Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Keluarlah I | Kehangatan Si Tuan Aneh


__ADS_3

Tangannya menghantam dinding kaca dengan kekuatan penuh. Suara terdengar menggelegar, sangat nyaring untuk tingkatan ruangan kedap udara. Serpihan-serpihannya beterbangan lalu tercerai-berai tanpa arah, sedangkan kaca yang masih bertahan—alias tidak pecah—membentuk retakan-retakan kacau bersama warna putih keruh menghilangkan sifat transparannya.


Tuan Gen menciptakan lobang besar itu, lobang di dinding sel penjara kaca untuk membawa seorang gadis di dalamnya. Kini gadis itu terbaring begitu lemah, tangan hingga kakinya dirantai tanpa memakai busana sehelaipun—benar-benar telanjang bulat seperti diperlakukan bagai budak. Terlihat beberapa selang kecil berwarna-warni berisikan cairan menempel pada bagian tubuh mulusnya. Setidaknya ia hanya bisa memandang sekitarnya dengan pandangan dingin tanpa emosi seolah-olah sudah tak memiliki tenaga.


Kedua kaki Tuan Gen mulai melangkah masuk ke dalam penjara itu. Serpihan kaca perlahan terinjak menghasilkan suara gesekan kecil tak terhindarkan. Ternyata penjara itu cukup luas apabila di perhatikan dari dalam. Dinding terlihat kokoh dipenuhi monitor aneh. Lantai berwarna putih dipenuhi kabel-kabel hitam. Di tengah ruangan terdapat sebuah kasur—tidak, sepertinya lebih tepat disebut ranjang besi, tempat dimana gadis itu diikat dalam keadaan dibaringkan. Tangan dan kaki kirinya di rantai kuat pada tiang tinggi di samping kirinya, sedangkan tangan dan kaki kanannya dirantai pada tiang sebaliknya. Keadaannya membuat gadis itu tak bisa berbuat apa-apa meskipun dia tahu seluruh lekukan tubuhnya dapat terlihat—bahkan rautnya seperti pasrah tak peduli apapun lagi. Posisinya yang terbuka lebar dan keadaanya yang lemah membuat Tuan Gen bertanya-tanya pada dirinya, apa benar tidak ada yang melecehkannya?


Terlihat dari raut Tuan Gen, kini seolah didominasi oleh amarah. Dirinya ingin sekali membalaskan perbuatan jahat yang menimpa pada gadis-gadis malang ini, namun Tuan Gen bukanlah siapa-siapa, dirinya hanya memiliki pengaruh di wilayahnya sendiri.


Gadis itu terus memandang Tuan Gen begitu Tuan Gen sudah berdiri tepat di dekatnya.


"Kau—" Gadis itu memaksa untuk bicara namun tak sanggup.


"Jangan bicara. Biar aku melakukan sesuatu." Ucap Tuan Gen lalu mencoba untuk menghancurkan rantai besi itu.


"Tunggu, dengarkan aku." Ucap gadis itu lagi membuat Tuan Gen berhenti berbuat sesuatu.


"Kenapa?"


"Kalau kau menghancurkan rantai itu, bel akan berdering. Tolong lepaskan saja selang-selang ini dari tubuhku. Cairan ini—ah. Kekuatanku terus terkikis."


"Kekuatan?"


"Sudahlah. Tolong lepaskan. Kalau tidak, aku akan tewas seperti gadis-gadis yang malang itu." Ucapnya dengan raut seolah memohon.


Terkejut mendengarnya, tanpa banyak bicara Tuan Gen bergegas mencabut satu per satu selang warna-warni yang menempel di tubuh gadis itu. Ada dua selang warna merah menempel di kepalanya. Enam selang kuning menempel di lengannya. Lima sedang biru di bagian dadanya. Terakhir, enam selang hitam di kakinya. Semua selang itu berisikan cairan aneh seolah memang sudah dikhususkan, namun satu hal yang membuat semuanya memiliki kesamaan, begitu selang itu di lepas maka cairan seakan menguap menghilang tak tersisa. Selang itu dalam sesaat kehilangan warnanya menjadi selang putih biasa. Di ujung selang terdapat jarum panjang sebagai penyambung, jarum itu terasa sangat panas sehingga membuat gadis itu berteriak kesakitan saat jarum itu dilepaskan. Tidak hanya itu, panjangnya jarum telah meninggalkan lubang yang dalam cukup parah di kulitnya. Darah segar sedikit merah kehitaman seketika keluar lalu mengotori kulit tubuhnya.


Dirinya tak bisa bergerak, tubuhnya masih terasa lemas hanya bisa terbaring dengan rantai yang mengikatnya. Tubuhnya yang tak berbusana membuat Tuan Gen sedikit terganggu memandanginya, namun gadis itu tetap tampak tidak peduli. Dia hanya terdiam sembari membenarkan ritme napasnya. Dadanya mengembang lalu mengempis, terlihat tidak ada masalah apapun, tetapi ia bilang benar-benar sulit bernapas.


"Kau baik-baik saja?" Ucap Tuan Gen. Bola matanya sedikit menghindar dari memandang gadis itu.


"Maaf. Aku sangat lemas. Bisakah kau kemari?"


"Kemari? Apa maksud—"

__ADS_1


"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku hanya ingin membisikkan sesuatu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa."


Tuan Gen lalu mendekatinya. Kini ia mencoba beralih dari sedikit memandang tubuh gadis itu. "Lalu apa?"


"Lebih dekat lagi." Ucapnya.


"Lebih dekat?"


Tuan Gen melangkah lebih dekat lagi lalu membungkukkan kepalanya dekat dengan mulut gadis itu. Kini seakan tak ada jarak lagi di antara mereka, bahkan darah segar dari tubuh gadis itu sempat berpindah menempel ke pakaian Tuan Gen.


"Apa yang ingin kau bisikkan?" Tanya Tuan Gen.


Gadis itu tidak menjawab. Seketika terasa Aura aneh datang mengalir bagai udara. Aura itu terasa sangat dingin menusuk kulit. Pandangan sesaat ia alihkan melirik wajah gadis itu. Rupanya kedua matanya berubah menjadi warna biru terang bagai kobaran api. Mulut gadis itu seketika terbuka lebar membuat dua taringnya terlihat jelas.


Dia langsung menggigit leher Tuan Gen. Darah terasa sedang dihisapnya dengan sangat buas. Tuan Gen tidak merasakan sakit sedikitpun, hanya saja terkejut karena gadis itu bukanlah manusia biasa sepertinya. Sesaat gadis itu mengakhiri hisapannya lalu menutup mulutnya kembali. Raut wajahnya yang dingin kini bisa tersenyum lebar sembari memandangi mata Tuan Gen yang terdiam seolah bingung. Aura dingin dari tubuhnya seketika berubah menjadi panas bagaikan api.


"Jangan terkejut. Aku juga memiliki kelebihan sepertimu, hanya saja kekuatan kita berbeda." Ucapnya sembari menggerak-gerakan lidah seakan menikmati manisnya darah.


Tiba-tiba muncul api biru dari tubuhnya. Apinya seperti meledak-ledak membuat Tuan Gen sontak melompat menjauh. Rantai hitam yang membelenggunya perlahan berubah menjadi cairan kental sangat lemah, hanya bisa menetes ke lantai ruangan. Tuan Gen berpikir, api yang dimiliki gadis ini sepertinya lebih panas dibandingkan yang Aio miliki. Meskipun api ini berwarna biru gelap, bukan berarti lebih dingin atau setara dengan api alami.


"Kau bisa memanggilku Viena. Aku tahu betul jalan keluar paling aman. Karena itu, ayo kita keluar dari sini. Tuan Gen." Ucap gadis itu membuat Tuan Gen terkejut.


"Kau mengenalku?"


Gadis itu tersenyum. "Ya, tentu saja! Memangnya gadis mana yang tidak tahu dirimu? Apalagi kau adalah salah satu musuh terkuat kami."


Tuan Gen tertawa. "Oke. Itu memang logis." Ucapnya lalu mengulurkan tangannya pada gadis itu, "Untuk kali ini ayo kita kerjasama."


Sesaat setelah saling bersalaman, gadis berambut abu-abu bernama Viena itu berlari ke ruang tengah lebih dulu. Tuan Gen mengekorinya dari belakang sembari memerhatikan sekitarannya.


"Tunggu." Tiba-tiba Tuan Gen berhenti melangkah sebelum Viena mencapai pintu menuju lorong. Pandangannya seakan tidak bisa beralih dari memandangi nasib gadis-gadis lain yang tak dibebaskan. "Apa kita tidak punya waktu lebih untuk membebaskan mereka?"


"Tidak." Jawab Viena. "Sudah ku bilang, kan? Cairan itu bisa menewaskanku bila tidak segera dilepaskan, apalagi meskipun sudah dilepaskan, energi tubuh seakan tidak ada yang tersisa. Karena itu, aku terpaksa meminum darahmu."

__ADS_1


"Jadi meskipun dilepaskan, apabila tidak ada energi cadangan maka akan tewas?" Tuan Gen terdiam.


"Itu benar, tapi para gadis itu sudah seharian di sini. Mereka sudah tiada. Karena itu lupakan—" Tuan Gen memotong ucapannya.


Raut wajah berubah serius. "Aku tadi melihat dirimu tidak berbusana, namun setelah api itu membakar tubuhmu tiba-tiba kau sudah berbusana. Apa itu terbuat dari kekuatan apimu?"


"Eh? Apa maksudmu?" Viena sedikit kebingungan, "memang iya aku bisa, tapi—"


"Bisakah kau melakukannya beberapa kali lagi? Buatlah seragam untuk menutupi tubuh para gadis itu. Setidaknya, lekuk tubuh indah mereka tertutupi meskipun jiwa mereka telah tiada." Ucap Tuan Gen membuat Viena membelalakkan mata seolah tak percaya. Lelaki seperti Tuan Gen seakan orang yang sangat langka. Tak biasanya lelaki akan berlaku seperti itu kepada gadis yang tak berbusana, apalagi mereka sejatinya adalah musuhnya.


Sejak saat kemarin, ketika Akademi Gakuin runtuh, kerusuhan terjadi dimana-mana. Di setiap jalan, di setiap hutan akademi, di setiap pojok gedung, bahkan ruangan pun tak lagi aman. Banyak gadis lemah ditangkap lalu dipermainkan oleh lelaki yang tak bertanggungjawab, mereka semua melecehkan tubuh gadis dengan alasan hanya sekadar menghukum musuh. Ada yang diikat lalu digunakan bagai mainan yang terbuang, tubuhnya yang tak berbusana dijadikan bahan tontonan belaka sehingga membuat para korban menjadi gila. Mereka tidak merasa dihargai kembali sehingga kebanyakan memilih bunuh diri ketika berada di dalam tahanan. Ah! Kejadian yang sangat membuat diri Viena kesal penuh api dendam. Itulah sebabnya, pertama kali mengetahui Tuan Gen sangat menghargai keberadaan gadis, itu sudah cukup membuat raut wajahnya berubah tersenyum. Membuat api kebencian dalam dirinya seakan membeku tidak lagi menyamaratakan sikap lelaki.


"Meskipun wajahmu menyeramkan, ternyata kau aneh juga ya." Viena tersenyum, "lagipula, perlu waktu lebih agar penjaga datang menemui kita. Karena itu, akan ku lakukan."


"Baiklah. Aku mengandalkanmu, Viena." Ucap Tuan Gen sembari tersenyum.


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••

__ADS_1


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2