
" Hallo, hallo, Niken. Yah ternyata sambungannya putus. Ya sudahlah tak apa, aku akan ke sana sekarang juga" Reva beranjak dari tempat duduk, namun tiba-tiba.
" Dorrr..." Tara memeluknya dari belakang.
" Ya Tuhan, Tara lepas kan. Kamu mengagetkanku saja" Reva mencoba melepaskan diri dari dekapan Tara.
" Gak mau. Gue gak mau lepas" Tara mencium aroma wangi dari rambut Reva.
" Tara lepas! aku bilang lepas ya lepas!" Reva meninggikan suaranya, terdengar sekali kalau Reva kesal pada Tara.
" Oke, oke gue lepas. Tumben udah rapi"
" Hem" Reva merapikan baju.
" Mau berangkat sekarang"
" Enggak, aku izin hari ini. Aku mau ke rumah sakit"
" Oh, memangnya siapa yang sakit. Setau gue, loe gak punya saudara di sini"
" Memang gak ada"
" Terus mau jenguk siapa?"
" Aku mau menemui Raditia"
" Cowok berengsek itu, ngapai loe kesana Reva" wajah Tara nampak kesal.
" Ya, karena ada yang ingin aku lurus dengannya"
" Oh, Oke. Gue anter loe kerumah sakit"
" Tidak usah Tara. Aku bisa pergi sendiri"
" Tapi gue cowok loe. Jadi itu hak gue" suara Tara terdengar kasar.
" Ya Tuhan iya! Kenapa aku bisa lupa hal ini" Reva mengutuk dirinya sendiri.
" Loe keterlaluan Reva. Pacar sendiri dilupain"
" Bukan gitu Tara. Aku mau ngomong sesuatu juga sama kamu"
" Mau ngomong apa. Mau bilang kalau loe cinta sama gue" Tara beralih duduk disebelah Reva.
" Tara kamu sudah salah faham"
" Maksudnya?"
" Sebelumnya aku minta maaf Tara.."
" Sayang, loe gak salah kenapa minta maaf"
" Tara dengar dulu, jangan memutus pembicaraanku"
" Oke, gue diem"
__ADS_1
" Aku minta maaf karena kamu sudah salah faham. Kamu salah mengartikan hubungan kita"
" Maksudnya?"
" Aku memang menyukaimu Tara. Aku senang kamu sudah menjadi teman yang baik selama ini. Aku menghargai perasaanmu padaku, tapi aku tak bisa memiliki perasaan lebih untukmu"
" Itu artinya loe nolak gue! Loe gak terima gue sebagai cowok loe! Benar begitu!"
" Iya Tara. Maafkan aku. Aku lebih suka seperti ini. Aku nyaman kita berteman seperti ini. Kamu bagaikan saudara lelakiku Tara. Yang menjaga dan menyayangiku"
" Apa loe mau balikan sama si berengsek itu" nada Tara meninggi.
" Tara dia tidak seperti yang kamu pikirkan. Selama ini Raditia baik padaku, ia selalu menjagaku. Hanya saja ada kesalah faham di antara kita"
Raut wajah Tara merah pada, gerutan-gerutan amarah nampak di wajahnya.
" Aku sangat mencintainya Tara. Kami saling mengenal sejak SMA. Saat pertama kali aku melihat Raditia, aku langsung menyukainya. Aku tak menyangka dia juga menyukaiku. Dia membalas perasaanku. Aku tak ingin kehilangan dia Tara. Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpanya"
Tara mengepalkan tangannya. Ini kali pertama Tara mendapat penolakan dari wanita yang di inginkannya. Tara pikir semua wanita sama. Rayuan, uang, perhiasan, kemewahan yang ia miliki selama ini mampu menaklukkan wanita manapun.
Namun semua itu tak berlaku saat ia mendekati Reva. Reva tak pernah mau menerima barang-barang yang Tara berikan padanya. Terkecuali makanan, Reva tak pernah menolaknya. Karena cinta Reva tak diukur dari materi.
Reva menceritakan semua hal tentang dirinya dan raditia. Reva menyatakan bahwa hatinya dari dulu milik Raditia.
Mata Tara memerah, tangannya terus mengepal. Mendengar penolakan dari Reva itu sudah menjatuhkan harga dirinya. Ditambah lagi pengakuan perasaan Reva yang dalam terhadap Raditia. Mendengar semua itu membuat Tara muak.
" Oke baiklah. Jika itu yang loe mau..."
" Terima makasih ya Tara. Kamu memang teman yang baik" Reva memotong kata-kata Tara dan memeluk tubuh Tara. Tara mendekap erat tubuh Reva. Senyum licik tersunging disudut bibirnya.
Reva mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Tara. Namun Tara semakin mempererat tubuh Reva menempel padanya. Tara menyibak rambut Reva yang menutupi pipinya.
" Loe pikir gue bakal diem aja. Gue udah lama menantikan hal ini sama loe Reva" Suara Tara terdengar berat, dan menakutkan untuk didengar.
" Tara lepaskan aku! Kamu jangan macam-macam, atau aku akan..." Reva meronta-ronta agar lepas dari pelukan Tara. Namun usahanya sia-sia tenaga Tara terlalu kuat untuk ia lawan.
" Akan apa hah! loe gak bisa kemana-mana lagi reva" Tara mencium kening Reva. Reva mengelak, ia mengendus kesal.
" Tolong! tolong..."
" Teriak yang kenceng Reva. Gak bakal ada yang dengerin elo"
Tara mengunci kedua tangan Reva dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya memegang wajah Reva, agar menghadapnya. Reva terus memberontak. Tara menciumi pipi Reva bergantian, ia mencium dengan penuh nafsu.
" Tara hentikkan! hiks....huhh..."
" Gue gak akan lepasin loe. Dan gue gak akan berhenti, sebelum gue dapat yang gue mau dari loe"
" Dasar berengsek! Ternyata kamu masih sama seperti yang dulu. Suka melecehkan wanita"
" Hai...Hentikan sayang. Mulutmu lancang sekali" Tara menangkup bibir Reva. Dengan perlahan Tara mendekatkan wajahnya.
Mata Tara terfokus pada bibir Reva yang terlihat manis dan seksi. Jarak bibir Tara semakin dekat dengan bibinya.
" Ya Tuhan, tolong aku" Reva menutup kedua mata. Saat bibir Tara berjarak kurang dari 1 Senti. Reva menginjak kaki Tara dengan keras.
__ADS_1
" Auww...Berengsek" Tara mengadu kesakitan.
Reva beranjak dari tempat duduk, ia berlari ke arah pintu luar. Namun secepat kilat tangan Tara menangkap tubuhnya. Tangan kiri Tara mengunci kedua tangan Reva. Posisi Tara berada dibelakang Reva. Dan tangan Tara yang lain menyibak rambu Reva. Tara menciumi leher Reva, dari leher beralih ke kuping.
Tara menikmati setiap sentuhan bibirnya pada tubuh Reva. Reva berteriak minta tolong, namun tak ada satu pun tetangga yang mendengarnya.
" Tara kumohon lepaskan aku, hihkk...huhh"
Tara tak mendengarkan kata-kata Reva. Tara beralih ke kardigan yang Reva kenakan. Tara menciumi pundak Reva.
" Jangan Tara! kumohon henti huhh...huhh"
" Nikmati saja sayang" Kardigan lepas dari tubuh Reva, tara melemparnya sembarangan.
Kini Reva hanya mengenakan dress selutut, yang tak berlengan. Tara mencoba membuka resleting dress yang Reva kenakan. Perlahan tapi pasti, punggung Reva mulai terbuka. Reva menjerit, menangis, memohon, agar Tara menghentikan semuanya.
" Tara jangan lakukan semua ini. Tolong, tolong. Seseorang tolong aku hihkk..huhh..." Terdengar suara putus asa terdengar dari Reva.
Tara membalikkan tubuh Reva menghadapnya. Wajah Reva tertunduk, butiran-butiran air mata memenuhi wajahnya.
" Tenanglah, setelah ini gue akan tanggung jawab. Gue gak akan lari dari loe. Semalamnya loe akan jadi milik gue Reva"
Tara mendekap tubuh Reva, sedangkan tangan yang lain menyusup dipunggung Reva. Menyentuh tubuh Reva penuh dengan nafsu.
Saat Tara mulai terbuai, Tara melepas kuncian tangan Reva. Dengan sekali gerakan Reva menendang alat vital Tara. Tara meringis kesakitan, dengan mendekap alat vitalnya.
Reva berlari keluar rumah, ia tak memperdulikan dengan baju yang terlihat berantakan. Pikirannya hanya satu yaitu terbebas dari Tara.
Saat ia berlari ke arah jalan Reva tak melihat ada mobil yang melintas ke arahnya.
" Raditia, apakah aku masih pantas untukmu. hihk...huhh...huhhh..." Pikiran Reva kacau, Reva nampak linglung.
Tin,tin,tin suara klakson mobil terdengar nyaring.
" Hey, minggir..." seseorang dalam mobil berteriak pada Reva.
Cittt.....citttt....
Suara ban mobil yang bergesek dengan aspal, karena pengemudi itu mengerem mendadak. Ia sebisa mungkin menghentikan mobilnya agar tidak menabrak seseorang yang didepannya.
"Ahhhhh......" Reva duduk tersimpun tetap didepan mobil, dengan kedua tangan menutupi telinganya.
" Ya Tuhan" Seseorang turun dari dalam mobil dan menghampiri Reva.
" Reva" Tara berteriak dan berlari menghampiri Reva.
Reva yang mendengar suara Tara ia bangkit dan berlari ke arah seseorang yang menghampirinya.
" Tolong, tolong aku. Lelaki itu ingin melecehkanku"
Lelaki itu mendekap tubuh Reva, matanya memerah mendengar pengakuan Reva. Kemudian ia melepas jaketnya, dan memakaikan ditubuh reva yang terlihat setengah terbuka.
" Tenang reva ada aku disini" Tanpa menatap jelas wajah yang merangkulnya. Reva mendekap lelaki itu dan terus menangis.
Happy Readingš¢
__ADS_1