
Wisuda kelulusan kelas XII telah diselenggarakan. Pendaftaran murid baru sudah dibuka. Reva dan Dian tetap aktif dalam organisasi. Setelah penerimaan murid baru selesai, maka akan di adakan pemilihan anggota organisasi tahun ajaran baru.
" Reva lama gak lihat kamu sama kak Rian" ucap Tria.
" Iya, mungkin kak Rian sedang sibuk, semenjak direpotkan soal ujian kak Rian tak menghubungiku, ya mungkin dia ingin fokus saja dengan ujiannya" jelas Reva.
" Emch, bener juga, tapi hubungan kalian baik-baik saja kan?" tanya Tria
" Baik-baik saja kok"
" Gak ada masalah antara kalian kan"
" Gak ada kok, kita terakhir ketemu baik-baik saja"
" Apa dia mencoba menghindari mu"
" Untuk apa dia menghindari ku, dan kenapa kamu jadi mikirnya gitu Tria?"
" Hehehe, gak apa-apa Ree"
" Kamu hari ini aneh sekali" tanya Reva, Tria hanya tersenyum.
" Bukan aku yang aneh Reva, tapi kamu nya yang gak sadar, kalau ada sesuatu yang kak Rian sembunyikan" Gumam Tria dalam hati.
Tett....tett...tettt.... Bel tanda masuk berbunyi Reva dan yang lain kembali ke kelas masing-masing.
" Reva, besok kak Rian merayakan kelulusannya, elu diundangkan?" Tanya Dian menghampiri Reva di bangkunya.
" Besok, tapi kak Rian belum mengabari ku"
" Benarkah, elu kan dekat dengan kak Rian masak gak di undang?"
" Mungkin kak Rian kelupaan" jawab Reva lesu, rasanya seperti di abaikan oleh Rian.
" Tapi semua anggota OSIS di undang, masak elu enggak"
" Aku kan adiknya, mungkin cara kak Rian mengundangku berbeda dari kalian" ucapnya tersenyum masam, mencoba terlihat biasa saja dihadapan Dian.
" Benar juga, mungkin saja seperti itu" ucap dian, Reva hanya tersenyum.
" Oke, nanti elu kabari, kita akan kerumahnya bersama gue akan menjemput elu" jelas Dian, Reva mengangguk dan tersenyum.
Kini Reva benar-benar merasakan kalau ada sesuatu yang aneh dari sikap Rian, tak biasanya dia seperti ini. Hal sekecil apa pun biasanya Rian selalu melibatkannya.
Reva pulang seperti biasa, Raditia setia menjemput dan mengantarnya pulang. Banyak yang mengira mereka sepasang kekasih. Karena kedekatan mereka yang bisa dikatakan seperti itu. Nyatanya hubungan mereka belum ada yang istimewa.
" Raditia mampir dulu" ajak Reva setibanya dirumah.
__ADS_1
" Maaf Reva aku sudah ada janji dengan Niken, ia memintaku menemaninya ke mall"
" Ohh oke, salam buat niken ya"
" Siap, salam buat ayah dan ibu ya Reva" Raditia pun berlalu meninggalkan rumah Reva.
****
Reva masuk ke kamarnya, merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Jujur saja entah kenapa hari ini membuatnya selalu memikirkan sikap Rian yang hampir 2 bulan seperti menjauhinya.
" Benar kata Tria sepertinya kak Rian sengaja menjauhiku, tapi apa salahku padahal terakhir kita ketemu baik-baik saja, apa dia sudah melupakanku" gumam Reva dalam hati pikirannya menerawang jauh.
Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Entah itu apa, hatinya seperti sepih. Apa itu karena Rian?, ah...sepertinya tak mungkin. Kenapa dengan Rian dia kan hanya kakak baginya. Terus apa yang membuatnya seperti ini.
Kelelahan berpikir Reva pun terlelap dalam tidurnya. Tanpa menganti baju, dan juga melewatkan makan sore dengan keluarganya.
Rumah Rian
Rumah Rian dipenuhi para penata ruangan dan pelayan yang sedang mendekorasi seisi ruang rumahnya. Menyulapnya menjadi garden party, dekorasi yang berwarna putih dan hitam. Dan beberapa bunga yang menghiasi nampak membuat rumah itu terlihat indah dan terlihat mewah.
Sebenarnya Rian kurang setuju acara ini di adakan, papanya terlalu berlebihan. Ini wujud rasa bangga papanya karena dia lulus dengan mendapatkan nilai bagus dan masuk di universitas ternama.
Mamanya tak ingin dia melanjutkan studinya diluar negri. Ia tak ingin jauh-jauh dari anak semata wayangnya. Rian menuruti permintaan mamanya dengan senang hati.
Pasalnya ia sendiri tak ingin keluar negri untuk melanjutkan studinya. Karena ada sesuatu yang memberatkan langkahnya untuk pergi. Papa Rian hanya pasrah atas keputusan mamanya.
" Rian ada apa nak seperti ada sesuatu yang kamu pikirkan" Mama mendekati anaknya yang sedang di balkon.
" Emm... Mama, gak ada apa-apa kok mam" jawab Rian
" Dasar anak nakal, tak mau jujur, apa yang kamu sembunyikan dari mamamu ini" mama mencubit pipi Rian bak anak kecil yang menggemaskan.
" Aduhh, mam sakit" keluh nya.
" Ayo cepat cerita ke mama" paksa mama.
Dari wajah Rian mamanya mengerti apa kegelisahan anaknya, ia adalah ibu yang perhatian pada anaknya apa yang dirasakan Rian mamanya selalu mengerti.
" Mam, jika Rian menyukai seseorang tapi orang itu menyukai orang lain apa Rian salah" Rian menjelaskan kegelisahannya.
" Seseorang siapa, apa itu Reva" ucap mama. Rian yang kaget mendengar nama yang disebut mamanya berbalik menatap mamanya.
" Mama tau dari mana" kejut Rian.
" Apa yang mama tak tau darimu nak sayang"
" Tapi seingat ku, aku tak pernah cerita ke mama" jelasnya.
__ADS_1
" Iya memang, tapi tempo hari kamu menyebut nama Reva, tak biasanya kamu memperhatikan seorang gadis. Mama pikir dia adalah teman istimewa mu atau bisa disebut kekasih mu" jelas mamanya, Rian hanya tertegun mendengarnya. Tak disangka mamanya sepeka ini.
" Iya dia Reva mam, aku sudah berusaha untuk menjauhinya dan melupakan perasaanku. Tapi nyatanya menjauhi dan mengabaikannya itu malah membuatku semakin rindu padanya"
Wajah Rian nampak masam, kesedihan terlihat diwajahnya. Mama Rian tersenyum mendengar apa yang dikatakan anaknya.
" Aduhh, kasihan sekali anak mama, jika memang ia sudah suka dengan yang lain harusnya kamu move one sayang" mama mengelus rambut Rian yang menyandarkan kepalanya di pundak mamanya.
" Harus sih gitu mam, akan tetapi Rian sudah berjanji untuk tetap disisinya sebagai kakak mam, dan ternyata ini terlalu berat mam"
" Anak mama sayang dengar, tak semua hubungan akan seperti yang kita harapkan. Kalian masih muda tak tau apa yang akan terjadi beberapa tahun kedepannya. Jika memang kamu sudah berjanji padanya untuk disisinya sebagai kakak lakukan nak. Karena kamu bisa terus menjaganya mesti bukan sebagai pasang. Tetapi jangan pernah coba-coba menjadi pihak ketiga antara dia dan seseorang yang disukainya" ucap mama, Rian mencerna betul-betul nasehat mamanya.
Entah kenapa setiap kali Rian mengadukan masalahnya. Apa pun yang dikatakan mamanya selalu membuat hatinya lega. Mungkin insting seorang ibu itu memang tepat. Kini Rian tau apa yang akan dilakukan kedepannya.
" Terima Kasih mam, cuppp..." Rian mencium pipi mamanya dan memeluk mamanya. Rian selalu senang momen-momen seperti ini.
Rian masuk ke kamar dan mengambil ponselnya yang berada di atas bantalnya. Dengan wajah ceria dan suasana hati yang membaik ia ingin berbicara pada seseorang.
" Hallo, Reva lagi apa?" ucapnya riang.
" Emch...iya...siapa?" Reva meraih ponselnya dengan mata yang masih terpejam.
" Siapa😧, ini kakak" Rian terlihat bingung.
" Kakak, kakak siapa?" ucapnya masih lesu.
" Ini aku Rian, bangunlah, buka matamu" jawabnya tegas.
" Rian, Kak Rian..." Ucapnya histeris, dengan kesadaran penuh Reva bangun dari tidurnya.
" Iya, kebiasaan aku dilupakan" Rian merajuk.
" Siapa yang lupain kakak, kakak tuh yang udah lupain aku, gak ada kabar, gak pernah temuin aku, gak pernah telfon atau chat, Reva dilupain gitu aja, jahat sekali" Ucap Reva ganti merajuk.
Meski Omelan dari Reva yang didapatnya, setidaknya itu membuat hati Rian senang. Entah kenapa Rian merasa Reva memiliki perasaan yang sama padanya. Sama-sama merasa kehilangan jika saling menjauh.
.
.
.
Happy Reading.
Terima Kasih yang sudah mampir dan yang sudah dukung. Bikin Author nulisnya makin semangat🤗
Love you dear😘
__ADS_1