
" Reva tunggu, Reva..." Panggil Raditia sembari berlari menghampiri Reva.
Namun Reva tak menghiraukan panggilan Raditia, ia terus berlari keluar dari dalam rumah Rian.
" Reva tunggu" Dengan gigih akhirnya Raditia meraih lengan Reva. Mau tidak mau Reva pun mengentikan langkahnya.
Dari arah belakang Dian dan Niken juga ikut mengejar mereka berdua. Dan dari kejauhan terlihat Rian juga berlari menyusul mereka berdua.
Flashback off.
" Siapa gadis yang membuat keributan itu, merusak acara saja" ucap papa Danu terlihat geram karena ulah Reva.
Rian yang menyadari bahwa itu Reva, ia pun bergegas menyusul Reva, tak menghiraukan lagi acara yang khusus dibuat papa Danu untuknya.
" Rian, Rian, kamu mau kemana" bentak papanya. Mama Sinta sontak terkejut, ia mencoba menenangkan suaminya.
" Sayang, tenang lah, sabar ya" ucap mama Sinta sedikit gugup.
" Mau tenang bagaimana, dia sudah mempermalukan ku"
" Mempermalukan yang bagaimana, sedari tadi Rian menutur dengan apa yang kau katakan"
" Tapi sikap arogan anak itu membuatku malu"
" Bukan arogan, Rian anak yang baik, ia terlalu peduli akan sekitarnya, mungkin dia khawatir terjadi sesuatu pada temannya" ucap mama Sinta meyakinkan suaminya.
" Tapi tak seharusnya ia mengabaikan Karina begitu saja kan" papa Danu masih dengan raut kesalnya.
" Sudah Om tak apa, benar yang dikatakan Tante, Rian anaknya baik" ucap Karina suaranya terdengar lembut, dan mampu meluluhkan amarah papa Danu.
" Maafkan sikap Rian ya Nak" ucap papa Danu.
" Iya Om tak apa-apa kok" jawabnya santai, penuh dengan senyum.
Suasana pun jadi sedikit tegang. Para tamu undangan terlihat kebingungan, apa yang sebenarnya sudah terjadi.
" Emgg...permisi, maaf untuk ketegangan yang sudah terjadi. Silahkan menikmati hidangan yang sudah ada. Mohan maaf atas ketidak nyamanan ini" ucap mama Sinta mencairkan suasana.
Para tamu undangan berhamburan ketempat hidangan yang sudah tersedia disana. Terlihat sebagian tamu ada yang sedang berbincang membicarakan kejadian tadi.
Flashback on.
" Ada apa dengan kak Reva, kak?" suara Niken terdengar bergetar. Karena nafasnya yang tersengal-sengal.
" Aku juga tidak tau Niken" ucap Dian sembari mengatur pernafasannya.
Reva masih saja meronta-ronta agar Raditia melepas tangannya.
" Lepas aku, lepas kan tanganku" pintanya sembari menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Raditia.
" Enggak, aku gak akan lepas" ucap Raditia.
" Kumohon lepaskan"
" Gak mau, jelaskan dulu kenapa kamu seperti ini"
" Ini urusanku, lepas aku"
" Apa kamu tersinggung dengan perjodohan Rian yang telah Om Danu sampaikan tadi" ucapan Raditia mampu menghentikan rontaan Reva.
" Apa maksudmu bicara seperti itu" Reva berbalik menghadap Raditia, Raditia melepaskan genggamannya.
__ADS_1
" Kenapa kamu seperti ini, jika bukan karena tentang perjodohan Rian" wajah Raditia terlihat sedih.
" Omong kosong" ucap Reva ketus.
" Sudahlah jujur saja Ree, jelaskan padaku" pinta Raditia, akan sikap Reva yang tiba-tiba kesal.
" Menjelaskan untuk hal apa?, sebaliknya kamu malah yang hutang penjelasan padaku, karena kamu sudah membohongiku"
Perdebatan tak terhindarkan lagi antara mereka berdua. Dibelakang ada Dian, Niken, dan Rian yang menyaksikan perdebatan mereka berdua. Mereka melihat dan mendengarkan secara seksama apa yang diperdebatkan.
" Aku, aku berbohong untuk hal apa?, aku tak pernah membohongimu Ree" ucap Raditia bingung.
" Sudah ketahuan masih saja mengelak" Ucap Reva sinis.
" Aku sungguh tak mengerti maksudmu Reva" Raditia menghela kesal.
" Masih pura-pura tak tau" Reva tersenyum sinis.
" Tak ada satu pun kepura-puraan di diriku, kumohon sekarang jelaskan apa yang sudah kamu ketahui"
" Emm..Baiklah, aku juga tak ingin bertele-tela lagi dengan orang yang tak mau mengakui kesalahannya" Terlihat kekesalan di wajah Reva.
" Oke, sekarang jelaskan apa kesalahanku" Raditia menghela nafas pasrah.
" Kenapa dari awal kamu tak jujur, jika antara kamu dan kak Rian masih ada hubungan kekerabatan hah" terlihat amarah yang menggebu-gebu dari nada bicara Reva. Raditia ingin menjawab tapi Reva tak memberinya kesempatan.
" Kebohongan yang kedua kalian tak memberitahuku karena, kalian mendekatiku hanya ingin menjadikanku barang taruhan bukan, picik sekali niat kalian" ucap Reva memukul dada Raditia dengan airmata yang terus menetes dari pipinya.
" Ta..tapi kami tak melakukan semua itu padamu Reva dan..." belum sempat Raditia meneruskan kata-katanya Reva memotongnya.
" Dan apa hah, dan entah siapa yang akan mendapatkanku. Maka dalam waktu dekat dengan mudah kalian akan mencampakkan ku, seperti itu kan maksudmu" Marah, kecewa dan kesedihan terlihat diwajah Reva.
" Reva kamu sudah salah faham dengan kami" Raditia meraih tangan Reva, tapi dengan cepat Reva menghempasnya.
" Teman Rian yang mana Ree, sungguh kamu sedang salah faham kepada kami Ree" ucap Raditia mencoba menjelaskan. Tapi Reva hanya tersenyum sinis dan tak menjawab apa kata Raditia.
" Baiklah sekarang dengarkan aku, aku akan mengatakan yang sejujurnya. Entah kamu mau percaya atau tidak itu terserah kamu Reva. Maaf jika aku tak jujur padamu tentang Rian, karena aku merasa lebih baik seperti itu. Jika aku bilang saat itu pasti kamu akan canggung terhadapku maupun terhadap Rian" ucapnya Raditia sembari meraih kedua tangan Reva dan memegangnya erat.
" Dan untuk perasaanku, aku benar-benar menyukaimu Ree, tak ada kebohongan, kepura-puraan, atau pun mejadikan mu barang taruhan, sungguh aku tulus akan perasaanku ini" ucap Raditia penuh ketulusan, Reva menatap mata Raditia mencoba mencari kebohongan dari dalam matanya. Namun Reva malah menemukan pancaran kesedihan dari mata Raditia.
" Reva, apa yang dikatakan Raditia itu semua benar adanya" ucap seseorang dari belakang mereka, keduanya pun menoleh ke arah sumber suara itu.
" Kak Rian" ucap Reva singkat.
" Aku juga minta maaf Ree, aku tak pernah bilang padamu kalau Raditia adalah sepupuku. Aku bingung bagaimana mengatakannya padamu. Sedangkan Raditia adalah orang yang kamu sukui dan orang yang berhasil mematahkan hatiku" Rian mencoba menjelaskan kebenarannya kepada Reva.
" Akan tetapi di sisi lain aku bersyukur karena orang itu adalah Raditia dan bukan orang lain. My brother" ucap Rian sembari merangkul pundak Raditia. Raditia tersenyum kepada Rian.
Reva hanya terdiam tak menjawab sepatah kata pun. Ia masih ragu, haruskah dia mempercayai perkataan dua laki-laki itu. Huh..pikiran dan hatinya sangat kacau saat ini.
" Kak Reva, apa kakak masih ragu dengan kejujuran kak Rian dan kak Raditia" ucap Niken, Reva pum menoleh pada Niken dan tersenyum padanya.
" Kak, aku berani jamin apa yang dikatakan kakak-kakakku itu kebenarannya. Mereka orang baik, tak mungkin mereka menyakiti orang lain. Apalagi mereka memiliki ku adek perempuan satu-satunya yang harus mereka jaga" ucap Niken penuh ketulusan.
" Benar yang dikatakan Niken Ree, kamu bisa mempercayaiku. Kita sudah saling mengenal sejak lama, dan tak pernah ada kebohongan bukan selama kita berteman. Aku juga sudah berjanji padamu tentang Raditia. Aku akan selalu membantumu apa pun itu dan tak akan membohongimu tentangnya" Ucap Dian berdiri disisi Reva.
" Aku sudah menganggap mu sebagai saudara perempuanku Reva, jadi aku tak akan tinggal diam jika ada yang menyakitimu. Dan maafkan aku, sudah menutupi soal kak Rian dan Raditia kalau mereka sepupuan. Karena Raditia melarang ku, ia takut jika kamu tau pasti kalian akan saling canggung setiap bertemu" jelasnya sembari merangkul Reva.
Reva malah memeluk Dian dan menangis sejadi jadinya. Beberapa menit berlalu, akhirnya Reva mulai angkat bicara. Dalam tangis ia berpikir keras, dan mempertimbangkan betul-betul apa yang dikatakan Dian dan Niken.
" Maafkan aku sudah meneduh kalian sejahat itu padaku. Awalnya aku hanya kesal kenapa kalian tak memberitahuku kalau kalian ini masih saudara. Dan ditambah lagi mendengar gosip tak jelas dari teman kak Rian, yang membuatku semakin kesal. Aku jadi salah faham seperti ini" ucap Reva sedih sesekali menatap Raditia, sesekali menatap Rian.
__ADS_1
" Sudahlah tak apa Ree, kami juga sudah salah menyembunyikan semua ini padamu. Harusnya dari awal aku jujur padamu" ucap Raditia.
Reva hanya mengangguk dan tersenyum pada mereka semua, yang memperhatikannya.
" Ahhh...Akhirnya sudah ada kejelasan diantara kita bertiga. Aku merestui kalian berdua, semoga kalian selalu bahagia" ucap Rian sembari meraih tangan Reva dan tangan Raditia, ia menyatukan kedua tangan itu. Reva dan Raditia tersenyum malu-malu.
" Terima Kasih kak Rian" Reva memeluk Rian.
" Makasih Brother" ucap Raditia, karena tak mau Rian memanfaatkan pelukan dari Reva, ia juga ikut berpelukan.
Nikan dan Dian begitu senang dan terharu melihat ketiganya berpelukan, dan masalah terselesaikan.
Tak sadar tangan Dian menarik Niken kedalam pelukannya. Niken terkejut atas ulah Dian, jantung berdenyut lebih cepat.
Perasaan apa ini, Niken menyadari rasanya sangat berbeda saat ia dipeluk oleh Raditia sebagai saudara. Meski sama-sama terasa hangat akan tetapi ada sensasi tersendiri saat Dian yang memeluknya.
" Kak Dian" Ucap Niken lirih.
" Iya, upss... Sorry Niken, aduh.. Maafkan aku ya" ucap Dian melepas pelukan mereka, dan wajahnya tertunduk karena malu.
" Iya kak, tak apa kok" Niken pun menundukkan kepalanya, karena ia sadar pasti wajahnya terlihat memerah.
" Mari kita masuk kedalam lagi" ajak Rian.
" Kak aku pulang saja ya, aku malu dan lagi wajahku sembab begini bak bunga yang sudah layu" mendengar ucapan Reva semua tertawa geli.
" Ya sudah biar aku yang mengantar Reva pulang" tawar Raditia.
" Benar, kakak antar kak Reva saja untuk pulang, nanti aku bareng sama kak Dian aja, ya kan kak" Niken mengedip-ngedipkan matanya ke arah Dian memberinya kode.
" Ehh..Ohh.. Oke. Nanti biar Niken bareng sama gue" ucap Dian.
" Jaga adekku baik-baik, jangan diapa-apain" Nada Raditia terlihat mengancam.
" Tenang saja sob, tak akan aku biarkan dia lecet sedikit pun. Bahkan lalat yang mendekatinya pun akan aku hajar satu persatu"
" Kak Dian jahat, memangnya aku sampah" ucap Dian cemberut, sembari memukul lengan Dian. Yang lain tertawa melihat perdebatan mereka
" Ehhh...bukan seperti itu, maksud para pengganggu" ucap Dian.
" Sudah-sudah, ayo dek kita masuk biar aku saja yang menjaga peri kecilku ini, kalian hati-hati dijalan ya" ucap Rian sembari menggandeng tangan Niken, niken menuruti Rian dan Dian mengikuti langkah mereka.
" Ok, kami balik dulu" seru Raditia.
Reva dan Raditia berjalan ke arah parkiran. Raditia mengambil motornya, dan memasangkan helem pada Reva. Raditia mulai menyalakan mesin motornya.
" Pegangan biar gak jatuh" ucapnya, sembari meraih tangan Reva agar memeluknya.
" Siap komandan" dengan senang hati Reva melingkarkan tangannya di pinggang Raditia.
Motor Raditia melaju dengan kecepatan sedang, menembus gelap malam. Menyusuri jalanan kota yang ramai kendaraan telah berlalu lalang.
.
.
.
.
Tara sudah 23 Episode ya Readers😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak yang sudah mampir dan meninggalkan jejak like, vote dan komen-komen yang membangun🤗, bikin Author makin semangat nih nulisnya😘