
Perlahan Tuan Gen mulai sadarkan diri. Tubuh terasa tersiksa. Tangan, kaki, hingga kepala, semua terasa sulit untuk digerakkan. Benturan keras karena terjatuh membuat kening kepala menyucurkan sedikit darah. Napas terasa berat ketika dada terasa sakit—ah sepertinya ini efek membentur batang pohon ketika jatuh. Tidak hanya itu, beberapa sendi terasa seperti terpelintir menyakitkan.
Telinganya tak mendengar suara apapun selain kesunyian. Pandangannya sangat gelap, hanya sedikit cahaya yang tampak di matanya namun itupun sangat remang. Ia coba gerakkan tangannya, saat ini ia masih dalam posisi tertidur, di bawahnya sebuah lantai yang sangat dingin namun terasa sedikit dikotori pasir.
"D—Dimana aku?" Tuan Gen memaksa diri untuk bangkit.
Terasa angin mengalir dari langit-langit, ternyata tepat di atas Tuan Gen ada sebuah lubang besar selebar tubuhnya. Tampaknya Tuan Gen terjatuh melalui lubang tersembunyi itu lalu meluncur memasuki ruangan ini. Pandangannya beralih melirik sekitarnya, ruangan ini terlihat seperti ruangan bawah tanah yang dirahasiakan—tidak, sepertinya lebih cocok disebut ruangan bawah tanah yang terbengkalai. Tercium dari baunya seperti dipenuhi debu-debu yang seketika membuat hidung terasa gatal, auranya pun begitu hampa, benar-benar ruangan yang buruk. Tuan Gen menebak, mungkin saja keberadaan lubang itu bukanlah jalan masuk yang sebenarnya, lubang itu seperti di desain untuk sebatas cerobong tersembunyi, lagipula selain tak ada tangga di dalamnya, jarak ujung ke ujung lubang itu sangatlah jauh bagai jarak galian sumur, tentu saja Tuan Gen tak bisa menaikinya kembali.
Ruangan ini kosong. Tidak ada benda apapun di sini, hanya kumpulan pasir yang mengotori lantai saja. Saat Tuan Gen menyentuh tembok ruangan, entah mengapa terasa dingin dan basah seakan memang benar-benar ruangan terbengkalai, bahkan beberapa bagian sempat terasa licin seakan telah dipenuhi lumut-lumut kecil. Mungkin saja, hal sebenarnya lebih dari perkiraan Tuan Gen, keadaan di mana tak ada siapapun dan tak ada apapun semakin menambah kecurigaan, apalagi ruangan terbengkalai ini berada tepat di bawah tanah wilayah kastil mewah. Sungguh tidak logis!
Seharusnya memang tidak mungkin. Kastil sangat mempertimbangkan keadaan sekitarnya sehingga mustahil ada ruangan terbengkalai seperti ini. Bila seandainya ruangan terbengkalai berada di luar benteng akademi, itu sudah sangat wajar, karena memang di alam luar sana tiada kehidupan—setidaknya itu sesuai pengetahuan Tuan Gen.
Di dalam kesunyian seketika Tuan Gen mendengar suara air mengalir. Meskipun sedikit samar, tapi Tuan Gen yakin akan keberadaannya. Jalan keluar. Jika suara itu ada di sini, itu berarti ada jalan yang terhubung dengan ruangan ini. Tuan Gen mencoba mencari dari mana asal suara itu, ia melirik seluruh dinding ruangan namun tak tampak sedikitpun adanya keberadaan pintu. Seluruhnya hanya dinding rata yang sangat sederhana.
"Sial. Dari mana suara itu?" Kesal Tuan Gen.
__ADS_1
Tuan Gen lalu mencoba menyusuri dinding ruangan, ia berjalan sembari meletakkan tangannya di dinding agar memastikan ada tidaknya pintu rahasia di dalamnya. Kakinya terus melangkah dengan ritme yang amat lambat, penuh dengan kehati-hatian. Suara setiap langkahnya sangat terdengar akibat banyaknya pasir yang berserakan. Namun, seketika suara langkah menginjak pasir itu berubah membuat Tuan Gen terkejut.
"Lantai kayu?"
Ternyata benar. Di hadapannya ada lantai terbuat dari kayu, berbeda dengan yang lainnya. Tuan Gen lalu jongkok—suara air mengalir memang sangat terdengar dari posisi ini. Tuan Gen mencoba mengetuk kayu itu—suaranya seakan ada ruangan kosong di dalam.
"Tidak salah lagi. Ini pasti jalan keluar!"
Tidak. Tuan Gen tidak langsung membukanya. Dia adalah orang yang mudah mencurigai keadaan sekitar, termasuk pada lantai kayu itu. Dia berpikir bila seandainya langsung saja dibuka, maka akan sangat berbahaya bila yang dibukanya itu adalah jebakan. Meskipun Tuan Gen adalah lelaki yang kuat peminum darah segar, bukan berarti dia tidak akan terluka bila sebuah kapak atau puluhan panah mengenainya.
Lantas Tuan Gen mengeluarkan kekuatannya yang seketika mengubah sosoknya menjadi lelaki bagai iblis. Aura hitam dari dirinya seketika berubah menjadi merah bagai api. Aura itu mengeluarkan energi panas tanpa cahaya, bahkan sesuatu yang berada di dekatnya—termasuk dinding berlumut basah—perlahan mengering. Lantai di bawahnya pun seakan terbakar karena panas dari kakinya. Tuan Gen siap memukul. Ketika kekuatannya sudah maksimal, ia langsung melayangkan pukulan itu tanpa menahan diri. Ruangan seketika bergetar begitu lantai kayu itu mulai dihantam pukulannya sebanyak tiga kali. Lantai kayu itu pun perlahan retak lalu hancur tak bersisa membuat suara aliran air semakin jelas terdengar. Patahan-patahan kayu itu terjatuh lalu menghilang.
Tanpa pikir panjang Tuan Gen melompat ke dalamnya. Tubuhnya meluncur melalui lobang itu lalu menghantam kumpulan air yang sangat dingin. Derasnya aliran dan dalamnya air membuat tubuhnya terseret oleh arus tanpa bisa bertahan.
•••
__ADS_1
•••
Pesan :
Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.
•••
kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :
Email : alaksinitanovel@gmail.com
atau chat di bab ini 💕
•••
__ADS_1
Info tentang kepenulisan Arafura :
Twitter/instagram : @alaksinita