
Tria kembali ke kosan. Dilihatnya bangunan itu nampak gelap gulita tanpa adanya satu penerangan. Tria menghela nafas sedih.
" Pasti dia masih mengurung diri di dalam kamar. Huhf... Reva, Reva andai kamu tak semarah itu pada Raditia"
Tria masuk ke dalam rumah dan menyalakan semua lampu. Membereskan barang yang berantakan karena ulah Raditia dan Tara.
Setelah selesai membersihkan diri dan menyiapkan makan malam. Tria kembali mengetuk pintu kamar.
" Ree, buka dong pintunya. Aku mau ganti baju nih" mungkin ini alasan yang tetap agar Reva mau membuka pintu kamar.
Benar saja, selang beberapa detik Reva membuka pintu kamarnya. Wajah tertekuk kusam nampak dihadapan Tria. Reva nampak kacau. Matanya bengkak karena kelamaan menangis.
" Ree, makan dulu ya" Tria menyodorkan nampan yang berisi makanan dan minuman.
Reva tak bergeming. Ia menutupi dirinya dengan selimut.
" Huhf, baiklah. Jika kamu tak mau makan tak apa. Tapi coba dengar baik-baik apa yang akan aku katakan padamu ini. Mungkin yang ku katakan ini akan sedikit membuat lega, dan merasa baikan"
Dibalik selimut Reva mencoba mengira apa yang akan Tria kata kan.
" Raditia tadi jatuh pingsan Ree. Keadannya benar-benar kurang baik. Ia sedang tak sehat. Ia menemuimu kesini itu pun karena Raditia memaksakan diri"
Di balik selimut Reva membelalakkan matanya. Mendengar kabar dari Tria, membuat hatinya sedikit nyeri.
" Raditia belum sembuh benar dari cedera yang dialaminya. Ternyata Raditia tak pernah menghubungimu itu karena dia terbaring karena koma"
Mendengar kata koma, tubuh Reva langsung terduduk menghadap Tria. Sorot matanya Meminta kejelasan lebih dari Tria.
" Ya, Raditia koma karena dia telah mengalami kecelakaan. Selama ini dia mengabaikanmu itu karena dia tak sadarkan diri. Saat ia siuman kata pertama yang ia sebut adalah namamu. Beberapa kali Raditia berusaha ingin menemuimu tapi om Andre merang"
" Jika seperti itu, kenapa Raditia tak jelaskan waktu itu juga saat menghubungiku"
" Waktu itu apa kamu memberinya kesempatan. Saat itu kalian sama-sama bersedih. Sama-sama terluka. Terutama kamu Ree, karena emosi. Kesedihanmu itu tak memberinya kesempatan"
Tangis Reva pecah kembali, mengingat dia yang sangat egois saat itu. Reva merasa bersalah pada Raditia. Timbul keinginan dari hati Reva ingin meminta maaf dan memperbaiki hubungannya pada Raditia.
__ADS_1
" Ku rasa sekarang kamu tau harus berbuat apa Ree. Itu kebenarannya, jika kamu ingin tetap bersama Raditia. Pergilah dan temui dia"
" Iya, aku tau aku harus apa. Aku memang harus bertemu dengannya. Terima kasih Tria, kamu memang sahabat terbaikku" Reva memeluk Tria dan mencium pipi Tria.
Rasa lega menyelimuti dada Tria. Akhirnya kesalah pahaman ini dapat diluruskan. Tria menjelaskan kondisi Raditia saat dibawa kerumah sakit. Reva terlihat sedih, timbul niat dalam hatinya. Bahwa besok pagi, ia akan menemui Raditia.
" Maafkan aku Radit. Maafkan aku sayang. Ini bukan salahmu. Aku yang terlalu marah padamu, sehingga tak memberimu kesempatan. Akan tetapi besok akan aku perbaiki semuanya. Tunggu aku sayang" Reva menciumi kalung pemberian Raditia.
Malam ini Reva tertidur dengan senyuman diwajahnya. Kejelasan hubungannya dengan Raditia akan dia dapatkan besok pagi. Akhirnya kebahagiaan akan menyelimuti hari-harinya lagi. Karena separuh semangat hidupnya adalah Raditia.
****
" Ree, aku berangkat dulu ya. Hari ini aku ada mata kuliah pagi"
" Iya Tria, hati-hati dijalan ya"
" Wah, wah. Sepertinya, ada yang lagi mempersiapkan diri semaksimal mungkin nih" dilihatnya Reva sedang berdandan.
" Ya dong. Mungkin setelah ini aku juga akan ke rumah sakit. Kebetulan aku ada kuliah siang"
" Ihssss, apaan sih" Wajah Reva merona merah.
" Ya Tuhan. Setelah sekian lama aku tak melihatnya. Kini aku melihat kembali wajahmu yang bak kepiting rebus itu"
" Husss, husss, sudah sana berangkat. Dasar jail" Reva mendorong tubuh Tria keluar kamar. Agar cepat enyah dari hadapannya. Kalau tidak pasti Reva akan terus digoda oleh Tria.
Tria pergi dengan melambai-lambaikan tangannya.
" Dasar Tria. Ada saja cara menggodaku"
Reva merias diri secantik mungkin. Ia ingin terlihat istimewa di mata Raditia. Reva mengenakan dres putih selutut, di padu dengan kemeja model kardigan warna biru bergaris.
" Emhh... Sempurna. Pasti Raditia akan senang melihatku seperti ini"
Reva melihat pantulan dirinya dalam cermin. Senyum kebahagian mengembang di bibirnya. Reva nampak cantik.
__ADS_1
Reva keluar dari dalam kamar. Tapi ia merasa seperti ada yang kurang.
" Oh ya, aku telfon Niken dulu saja" duduk dikursi dan mengambil ponsel dalam tasnya.
" Huhf...Bismillah" Reva mencari nomer Niken dan menekan nama yang muncul dilayar ponselnya.
" Hallo kak" suara terdengar dari sebrang.
" Hallo Ni-Niken" Reva terdengar gugup.
" Iya kak Reva, ada apa?" Suara dari seberang terdengar senang.
" Apa Raditia sudah siuman" Suara Reva terdengar ragu".
" Semalam kakak sudah mulai siuman kak Reva. Tapi ini barusan kakak tidur karena pengaruh obat"
" Syukurlah, aku seneng mendengarnya. Apa dia sudah baikan?"
" Kata dokter kondisi kakak berangsur membaik kak. Mungkin besok sudah boleh pulang"
" Oh, begitu. Kalau begitu nanti aku.."
tuttttt...tutttt...tutt....
Niken mengenyitkan dahinya.
" Hallo kak Reva. Emh...Kenapa tiba-tiba ponselnya mati. Kan aku belum selesai ngomong. Masih ada yang ingin ku sampaikan padanya"
Ponsel Niken mati. Semalaman menjaga Raditia, ia lupa mengisi baterai ponselnya.
" Sepertinya, kak Reva sudah tau yang sebenarnya. Syukurlah, setelah ini hubungan kakak dan kak Reva akan kembali baik-baik saja😊"
Happy Reading😊
Penampilan Reva hari ini ya, cantik kan. Cantik dong. Reva mau jenguk Raditia lhow. Emhh, ikut seneng akuhnya🤗😘
__ADS_1