Arti Sebuah Hubungan

Arti Sebuah Hubungan
Episode 16 - Sedikit Tentangmu


__ADS_3

" Apa setiap hari kamu kesini dengan mamamu Radit?!" tanya Reva.


" Gak setiap hari juga, tapi lumayan sering, mungkin 1minggu bisa 3 sampai 4 kali"


" Wahh, bisa kriting si usus, hehehe😂" canda Reva, Raditia hanya tertawa.


" Ya gak segitunya juga Ree"


" Kapan terakhir kesini dengan mamamu Radit?!" tanyanya.


" Mungkin sudah hampir 2tahun yang lalu Ree"


" Sudah lama gak kesini dong, kenapa?!"


" Karena mamaku juga sudah gak ada disini" ucapnya dengan mata sendu.


" Emch, memang kemana mamamu Radit?!"


" Mamaku sudah meninggal Ree" Suara Raditia terdengar sedih.


" Hah, maafkan aku Radit" Reva menggenggam tangan Raditia.


" Tak apa Ree, mamaku meninggal satu setengah tahun yang lalu karena kecelakaan mobil"


" Ya tuhan, kamu yang sabar ya, pasti mamamu sudah tenang disisinya. Aamiin " ucapnya Reva memberi semangat.


" Aamiin, terima kasih" entah kenapa untuk pertama kalinya Raditia terlihat tenang. Biasanya jika berhubungan dengan mamanya dia sedih dan marah-marah.


" Setelah mama, kamu orang pertama yang aku ajak kemari" ucapnya tersenyum.


" Benarkah, beruntung sekali" Reva tersenyum pada Raditia. Ia melanjutkan makannya.


" Oh ya Ree, apa kamu serius dengan ucapan mu waktu itu?!" tanya Raditia.


" Yang mana?!" Reva sedikit bingung.


" Yang kamu sudah menolak kak Rian?!" Reva melihat kearah Raditia, kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu.


" Emch, iya aku serius, dan aku bangga padanya meski aku sudah menolaknya tapi dia tetap ingin berteman denganku, tak seperti yang lainya cinta ditolak kebencian bertindak, hehe" ucapnya Reva


" Jika dia tetap menginginkanmu apa kamu akan menerimanya?!" Reva menatap Raditia dalam-dalam, mencari jawaban kenapa dia jadi membahas Rian.


" Apa kamu benar-benar tidak menyukainya sama sekali" tambah Raditia


" Kenapa jadi bahas kak Rian" tanya Reva


" Cuma ingin tau saja"


" Beneran cuma ingin tau aja"


" Iya"


" Gak ada maksud lain"


" Enggak"


" Jika aku menerima kak Rian gimana?!"


" Hah"


" Kok Hah"


" Jawab Gimana?!"


" Ya itu kan terserah kamu" Raditia menjawab asal-asalan.


" Gak ada jawaban lain"


" Maksudmu"


" Ya jawab apa gitu" ucapan Reva, membuat Raditia sedikit berpikir.


" Perasaan gak bisa dipaksakan Ree, jadi ya itu terserah kamu"

__ADS_1


" Jika sudah tau kalau perasaan gak bisa dipaksakan, kenapa masih bertanya lagi. Entah apa maksudmu menanyakan itu, yang jelas aku benar-benar menganggap kak Rian hanya sebagai kakak" jelasnya.


" Dan aku" Tanya Raditia.


" Kamu?!"


" Iya aku"


" Kamu kan temanku"


" Hanya teman"


" Terus mintanya apa?!"


Raditia terdiam, " Kesayanganmu" ingin rasanya dia menjawab itu.


" Apa kamu meragukan ku Radit?!" Reva terlihat murung.


" Tidak, bukan seperti itu Ree, aku percaya padamu, maafkan aku Ree"


" Hemzzz..."


" Kamu marah"


" Tidak, kenapa aku harus marah" nada ketus


" Karena aku sudah menyinggung mu"


Reva tak menjawab dia menghabiskan makanannya, lalu mengajak Raditia pulang.


" Ayo kita pulang sudah hampir sore"


Raditia menuruti kata Reva, ia membayar makanan mereka. Reva berjalan pelan-pelan terlebih dulu, ia terlihat melamun memikirkan percakapannya dengan Raditia tadi.


Dan tiba-tiba kaki Reva tersandung, untung dia tak terjatuh, karena dari belakang dengan sigap ada tangan seseorang yang menarik lengannya. Tubuhnya berbalik mereka saling berhadapan, tangan Raditia yang satunya memeluk pinggang Reva.


Reva terkejut, mata mereka saling menatap satu sama lain. Tatap yang penuh kehangatan.


" Iya aku gak papa" Mereka masih dalam posisi berhadapan.


" Maafkan aku" ucap Raditia tulus.


" Iya aku memaafkan mu" Reva menundukkan kepalanya, lama-lama menatap Raditia membuat wajah Reva memerah.


Raditia tersenyum melihat Reva yang salah tingkah. Raditia melepaskan tanganya dari pinggang Reva. Mereka berjalan beriringan.


Setiba diparkiran, tangan Reva meraih helemnya, dengan cepat Raditia meraihnya dan mengenakan di kepala Reva, Reva tersenyum dengan sikap Raditia yang sok romantis. Sebenarnya sedari tadi dadanya berdenyut sangat kencang, karena ulah Raditia.


" Te..terima kasih" ucapnya, Raditia menganggukkan dan tersenyum padanya.


Raditia melajukan motornya, Reva memeluk tubuh Raditia. Deg.... Dada Raditia serasa tersetrum. Ia tersenyum menatap kedua tangan yang melingkar dipinggangnya. Dengan Reva seperti ini, itu tandanya Reva tak merajuk lagi. Raditia tersenyum puas.


Raditia berjanji tak akan menanyakan tentang Rian lagi, dan meragukan Reva. Karena itu akan memperburuk hubungan mereka.


Setibanya dirumah Reva, Raditia perpamitan untuk langsung pulang. Reva masuk kedalam rumah, hatinya serasa berbunga-bunga. Reva masuk kamarnya setalah itu pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.


****


Rumah Raditia


Raditia tiba di rumah, seperti biasa rumah serasa sepi. Hanya ada adik perempuan, dan pembantu dirumahnya. Papanya setiap hari pulang larut malam dari kantor.


" Kak kenapa pulang sore sekali" ucap Niken menghampiri kakaknya yang duduk diruang keluarga.


" Iya kakak tadi masih keluar dengan teman, sini" menyuruhnya duduk di sebelahnya.


" Tumben sekali, Kakak pergi dengan siapa?!" ucap niken sembari memindah chenel televisi.


" Pergi dengan teman sekolah kakak"


" Ow.." ucapnya singkat.


Jika dilihat sekilas, atau orang lain yang tak mengenal mereka. Banyak yang bilang meraka bukan kakak adik, karena umur mereka tak terpaut jauh, Niken hanya lebih muda 3 Tahun dari Raditia.

__ADS_1


" Kamu sudah makan?!"


" Belum kak"


" Kenapa, memangnya tak lapar"


" Di rumah hanya aku sendiri, rasanya malas mau makan" Raditia memeluk Niken, mengecup kening adiknya, dia merasakan apa yang dirasakan Niken. Kesepian, tak ada teman, serasa menyedihkan.


" Bersiaplah, kakak mandi dulu, setelah itu kita pergi keluar untuk makan, okey" Raditia mengoyak rambtu adiknya dan beranjak pergi.


" Siap bos" ucapnya senang.


Entah apa dan siapa yang membuat kakaknya berubah, kini Raditia lebih memperhatikan adiknya. Kerena sepeninggalan mama mereka, Raditia biasanya hanya berdiam diri dikamar, bicara seperlunya.


Mereka sudah siapa untuk berangkat, Niken meminta cari makan dimall, sekalian ingin membeli perlengkapan sekolah.


" Kakak kenapa sekarang sering naik motor?!" tanya Niken diperjalanan.


" Kakak lebih suka naik motor dek?!" Jawabnya singkat.


" Astaga, kenapa aku bisa lupa, jelas sekali setelah kepergian mama kakak gak pernah naik mobil, apa kakak masih trauma" gumamnya dalam hati.


Kurang dari 30menit mereka sudah sampai dimall, rumah mereka daerah perkotaan jadi dekat hendak kemana-mana. Raditia memarkirkan motornya.


" Mau makan apa dek?!" Raditia


" Makannya nanti saja kak, kita ketoko buku dulu saja ya ada yang ingin aku beli"


" Baiklah"


Mereka pergi kelantai 2, menuju tempat yang Niken maksud, didalam toko mereka berpencar, Niken mencari perlengkapan yang dia maksud. Raditia melihat-melihat pernak pernik cantik dijual disana. Raditia mengambil gantungan yang berbentuk hati warna maron.


Setelah keduanya selesai Raditia membayar belanjaan Niken, dikasir dia mengeluarkan kartu debitnya. Setelah itu mereka naik kelantai 3 menuju food court.


Niken meminta ke Kfc, dia lebih suka makanan cepat saji, timbang harus yang menunggu lama-lama. Raditia memesan makanan untuk Niken, beberapa camilan, es krim, dan susu milo untuk Niken.


" Kakak kenapa cuma pesan 1 porsi makanan saja, kakak gak makan?!" tanyanya heran


" Kakak tadi sudah makan dek, makanya kakak pesan camilan saja, sembari menemanimu makan"


" Ow, baiklah. Kak?!" sambung Niken bertanya.


" Iya ada apa?!" Jawabnya sembari memainkan ponselnya.


" Kakak disekolah pasti ketemu kak Rian kan?!"


" Iya kenapa?!"


" Aku kangen kak, sudah lama kak Rian tak main kerumah"


" Ow... Untuk saat ini dia masih sibuk mempersiapkan ujian kelulusannya, nanti kalau sudah selesai kita main kerumahnya"


" Serius kak, kakak janji"


" Iya kakak janji"


Pesanan mereka datang, Niken pergi untuk mencuci tangannya. Tak sengaja dia menyenggol seseorang.


" Emch, maaf kak saya tak sengaja" ucap Niken gugup.


" Iya tak apa" jawabnya sembari tersenyum.


Niken berlalu meninggalkan wanita itu yang hendak mencuci tangannya. Dari kaca dia memperhatikan langkah kaki Niken dimana dia berhenti dan. DEG.... Raditia.


****


Mohon maaf telat up nya kakak😕


Author lagi berbagi konsentrasi sambung Novel yang satu. Maaf jika tak kurang berkenan.


Lanjut terus bacanya ya Readers🤗


Terima Kasih😘

__ADS_1


__ADS_2