Arti Sebuah Hubungan

Arti Sebuah Hubungan
Episode 33 - Pengganggu


__ADS_3

Seperti yang dikatakan, setiap usai jam kuliah Reva pergi ke kantin untuk membantu Bu Arum. Tak terasa sudah dua minggu ia membantu Bu Arum dikantin.


Tak jarang Reva menggantikan Bu Arum memasak. Meski tak terlalu pandai memasak berbagai jenis masakan. Tapi Reva cukup pandai mengenai rasa.


Tepat satu bulan sudah Raditia tak mengabarinya. Reva mulai terbiasa tak menggantungkan diri pada panggilan ponsel. Kesibukan membuat pikirannya teralihkan.


Tria senang melihat senyum Reva yang kembali merekah. Tubuh Reva pun sedikit berisi tak seperti kemarin, yang bagai bunga layu tak pernah terawat.


Tak jarang Tria ikut ke kanti membantu Reva dan Bu Arum suka rela. Bu Arum senang kedatangan Reva dan Tria menambah rame suasa kantin.


Seperti hari ini Tria menyusul Reva usai mata kuliahnya selesai. Reva usai lebih dulu beberapa menit yang lalu.


" Siang Bu Arum, masak menu apa hari ini Bu?!" Tria menyelonong masuk dalam kedapur.


" Hari ini ibu gak masak Tria, jadwalnya nak Reva" Bu Arum tersenyum ramah, semabari mengupas bawang.


" Wah, pasti menu hari ini lalapan Ayam goreng sambel ijo" Seru Tria antusias.


" Ihss, sok tau kamu" timpal Reva.


" Bukan sok tau, nah itu kamu lagi goreng ayam kan" balas Tria tak mau kalah.


" Iya nak Tria, ibu yang nyuruh nak Reva. Setiap kali masak ayam goreng selalu laris manis. Dan sepertinya lidah anak-anak kampus lebih cocok sama masakan nak Reva" puji Bu Arum, ya memang benar apa yang dikatakan Bu Arum.


" Ibu terlalu berlebihan. Mana ada yang lebih muda jago masak ketimbang ibu yang sudah berpengalaman"


" Ya meski ibu pinter masak, tapi anak jaman sekarang sukanya kan garingan. Sayuran pada gak mau" tutur Bu Arum.


" Meski begitu, Reva suka masakan Capjay ibu low rasanya. Emchh....endul, takendul-kendul, ngunnaaah, sehaaah" Mendengar perkataan Reva, Bu Arum dan Tria tertawa terbahak-bahak.


" Hahahaha, Kebanyakan nonton inces nabati kamu Ree, Ree" Tria kembali tertawa.


" Nontonnya juga sama kamu" Timpal Reva kepada Tria.


" Bu makan dong, laper nih" tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda dari luar. Bu Arum bergegas berjalan kedepan.


" Eh, mas ada saya disini, kenapa keriak kenceng banget manggil ibu yang ada di dalem" sahut Indah yang duduk di meja kasir.


" Gue gak mau sama elu mbak, gue maunya sama mbaknya yang cantik itu low"


" Oh, dasar songong. Muka gak ganteng-ganteng amet aja belagu" timpal Indah kesal.


" Mau makan apa nak Tara" sapa Bu Arum ramah.


" Lalapan ayam goreng ada Bu"


" Ada nak, kebetulan ayamnya baru saja mateng"


" Manteb, lima porsi ya Bu, sama es jeruknya juga lima"


" Siap nak Tara, ditunggu ya" Bu Arum berjalan ke dalam dapur.

__ADS_1


Tara hanya mengangguk dan berbalik ke meja makan bersama teman-temannya.


" Siapa sih Ree, ribet amet mau makan aja" keluh Tria.


" Tau lah, pelanggan gak jelas"


" Namanya nak Tara, papanya salah satu donatur kampus disini"


" Oh, Tara itu"


" Kamu kenal dia Tria"


" Iya, dia satu fakultas sama aku Ree, play bos cap jempol. Suka rayu gadis sana-sini"


" Oh.." Reva mencibikkan bibirnya.


" Nak Tara pesan ayam lalapan lima nak Reva"


" Iya Bu siap"


Beberapa menit kemudian Reva dan Tria, menghantarkan pesanan ke meja Tara.


" Silahkan menikmati" ucap Reva ramah.


" Ehhh" Reva menghentikan langkahnya, karena seseorang memegang pergelangan tangannya.


" Heh, lepasin tangan temenku" sahut Tria kesal.


" Gue gak ngomong sama loe" Tara beranjak dari tempat duduknya.


" Gue pengen kenalan sama loe, kasih tau nama loe dulu baru gue lepas tangan loe"


" Cihh, modus yang gak mutu" timpal Tria, dengan tersenyum sinis.


" Nama ku Reva" jawab Reva ketus.


" Udah dijawab tuh, lepasin tangan Reva. Atau nampan ini melayang di kepalamu" nada Tria terdengar penuh ancaman.


" Oke girl, santai gaes" Tara melepas tangan reva.


" Lain kali bukan hanya tangan loe yang gue pegang tapi hati loe juga" bisik Tara ditelinga Reva, dan sejurus.


Plak.. tamparan Reva mendarat di pipi Tara. Tria tersenyum penuh kemenangan. Teman Tara yang tak terima beranjak dari tempat duduk dan mendekati ke arah Reva.


" Wah, brengsek loe. Berani-beraninya loe tampar Tara" salah satu teman Tara.


" Berhenti" bentak Tara. Seketika teman-teman Tara menghentikan langkahnya.


" Kenapa, kalian gak terima. Aku tak pernah takut kepada siapa pun yang menggangguku. Dan kamu jaga ucapan mu, hargai wanita seperti kamu menghargai ibu" Tara tercengang mendengar apa yang di ucapkan Reva padanya. Reva melangkah pergi diikuti oleh Tria.


Seperti tertampar untuk kedua kalinya, ucapan Reva masih terngiang di telinganya. Tara memegangi pipi bekas tampar Reva.

__ADS_1


" Bos, kamu gak papa kan. Kita apain gadis itu, biar tau rasa"


" Diam lah, ini akan menjadi urusanku sendiri. Kalian jangan ikut campur" Teman-teman Tara nampak bingung dengan sikap Tara yang tak seperti biasa.


Jika soal harga diri Tara akan membalas siapa pun yang menyinggungnya. Tapi kenapa dengan Reva, ia tak membalas perbuatan Reva yang sudah mempermalukannya.


" Ini kalau sudah selesai bayar dikasir, aku cabut dulu" Tara meninggalkan beberapa lebar uang, dan pergi meninggalkan Geng nya.


" Gadis istimewa, aku tak akan melepaskanmu" gumam Tara.


" Mbak Reva gak papa kan" ucap Indah yang penuh kekhawatiran.


" Aku gak papa kok Mbak Indah"


" Dasar cowok songong, kalau bukan karena ayahnya seorang donatur besar kampus. Sudah tak lempar sendal mukanya dari tadi"


" Memang kamu berani mbak" Tria menyahuti.


" Saya mah gak takut sama siapa pun mbak, kecuali orang yang berkuasa disini. Kalau saya macem-macem nanti ibu yang kena imbasnya"


" Waduh, gimana kalau kejadian tadi dia ngadu sama ayahnya, terus imbasnya ke Bu Arum. Wahh, bisa celaka ini" tiba-tiba saja kening Reva merasakan panas dingin.


" Mudah-mudahan aja enggak Ree, ember banget tu mulut Sampek ngadu ke bokapnya"


" Mbak Reva tenang saja gak mungkin dia berani, orang dia suka sama embak"


" Hah, suka" suara Reva dan Tria serentak.


" Wahana, Tara menyukaimu Ree"


" Emch, Luca ya, iya lucu. hahahaha" Reva menggelitik Tria hingga ia tak henti-henti tertawa.


" Sudah Reva, sudah hentikan" Tria tak kuat lagi menahan geli.


" Jangan bicarakan itu lagi ya, aku tak suka" Reva melangkah pergi ke dapur.


" Nak Reva kamu gak papa kan nak, maaf ibu hanya memperhatikan saja. Ibu tak bisa membuatmu. Ibu tak berani menentang nak Tara"


" Gak papa Bu, harusnya Reva yang minta maaf sudah membuat gaduh di kantin. Maafin Reva ya Bu"


" Lain kali jika ada yang mengganggumu lagi, ibu akan memukulnya pakai ini" Bu Arum mengangkat spatula yang di pegangnya. Reva tersenyum, dan mengangguk.


" Aku harus berhati-hati padanya" gumam Reva, mengingat kejadian siang tadi.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading 🤗


Semoga selau setia sama Reva dan Raditia ya, terus ikutin ceritanya. Terima Kasih 😊


__ADS_2