. Di tangan mereka sebuah papan catatan. Terlihat dari gelagat mereka, entah mengapa Tuan Gen mengingat tentang sesuatu. Mereka seperti orang yang meneliti akan suatu hal penting di balik layar. Entah mengapa dirinya yakin akan hal itu, tetapi bila pikirannya salah maka akan sangat aneh mereka melakukan hal itu—membawa catatan dan berbaju rapi sembari saling berbicara membahas catatan seolah gaya Akademi masa lalu.


Dua orang itu kemudian berlalu dari jembatan. Tuan Gen langsung bangkit dari menenggelamkan diri untuk segera naik ke lantai. Baju dan celana menjadi terasa berat mengalirkan banyak tetesan air. Pandangan matanya menjadi sangat hati-hati, ia lebih dulu melirik memeriksa keadaan sekitarnya sebelum memilih bergerak.


Terlihat ada pintu kaca. Di dalamnya lorong panjang seakan mengarah ke jalan keluar. Tuan Gen membuka pintu itu. Udara seakan lebih sejuk dari sebelumnya. Begitu pintu itu ditutup, tak ada suara apapun bahkan aliran sungai pun tak lagi terdengar. Tuan Gen segera melalui lorong itu dengan sedikit berlari kencang namun dengan tubuh sedikit membungkuk. Setiap langkahnya tak bersuara, lebih sunyi dibandingkan suara napasnya sendiri.


Sesaat tibalah di ujung lorong, sebuah pintu kaca yang tidak tembus pandang. Pintu itu ia buka perlahan untuk mengintip keadaan ruangan di dalam sana. Tampak tidak lebih terang dan lebih sunyi daripada lorong, namun di dalam sana ramai orang-orang berbaju putih saling melakukan pekerjaan masing-masing. Pandangan beralih pada sisi-sisi ruangan. Ternyata ruangan itu berbentuk lingkaran dan setiap sisinya tidak dikelilingi oleh dinding melainkan kaca besar yang menampilkan ruangan lain di dalamnya. Di tengah ruangan ada mesin yang begitu besar, mesin yang sangat aneh dan tentunya Tuan Gen tidak tahu itu.


Suara bel tiba-tiba berdering. Tuan Gen terkejut mendengarnya karena ia kira itu adalah alarm peringatan. Bel itu ternyata adalah bel makan malam, suara deringnya berbunyi satu kali bel pendek lalu dilanjutkan satu kali bel panjang—bahasa bel sejak Akademi masa lalu. Setelah suara itu selesai, orang-orang berbaju putih mengakhiri pekerjaannya. Seketika Tuan Gen terkejut begitu sadar bahwa sebagian dari mereka berjalan mendekati lorong ini. Sontak Tuan Gen memeriksa keadaan di sekitarnya. Di sisi lorong di dekatnya ada tong sampah besar berwarna hijau. Tong sampah itu terletak memojok di dinding yang menyiku khusus untuk pojokan sampah.


Tanpa banyak pikiran, ia bergegas bersembunyi masuk ke dalam tong sampah itu. Baunya memang sangat menyengat namun Tuan Gen merasa aman di dalamnya. Orang-orang berbaju putih itu berjalan melewatinya sembari berbincang. Baru kali ini Tuan Gen dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


"Leri, berapa kali lagi penelitian dilakukan? Para gadis itu tidak mungkin bisa bertahan." Ucap seseorang membuat Tuan Gen terkejut.


"Gadis? Kenapa?" Pikir Tuan Gen penasaran. Dia lanjut memerhatikan percakapan.

__ADS_1


"Dengar, Ardi, Tuan Rom tidak akan ingin menghentikan penelitian ini. Cukup kerjakan saja." Jawabnya.


"Dasar kalian. Intinya Tuan Rom memang ingin menyiksa para gadis itu, buat apa kita—" Sahut yang lain kasar namun segera dipotong.


"Sut! Jangan ucapkan itu!"


"Sudahlah jangan kaku, di sini kan lorong."


Suara itu lalu menghilang. Sepertinya mereka sudah keluar dari lorong ini. Tuan Gen lalu segera keluar dari tong sampah bau busuk itu. Pintu kaca tak transparan ia buka kembali lalu perlahan masuk ke dalamnya secara hati-hati. Ruangan ternyata sudah kosong, tak ada siapapun di dalam sini kecuali dirinya. Perasaan yang sangat penasaran dengan apa yang mereka semua teliti membuat Tuan Gen tanpa pikir panjang berjalan mengelilingi ruangan untuk memerhatikan apa yang ada di balik kaca itu. Ternyata alangkah dibuat terkejut. Tuan Gen mendapati di dalam setiap ruangan yang dibatasi kaca terdapat dua gadis yang tubuhnya diikat dalam keadaan tak berbusana sehelaipun. Jumlah ruangan bagai penjara itu berjumlah 12 ruangan, itu berarti ada 24 gadis terkurung di dalamnya yang telah menjadi korban. Sungguh biadab! Keadaan itu seakan menekan dada Tuan Gen membuat percikan api amarah meledak-ledak dalam dirinya.


Keadaan para gadis itu terlihat lemah. Rambut panjang mereka terdiam bergantungan. Tak satupun tubuh mereka bergerak, bahkan sepasang mata mereka pun tak ada yang terbuka. Sepertinya mereka semua tak sadarkan diri—pikir Tuan Gen. Namun, ketika Tuan Gen tiba di kaca terakhir ruangan penjara itu, ada seorang gadis terlihat menunjukan tanda-tanda masih hidup. Ia menggerakkan kepalanya mencoba menoleh ke arah Tuan Gen.


Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu lorong.


"Ah! Sial! Catatanku ketinggalan. Kalau tidak salah tadi—"


Ternyata salah satu orang berbaju putih datang. Kini dia terdiam tak percaya ada oranglain selain dirinya di dalam ruangan ini. Matanya terbelalak memandang Tuan Gen. Raut wajahnya menegang ketakutan seperti orang yang baru saja bertemu malaikat maut. Tangannya bergetar seakan ingin melakukan sesuatu namun tak mampu bertindak. Begitu orang itu mulai melangkah mundur secara perlahan, Tuan Gen seketika mengeluarkan seluruh kekuatannya. Sosoknya berubah bagai hewan yang menemui mangsanya. Auranya begitu jahat sehingga membuat orang itu sontak memilih lari terbirit-birit. Tentu saja Tuan Gen tidak membiarkan itu. Sebelum orang itu menyentuh pintu lorong, punggungnya sudah ditembus oleh tangan Tuan Gen yang tajam dengan sangat cepat. Jantungnya digenggam sangat kencang hingga pecah dalam genggaman membuat pakaiannya dibanjiri darah segar.


"Persetan dengan kalian semua! Apa yang kalian lakukan!!" Teriak Tuan Gen penuh kebencian. Namun, orang itu tidak bisa menjawab, ia hanya bisa membuka mulutnya seakan tak tahan dengan rasa sakitnya.

__ADS_1


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••


Info tentang kepenulisan Arafura :

__ADS_1


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2