Arti Sebuah Hubungan

Arti Sebuah Hubungan
Episode 38 - Berakhir


__ADS_3

Tepat pukul 04.00 WIB Raditia dan Niken sampai di Surabaya. Mereka berhenti disebuah masjid, yang letaknya sekitar 2 KM dari kos Reva. Raditia dan Niken menunaikan sholat subuh terlebih dahulu. Sebelum mereka lanjut ketempat Reva.


" Kakak kita cari sarapan dulu ya. Kakak harus makan sesuatu dan minum obatnya"


" Nanti saja, aku belum lapar"


" Kak, makan lah sesuatu dulu ya. Biar kakak kelihatan segar. Pak Umang hentikan mobilnya di supermarket ya"


" Baik nona"


Niken turun dan masuk kedalam mini market untuk membeli sesuatu. Beberapa menit kemudian Niken keluar dengan membawa satu kantong kresek besar.


" Kak minum susunya dulu ya, sama makan roti ini. Aku tak mau kakak menolakku lagi" Sebenarnya Raditia tak ada nafsu untuk makan maupun minum. Tapi ia tak ingin menolak Niken lagi.


Hanya Niken yang selalu ada dan perhatian padanya selama ini. Niken sangat dewasa, ia sangat menyayangi Raditia. Sifat Niken mirip sekali seperti alm.Mamanya. Oleh karena itu Raditia selalu menuruti apa yang dikatakan Niken padanya.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai dikosan Reva. Kos yang Reva dan Tria tempati seperti kawasan perumahan. Terdapat beberapa puluh rumah berjejer rapi bermodel minimalis.


Mobil mereka berhenti di depan salah satu rumah yang nampak kosong. Tetapnya disamping rumah yang Reva tinggali.


Raditia dan Niken menunggu didalam mobil. Sampai akhirnya Raditia melihat Tria keluar dari kosan. Mendekati penjual sayur yang dikerumuni beberapa ibu-ibu dan gadis seumuran dengan Tria.


Saat melihat Tria hendak masuk kedalam kosan, Raditia buru-buru turun dan menghampiri Tria.


" Tria, Tria tunggu" Merasa ada yang memanggil namanya. Tria menoleh dan betapa terkejutnya ia, Raditia berada di hadapannya.


" Ra-Raditia" Tria mencubit lengan Raditia. Ia masih tak percaya jika yang berada dihadapannya adalah Raditia.


" Auwww" Raditia mengelus lengan bekas cubitan Tria.


" Ini beneran kamu, kapan kamu pulang dari London"


" Aku pulang satu bulan yang lalu Tria"


" Tapi kenapa baru mencari Reva sekarang"


" Maafkan aku, ada suatu hal yang menyebabkan ku tak bisa langsung bertemu dengannya"


" Karena ulahmu, kini hubungan kalian hancur" Tria nampak kesal, ingin rasanya Tria mengomeli habis-habis lelaki yang berdiri dihadapannya.


" Kakak sedang tak baik-baik saja kak Tria, kak Raditia baru sadar dari koma" tiba-tiba saja Niken sudah berdiri dibelakang Raditia.


" Ap-apa yang sebenarnya terjadi padamu" Mereka bertiga masih berdiri didepan pintu rumah.


" Kakak mengalami kecelakaan, ia koma selama hampir 1 bulan kak Tria. Harusnya dari awal aku memberi tahu kak Reva. Agar kesalah fahaman ini tidak terjadi" Niken menundukkan kepala, nampak air mata membasahi pipinya.


" Dek sudahlah jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini salah kakak" Raditia merangkul Niken, meraih tubuh kecil itu kedalam pelukannya.


" Dan sekarang, apa kamu sudah benar-benar baikan Radit"


" Aku sudah baikkan, hanya saja kadang masing terasa pusing. Apa Reva ada?"


" Ada, mungkin Reva juga sudah bangun. Ya ampun, aku sampai lupa mempersilahkan kalian masuk. Mari masuk" Tria membuka pintu dan mempersilahkan Raditia dan Niken masuk.


Raditia dan Niken duduk di kursi kayu yang tersedia di ruang tamu.


" Siapa yang bertamu sepagi ini. sepertinya tamu yang datang lebih dari satu orang" Reva baru selesai mandi, ia mengenakan atasan santai berwarna hitam. Kebetulan hari ini ia libur kuliah.


Reva menatap dirinya dalam cermin, ia membelai kalung yang dipakainya. Kalung perak pemberian Raditia, yang tak pernah lepas dari lehernya.


" Haruskah kisah kita berakhir seperti ini. Hiks...Kenapa harus begini, huhhh...hikks.." Tangis Reva kembali pecah.


" Reva keluar lah, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" Suara melengking Tria terdengar keras dari arah dapur. Tria membuatkan teh hangat untuk Raditia dan Niken.


" Iya sebentar" Reva meraih tisu dan menyeka air matanya. Reva bergegas keluar, pasti Tara yang datang. Ia harus menjelaskan kesalah fahaman Tara atas perkataanya kemaren.


DEG


" Niken"


Jantung Reva serasa goncang. Debaran itu semakin kencang saat ia mengetahui siapa yang duduk di hadapannya.


" Kak Reva"


Mendengar nama Reva disebut, Raditia menoleh kearah belakang. Ia berdiri dan berjalan mendekati Reva.


Tatapan mereka bertemu, getaran dalam hati Reva semakin terasa. Bak sengatan listrik yang kuat menggetarkan jantungnya.


Raditia menatap Reva lekat-lekat. Kerinduan menyelimuti mereka berdua. Tanpa mereka sadari tubuh mereka semakin mendekat. Raditia memeluk Reva sangat erat.

__ADS_1


" Aku merindukanmu" bisik Raditia lirih.


" Aku merindukanmu Reva" Raditia memeluk tubuh Reva lebih erat, Isak tangis terdengar dari keduanya.


" Maafkan aku. Maafkan aku Ree"


" Kamu membuatku hancur Radit. Kenapa kamu sejahat ini padaku"


" Maafkan aku Reva. Aku tak bermaksud seperti itu padamu" Reva tak lagi mampu menahan emosinya. Reva mendorong tubuh Raditia menjauh darinya.


" Reva" Raditia terkejut akan sikap Reva yang mendadak acuh padanya.


" Jangan mendekat. Cukup Radit cukup. Aku tak ingin merasakan sakit itu lebih lama lagi"


" Ree, dengarkan aku dulu. Aku akan menceritakan semua kebenarannya padamu" Raditia mencengkeram pundak Reva.


Reva hanya terdiam. Ia tak mampu lagi berkata-kata. Mata keduanya nampak sendu. Kesedihan menyelimuti hati keduanya.


" Sebenarnya selama 1 bulan ini aku..."


BUGH


satu kepalan melayang ke arah pipi Raditia.


" Radit"


" Kakak"


Reva dan Niken sangat terkejut, Raditia tersungkur begitu saja.


BUGH, BUGH....


" Berengsek! Berani-beraninya loe pegang pacar gue.


Perkelahian antar Raditia dan Tara tak terhelakkan. Raditia yang tak terima membalas satu pukulan kemuka Tara.


" Sembarangan, Reva kekasihku. Akan selamanya menjadi kekasihku" Raditia menekankan kata-katanya. Satu lagi pukulan dari Raditia melayang ke wajah Tara.


BRUKKK, BUGH, GEDUBRAKKKKK


" Sudah cukup. Berhenti kalian" Reva berteriak tapi mereka tak menghiraukan.


Raditia mencengkram kerah baju Tara. Tara menendang Raditia. Hingga Raditia tersungkur kelantai.


" Hentikan Tara" Reva berteriak cukup keras.


Niken membantu Raditia duduk dikursi sebelah mereka. Tria menghampiri Raditia membawakannya kotak p3k.


Niken menyeka darah yang mengalir dari sudut bibir dan kening Raditia. Reva melakukan hal yang sama pada Tara. Ia menyeka sudut bibir Tara yang memar.


Raditia nampak kesal melihat Reva lebih peduli pada Tara, ketimbang pada dirinya.


" Setelah ini kalian pulang lah. Aku tak ingin di ganggu siapa pun"


" Tapi Ree" Raditia menyela perkataan Reva.


" Jangan menimbulkan keributan lagi. Aku tak ingin kena masalah, karena kalian berdua"


" Reva dengarkan aku sebentar saja Ree. Aku tak ingin hubungan kita berakhir begitu saja. Kumohon beri aku kesempatan Ree"


" Loe udah bikin Reva sedih. Jangan dekati Reva lagi. Karena sekarang yang berhak atas dirinya adalah gue"


" Apa maksudmu" Raditia mengira-ngira, bawasannya Tara lah yang dimaksud Reva kemarin.


" Cukup! Sudah cukup. Dengar Radit aku ingin kita berpisah. Aku harap kamu menghargai keputusanku" Wajah Raditia merah padam. Matanya memerah, antara menahan marah dan tangis. Tara tersenyum penuh kemenangan.


" Tara pulang lah, aku ingin sendiri dulu" Reva berlari ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


Tara pergi begitu saja. Raditia terus mengetuk pintu kamar Reva. Tapi tak ada respon dari dalam sana.


Tubuh Raditia tersungkur dilantai. Terduduk didepan pintu. Tangis Reva pecah, air mata mengaliri pipinya. Reva mengigit ujung bantal menahan teriakan kesedihan hatinya.


Hatinya serasa hancur. Hubungan yang diimpi-impikan berakhir bahagia, pada kenyataanya kandas begitu saja.


Mungkinkah semua kembali membaik. Mungkinkah hubungan ini akan seindah dulu lagi. Hasrat untuk memberontak timbul dihati Raditia. Ingin ia mendobrak pintu kamar Reva dan menjelaskan semuanya.


" Kak bangun. Mari kita pulang"


Hari sudah menjelang sore, namun keadaan tak ada yang berubah. Reva terus menerus menangis.

__ADS_1


Tiba-tiba saja tubuh Raditia tergeletak dilantai. Membuat panik Niken dan Tria yang ada didekatnya.


" Ya Tuhan kakak. Tolong kak Tria"


" Ya ampun Niken. Bagaimana ini"


Niken keluar memanggil pak Umang. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai disalah rumah sakit. Raditia di bawa kedalam ruang IGD, seorang dokter datang dan memeriksa kondisi Raditia.


Niken mondar mandir. Hatinya gelisah, ia takut terjadi sesuatu yang serius kepada Raditia. Tria mencoba menenangkan Niken yang mulai menangis.


" Niken tenanglah. Raditia pasti baik-baik saja"


" Iya kak terima kasih"


dretttt...drettt...dreetttttt


" Hallo kak, ada apa?" Niken mendapat panggilan dari seseorang.


" Kami sedang ada di Surabaya. Iya, tapi keadaan kak Raditia tiba-tiba memburuk kak. Kami ada di rumah sakit xxx. Baik kak. hati-hati dijalan"


" Saudaramu mau kesini Niken"


" Iya kak Tria. Kak Rian mau kesini"


" Ka-Kak Rian" Tria terdengar terkejut.


" Iya kak"


" Baiklah, aku akan tunggu kak Rian datang. Setelah itu aku akan kembali ke kosan"


" Tapi kak, kasih kak Reva. Gak pa-pa kok kakak temani kak Reva saja. Ia juga butuh seseorang disampingnya"


" Tak apa Niken. Untuk saat ini Reva butuh sendiri dulu. Nanti setelah pulang dari sini aku akan jelaskan semuanya kepadanya"


" Baik kak. Terima kasih ya kak"


Dokter keluar dari ruang IGD, Niken menghampiri dan memberondong beberapa pertanyaan padanya.


" Tenang nona, tenang. Kakak anda baik-baik saja. Ia butuh istirahat yang cukup. Jangan biarkan ia terlalu stres ya. Tekanan darahnya sangat rendah" tutur seorang dokter yang seumuran dengan papa Andre.


" Syukurlah. Baik dok, apa saya boleh masuk"


" Boleh, tapi jangan ganggu pasien dulu ya"


" Iya dok. Terima kasih"


Dokter itu menganggukkan kepala, dan pergi meninggalkan Niken. Niken masuk kedalam ruang perawatan Raditia. Lagi-lagi ia melihat Raditia terbaring lemah.


Tok, tok, tok


Seseorang yang familiar masuk dengan membawa beberapa bungkus kantong yang berisi, buah dan makanan.


" Kak Rian" Niken memeluk tubuh Rian begitu erat.


" Tenanglah Niken. Raditia pasti akan cepat pulih" pandangan Rian mengarah ke Tria. Tatapan matanya seperti menyorotkan sebuah pertanyaan.


" Kamu ada disini. Dimana Reva"


" Reva di kosan kak. Oh, ya saya pamit dulu ya. Kasih Reva sendirian di kos"


" Apa perlu saya antar" Rian menawarkan diri.


" Tidak perlu kak, aku bisa pulang sendiri. Lagian Niken lebih membutuhkan kak Rian di sini"


" Baiklah, hati-hati dijalan ya"


Tria mengangguk dan berpamitan untuk pulang. Taksi online sudah menunggunya di depan pintu rumah sakit.


Happy Reading😢


.


.


.


.


Reva dan Raditia dirundung kesedihan.

__ADS_1


Tatapan mata Reva kosong, perasaannya kacau. Raditia menahan tangisnya.



__ADS_2