Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Serangan | Berlian Hanyut Ditelan Kegelapan


__ADS_3

Sebelum ledakan


Hujan mulai mereda berubah menjadi gerimis-gerimis kecil tak berarti. Suara-suara hentakan air yang menghantam dedaunan pohon tak terhindarkan lagi. Hembusan angin yang mengalir melalui celah-celah pepohonan dan semak belukar terasa dingin menusuk kulit. Selalu ada serangga hutan bersuara nyaring menempel pada kayu pepohonan, adapun yang bersembunyi di area semak-semak—ah, itu merepotkan! Kakinya sangat tajam sehingga terkadang tiba-tiba menempel dipakaian, selain itu tempurungnya sangat keras, tak mudah dibunuh dengan tangan kosong.


Roy bersembunyi di antara pepohonan hutan. Di tangannya sebuah busur silang dengan anak panah yang siap untuk ditembakkan kapan saja. Sembari tiarap, busur silang itu ia arahkan ke arah di mana para penjaga istana melakukan patroli. Beberapa penjaga memasuki area hutan akademi di luar benteng kastil, beberapa pula hanya berjalan-jalan di jalanan samping benteng dengan persenjataan lengkap. Roy tidak sendirian, ia datang bersama 30 bawahannya yang kini sedang bersembunyi. Mereka semua menunggu aba-aba dari Roy.


Suara ranting dan semak yang diinjak semakin kencang. Beberapa penjaga di area hutan tampak sudah mendekat, jumlahnya ada 6 orang, mereka berjalan sembari tertawa-tawa dan bercanda-canda seolah tidak tahu apa yang akan terjadi menimpa mereka—kenyataannya mereka memang tidak tahu apapun. Tampak mereka hanya membawa sebilah pedang dipunggung mereka dan sebuah lentera di tangan mereka, satupun dari mereka tidak memakai pelindung badan apapun—hanya pakaian biasa, pakaian rapi dengan jas merahnya, jas yang menjadi ciri siswa Akademi Gakuin di masa lalu. Tidak tampak sedikitpun dari aura wajah mereka yang mencerminkan bahwa mereka adalah orang jahat, Roy bisa membaca itu dengan jelas, mereka hanyalah gerombolan korban, bisa dibilang para penjaga itu orang yang baik, mereka berjaga hanya karena patuh pada perintah Tuannya—yaitu Tuan Rom si pengkhianat. Namun, perbedaan arah memihak sudah semestinya menghilangkan urusan baik atau buruk, benar atau salah. Urusan saat ini sudah menjadi urusan menang atau kalah.


Sepasang bola mata Roy memandang ke arah samping kirinya. Tepat beberapa langkah darinya seorang lelaki dengan wajah penuh lumpur dan sebilah pedang dipunggungnya sedang bersembunyi dalam keadaan tubuh tiarap di semak belukar, ia adalah salah satu bawahannya yang menjadi ketua dalam penyerangan ini.


Roy berbicara pada lelaki itu dengan bahasa isyarat. "Sesaat lagi saya akan memberi aba-aba." Ucapnya dengan gerakan tangan yang sangat cepat. Matanya menatap dengan tajam penuh keseriusan. Meskipun keadaan sedang gelap, ucapan itu tidak sulit dimengerti.


Lelaki itu membalas dengan bahasa isyarat. "Siap. Saya menanti aba-aba anda."


Enam orang penjaga kini duduk melingkar di dekat pohon rindang berlindung dari gerimisnya air hujan. Terlihat salah satu dari mereka membawa tas berisikan makanan. Lentera-lentera api mereka taruh di tengah-tengah mereka, sedangkan kotak makanan dari tas itu mereka pegang satu persatu dengan raut riang gembira.


Terdengar percakapan hangat dari sebrang.


"Wah mantap sekali! Kau yang memasaknya?" Ucap salah satu dari mereka.


"Ya, anggap saja ini balas budiku." Balasnya.


"Sedangkan aku? Perasaan aku tidak ada urusan apapun." Ucap yang lain.


"Kau ini! Tinggal makan saja susah!" Seseorang di sampingnya memukul kepalanya membuat semuanya tertawa.


Keadaan itu benar-benar keadaan yang penuh dengan kehangatan. Roy mengerti bahwa mereka tidak seharusnya terlibat, tetapi keberadaan mereka bila dibiarkan maka akan menjadi suatu ancaman tersendiri, termasuk untuk keamanan dan nyawa para bawahannya serta Tuan Gen.


Dengan hati yang amat keras dan raut wajah dingin, Roy mengangkat tangan kirinya ke udara. Empat jari dari tangan Roy membuat semua busur silang di setiap penjuru mulai bersiap menembak, setidaknya ada 12 orang memungkinkan tepat sasaran berbanding dua kali lipat dari target yang hanya 6 orang.


Di kala mereka sedang lahap menikmati makanan, Rom langsung menggerakan tangannya ke arah depan dengan posisi tangan mengepal. Sontak gerakan itu direspon oleh para bawahannya untuk segera menembak.


Suara tembakan terdengar meskipun tak sekeras suara hembusan angin yang menggoyangkan pepohonan. Puluhan anak panah beterbangan membelah udara dengan sangat cepat nyaris tak terlihat karena redupnya cahaya langit mendung. Sesaat puluhan anak panah itu menghujani mereka tanpa terkecuali, ada yang tepat menembus leher—ia sempat bergerak kesakitan seakan ingin berteriak namun tak bisa. Ada yang langsung menembus kepala—mulutnya bahkan seluruh tubuhnya seakan membisu—tak bisa melakukan apapun lagi selain tumbang tak berdaya. Semuanya tergeletak seakan tewas seketika. Makanan yang berasal dari kotak makanan mereka telah berhamburan bersama percikan darah segar. Sesuatu yang tersisa di sebrang sana hanyalah lampu lentera yang masih menyala seakan berduka cita akan kematian mereka.


Roy bangkit dari posisi tiarap, perlahan ia berjalan untuk mendekati para mayat itu seorang diri. Tentu saja, meskipun Roy terlihat sangat berhati-hati dengan posisi siap menembakkan anak panah, seluruh bawahannya dibuat terkejut akan hal itu. Mereka khawatir Roy akan terkena serangan dadakan. Merespon hal itu, ketua dari bawahan Roy bangkit lalu memanggil beberapa bawahan lainnya untuk segera mengikutinya, mereka kemudian mendekati Roy yang kini sudah terdiam memandang para mayat itu dari dekat. Tampak raut wajahnya sangat serius dengan pandangan mata yang memicing memerhatikan segalanya—terlihat tubuh-tubuh mereka hancur tertembus anak panah.

__ADS_1


Tidak bisa dipungkiri, setiap anak panah ini sebenarnya bukan terbuat dari ukiran kayu melainkan padatan besi yang amat berat dan tentunya mahal. Selain arah tembakan tidak bisa diganggu oleh angin, anak panah besi terkenal dengan kesadisannya. Tubuh bisa hancur seakan pecah dibuatnya. Serpihan tubuh bisa terlempar. Adapun yang lebih parah, anak panah itu dapat menembusnya lalu membuat isi perut keluar seakan pasir yang jatuh melalui celah-celah lubang—sungguh menyeramkan.


"Kasihan sekali mereka." Ucap Roy dengan tangan mengepal kesal, "andai saja Tuan Rom tidak berkhianat."


"Mereka memang sudah ditakdirkan mati saat ini, Tuan Roy. Tidak perlu memikirkannya lagi." Jawab seorang bawahannya berniat menenangkan Roy.


"Persetan dengan takdir." Roy semakin kesal, "kau tahu apa tentang kata takdir? Takdir adalah akibat dari sesuatu kejadian! Takdir bukanlah suatu hal yang patut disalahkan, bukan pula sesuatu yang ditetapkan! Takdir adalah sistem sebab-akibat. Tuhan tidak melakukan apapun di dunia ini!"


Meskipun dari rautnya, Roy terlihat seperti orang yang tak peduli dengan sekitarnya, sebenarnya Roy bukanlah orang setega itu. Dia berhati lembut meskipun wajahnya dapat berbohong. Hati Roy terus berteriak ketika ingat ucapan-ucapan kebaikan dari para penjaga itu. Roy beranggapan Tuhan tidak pernah ikut campur terhadap apapun yang terjadi di dunia. Sistem Tuhan itu sempurna, tidak perlu lagi suatu sistem untuk membuat laporan kepada-NYA sehingga diizinkan. Kebanyakan orang selalu menyalahkan sesuatu pada takdir seolah-olah Tuhan telah berbuat kejahatan. Tidak! Roy tidak percaya itu. Tuhan telah membuat sistem yang amat adil lebih dari yang dikira sebelum manusia ada, tidak ada yang ikut campur kecuali manusia yang hidup di dalamnya lalu menjalankan sistem itu. Hidup sesuai sistem dan mati sesuai sistem—itu yang dimaksud Roy. Maka, Roy tidak menyalahkan takdir. Kematian dari para penjaga malang itu sebab sesuai dengan sistem dunia, yaitu anak panah mengenai mereka sehingga tewas seketika. Panah itu diluncurkan oleh bawahan Roy atas perintah Roy.


"Maaf Tuan, kami tidak bermaksud menyalahkan takdir." Ucap salah satu bawahan Roy.


Roy menghela napas. "Sudahlah lupakan. Semua ini sudah sewajarnya. Kita tidak perlu memikirkannya lagi. Kita hanya perlu membebaskan Tuan Gen."—Bohong. Sebenarnya Roy masih memikirkannya, namun semua arti itu tak tergambar oleh raut wajahnya yang selalu terlihat dingin.


Seorang bawahan yang lain terlihat berbisik pada ketua dari bawahan Roy. Bisikan itu membuat raut wajah ketua itu sedikit terkejut.


Roy telihat penasaran. "Ada apa? Apa yang kalian bahas?"


"Tuan Roy, kami tahu seperti apa perasaan anda pada kematian orang-orang ini," ucap ketua itu menjelaskan, "baru saja ada saran untuk mengumpulkan anak panah itu kembali, termasuk yang sudah tertancap, apa Tuan mengizinkan?"


Ketua itu tersenyum sembari menggelengkan kepala, "sepertinya tidak Tuan."


"Kalau begitu, tidak perlu kita ambil kembali. Ambillah anak panah selain yang tertancap di tubuh. Biarkan mereka seperti itu." Ucap Roy dengan tegas.


"Baiklah, Tuan." Semua bawahannya mengerti.


Lalu mereka pun bergerak mengambil beberapa anak panah yang tidak tepat sasaran. Ada yang menancap di tanah dan ada pula yang menancap di batang pohon. Sebenarnya tidak hanya anak panah yang menancap saja, anak panah yang telah menembus tubuh lalu menancap di tanah pun tidak diizinkan untuk dikumpulkan. Meskipun tidak banyak jumlahnya, tetapi para bawahan Roy tidak mengeluh akan hal itu. Sikap Roy yang seperti itu sejatinya sangat jarang terjadi, sikap inilah yang mereka semua sebut sebagai kebaikan Roy yang sesungguhnya. Kebaikan yang bersembunyi dalam sikap dingin bagai butiran emas yang terkubur dalam tanah. Sungguh orang yang mulia!


Sesaat ketika pengumpulan anak panah telah selesai, tiba-tiba dari arah sebrang benteng kastil terdengar suara ledakan besar, ledakan itu bahkan membuat semua penjaga di sekitaran benteng terkejut lalu berlarian memasuki benteng. Rupanya ada ledakan besar di sana. Tidak tahu persis apa yang terjadi, tetapi sekilas yang hadir dalam pikiran Roy hanyalah Tuan Gen.


"Apa itu Tuan Gen?" Pandangan Roy terbelalak. Kepulan asap lebih hitam dibandingkan awan melayang keangkasa.


"Mohon maaf Tuan, menurut saya Tuan Gen tidak mungkin melakukan hal sekejam itu." Ucap salah seorang bawahannya berpendapat.


"Kalau begitu ada apa di—"

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara ranting dan dedaunan yang diinjak oleh kaki seseorang. Sontak semuanya mengarahkan busur silang pada tempat di mana suara itu datang. Suara itu ada di balik batang kayu pohon di hadapan Roy dan semuanya.


"Siapa kau?! Tunjukkan dirimu!!" Teriak seorang bawahan Roy sembari berjalan mendekat bersama tiga orang lainnya. Mereka semua sudah siap untuk menembak bila ancaman datang.


"Sepertinya kita bukanlah musuh ya."


"Apa?!" Semua terkejut.


Terdengar seperti suara seorang gadis. Sangat tidak mungkin ada gadis di wilayah Api Gakuin. Roy berakhir sangat kesal.


"Woy! Siswi Air Gakuinia! Jangan-jangan kau dalang dari semua ini?! Cepat keluar!!" Teriak Roy kesal.


Ternyata benar, tepat dari balik pohon itu keluar seorang gadis sembari mengangkat kedua tangannya. Rambutnya pendek dan diikat. Pakaiannya kimono bermotif bunga warna pink. Kulitnya putih dan bermata merah. Meskipun terlihat seperti gadis biasa, Roy tidak akan tertipu lagi semenjak ada kekacauan di hari kemarin. Roy menatap mata gadis itu dengan tatapan penuh penindasan serta api dendam, namun gadis itu malah menunjukkan raut tersenyum.


"Namaku Elia. Sudah ku bilang, aku bukanlah musuh kalian. Aku memiliki tujuan yang sama denganmu." Ucap Gadis itu.


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••


Info tentang kepenulisan Arafura :

__ADS_1


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2