Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter I • Kursi Tahta | Cahaya Hitam


__ADS_3

Tuan Rom—pemimpin tertinggi Kelompok Arbelen dan penguasa Api Gakuin bagian utara—kini hanya duduk tenang sembari menghisap rokoknya. Kakinya ia angkat ke atas meja seolah menunjukkan perasaan angkuh. Asap mengepul keluar dari mulutnya lalu melayang-layang memenuhi ruangan.


Anggo, lelaki rambut hitam yang patuh pada Tuan Rom berdiri tepat di samping meja menghadap Tuan Rom. "Apakah anda benar-benar merelakan area Kastil sebagai medan pertempuran, Tuan Rom?"


Tuan Rom hanya mengangkat sebelah pipinya seolah tersenyum. "Buat apa aku memikirkan itu? Api Gakuin bagian utara memiliki lebih banyak bangunan indah dibandingkan kastil itu. Lagi pula, kepentinganku berbeda dari yang Tuan Gen pikirkan. Aku akan melakukan apa saja untuk mewujudkannya."


"Mohon maaf Tuan." Lanjut Anggo dengan wajah kebingungan, "sejujurnya saya masih belum paham apa maksud dari kepentingan anda. Mengapa anda membiarkan Ziyo bertarung dengan Tuan Gen meskipun anda sudah tahu hasilnya? Selain itu, terkait gadis yang menyerang kastil, mengapa anda sengaja memancingnya?"


Kedua pipi Tuan Rom mulai terangkat membuat bibirnya terbuka menampilkan taring-taring tajamnya. Matanya seakan terbelalak seolah menikmati suasana kelam. "Aku ingin bocah seperti Ziyo mengakui kekuatan Tuan Gen. Bodohnya dia, bahkan aku saja tidak bisa merendahkannya. Dia adalah saingan terbaikku! Selain itu, terkait tentang para gadis itu, aku memang sengaja memancingnya dengan memberikan misi ceroboh pada Aio."


"Apa karena Aio melakukan suatu kesalahan seperti Ziyo?" Tanya Arbelen.


"Tidak." Jawab Tuan Rom, "aku hanya sedikit menjadikannya alat untuk memastikan keadaan Air Gakuinia. Selain itu, di sisi lain aku menginginkan kehadiran mereka."


"Apa anda tahu Aio akan berhasil?"


Tuan Rom tertawa. "Bodoh. Jangan bilang kau sama sekali tidak mengerti. Menurutmu kenapa aku mengundang Tuan Gen secara paksa? Tentu saja jawabannya karena aku tidak yakin si Aio itu akan berhasil. Aku tidak percaya, ternyata dua hal yang ku tetapkan sama-sama berhasil. Sangat menyenangkan, bukan?"


Pandangan Anggo sesaat terbelalak merasa sedikit ketakutan. Dia hanya bisa terdiam tak bisa berbuat seenaknya. Namun, biar bagaimanapun, bagi dirinya Tuan Rom adalah pemimpin terbaik sejak Akademi masa lalu masih berdiri. Anggo sangat mengaguminya sehingga akan melakukan banyak hal untuknya, termasuk mendukungnya dalam menjalani kepentingannya.


"Ya, sangat menyenangkan, Tuan." Jawab Anggo dengan senyuman.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan dengan sikap tergesa-gesa. Wajahnya terlihat panik namun masih mencoba sopan ketika sudah berhadapan dengan Tuan Rom. Ternyata dia adalah pengurus yang berada di dalam bidang bagian informasi.


"Permisi, Tuan Rom!" Ucap orang itu.


"Ada apa terburu-buru?" Sahut Tuan Rom.


Napasnya sedikit tergesa-gesa. "Maaf mengganggu, Tuan. Ada laporan dari laboratorium pusat. Tuan Gen terlihat sudah memecahkan sel yang baru saja terisi. Sepertinya berniat untuk merebut gadis itu."


Seketika Anggo dan Tuan Rom terkejut mendengar kalimat itu. Mereka seakan tidak mengira bahwa Tuan Gen akan menemukan jalan ke laboratorium tersembunyi—tempat dimana para gadis dijadikan alat penelitian.


"Bagaimana ini, Tuan Rom? Bukankah gadis itu baru saja ditangkap? Mungkin saja dia masih hidup." Ucap Anggo, pikirannya seakan kacau.


Tuan Rom sesaat terdiam. Pandangannya sangat tajam seolah sedang sangat fokus. Di dalam pikirannya telah berkecamuk berbagai pilihan yang akan segera ditetapkan oleh dirinya. Dia pasti sudah sadar akan segala pemikirannya itu, apapun yang ia ucapkan akan segera mengubah alur cerita kepentingannya. Sesaat ia mencoba menghela napas panjang sembari memejamkan pandangan. Satu pilihan hadir meyakinkan dirinya.


"A-Apa anda yakin, Tuan?" Orang itu seakan tidak percaya mendengarnya.


Tuan Rom menatap matanya. "Jadi kau meragukan aku?"


"A—Tidak Tuan." Orang itu tersenyum ketakutan, "baiklah. Saya akan segera melaporkannya."


"Bagus. Kalau begitu segera pergi."

__ADS_1


Orang itu kemudian menunduk hormat pada Tuan Gen sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan. Seketika kesunyian datang menyelimuti ruangan ini. Tuan Rom mengepalkan tangan sembari bersandar di kursinya seakan kesal dengan informasi itu.


"Baiklah. Tuan Gen. Ternyata kau bisa mengambil nilai dalam permainan ini. Tak ku sangka aku dibuat imbang denganmu." Seketika Tuan Rom mengambil kertas di hadapannya lalu meremukkannya, "meskipun begitu kepentinganku akan tetap berjalan. Tuan Gen. Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••

__ADS_1


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2