
Ponsel sebagai media elektronik adalah benda wajib bagi Reva yang harus dibawa. Setiap hari ia tak lepas dari benda satu itu. Untuk berkomunikasi dengan Raditia yang berbeda jauh darinya.
Seperti hari ini, ia menunggu balas chat dari Raditia. Tak sabar menunggu Reva mencoba untuk menghubungi, namun tak ada balasan darinya.
Entah kenapa beberapa hari ini Raditia tak menghubungi Reva. Reva chat berkali-kali, namun tak ada balasan. Reva melakukan panggilan video pun tak pernah diangkat.
Reva takut jika terjadi sesuatu pada Raditia. Kini yang ada dipikirannya hanya Raditia dan Raditia. Jalan satu-satunya, Reva harus bertanya kepada Niken. Untuk mengetahui bagaimana Raditia sekarang.
Jawaban Niken cukup membuatnya lega. Niken mengatakan bahwa Raditia baik-baik saja. Reva tak perlu mencemaskan keselamatan kakaknya. Pasalnya keberadaan Raditia disana selalu dikawal oleh anak buah dari papa Raditia.
" Oh, begitu ya Niken. Maaf ya aku jadi merepotkan mu"
" Tidak apa kak, jika aku diposisi kakak pasti aku juga akan kebingungan. Tapi kakak tidak usah cemas akan keadaan kak Raditia. Cepat atau lambat kakak pasti akan menghubungi kak Reva, sabar ya kak" Niken mencoba menyakinkan Reva
" Iya, terima kasih ya Niken. Sekali lagi maaf ya aku sudah merepotkan mu"
" Sama-sama kak, tak apa kak. Kakak jaga diri baik-baik disana ya"
" Iya Niken, kamu juga baik-baik disana ya"
Reva memutuskan panggilannya, mengalihkan layar ponsel ke galeri foto. Ia menatap satu persatu foto Raditia dan foto-foto kebersamaannya dengan Raditia. Tak terasa air mata mengaliri pipi Reva, sembari mengelus wajah Raditia dari ponselnya.
" Maafkan aku kak, aku sudah berbohong padamu" gumam Niken dalam hati.
Sudah hampir dua minggu Raditia tak ada kabar. Kemana kah Raditia, bagaimana keadaan nya, apa dia sedang baik-baik saja. Atau malah sedang terjadi sesuatu padanya.
" Sayang, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu. Sampai kapan kita akan seperti ini" gumam Reva dalam hati, yang masih saja larut dalam lamunan hampanya.
" Reva sudahlah, jangan bersedih ya. Do'akan saja Raditia baik-baik saja disana" Tenyata sedari tadi Tria memperhatikan tingkah Reva.
" Bagaimana jika ternyata dia disana memiliki wanita lain Tria" tiba-tiba saja Reva melontarkan pertanyaan itu.
" Ree, jangan berpikir seperti itu. Raditia sangat tertutup pada wanita lain. Kamu harus percaya padanya Ree" Reva terdiam, perkataan Tria memang benar Raditia bukan tipe lelaki pada umumnya. Yang suka merayu, menggombal kesana kemari.
" Benar katamu Tria, Bodoh sekali aku memiliki pikiran jelek padanya" Reva mengutuk dirinya sendiri yang sudah tak mempercayai Raditia.
" Sudah yuk, kita istirahat Ree. Jaga kesehatanmu, jangan sampai kamu sakit, oke" Reva pun membaringkan tubuhnya, dan mencoba untuk memejamkan matanya.
__ADS_1
Hari berlalu cepat, Reva menyibukkan diri pada kegiatan-kegiatan kampus. Dengan begitu Reva mampu mengalihkan pikirannya tentang Raditia.
Saat makan siang dikantin, Reva melihat selembar kertas yang tertempel di dinding. Di selembar kertas itu tertulis, jika ibu kantin membutuhkan seseorang untuk membantunya. Reva meraih kerta itu dan berjalan ke meja kasir.
" Mbak saya mau bayar" Reva mengeluarkan dompet dalam tasnya.
" Iya mbak, semua habis dua puluh tiga ribu ya" ucap pelayan kantin. Reva menyerahkan beberapa lembar uang kepada mbak-mbak penjaga kasir.
" Oh ya mbak, apa benar ibu kantin sedangkan mencari tenaga kerja ya"
" Iya mbak benar, karena saya kewalahan kerja sendiri mbak. Saya minta ibu untuk cari orang"
" Apa saya boleh melamar kerja disini mbak" Mendengar perkataan Reva, gadis itu pun berdiri menghadap Reva.
" Apa mbak serius mau kerja part time di sini, apa tidak apa mbak?!"
" Gak papa mbak, asal jam kerjanya disesuaikan sama jam kosong kuliah saya mbak"
" Baiklah, mari ikut saya kedapur mbak untuk ketemu sama ibu" Reva mengikuti gadis yang bernama Indah itu ke dapur bertemu dengan Bu Arum.
" Bu, ibu" panggil Indah.
" Ini Bu ada mbak Reva, katanya mbak Reva mau kerja disini Bu " Bu Arum pun menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah keduanya.
" Iya Bu, perkenalkan nama saya Reva. Saya mau jadi karyawan ibu, jika diperbolehkan" Reva tertunduk malu-malu.
" Bener kah ini, nak Reva mau bantu saya sama Indah. Tapi Ibu gak bisa kasih gaji banyak loh nak"
" Iya Bu Aram saya serius mau kerja disini. Untuk gaji saya ngikut ibu saja, saya terima berapa pun yang ibu beri. Asal saya diperboleh mengisi waktu luang saya bantu ibu di kantin. Saya janji akan patuh sama ibu, dan tak akan merepotkan ibu" Bu Arum tersenyum mendengar penjelasan Reva.
" Iya, iya, ibu akan terima kamu kerja disini dengan senang hati nak Reva" Bu Arum senang ternyata dikota seelit ini masih ada pemudi yang baik dan ramah, seperti Reva ini. Tak seperti kebanyakan anak muda di luaran sana.
" Wahhh, benar kah ini Bu. Terima kasih ya Bu, terima kasih" Reva menyalimi tangan Bu Arum. Bu Arum meraih pundak Reva dan memeluknya.
" Kamu kerja mulai besok ya nak, bisa kan"
" Bisa Bu, sangat bisa. Besok saya akan pasang jadwal kuliah saya dipapan sini ya Bu. Agar ibu dan mbak Indah tau jadwal off dan on saya" Reva menunjuk papan tulis yang berisi menu harian yang akan dimasak Bu Aram.
__ADS_1
" Iya nak Reva, itu ide bagus"
" Sekali lagi terimakasih banyak ya Bu, saya pamit pulang dulu" Reva kembali mencium punggung tangan Bu Arum.
" Iya nak Reva iya, saya juga terimakasih kamu sudah mau bantu ibu. Hati-hati dijalan ya nak" Reva mengangguk dan melambaikan tangan.
Reva tiba di kos saat hari masih sore, jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Hari ini jadwal Reva memasak untuk makan malamnya dengan Tria. Reva memasak ayam goreng dan sambel ijo kesukaannya. Tak lupa lalapan kubis, daun kemangi, dan mentimun sebagai pelengkapnya.
Setelah selesai Reva menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang asem. Sesekali Reva kembali teringat akan Raditia, setiap mengingat Raditia membuatnya sedih.
Tok,tok,tok...
Merdengar suara ketuk pintu dari luar, membuyarkan lamunan Reva. Reva berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
" Wihh, nona lama sekali. Sampai kesemutan kakiku ini" Ujar Tria memperhatikan mata Reva yang sembab.
" Maaf Tria, tadi aku masih ganti baju. Ayo cepat cuci tangan, lalu makan aku sudah sangat lapar" Reva mencoba mengalihkan pandangan Tria.
" Baiklah, baiklah. Perutku juga sudah keroncongan" sembari memegangi perutnya.
Tria menahan diri untuk tak bertanya, apa sebab Reva menangis. Karena ia sudah tau jawabannya pasti karena Raditia. Tak ingin sahabatnya bertambah sedih, Tria berpura-pura tak mengetahuinya.
" Tria, mulai besok aku kerja part time di kantin kampus"
" Uhuk, uhuk..." Tria tersedak, mendengar kabar yang dilontarkan Reva.
" Ini, minum dulu" Reva menyerahkan segelas air kepada Tria.
" Kamu serius Ree, kegiatan dikampus sudah banyak menyita waktu. Kenapa harus tambah kerja part time segala sih"
" Tak apa Tria, aku masih sanggup kok. Itung-itung buat tambah uang jajan 😁" Reva tersenyum tanpa dosa.
" Kenapa, uang kita lebih dari cukup kan selama ini Ree"
" Ingin saja Tria, sendirian dikosan membuatku bosan"
" Jika ini semua karena Raditia, aku tak rela Ree. Sudahlah, jangan terlalu menyiksa dirimu. Entah bagaimana Raditia sekarang, aku tak ingin kamu terpuruk seperti ini Ree. Ini bukan dirimu, aku tau Raditia sangat berarti bagimu. Tapi jangan menyiksa diri mu sendiri Ree. Aku sedih melihatmu seperti ini Reva " tangis Reva pecah mendengar semua yang dilontarkan Tria padanya. Tria memeluk tubuh Reva yang nampak kurusan.
__ADS_1
Dalam beberapa menit Reva menangis dipelukan Tria. Lelah menangis, Reva merenggangkan pelukannya dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Malam itu Reva mengadukan seluruh isi hatinya kepada Tria. Tria sebisa mungkin memberi nasehat dan menyarankan yang terbaik untuk Reva. Meskipun jauh dari orang tua atau kerabat Reva tak pernah kesusahan. Karena masih ada sahabatnya yang siap berbagi suka dan duka.