Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam

Arafura S1 - Lebih Gelap Dari Hitam
S1 | Chapter II • Letih | Pita Merah Hukuman


__ADS_3

Entah mengapa, suara gemuruh begitu terdengar dalam kegelapan. Pikiran yang tenang dan melayang, terasa sangat hampa layaknya ketiadaan. Tak ada rasa, tak ada luka, segalanya seakan menggelincir layaknya tak bertuju, hanya mengalir layaknya kekosongan tak berarti.


Jon merasakan hal seperti itu, dia belum sadarkan diri dari tidurnya seolah sudah sangat letih. Tubuhnya dipenuhi keringat, napasnya mengeluarkan uap air yang lebih panas daripada tubunya. Pipinya terlihat merah, bahkan rambut pirangnya seolah telah diterpa air hujan. Dari matanya sedikit basah layaknya bendungan air, beberapa tetes sempat tergelincir di pipinya, sebagian menabrak dinding hidung lalu menghilang begitu mengenai bibir.


"Maafkan aku, Jon. Aku hanya ingin kamu melihatnya saja," lirih Elia. Dia memeras sebuah kain hangat dari ember kecil lalu menaruh di kening Jon. Elia tersenyum memandang kedua mata Jon yang tampak lemah, sesekali tangan kirinya mengusap sebagian rambut pirangnya. Kini keberadaannya lebih terlihat seperti pria biasa.


Sebenarnya semua karena Elia terlalu berlebihan, dia menyerap energi yang sangat banyak pada Jon untuk membuat dunia ingatan masa lalu. Elia memang tak bisa membuatnya sembarangan, apalagi membawa seseorang untuk ikut memasukinya. Dunia itu tidak bisa digunakan layaknya menumpang tanpa bayaran.


Saat itu, ketika Elia menyentuh tangan Jon dengan cahaya, seketika Jon dibuat tak sadarkan diri. Tubuhnya dibaringkan tepat di samping Elia lalu dipeluknya sangat erat di bawah selimut tebal. Pelukan dan rasa hangat membuat energi kehidupan menjadi satu kesatuan, terikat layaknya dua benang terpisah, kedua energi bersatu padu mengalir sangat kencang hingga terciptalah dunia ingatan masa lalu.


Saat dunia ingatan itu berakhir, Elia tersadar lebih awal. Dirinya mendapati tubuh Jon telah membasahi tubuhnya dengan keringat. Pakaian menjadi terasa berat dan membentuk lekuk tubuh. Terasa seperti air hangat namun itu tidak baik bila dibiarkan.


Sebuah lemari di samping pintu keluar masih terdapat tumpukan pakaian. Ada dua slot di dalam lemari, sepertinya salah satu dimiliki oleh teman Jon. Elia mengambil sebuah kaos putih dan celana pendek hitam. Sedikit debu terjatuh dari pakaian itu, namun tidak kotor sama sekali. Elia langsung mengganti baju.


Setelah selesai, pikiran Elia beralih pada Jon. Dia lalu melepaskan pakaian yang melapisi tubuh Jon, tak peduli meskipun dia adalah seorang pria, Elia hanya ingin mengelap keringatnya hingga tak bersisa. Elia mengambil sebuah kaos merah dari dalam lemari. Kaos itu dipakaikan pada tubuh Jon secara perlahan tanpa mengganggunya.


Jendela kaca yang bolong membuat udara sejuk mengalir memenuhi ruangan. Pandangan Elia beralih pada jendela, keindahan yang tersisa tidak lain hanyalah bangunan-bangunan yang hancur, jalanan yang sepi, serta puing-puing berserakan merusak beberapa halaman termasuk halaman asrama.


Cahaya mentari yang tersenyum hanyalah penghias langit belaka, hanya menandakan cuaca sedang cerah saat ini, bukan sebagai hari yang penuh dengan kebebasan apalagi bersantai seperti dulu. Elia tetap saja waspada, dirinya tidak terlalu lama berdiri mendekati jendela demi menghindari seandainya ada penguntit. Bisa jadi panah nyasar terbang begitu saja melalui jendela, atau yang lebih parah, keberadaan Jon dan Elia diketahui pihak musuh.


"Ah, berat sekali. Seandainya ada jalan keluar," gumam Elia mencoba ikut berbaring di sisi tubuh Jon. Kasur terasa empuk tapi tidak bisa menenangkan isi pikirannya. Elia masih memikirkan wajah Jon saat di dunia itu, dia tidak berbicara sama sekali ketika tahu sahabatnya akan menjadi penghalang.


Elia terus terdiam melamun hingga waktu sore tiba. Langit biru berubah oren kemerahan, terangnya hampir memudar bersama suasana akademi yang semakin gelap. Tak terlihat sepercikpun cahaya dari gedung hingga jalanan, kecuali kesunyian yang di bawa oleh angin malam. Di dalam ruangan hanya dinyalakan satu batang lilin putih, meskipun lilin itu adalah lilin sisa sebesar ibu jari, cahayanya mampu melahap gelapnya ruangan.


Jon masih belum sadarkan diri. Elia memfokuskan diri dengan menyalurkan energinya dari kekuatannya. Cahaya biru layaknya rembulan, ia hujani ke arah dada Jon. Pandangan mata Elia terpejam begitu setiap detiknya terasa menggerogoti dirinya, napasnya dibuat teratur agar tidak membuat dirinya lemah. Elia hanya fokus, sama sekali tidak tahu jika mentari sudah bersembunyi. Langit sore berubah kelam, berakhir dengan kesunyian.


"Ternyata kau di sini, Elia."


Terdengar suara orang berbicara. Fokusnya langsung pecah membuat sinar rembulan dari tangannya berakhir lenyap. Pandangan beralih melirik seseorang yang berdiri di dekat pintu, ternyata adalah Viena. Hawa keberadaan gadis berambut putih itu tidak terasa sama sekali.


"Aku sudah mengirim surat, kenapa kau mencari kami?" Tanya Elia, namun sepertinya Viena berlaga tidak peduli.

__ADS_1


Raut wajahnya tampak datar dipenuhi keseriusan. Auranya bukanlah aura Viena yang dikenal, terasa lebih keras dari pada batang kayu.


"Elia, jangan bilang kau memberitahunya," lontarnya dengan nada curiga.


Elia mengalihkan pandangan. "Maaf, Viena, aku terpaksa—"


"Kenapa kau melakukannya?" potong Viena, "bukannya kita berjanji untuk merahasiakannya. Kita bukan Tuhan yang bisa menyelesaikan masalah hanya dengan menceritakan segalanya!"


"Bukan begitu Viena," jelas Elia, "kau tahu kan, tentang kebusukan misi Ankara yang ingin menggagalkan misi Tuan Gen? Semua itu bagiku terasa sirna, tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan keinginan Ankara."


Viena sedikit terkejut, "dari mana kau tahu itu seolah-olah kau kenal dia?"


"Aku mulai mengerti ketika aku mengalirkan cahayaku pada Jon di ruangan rapat. Aku tak sengaja membaca masa lalu Jon tentang Ankara, ternyata dia adalah anak yang baik! Pasti ada sesuatu yang membuatnya berpikiran jahat," tegas Elia.


Viena mulai beraut kesal. "Sulit ku percaya, Elia. Maaf saja, kelakuan itu tidak mungkin bisa berubah secara drastis, kecuali Ankara bertahap membenci Tuan Gen dan ingin menjatuhkannya," ungkap Elia sambil berjalan ke arah Jendela, "mau bagaimanapun pemikiranmu, aku akan tetap menjadikan Ankara sebagai musuhku. Aku tidak sudi membiarkan orang seperti itu ada untuk menghancurkan Akademi."


Angin malam berhembus dari jendela. Rambut putih Viena tergibas-gibas membuatnya sedikit berantakan. Tangan kiri ia angkat lalu sedikit merapihkannya.


"Kenapa kau tidak percaya?" lontar Elia dengan pertanyaan yang terdengar aneh bagi Viena, sahabatnya sejak dahulu.


"Aku mengerti perasaanmu, Viena. Tapi, bagiku biar akademi ini terpecah, semua orang di dalamnya masih ada orang baik. Aku hanya ingin menumpas para pemimpin yang menjadi dalang kehancuran, bukan menumpas semua musuh. Bagiku, pasti ada saja musuh yang terpaksa melakukan perintah, sebenarnya mereka ingin menemukan jalan namun tak tahu ada dimana. Aku sebagai pengguna cahaya bulan, aku mengerti itu, Viena! Karena itu aku akan bergerak dengan caraku sendiri!" Tegas Elia percaya diri.


Viena sedikit menoleh ke arah Elia dengan wajah setengah tersenyum. Namun, auranya tidaklah seperti orang sedang menghargai.


"Perkataanmu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Aku tahu tidak semua orang itu jahat, tapi siapapun yang menghalangi Tuan Gen untuk membangun akademi kembali, aku akan menumpasnya hingga ke akar," lontar Viena dengan aura kebencian, ia lalu berjalan mendekati Elia hingga langkahnya berhenti tepat di sampingnya, "aku tahu, Jon pasti tidak akan terima Ankara itu penjahat. Dia akan segera datang untuk menyelamatkannya dari sel tahanan. Asal kau tahu saja, Elia, aku tidak akan membiarkan itu terjadi kecuali kalian ingin menjadi musuhku."


Elia hanya terdiam mendengar itu. Sesaat tangannya mengepal namun melemah kembali, baginya Viena adalah sahabatnya. Dia adalah pembela kebenaran dan akan patuh pada apapun demi kebenaran, seperti halnya dahulu saat dia dan Elia masih berada di kelompok Airia, Viena sangatlah berbakti dan patut diandalkan.


"Oh iya, aku melupakan sesuatu," lanjut Viena, "Tuan Gen sudah tahu tentang kegagalan misi Jon. Lain kali dia tidak akan membuat Jon bergerak atas kehendaknya. Dia pun mengirim sebuah pesan untuk kalian."


Viena mengulurkan tangan kirinya ke arah lantai. Seketika api biru membakar dua ubin lantai menciptakan sebuah gulungan kertas yang diikat pita merah. Api biru itu menghilang begitu selesai. "Itu semua berisikan misi dari Tuan Gen. Dia ingin Jon tidak perlu kembali ke kastil untuk beberapa saat. Semoga kalian sukses," lanjut Viena seketika menghilang dari keberadaanya. Elia sadar, dia menggunakan kekuatan waktu untuk datang dan pergi.

__ADS_1


Pandangan Elia beralih memandang gulungan itu. Ia langsung mengambilnya lalu membaca tulisannya.


------------------------------------------------------


¶ Perintah khusus Jonathan Atharizz dan Naurelia Astra


| > Datangi wilayah 4 antara perbatasan Akademi Api Gakuin Selatan dan Zona Terlarang.


| > Temukan seseorang yang bernama Sroso


------------------------------------------------------


"Entah mengapa, misi ini terasa seperti hukuman," gumam Elia menyadari sesuatu. Namun, meskipun begitu, mau tidak mau mereka harus melakukannya demi Tuan Gen.


•••


•••


Pesan :


Hai terimakasih sudah datang kemari. Jangan lupa berikan nilai dan kritik ya agar penulis dapat berkembang :) Salam dari orang sunda di Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia.


•••


kritik dan saran bisa juga di sampaikan lewat :


Email : alaksinitanovel@gmail.com


atau chat di bab ini 💕


•••

__ADS_1


Info tentang kepenulisan Arafura :


Twitter/instagram : @alaksinita


__ADS_2