Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter II • Strategi | Bersiap Sebelum Ambil Langkah


__ADS_3

Seorang lelaki berlari kencang. Rautnya keriput karena ketakutan. Matanya terbelalak seolah melihat kematian.


Lelaki itu berlari tergesa-gesa di dalam lorong yang gelap. Beberapa pintu didobraknya hanya untuk menghindar dari seseorang yang mengejarnya. Dirinya terus berteriak namun tak ada seorangpun yang mendengarnya.


"TOLONG! TOLONG AKU!!"


Tiba-tiba kakinya tergelincir di lantai dekat sebuah tangga. Sontak tubuhnya terjatuh lalu terbanting-banting tak berdaya. Begitu sampai di lantai dasar, sebagian tubuhnya sudah bersimbah darah. Matanya hanya terbelalak seakan tidak percaya bahwa malam ini adalah akhir bagi dirinya. Sebelah kakinya telah patah membuatnya sulit untuk kembali berdiri. Hidungnya dan beberapa giginya pun patah, membuat darah dari wajah sudah tak terbendung lagi.


"T—Tolong—"


Suaranya seakan tertahan, darah terlontar dari mulutnya begitu terbatuk-batuk. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari tangga. Aura kegelapan seseorang yang mengejarnya begitu terasa bagai datangnya malaikat maut. Tak lama kemudian, suara itu sudah berhenti tepat ketika orang itu berdiri di samping lelaki itu.


Seorang lelaki bertopeng setengah wajah datang dengan sebuah parang ditangannya. Matanya berwarna kuning sangat terang. Gigi taringnya tampak tajam begitu dirinya sedang tersenyum.


"Mau lari kemana lagi, bocah nakal."


Parang itu ia todongkan ke leher orang yang tak berdaya itu. Tubuhnya hanya terdiam seakan tak sanggup lagi untuk menghindar, seakan pasrah menemui kematian.


Merasa diabaikan, lelaki bertopeng itu pun kesal.


"Oy, serius kau cuma sampai sini?! Ayolah! Aku sangat menikmati kejar-kejaran tadi. Semangatlah dalam hidup!" Teriak lelaki bertopeng itu dengan nada bagai orang gila. Kakinya menginjak-injak kepala lelaki tak berdaya. Tampak di raut mata lelaki bertopeng setengah itu seakan hanya ingin bermain-main. Dirinya sangat menikmati ketidakberdayaan orang yang memilih untuk tetap hidup.


Menanggapi teriakan itu, lelaki tak berdaya meludahi topengnya dengan darah yang bercampur dengan air liur di mulutnya. Sontak saja, lelaki bertopeng itu sangat kesal. Dia kemudian menendang wajahnya sembari lanjut menodonginya.


"Rupanya kau masih berani. Kalau begitu, aku langsung saja menjadikan kau mangsaku. Setidaknya, hidupmu tidak sia-sia, kan?"


Mulutnya langsung dibuka dengan sangat lebar sehingga menampakkan empat gigi taring yang amat tajam bagai duri putih. Gigi itu langsung menerobos kulit leher hingga mangsanya dibuat hanya bisa pasrah sedangkan otaknya berteriak kesakitan. Suaranya seakan ingin berbicara namun terasa seakan tertahan. Napasnya tersendat-sendat seakan memang sudah dipenghujung kehidupan


Darah segar keluar tak terhitung jumlahnya lalu diserap bagai minuman segar. Pada akhirnya dirinya dibuat mati dalam kesedihan.


°


°


•••


°


°


Kastil Pusat, Wilayah Pusat Pemerintahan


Akademi Api Gakuin Selatan


Sebuah surat laporan khusus telah diterima oleh Yen di kastil. Surat itu menunjukkan adanya sejumlah keanehan kasus pembunuhan yang terjadi di sekitar wilayah Api Gakuin Selatan.


Tertulis pembunuhan berencana selalu terjadi di wilayah administrasi S, yaitu tepat berada di selatan Wilayah Pusat Pemerintahan berbatasan langsung dengan zona terlarang dan Benteng Akademi.


Wilayah administrasi S sebenarnya sudah termasuk wilayah pinggiran yang terabaikan. Lokasinya yang berada dekat dengan tempat yang mematikan membuat banyak siswa lebih memilih tinggal menetap di dekat wilayah pusat. Hal itu semakin membuat Tuan Gen dan Yen curiga, mungkin dengan luasnya area kosong maka tidak hanya satu dua orang saja yang menjalankan aksi pembunuhan itu.


"Mungkin saja, mereka berkelompok." Pikir Yen sembari melihat sebuah peta coklat yang terpapang jelas wilayah administrasi S. Wilayah itu tampak digarisi dengan banyak garis merah karena sudah banyak ditinggalkan para penghuninya, apalagi dengan adanya kasus seperti ini, mungkin Tuan Gen akan mencantumkannya menjadi bagian zona terlarang selanjutnya.

__ADS_1


Tapi, Tuan Gen bukanlah orang sebodoh itu. Seburuk apapun bagian dari wilayahnya maka akan lebih menjadi buruk bila keberadaannya dihapuskan atas perintahnya.


Matanya terlihat sangat fokus. "Yen, karena kau adalah ketuanya, coba pikirkan hal ini." Tuan Gen memindahkan benda kecil ke atas peta dimana ditandai sebagai tempat mencurigakan, "jika kau adalah musuh lalu melihat lawanmu menempatkan pasukannya di tempat ini, apa yang akan kau lakukan?"


Yen mengerutkan kening, "saya akan membuat mereka berpikir bahwa wilayah itu aman agar mereka berpencar. Setelah itu, saya akan menghabisinya satu per satu."


"Tepat sekali!" Ucap Tuan Gen.


Semua orang yang ada di ruangan rapat terkejut mendengar itu.


"Kalau begitu, bagaimana cara kita melawannya?" Jon kebingungan.


"Apa mungkin satu-satunya cara, kita harus mengirimkan perwakilan saja?" Sam berspekulasi.


"Jangan bodoh," bantah Roy, "salah satu dari mereka pasti sudah antisipasi dengan hal itu. Lagipula, kita tidak bisa langsung menolongnya bila sedang terkepung."


"Bila semuanya salah, lalu bagaimana?" Jon tampak kesal dibuat pusing.


Yen mulai terdiam seperti sedang berpikir keras. Dirinya merasa tidak diuntungkan dengan keadaan lokasi kejadian. Pembunuhan itu tidak hanya selalu terjadi di tempat terisolasi, namun ditempat yang medannya tidak Yen ketahui. Seperti wilayah gedung besar yang terbengkalai, gedung itu nyaris tidak pernah terekspos oleh siapapun, bahkan oleh agen terbaik sekalipun. Wilayah itu sudah seperti sarang terbaik bagi mereka.


Menurut surat yang Yen terima. Berita tentang pembunuhan itu bukanlah hasil survey dari para agen rahasia Tuan Gen, melainkan seorang korban yang berhasil selamat dari percobaan pembunuhan. Entah sudah berapa orang yang mereka bunuh, hal itu sudah cukup membuat Yen kesal.


Yen lalu berpikir untuk mencoba tenang dalam kasus berat ini. Dirinya mulai memerhatikan kelebihan teman-temannya, mungkin saja hal ini dapat membuat semuanya saling memahami. Pertama-tama pandangannya beralih memandang Viena. "Kau, Viena. Detail kekuatanmu seperti apa?"


"Kekuatanku?" Ucap Viena, "aku petarung, elemen api dan waktu. Aku bisa meledakkan sesuatu hanya dengan serangan bola api dan menciptakan sesuatu dengan membakar benda—"


"Apa yang bisa kau ciptakan?" Potong Yen.


"Elemen waktu, bagaimana?"


Viena sedikit tersenyum. "Jujur saja, elemen itu tidak bisa sembarangan ku lakukan. Ingat tidak ketika aku menghentikan waktu lalu membawa Tuan Gen keluar kastil Tuan Rom? Aku bahkan langsung tidur selama dua hari lalu tidak bisa membuat bola api selama empat hari."


Yen mulai paham. "Ok, kalau begitu, aku membutuhkan kekuatan dari elemen apimu."


"Eh?" Viena sedikit terkejut, "Baiklah."


Tuan Gen memandang pada Elia. "Bagaimana denganmu? Aku tidak pernah melihatmu mengeluarkan kekuatan."


"Aku non petarung, elemenku cahaya. Aku bisa menyembuhkan luka, mengirim pesan, dan membaca sejarah terdekat dengan mengeluarkan cahaya melalui tangan. Pikiran orang pun bisa, asalkan cahayaku mengenai kepalanya." Jelas Elia.


"Maksud mengirim pesan? Seperti apa cara kerjanya?" Tanya Yen.


"Seperti ini."


Elia berjalan mendekati meja lalu mengambil sehelai kertas putih di dekatnya. Matanya terpejam begitu ia mengulurkan tangannya hingga tepat berada di atas kertas itu. kertas itu pun kemudian dihujani dengan cahaya seterang bulan dari telapak tangannya.


Beberapa saat kemudian kertas itu berubah menghasilkan guratan tulisan hitam berupa pesan seperti telah ditulis oleh seseorang, padahal tidak ada seorangpun yang menyentuhnya. Setelah pesan itu tertulis, kertas itu melayang lalu terlipat merubah bentuk dirinya menjadi sebuah burung yang dapat terbang bebas hingga sampai ditujuan penerima pesan.


Semua orang kagum termasuk Yen. "Itu kekuatan yang sangat langka dan menenangkan. Bukankah begitu Tuan Gen?"


Tuan Gen hanya tersenyum. "Kekuatan kebaikan itu seolah-olah menggambarkan dirimu. Tak ku sangka akan sedamai itu."

__ADS_1


Jon bahkan seakan terdiam begitu melihat burung kertas itu melayang di udara. "Elemenku listrik, aku bisa saja menerbangkan benda seperti itu namun tentu saja tidak akan sedamai ini."


"Jangankan kau, Jon, aku pun begitu," jelas Roy, matanya pun seakan kagum, "elemenku angin, tapi anginku sangat tajam untuk benda seperti kertas."


Sam hanya menggaruk-garuk kepala. "Elemen bumi sepertiku hanya akan menghancurkannya."


"Kalian ini—" Yen ikut berkomentar, "ini kan kelas non petarung. Kelas petarung seperti kita tidak bisa dibandingkan dengannya. Contohnya aku, Elemen ilusi, bukan hanya akan menghancurkan benda, aku bisa saja menghancurkan otak pemilik elemen itu. Kalau dipikir-pikir, kita memang sadis."


Mendengar itu semuanya seketika tertawa seakan menertawakan kesadisan mereka. Meskipun begitu, tidak berhak rasanya merendahkan diri sendiri. Kekuatan memang seakan-akan mencerminkan siapakah diri, namun bukan berarti kekuatan buruk adalah orang yang buruk. Tuan Gen bahkan tidak mementingkan kekuatan apa yang dimiliki, dia hanya bertanya, apakah kau memang menginginkan kekuatan itu ada pada diri atau memang tidak sesuai keinginanmu? Baginya, orang yang sejak awal memiliki keinginan untuk menjadi manusia luar biasa adalah orang yang angkuh lagi ingin berkuasa.


Yen mulai menuliskan data. "Baiklah, itu berarti kesimpulannya kita memiliki satu orang kelas pendukung, sisanya kelas petarung. Pendukung dipegang Elia dengan elemennya cahaya. Petarung dipegang oleh aku elemen ilusi, Roy elemen angin, sam elemen bumi, Jon elemen listrik, lalu terakhir Viena elemen api dan waktu."


"Aku elemen ketangkasan dan Aura. Aku akan mengawasi kalian dari jauh." Ucap Tuan Gen.


"Kalau begitu, aku akan membagi beberapa tim. Tim pertama, Viena dan Sam, kalian akan berada di garis terdepan. Kalian berdua bisa membukakan jalan, ada juga kemungkinan kalian akan langsung bertemu dengan mereka."


Viena dan Sam mengangguk dengan wajah serius. "Siap. Kami mengerti."


"Lalu tim kedua," lanjut Yen sembari menunjuk, "Roy dan Jon, kalian akan berada di garis pertengahan. Kalian bisa saja ditugaskan maju bila Viena dan Sam dalam masalah, namun tetap semua ada perintahnya."


"Baik, dipahami." Ucap Jon disusul Roy menganggukkan kepala.


"Sekarang tim terakhir ditempati Elia sebagai pendukung dan Aku sebagai komando. Dengan begitu semua dapat berjalan." Ucap Yen.


Tuan Gen tepuk tangan atas pembagian itu. "Ok, aku kagum denganmu. Kau paham dengan keadaan semuanya. Sekarang, jelaskan kesimpulan dari strategimu."


"Baiklah, Tuan." Jawab Yen.


Yen kemudian menjelaskan seluruh strateginya dari segala hasil analisis dalam pikirannya. Tuan Gen merasa senang, Yen sangatlah tenang dalam menjalani permasalahan ini.


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita

__ADS_1


__ADS_2