
Reva terlihat sibuk mempersiapkan Ujian Nasional yang akan diadakan satu minggu lagi. Ia mempelajari materi Ujian Nasional yang guru berikan padanya. Reva harus mendapat nilai bagus untuk bisa masuk di Universitas Negeri idamannya.
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa tibalah hari pertama Ujian Nasional akan berlangsung. Reva meminta do'a kepada ayah dan ibunya.
" Ibu, Ayah do'akan Reva lancar mengerjakan soal-soal Ujiannya. Aamiin.." Reva menyalimi tangan Ibu dan Ayahnya bergantian.
" Aamiin. Iya Reva Ibu selalu do'akan yang terbaik untukmu nak, semoga lancar, dan mendapatkan nilai bagus. Aamiin" Bu rahma memeluk Reva, nampak mata bu Rahma berkaca-kaca.
" Aamiin, sukses dan lancar ya nak" Ucap Ayah Reva sembari memeluk Reva. Beberapa menit mereka diliputi rasa haru. Sesaat kemudian terdengar suara mesin motor dari luar.
" Itu sepertinya nak Raditia sudah datang Nak" bu Rahma berjalan ke depan, di ikuti oleh Reva. Benar saja Raditia nampak hendak mengetuk pinta namun bu Rahma membukanya lebih dulu.
" Ehhh, ibu.." Raditia nampak terkejut. Lalu menyalimi bu Rahma.
" Nak Raditia, semoga lancar ujiannya ya nak. Dan mendapatkan nilai bagus. Aamiin" Bu Rahma memeluk Raditia dengan hangat.
" Aamiin, iya.. Bu terima kasih" Mata Raditia terlihat berkaca-kaca, merasakan pelukan hangat dari bu Rahma. Ia teringat akan alh.mamanya, pasti mamanya juga akan melakukan hal yang sama seperti ini.
" Ya sudah, berangkatlah. Sukses buat kalian ya Nak" bu Rahma melambaikan tangannya. Menatap kepergian anaknya dengan penuh harapan dan do'a.
Ujian hari ini ada dua mapel yang harus di kerjakan diantaranya mapel Bahasa Indonesia dan mapel Sosiologi. Dihari kedua mapel yang diujikan adalah Matematika dan Geografi. Dan dihari ketiga atau hari terakhir ujian adalah mapel Bahasa Inggris dan Ekonomi.
Hari-hari yang penuh ketegangan pun akhirnya berakhir sudah. Semua murid bernafas lega, Ujian Nasional berjalan dengan lancar dan penuh nikmat.
****
Saatnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Semua murid dan para wali murid terlihat sudah memenuhi aula. Reva dan Bu Rahma duduk bersebelahan, dan disebelahnya ada Raditia dan Tante Sinta mama dari Rian. Papa Raditia pembisnis yang sibuk, maka dari itu beliau meminta Tante Sinta untuk menjadi wali dari Raditia.
Melihat kehadiran Tante Sinta membuat Reva teringat akan Rian. Sudah lama Reva tak mendengar kabar Rian. Sudah lama juga mereka tak berhubungan.
" Bagaimana kak Rian sekarang ya, apa dia sudah melupakanku?! kenapa sama sekali tak ada kabarnya. Atau malah aku yang sudah melupakannya?! Tapi Nomer kak Rian juga gak dapat dihubungi"
Pertanyaan-pertanyaan itu bergulat difikiran Reva. Terakhir ia menghubungi Rian tapi nomer Rian diluar jangkauan. Nomernya tak dapat dihubungi.
" Reva apa kabar nak?" tiba-tiba Tante Sinta menyapa Reva.
" Oh, iya Tante. Kabar saya Alhamdulillah baik Tante. Tante sendiri gimana kabarnya?!"
" Saya juga baik Reva"
" Oh, ya Tante. perkenalkan ini ibu saya. Bu ini Tante Sinta mamanya kak Rian" Bu Rahma menjabat tangan Tante Sinta. Keduanya tersenyum ramah.
" Jadi Bu Sinta mamanya nak Rian, gimana kabar nak Rian Bu. Lama sudah nak Rian tak pernah main ke Rumah kami" tanya Bu Rahma.
__ADS_1
" Kabar Rian baik Bu. Dia sekarang kuliah di luar kota, jadi jarang pulang Bu. Oh,ya Bu Rahma saya minta maaf atas sikap Rian, bila selama ini Rian selalu merepotkan Bu Rahma dan Reva"
" Oh begitu. Tidak Bu Sinta, Nak Rian tak pernah merepotkan kami. Nak Rian anak baik, sama seperti nak Raditia. Saya senang Reva punya teman lelaki seperti nak Rian dan nak Raditia"
" Syukurlah, padahal Rian kalau dirumah jailnya minta ampun Bu Rahma" Percakapan kedua pun berlanjut ngalor-ngidul, menceritakan kehidupan masing-masing.
Posis duduk mereka pun berubah, kini Bu Rahma duduk bersebelahan dengan Tante Sinta. Sedangkan Reva duduk bersebelahan dengan Raditia.
" Sayang, kamu jadi kuliah diluar kota" tanya Raditia.
" Iya Radit, Kan aku disana gak sendiri ada Tria juga. Kita bakal satu kos"
" Andai papa tak memaksaku untuk kuliah diluar negri. Aku bakal masuk dikampus yang sama denganmu, dan jagain kamu Ree"
" Aku akan jaga diri baik-baik sayang. Jangan khawatir ya. Kamu harus patuh sama papamu, dia satu-satunya orang tuamu saat ini. jangan bikin papamu kecewa ya"
" Sebenarnya ini sebuah keputusan yang membuatku dilema. Jauh darimu itu menyiksaku. Menentang keputusan papa pun percama"
" Semangat sayangku, kamu kan calon Presdir jadi harus belajar lebih ekstra lagi dong. Masak Presdir mau kalah sama anak buah. Presdir kan harus berwibawa, dan cerdas"
" Iya, iya sayang. Aku akan belajar dengan giat disana. Membuat papa dan kamu bangga. Sudah puas" Ucapan Raditia membuat Reva tersenyum malu.
Reva sangat berarti dihidup Raditia. kehadiran Reva membuat semangat baru dalam hidupnya. Kehilangan sosok mama membuat hidup Raditia rapuh.
Tak lupa Reva dan para sahabatnya mengabadikan momen-momen perpisahan mereka. Setalah ini mereka berpisah, karena pilihan masing-masing.
Satu Minggu kemudian, Reva dan Tria sudah berada di luar kota untuk meneruskan pendidikannya. Dan Raditia sudah berangkat tiga hari yang lalu.
Saat itu
Perpisahan dibandara saat mengantar kepergian Raditia diliputi rasa haru. Reva menangis tersedu-sedu saat pesawat Raditia meninggalkan landasan. Disana pelukan Niken memberinya kekuatan, baru kali ini Niken berpisah dengan kakaknya. Namun Niken tak ingin memperlihatkan kesedihannya.
Sebelum pergi tak lupa Raditia berpesan kepada Dian, yang merupakan tetangga sekaligus sahabatnya itu untuk menjaga adik satu-satunya. Dengan senang hati Dian menerima amanah dari Raditia. Kebetulan Dian meneruskan pendidikannya di kota sendiri.
Seharian Reva dan Tria membersikan kosannya. Mulai dari menyapu, mengepel, menata tempat tidur dan merapikan barang-barang mereka.
Kamar kos yang ditempati Reva dan Tria cukup luas. Terdiri dari satu kamar, satu kamar mandi didalam. Dengan dapur yang bersebelahan dan ada satu ruang tamu didepan.
Dretttt,dretttt,drettt... ponsel Reva berdering, tanda video call masuk.
" Hallo sayang, sedang apa?!" suara lelaki disebrang sana, dengan wajah tampannya yang memenuhi layar ponsel Reva.
" Baru selesai bersih-bersih" jawab Reva, sembari merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
__ADS_1
" Wihhh, pasti lelah ya, mana si Tiang listri" ledek Raditia kepada Tria, yang ternyata didengar oleh Tria.
" Hey, mentang-mentang calon Presdir, seenaknya saja panggil nama orang. Daras Presdir gemblung" teriak Tria yang berada di dapur, yang sedang menyiapkan makan malam.
" Hahahaha, wah-wah maaf, maaf calon hakim. Jangan hukum saya, atas kelancangan mulut saya ini" Reva hanya menggeleng, sembari tersenyum mendengar percakapan keduanya.
" Aku akan siksa kekasihmu, jika kamu mengulanginya lagi" ancama Tria, dengan gurauannya.
" Dasar kalian ini, ada saja bahan candaannya" ucap Reva memecah perdebatan konyol keduanya.
" Oh ya sayang, aku sudah diterima di universitas ternama disini. Besok aku ke kampus mau selesaikan administrasi nya"
" Wah, selamat ya sayang. Kuliah yang rajin ya jangan suka bolos" wajah bahagia terlihat di keduanya.
" Shiap komandan, aku pasti akan belajar dengan giat disini" Raditia melakukan gerakan hormat, membuat senyum disudut bibir Reva.
" Emch, manisnya. Besok aku dan Tria juga mau daftar ulang. Dipendaftaran online kami sudah ke trima juga sayang"
" Wah...benarkah, selamat ya sayangku, muachhhh...." Raditia memonyongkan bibirnya dilayar ponsel membuat Reva tertawa geli.
" Ehh, calon Presdir. Tahan dulu napa, masih ada anak dibawah umur nih. Kasihan telinga aku kan, tercemari kemesraan kalian" ujar Tria membawa masuk dua piring nasi goreng yang sudah dimasaknya.
" Makanya kamu jangan bertahan terus dengan status jomblomu itu Tria. Apa kamu gak ngiri liat kita"
" Im singel happy, Mikir cowok bikin kepalaku tambah pusing. Mending aku fokus dulu ke pendidikan dan karirku. Setelah itu cari jodoh.hahaha" Tria tertawa terbahak-bahak
" Ah, keburu tuwir kamunya nanti" timpal Raditia
" Oh, dasar cowok Reva nyebelin. Aku gak akan kasih makan cewek mu nanti. Biar aja kelaparan"
" Ehhh, ampun Tria jangan. sudah cepat makan keburu dingin. Aku juga akan masak sesuatu. By sayang, met istirahat ya"
" Iya sayang. Jangan telat makan ya, istirahat yang teratur. See you sayang"
Meraka pun mengakhiri panggilan, dan Reva mulai menyantap makanan yang sudah di siapkan Tria.
Esok harinya Reva dan Tria pergi ke kampus untuk daftar ulang. Mereka satu kampus akan tetapi di fakultas yang berbeda. Reva mengambil fakultas kedokteran. Sedangkan Tria mengambil fakultas hukum.
Satu bulan berlalu, mereka nampak disibukkan dengan kesibukan masing-masing. Tak jarang Reva dan Tria beda jam pelajaran.
Setiap hari Raditia melakukan panggilan video call untuk menepis kerinduannya pada Reva. Tak terasa mereka sudah berpisah selama setengah tahun.
Jarak mereka yang jauh tak merenggangkan hubungan keduanya. Saat komunikasi berjalan lancar, maka hubungan pun akan bertahan, dan berjalan baik-baik saja.
__ADS_1
Happy reading 🤗