
Diam-diam Reva pergi ke ruang guru untuk melunasi administrasi tournya ke Bali. Itu pun tanpa sepengetahuan para sahabatnya ia mendaftarkan diri. Rencananya Reva akan memberikan kejutan kepada Raditia dan para sahabatnya.
" Ree kamu beneran gak bisa ikut ya" ucap Raditia murung😢, Reva hanya tersenyum sambil menyantap Mie Ayam yang kini menjadi favoritnya dikala pulang sekolah bersama Raditia.
" Apa mau aku bantu daftarin" lanjutnya.
" Em, em gak usah Raditia" ucap Reva menggeleng-geleng kan kepalanya.
" Apa kamu keberatan jika aku membantumu"
" Tentu saja Raditia, aku tak ingin merepotkan mu"
" Tapi aku tak merasa direpotkan Ree, dengan senang hati aku membantumu, aku ingin kita bisa bersama-sama saat di sana" Mata Raditia nampak sendu. Reva menatapnya kasihan. Tapi jika dia katakan, ini tak akan menjadi kejutan untuknya.
" Aku juga ingin seperti itu Radit"
" Kalau begitu terima tawaranku ya, aku mohon"
" Maaf aku tidak bisa Radit, dan terima kasih sudah berniat membantuku "
" Kalau begitu aku juga gak mau ikut" ancam Raditia pada Reva.
" Ehh, ehh. Jangan mengundurkan diri" Reva nampak panik, jika benar Raditia mengundurkan diri sia-sia sudah usahanya.
" Untuk apa aku tetap ikut, sedangkan kamu gak bisa ikut"
" Tapi kamu harus tetap ikut Radit"
" Kalau begitu terima tawaranku, maka aku akan tetap ikut"
" Tapi aku gak bisa terima"
" Kalau begitu, kita sama-sama gak usah ikut, terus disini kita jalan bareng seharian, Ide bagus bukan"😉
" Gak, itu ide gak bagus, pokoknya kamu harus ikut, awas sampek gak ikut aku bakal marah sama kamu" nada Reva terdengar mengancam.
" Ta...tapi Ree..."
" Gak ada tapi-tapian" Reva terlihat kesel.
" Baiklah, asal kamu jangan marah padaku, aku akan tetap ikut, meski tanpa kamu😥"
" Nah, gitu dong" Reva tersenyum puas.
Raditia terpaksa menuruti kata-kata Reva, pikirnya pasti Reva sendang PMS😅. Dan jika terus membantah maka Reva bisa-bisa marah padanya.
Tak apa tetap ikut tour meski tanpa Reva, bukan waktu yang lama juga. Tiga hari kan berlalu cepat.
****
Reva terlihat sibuk menyiapkan barang apa saja yang perlu dibawanya. Reva tak ingin ribet, ia membawa baju seperlunya saja, alat mandi, dan memakai make up yang terlihat natural.
Pukul 19.00 para murid harus sudah berkumpul di halaman sekolah. Absensi dan pengecekan barang dilaksanakan di sana. Semua murid terlihat senang, akhirnya meraka semua akan liburan.
Tapi raut bahagia tak nampak di wajah ketiga sahabat Reva, dan Raditia. Mereka nampak biasa saja. Semua murid dikerahkan untuk naik kedalam bis. Tempat duduk mereka diatur sesuai absensi. Satu persatu semua murid masuk ke dalam bis.
" Reva Lia Puri" Panggil bu Lesti selaku wali kelas dan guru pendamping mereka. Bu Lesti memanggil hingga beberapa kali.
" Bu Lesti Reva kan gak itu" sahut Eka.
__ADS_1
" Tapi ini data Reva ada" bu Lesti.
" Mungkin salah ketik bu, Reva sudah bilang kepada kami dia gak akan ikut" Raditia.
" Oh, seperti itu ya" bu Lesti terlihat bingung.
" Bu sebagai gantinya Reva, dengan senang hati saya yang akan duduk disebelah Raditia" Belum sempat bu Lesti menjawab, Hana dengan bangganya duduk disebelah Raditia.
Bu Lesti hanya diam dan mengenyitkan dahinya. Beliau bingung karena setahunya Reva beneran ikut tour tapi kenapa Reva tak kunjung datang.
Suasana dalam bis begitu memilukan, Eka yang duduk bersebelahan dengan Dian terus bergumam tak jelas.
" Daras nenek centil PD sekali dia duduk di sebelah Raditia" gerutu Eka.
" Tau lah, salah Reva sendiri. Sudah tau sedari kemaren itu nenek Centil nempel terus dengan Raditia, ini malah dibiar begitu saja" jawab Dian.
" Tapi Reva seperti itu karena dia terpaksa, dia tak ingin membebani orang tuanya kan"
" Iya kamu benar juga, kasihan Reva"
Disaat Hana sedang asik-asik duduk disebelah Raditia, dan mencoba mendekatinya. Tiba-tiba ada suara dari belakang yang mengejutkan mereka semua.
" Minggir ini tempat dudukku" Seketika Raditia dan yang lain menoleh kearah Reva.
" Reva" seru Raditia. Eka langsung menghampiri dan memeluk Reva.
" Kamu jadi ikut Ree, benarkah ini" Eka memeluk Reva tak henti-henti.
" Iya aku beneran ikut Ka😁, maaf ya aku tak memberitahumu" Ucap Reva.
" Iya, tak apa Ree. Yang penting kamu jadi ikut, syukurlah" Eka melepas pelukan mereka dan kembali ketempat duduknya.
" Tapi bu" Hana terlihat murung.
" Permisi ya Hana" Reva menggeser tubuh Hana.
Hana berlalu dengan raut wajah kesal. Kini dia harus duduk dengan Heru salah satu teman kelas mereka yang berpenampilan biasa saja.
" Kenapa Reva harus datang, sudah bagus-bagus dia gak ikut. Dan kini aku harus duduk dengannya" gerutunya Kesal, melirik kesamping tempat duduknya😒.
Bu Lesti terlihat senang, anak muridnya dalam formasi lengkap. Bis pun melaju melewati jalanan kota yang terlihat lenggang karena sudah larut malam.
Terlihat sebagian murid sedang tertidur pulas. Dan sebagian lagi terlihat masih berbincang-bincang. Raditia memandangi Reva tanpa henti, ia masih tak percaya, yang duduk disebelahnya adalah pujaan hatinya.
" Dasar pembohong" ucap Raditia ketus.
" Siapa yang pembohong, aku hanya mengabulkan permintaan seseorang" ucap Reva tak kalah ketus.
" Permintaan apa?! Siapa orangnya?!"
" Mau tau aja, apa mau tau banget" Reva memalingkan pandangannya ke arah Raditia.
" Dua-duanya"
" Pilih salah satu dong"
" Ya udah, Mau tau banget" Raditia😔
" Ihhh, dasar kepo ya" ledek Reva😏
__ADS_1
" Siapa yang kepo, kan aku mau tau aja" Raditia😧
" Kenapa tadi bilangnya mau tau banget" Reva😝
" Reva" panggilnya ketus😡
" Apa Raditia" Reva terus menggoda Raditia😂
" Ya udah kalau gak mau ngomong" 😔
" Lakik kok gampang ngambek" 🤣
" Ahh, Biarin"😕 dalam hatinya Raditia tertawa geli, sebenarnya ia hanya berpura-pura ngambek. Ia tak peduli apa alasan Reva, yang penting Reva sudah bersamanya saat ini, untuk tiga hari kedepan mereka kan terus bersama-sama.
" Beneran gak mau tau siapa orangnya"
" Enggak"
" Kenapa?!"
" Karena aku sudah tau orangnya"
" Memangnya siapa orangnya?!"
" Siapa lagi orangnya kalau bukan aku" Raditia menatap mata Reva dengan pandangan tajam penuh kasih sayang.
Reva menatap Raditia dengan pandangan yang sama. Entah kenapa rasanya Reva ingin memeluk lelaki yang ada disampingnya itu. Raditia menggenggam tangan Reva, Reva hanya terdiam.
" Emchh, Percaya diri sekali" ucap Reva memecah keheningan antara mereka.
" Tentu saja, karena memang akulah orangnya, iya kan" Raditia tetap memegang tangan Reva bahkan lebih erat.
" Iya, karena aku ingin memberimu kejutan"
" Terima kasih, aku sangat suka dengan kejutannya" Raditia mencium tangan Reva, membuat wajah Reva memerah.
" Benarkah, aku kira kamu lebih suka didampingi oleh Hana"
" Ya, mungkin kalau gak ada kamu sekarang yang duduk di sampingku adalah Hana"
" Uhhh, suka banget dideketin Hana" Reva melepas tangannya dari genggaman Raditia dan mencubit lengan Raditia.
" Auwww, auww... Sakit Ree" Rintih Raditia sembari mengelus lengannya yang nyeri.
" Sukurin" ucap Reva ketus😈. Reva memasang Headset ditelinganya dan mulai memutar musik kesukaannya. Tak lupa dia menutup kepalanya dengan Hody dan mulai memejamkan mata. Reva tak menghiraukan panggilan Raditia karena kesal.
Tanpa Reva sadari salah satu headsetnya dilepas oleh Raditia dan dipasang ketelinganya. Reva mengenyitkan dahinya dan mulai membuka matanya. Raditia meraih tangan Reva dan menggenggamnya. Awalnya Reva menolak karena masih kesal.
" Jangan marah, hanya kamu yang ada dihati ini, tak ada orang lain yang berhak memasukinya selain kamu" ucapan Raditia meluluhkan hati Reva.
Mereka memposisikan duduknya senyaman mungkin, dengan tangan yang masih bergandengan mereka mulai terlelap dalam tidur. Dengan musik yang masih terus melantun menghantarkan ke mimpi indah mereka berdua.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading😍