
Tubuh Reva berangsur hangat, wajahnya sudah tidak sepucat tadi lagi. Bibirnya pun mulai terlihat memerah.
" Nduk, tangi o. Wis suwe lek mu bubuk. Opo ora kesel, wis areb magrib low Iki. Tangi maem sek nduk" nenek Sukma membelai rambu Reva penuh sayang.
Reva merasakan kehangatan itu antara di alam mimpi dan nyata. Dalam tidur sayup-sayup ia mendengar suara yang familiar, yang pernah ia dengar.
" Lee, nenek sembahyang yo" Nenek Sukma pergi meninggalkan Reva dan Rian. Sepertinya nenek Sukma peka terhadap situasi antara dua insan muda mudi itu.
" Ree, bangunlah. Apa kamu akan terus seperti ini. Ada yang ingin aku sampaikan padamu Ree!" Rian membelai rambut Reva, menciumi tangan hangat Reva.
Reva merasakan hembusan hangat semakin mendekati wajahnya. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Cup...
Reva terkejut, merasakan sentuhan hangat didahinya. Tak terasa air mata Rian menetes didahi Reva. Tanpa Rian sadari Reva telah membuka matanya. Rian mengecup dahi Reva cukup lama.
" Hentikan" suara Reva terdengar gemetar. Seketika Reva mendorong tubuh Rian agar jauh darinya.
" Reva" Rian memalingkan pandanganya. Menghapus air mata yang sempat lolos.
" Apa yang kakak lakukan? Jangan sentuh aku!" Dengan sigap Reva menutupi tubuhnya, mendekap erat semua bagian tubuh yang mampu Reva jangkau.
" Kumohon jangan sentuh aku. Jauh, pergi jauh dariku. Hikss...huhh..huhh..." Reva menangis histeris.
" Ree, tenang lah. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu Ree" Rian merasa gugup. Ia bingung harus bagaimana.
Reva terus menangis tak henti-henti. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh. Menjadikan selimut itu pelindung dirinya.
" Onok opo Lee. Lhow, Reva wis tangi"
" Iya nek. Tolong nenek tenangkan Reva. Reva tidak ingin aku mendekatinya nek"
" Iyo Lee" nenek Sukma mendekat ke Reva. Membelai rambut Reva.
" Reva cah ayu. Cup, cup, cup... Kene-kene karo Eyang putri. Wis, wis ora po-po. Ojo wedi yo" Nenek Sukma memeluk tubuh Reva. Memberikan rasa hangat dan ketenangan pada Reva.
Reva menyurukan kepalanya pada dada hangat nenek Sukma. Perlahan isakan tangis Reva sudah tak terdengar lagi.
" Nek minumkan obat ini" Rian menyodorkan, obat dan segelas air pada nenek Sukma.
" Dimimik sek yo nduk obat e. Bene ndang sehat awak e"
Nenek Sukma berhasil menenangkan Reva. Memberinya obat, menyuapi Reva semangkuk bubur. Perlahan nenek Sukma membantu Reva untuk berbaring lagi. Dan membiarkan Reva untuk beristirahat.
" Terima kasih nek. Nek Reva boleh minta sesuatu"
" Iyo ndhuk opo?"
" Bisakah nenek tidur disini, menemaniku. Aku sangat takut nek"
" Iya Reva. Nenek akan menemanimu tidur disini"
Rian menatap Reva dengan perasaan sedih.
" Rian, kembalilah ke kamarmu. Nenek akan menjaga Reva. Sepertinya Reva belum siap bertemu dengan lelaki mana pun"
" Baik nek" Rian keluar dengan wajah murung, terlihat kecemasan di wajahnya.
Reva menatap kepergian Rian dengan rasa sedih. Bukan Rian yang menjadikannya seperti ini. Akan tetapi sikap Rian tadi membuat Reva terkejut.
" Sudah, tidurlah Reva. Supaya besok pagi kamu nampak lebih segar dan sehat"
" Iy-iya nek"
" Kamu jangan takut lagi. Selama kamu masih kuliah. Kamu akan tinggal bersama kami. Kami akan menjagamu Reva. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri. Dan anggap saja eyang sebagai nenekmu sendiri"
Ucap nenek Sukma belum sepenuhnya dapat Reva cerna dengan baik. Reva hanya menganggukkan kepala, sebagai tanda ia mengerti maksud nenek Sukma.
Angan Reva kembali kejadian pagi tadi. Air mata mulai mengalir membasahi pipi Reva.
__ADS_1
" Bagaimana aku dapat menemui Raditia dengan kondisiku seperti ini. Apa aku masih pantas untukmu?." gumam Reva dalam hati, dengan air mata yang terus membasahi pipi.
*****
" Ya Tuhan, Reva kemana. Rumah nampak sepi. Ditelpon juga hpnya tidak aktif" Tria mondar mandir didepan rumah yang nampak gelap gulita.
" Oh, ya. Aku coba telpon Niken saja!" Tria mencari nomer Niken dan mulai menghubunginya.
drettt....drettt....drerrtttt....
" Dek, hpmu bunyi tu"
" Oh, iya kak. Em..kak Tria. Ada apa ya?"
" Angkat saja dulu Dek. Pakek pengeras suara ya"
"Baik kak"
" Hallo Niken" terdengar suara dari sebrang nampak gelisah.
" Iya kak ada apa?"
" Apa Reva ada disana?"
" Kak Reva? tapi kak Reva tidak ada disini kak"
" Ya Tuhan. Terus kemana anak itu. Sampai sekarang dia belum pulang. Ponselnya juga tidak aktif. Tadi katanya mau kerumah sakit jenguk Raditia."
" Ya Tuhan. Tapi dari tadi pagi sampai sekarang kak Reva belum ada ke rumah sakit kak"
" Aduh, terus kemana anak itu. Bagaimana ini Niken. Aku takut terjadi sesuatu pada Reva"
" Kakak, kak Tria tenang dulu ya. Coba kakak tanya ke temen-temen kakak dulu"
" Tapi Reva hari ini tidak ke kampus Niken. Reva sengaja absen, mau bertemu dengan Raditia"
" Ya Tuhan. terus kemana kak Reva nya kak"
" Oh, ya. Tadi kak Rian katanya mau ke tempat kak Reva. Coba aku telpon kak Rian dulu ya kak. Siapa tau kak Rian tau dimana kak Reva sekarang"
" Ya sudah Niken. Coba kamu telpon kak Rian dulu"
Niken menutup panggilanya. Niken menekan nama Rian pada layar ponselnya. Di dering pertama Rian langsung mengangkat panggilan Niken.
" Hallo kak Rian. Apa tadi kakak jadi ke rumah kak Reva"
" Iya Niken, kakak jadi kesana. Memangnya kenapa?"
" Apa kakak bertemu dengan kak Reva?. Kata kak Tria, kak Reva sampai sekarang belum pulang. Ponselnya pun dihubungi juga gak aktif"
" Ya Tuhan. Iya Niken. Maaf, kakak sampai lupa ngabari kamu. Tadi terjadi sesuatu pada Reva. Dan sekarang Reva dirumah nenek"
" Syukurlah. Tapi apa yang sebenarnya terjadi pada kak reva, kak?"
" Besok aku ke rumah sakit. Sekalian jemput kalian, nanti aku ceritain. Oh ya, bilang sama Tria. Reva baik-baik saja, dan 20 menit lagi aku jemput dia di kos an"
" Baik kak. Kakak hati-hati di jalan ya"
Rian bergegas menjemput Tria. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.05 WIB. Rian harus tancap gas.
" Bagaimana Reva dek?. Apa Rian tau dimana Reva"
" Kak Reva ada dirumah nenek kak. Kata kak Rian tadi terjadi sesuatu pada kak Reva. Jadi kak Rian membawa pulang kak Reva ke rumah nenek"
" Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk padamu Ree. Aku masih berharap kita dapat bersatu kembali Reva"
" Sudahlah. Kakak istirahat ya. Besok kan sudah boleh pulang. Persiapkan diri kakak untuk bertemu dengan kak Reva lagi. Semangat kakakku sayang"
Niken kembali kesofa dekat ranjang Raditia. Ia menghubungi Tria, menyampaikan pesan dari Rian.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Rian tiba di kos an Tria. Rian bergegas turun dan menyuruh Tria masuk ke mobil. Awalnya Tria nampak bingung, tapi ia mengikuti apa yang diperintah Rian padanya.
" Bagaimana keadaan Reva kak?. Apa yang sebenarnya terjadi pada Reva kak?"
" Kondisi Reva baik Tria. Tapi..."
" Tapi apa kak?"
" Tapi, gara-gara cecunguk Tara. Kondisi psikologi Reva memprihatinkan"
" Maksud kak Rian apa?. Reva selama ini baik-baik saja kak"
" Tara hampir saja melecehkan Reva, Tria" Rian memukul setir kemudi dengan geram. Kemarahan nampak di wajahnya.
Tria menutup muludnya karena terkejut. Matanya terlihat berkaca-kaca.
" Apa? Apa yang kakak katakan." Suara Tria nampak gemetar, menahan tangis.
" Itu kenyataanya Tria. Si berengsek Tara. Aku tidak akan memaafkannya"
" Ya Tuhan. Aku tak menyangka Tara seperti itu. Yang aku tau, selama dekat dengan Reva sikapnya baik. Meski awalnya kurang sopan. Ternyata dia masih sama saja, dasar berengsek. Play boy tengil" Tangis Tria pecah.
" Untuk saat ini kalian tinggal dirumah nenek dulu ya. Sampai keadaan benar-benar membaik"
" Apa, tidak apa kak? Nanti malah ngerepotin kakak"
" Tidak apa Tria. Semua demi Reva. Nenek juga senang kalian tinggal dirumahnya. Rumah nenek jadi ramai"
" Baiklah, kalau itu mau kakak. Dan jika semua ini demi kebaikan Reva aku ngikut saja kak. Aku akan selalu bersama Reva. Kemana pun Reva pergi aku akan menemaninya"
" Terima kasih Tria. Yang betah dirumah nenek ya. Meski agak cerewet tapi nenek baik kok"
" Syukurlah Ree. Kamu mengenal orang sebaik kak Rian. Sepertinya kak Rian masih menyimpan perasaanya padamu Ree"
Mobil Rian menyusuri jalanan kota yang lenggang. Butuh waktu kurang dari 20 menit mereka sampai di tempat tujuan. Saat sampai didepan rumah. Rian memarkir mobilnya digarasi. Dilihatnya Tria telah tertidur. Mungkin karena kecapekan. Tria terlelap tidur saat di perjalanan.
" Tria bangun. Kita sudah sampai"
" Aduh, maaf ya kak. Aku ketiduran"
" Iya tidak apa. Ayo masuk. Lanjutkan tidurmu didalam"
Tria turun dari mobil. Melihat rumah di hadapannya mulutnya nampak terngangah. Ternyata keluarga Rian benar-benar berdarah biru.
" Ayo masuk, tempat tidurmu ada di seberang kamar Reva"
Rian menunjukkan kamar yang ditempati Reva. Tria melangkah mendekati kamar Reva. Saat hendak membuka pintu, Rian mencegahnya.
" Jangan sekarang. Besok pagi saja. Kasihan Reva, dia mungkin baru terlelap tidur"
" Tapi aku sangat mengkhawatirkannya. Dan aku ingin bertemu dengan Reva kak. Tapi baiklah aku tunggu besok pagi saja" nada Tria terdengar sedih.
" Aku mau istirahat dulu. Kamu juga istirahat lah"
Rian meninggalkan Tria, Rian menaiki tangga kelantai atas. Rian membanting tubuhnya di tempat tidur yang super besar.
" Ree, ini pertemuan pertama kita. Tapi kenapa kejadian itu malah menimpa dirimu. Semoga engkau lekas membaik. Dan engkau kembali ceria lagi Ree"
Angan Rian hanya tentang Reva. Kembali bertemu dengan Reva itu suatu kebahagian tersendiri baginya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Readinš¢