Arti Sebuah Hubungan

Arti Sebuah Hubungan
Episode 36 - Datang Kembali


__ADS_3

Reva dan Tria pergi ke tempat informasi. Reva bertanya pada petugas, apa benar ada mahasiswa yang bernama Rian Atmajaya. Petugas itu mengetik nama Rian pada keyboardnya. Lima detik kemudian muncul nama Rian disertai biodatanya.


Seharian Reva sangat senang akhirnya ia menemukan Rian. Hari ini Reva sangat bahagia, akhirnya ia akan bertemu dengan Rian setelah sekian lama.


" Reva loe kenapa, lagi seneng loe ya"


" Iya Tara, Akhirnya aku akan bertemu dengannya kembali"


" Dengannya siapa?! pacar loe" volume suara Tara mengecil saat mengucapkan kata itu.


" Bukan, tapi kak Rian. Dia kakakku" jelas Reva.


" Oh, syukurlah. Oh ya Reva ada sesuatu yang mau gue omongin sama loe" Tara menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Apa Tara, ayo cepat katakanlah" Tangan Reva menengadah menopang wajahnya tepat di depan wajah Tara. Dengan tersenyum manis, dan menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah. Ia memulai mendengar apa yang akan Tara katakan padanya.


" Gue suka sama loe Reva, Gue mau loe jadi pacar gue"


DEG


Jantung Reva seakan berhenti.


" Pacar, suka. Apa semua ini, kenapa jantungku bergetar mendengarnya. Ya Tuhan, bahkan setelah Raditia aku kembali mendengar kata ini lagi" memikirkan perkataan Tara, menjadikan perasaan Reva semakin kacau.


" Reva, hei Reva" Tara melambai-lambai tangannya di depan wajah Reva.


" Reva" suara Tara meninggi, membuyarkan lamunan Reva.


" Eh, iya, ya maaf Tara. Itu ya, Em... bisakah kamu menunggu. Aku tak bisa menjawabnya sekarang" Ucap Reva gugup.


" Oh, em.. Oke. Gue tunggu jawaban loe" Tara tersenyum getir.


" Terima kasih ya Tara"


" Tak apa Reva, gua bakal sabar untuk saat ini. Karena sebentar lagi, Loe akan jadi milik gue. Milik Tara seorang" gumam Tara dalam hati. Senyum licik nampak di sudut bibirnya.


****


Berhari-hari Reva mencari keberadaan Rian dikampus, tapi Reva tak menemukan tanda-tanda Rian berada. Reva mencoba bertanya pada teman fakultas Rian, mereka menjawab Rian sedang cuti untuk satu beberapa bulan.


" Baiklah kakak, saat ini pertemuan kita masih tertuda. Tapi aku yakin tak lama lagi kita pasti akan segera bertemu" Reva meyakinkan dirinya sendiri. Senyuman nampak di wajahnya cantiknya.


Dreettt, dretttt, drettt.


Ponsel Reva berdering hingga beberapa kali. Reva mengabaikan panggilan masuk pada ponselnya. Reva masih fokus padanya tugas yang dosen beri padanya.


" Ree, angka dong sapa tau penting" Tria mencoba mengingat kan Reva.


" Paling juga Tara yang telfon"


" Angkat napa, aku lihat kalian semakin dekat saja sekarang"


" Biarkan saja, aku belum siap jawab pertanyaan nya kemarin"


" Memangnya Tara ngomong apa?!"

__ADS_1


" Dia bilang suka sama aku, dia mau aku jadi pacarnya"


" Wihh, nembak nih ceritanya. Terima aja, jangan digantungi. Kasihan kan, Kamu juga tau sendiri rasanya digantungin itu menyakitkan"


" Iya sih, entar aja lah. Belum siap nih"


" Oke, terserah kamu aja Ree"


Dilihat 15 panggilan tak terjawab dari nomer yang tidak dikenal. Reva mengerutkan dahinya, bukan Tara ternyata yang menghubunginya. Melainkan nomer asing yang Reva sendiri tak tau siapa pemiliknya.


✉️Maaf dengan siapa ya.


Reva mengirim pesan pada nomer itu. Detik demi detik tak ada balasan dari nomer itu. Namun setelah 30 menit kemudian, panggilan masuk berdering dari ponsel Reva.


" Hallo siapa ya, kenapa chat saya gak dibalas. Anda siapa, apa anda sekedar iseng saja" nada Reva terdengar ketus. Hingga beberapa detik tak ada jawab dari seberang.


" Hallo, sebenarnya apa mau mu. Jika tak penting jangan telpon ke nomer ini lagi" Reva dibuat kesel oleh sang pemilik nomer. Saat Reva hendak ingin mematikan ponselnya, tiba-tiba terdengar suara dari seberang.


" Sayang ini aku" suara lembut samar-samar terdengar dari ponsel Reva.


DEG, DEG, DEG


Dada Reva berdetak tak teratur, tangan Reva mulai gemetar. Reva tak mempercayai yang ia dengar. Apakah Reva sedang bermimpi, apakah semua ini nyata. Reva mendengar suara yang tak asing baginya.


" Hallo Sayang ini aku, apa kamu mendengarku" suara itu kembali terdengar. Reva mendekati Tria dan mencubitnya.


" Auwww, sakit Ree. Apa-apaan sih kamu nih"


" Ya Tuhan, berarti aku gak mimpi. Ini nyata, ini benar-benar nyata" gumam Reva dalam hati. Perasaan Reva tak dapat di utarakan, entah apa yang dirasakannya saat ini.


" Sayang, Reva kamu gak papa kan" Raditia merasa ada yang aneh pada Reva.


" Radit, Raditia" Tria membelalakkan mata, Reva memberi kode dengan menganggukkan kepalanya.


" Syukur lah, sayang maafkan aku" ucap Raditia parau. Mendengar kata maaf tiba-tiba saja raut wajah Reva berubah.


" Sebenarnya, ka..kamu kemana saja. Kenapa satu bulan lebih mengacuhkan ku. Kenapa kamu sejahat ini padaku. Apa kamu tau setiap hari aku memikirkanmu seperti orang gila. Hikks...huhh...." Tangis Reva pecah, hatinya terasa nyeri. Rindu, sedih, senang, bahagia, kecewa menjadi satu dalam hatinya. Tria mendekati Reva mencoba menenangkannya.


" Huhhh, hikkss....Apa sebenarnya yang kamu inginkan, kenapa membuatku seperti ini. Apa kamu sengaja menyiksaku. Sengaja mengabaikan ku. Huuuhh...huuhhhh...." Reva terusan memberondong pertanyaan kepada Raditia. Reva tak henti menangisi nasibnya beberapa Minggu lalu.


Disebrang sana Raditia pun menitihkan air mata. Kedua pipinya nampak basah, ia juga merasakan apa yang Reva rasakan.


" Sayang maafkan aku, maafkan aku. Aku sudah jahat pada mu. Namun aku tak berniat seperti itu" Reva terdiam, hanya suara tangis yang Raditia dengar.


" Sayang, aku sangat menyayangimu. Maafkan aku" Ucapan Raditia kembali, namun.


Tuttt....tutt...tuttt.....


Panggilan mereka berakhir, Reva mematikan telfonya. Membanting ponselnya ditempat tidur. Tubuhnya berhambur dipelukan Tria, Reva menangis sejadi-jadinya. Ponselnya kembali berdering tapi Reva tak menghiraukannya.


" Kenapa Tria, kenapa dia baru kembali. Huhhh, huhhh"


" Sabar Ree, pasti Raditia punya alasan untuk semua ini. Tenang ya Reva" Tria mengelus-elus pundak Reva.


" Tapi kenapa Radit tak menjelaskan saja apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya ia mau. huhuuu...huuhhhh"

__ADS_1


" Tenang lah Ree, tenang. Sabar ya" Hanya kata itu yang dapat Tria utarakan.


BRANKK, CRINGGGG...


Raditia membanting semua barang yang ada di dekatnya.


" Aaagggrrrhhhh...." Amarah Raditia memuncak, badannya bergetar. Tubuh Raditia sempoyongan, rasa frustasi menyelimutinya.


" Kakak, kakak ada apa kak. Apa yang terjadi" Niken masuk dengan wajah yang nampak ketakutan.


Niken mendekati Raditia, ia nampak kacau. Raditia terduduk menekuk tubuh nya, mendekap lututnya, memendam wajahnya disela-sela lututnya. Tubuh Raditia bergetar, Niken tak tahan melihat Raditia seperti itu.


Ia memeluk Raditia dengan penuh kasih sayang. Puas menangis, Raditia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Niken.


" Kakak sabar ya, kak Reva seperti itu karena ia sangat rindu dan menyayangimu. Mungkin kak Reva terlalu terkejut tiba-tiba kakak menghubunginya"


" Tapi dia marah padaku Dek, kakak harus bagaimana. Sudah sangat lama aku mengabaikannya. Aku sangat merindukannya" Raditia memeluk tubuh Niken, tubuhnya bergetar karena tangis.


" Semua ini bukan salah kakak. Sabar ya kak, nanti kita jelaskan ke kak Reva ya"


" Aku harus bertemu dengannya sekarang juga. Aku harus menjelaskan semuanya pada Reva" Raditia berdiri, dan turun dari tempat tidurnya.


" Iya kak iya, nanti setelah keadaan kakak benar-benar membaik ya. Nanti Niken temenin kakak kesana. Sekarang kak istirahat dulu ya" Niken membaringkan tubuh Raditia, menyelimutinya. Niken menahan airnya yang hendak terjatuh.


" Tapi kakak harus kesana sekarang dek. Kakak harus bertemu Reva sekarang juga"


" Kakak dengerin aku, kalau kak Reva tau keadaan kakak sekarang pasti kak Reva akan sangat sedih. Kakak gak mau kan melihat kak Reva sedih. Tolong tahan diri kakak dulu ya, nanti kita kesana bareng-bareng" Setelah susah payah Niken membujuk Raditia, akhirnya Raditia mau menuruti apa yang dikatakan Niken.


Niken memberikan Raditia obat untuk diminumnya. Setelah menunggu Raditia terlelap dalam tidurnya. Baru setelahnya Niken keluar kamar untuk membiarkan Raditia istirahat.


" Niken" tiba-tiba saja dari belakang papa Andre muncul.


" Ya Tuhan papa, mengagetkanku saja" ucap Niken sembari mengelus dadanya.


" Apa yang terjadi pada kakakmu"


" Suasana hati kakak sedang kurang baik pah, kakak sedang mengingat tentang kak Reva"


" Lagi-lagi gadis itu yang dia pikirkan, kenapa dia tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Dia lebih penting dari siapapun bagiku. Dia harus menuruti perintahku. Aku harus bicara padanya" Papa Andre hendak membuka pintu kamar Raditia, namun Niken mencegahnya.


" Papa jangan, biarkan kakak pulih dulu pah. Papa jangan egois, kakak seperti ini juga karena papa. Aku mohon pada papa, aku mohon" Niken bersipu dibawah kaki papa Andre. Dengan berlinang air mata Niken memohon agar papa Andre, mau menuruti keinginannya.


" Bangun Niken, kembali ke kamarmu sekarang juga" nada papa Andre cukup kesar, Niken bangkit dan berlari masuk kedalam kamarnya.


Niken menangisi keadaan kakaknya yang masih lemah. Ia tak mampu berbuat apa pun saat ini untuk Raditia.


" Andai mama masih ada mungkin semua tak akan seperti ini. Kakak pasti akan bahagia dengan pilihannya Sendiri. Mam aku merindukanmu, kami sangat-sangat merindukanmu mam"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading 😢


__ADS_2