Arti Sebuah Hubungan

Arti Sebuah Hubungan
Episode 35 - Senyuman


__ADS_3

✉️ Malem Reva, sedang apa?!


✉️Reva..


✉️Reva..


✉️Reva..


✉️Reva..


✉️ Oke, loe gak mau balas chat gue. Tunggu aja besok bakal ada kejutan buat loe by girl😍.


Masih ada beberapa pesan lagi, sebelum akhirnya Tara mengirim pesannya yang terakhir.


" Kejutan apa lagi, resek benget ni anak. Kenapa terus gangguin aku, sebel, sebel, sebel." Reva kesal setengah mati, ia memukul-mukul meja belajarnya.


" Kamu kenapa Ree, ada apa?!"


" Tria help me😔 aku gak tahan dengan sikap Tara yang terus menggangguku" Reva menelangkupkan tangannya di atas kepala.


" Dasar play boy cap kadal. Resek banget, apa sebenarnya yang dia mau"


" Kan udah aku bilang yang dia mau tu jadi pacarku. Permintaan yang gila bukan"


" Iya juga sih. Oh, jangan-jangan karena dia kesel sama kamu Ree. Layaknya teman tapi kamu gak pernah anggep dia"


" Kamu kan tau sendiri aku terpaksa bilang seperti itu. Lalu aku harus bagaimana Tria, supaya gak digangguin dia terus" Reva memasang wajah sedih, memelas.


" Satu-satunya jalan ya, kamu harus terima beneran Tara jadi teman kamu Ree"


" Hahhh... tidak, tidak, tidak. Pasti akan sengsara hari-hariku nanti. Ya Tuhan" Reva mengacak-acak rambutnya frustasi.


" Kan belum di coba Ree, sapa tau Tara anaknya asik. Tampang juga mendukung.hahaha" tawa Tria menggelegar.


" Triaaaa..." Reva melempar buku ke arah Tria.


Malam itu Reva tak dapat tidur nyenyak. Pikiran Reva berkelana tak tentu arah. Dan pikirannya dipenuhi oleh Tara, apa yang akan Tara perbuat lagi padanya.


Menjelang subuh mata Reva mulai terpejam. Pikirannya mulai tenang, ia mulai larut dalam alam mimpi.


" Tidaaak, jangan, jangan lakukan itu. JANGAAAAAAAN..." Reva terbangun dari mimpinya. Keringat dingin bercucuran dari dahinya.


" Ree, kamu kenapa. Kamu gak papa kan" Tria menuangkan segelas air dan memberikannya kepada Reva. Dan Reva segera meminumnya.


" Entahlah Tria, mimpinya gak jelas. Yang aku lihat aku berada di ruang tamu kos kita"

__ADS_1


" Ya sudahlah, mimpi kan bunga tidur jangan terlalu dipikirkan. kita bangun ya, Sholat, dan bersiap-siap ke kampus" Reva hanya mengangguk, Tria pergi ke kamar mandi.


Mendengar suara motor tukang sayur, Reva dan Tria pergi keluar untuk berbelanja. Reva memasak sayur SOP, goreng tahu dan ayam untuk lauk mereka.


Setelah siap Reva bergegas mandi mempersiapkan diri. Saat Reva dan Tria sedang menyantap sarapannya. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar.


" Siapa yang bertamu ya Ree"


" Gak tau, coba aku buka dulu ya" Reva berjalan menuju pintu dan membukanya. Nampak sosok lelaki berdiri membelakangi Reva.


" Maaf mas siapa ya, ada perlu apa" nada Reva terdengar ramah. Lelaki itu pun menoleh ke arah belakang, tersenyum ramah memandang Reva.


" Kamu, kenapa kamu bisa ada disini?!"


" Pagi Reva" Tara menyapanya penuh dengan senyuman. Dan ya, hanya untuk mengetahui alamat seseorang itu hal yang mudah baginya.


" Siapa yang datang Ree" suara Tria dari dalam ruangan.


" Ini, ini, Tara yang datang" suara Reva terdengar pasrah. Mendengar nama Tara di sebut Tria langsung berlari ke arah depan.


" Hai, Tria" sapa Tara dengan senyum jailnya.


" Tara" kejut Tria.


" Kepo loe Reva. Hari ini gue mau jemput loe ke kampus. Gue gak mau terima penolakan oke"


" Ta..tapi" seketika saja Reva nampak gugup.


" Gak ada tapi-tapian, Gue tunggu loe disini" Tara menyelonong masuk ke ruang tamu dan duduk di kursi.


" Dasar brandal" gumam Tria, sembari bergeleng dan masuk kedalam, Reva pun mengikuti langkah Tria.


" Tria gimana nih"


" Ya udah lah Ree, turuti apa maunya. Sapa tau hatinya luluh, Tara gak jail lagi sama kamu"


" Gitu ya, okelah. Terpaksa, dan terpaksa lagi, gak bisa ngelak lagi aku😟" Wajah Reva nampak murung.


" Terus kamu gimana ke kampus nya Tria?!" tambahnya.


" Aku mah gampang, kan ada Abang Ojol. Santai bae" cengir Tria dengan gigi kudanya.


Beberapa menit kemudian Reva keluar dengan pakai rapi, Reva nampak cantik. Membuat Tara terngangah melihatnya.


" Benar-benar gadis cantik" gumam Tara.

__ADS_1


" Heh, ayo pergi sekarang. kenapa malah diam saja"


" Hei Tara" panggilan Reva membuyarkan lamunan Tara.


" Eh, ya ya kita berangkat" Tara bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju motor sport nya.


Reva memakai helm yang diberikan Tara, sekilas bayangan Raditia melintasi angannya. Reva menyadarkan diri, dengan memukul-mukul kepalanya.


" Sadar Reva, sadar. Dia Tara, bukan Raditia" keluh Reva sedih, hatinya menjadi sedih. Mengingat Raditia selalu membuatnya sedih.


Tara melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali Tara menggoda Reva dengan mengerem mendadak, agar tubuh mereka bertabrakan.


" Kamu sengaja ya" Tara hanya tersenyum mendengar keluhan Reva.


Di detik berikutnya, Tara mengulang kembali aksinya. Hingga tubuh Reva membentur lebih keras, dan tangan Reva tak sengaja memeluk erat pinggang Tara.


" Sekali lagi kamu seperti itu aku bakal loncat dari motor" bentak Reva, ia sangat kesal karena ulah Tara.


" Sabar sayang, ternyata loe galak juga ya Reva. Oke, oke gak gue ulang lagi. Maaf oke" Tara tersenyum senang.


Setibanya dikampus semua pasang mata menatap ke arah mereka dengan tajam. Tatap mereka penuh dengan tanya, Seakan-akan ingin mengintimidasinya satu persatu.


Reva tak menghiraukan tatapan para mahasiswa lain padanya, ia berjalan menuju kelasnya. Lain dengan Tara, ia sangat bangga akan kedekatannya dengan Reva. Wanita mana yang tak bisa Tara dapatkan, bahkan gadis segalak Reva pun tak menolaknya. Begitulah yang Tara pikirkan.


*****


Setelah beberapa hari Reva memutuskan menerima Tara sebagai teman. Ternyata Tara anaknya asik, Reva menyukai sikap jail dan humoris Tara. Karena konyolnya mampu membuat Reva tersenyum bahkan sampai tertawa terbahak-bahak. Sikap Tara yang jali dan humoris, membuat Reva mengingatkan tingkah Rian padanya.


Dulu Rian yang selalu menjaga dan memperhatikannya. Namun setelah tau Reva dan Raditia jadian, Rian sengaja menjaga jarak antara dirinya dan Reva. Bak hilang ditelan bumi tak ada kabar dari Rian yang ia tau.


" Kak Rian kamu dimana, aku membutuhkanmu saat ini. Aku merindukan mu, juga Raditia. Kini aku sendiri pun tak tau entah bagaimana kabar dan keadaan kalian" gumam Reva dalam hati, meratapi nasib yang jauh dari orang terkasihnya.


" Kenapa si Eneng jadi murung, tadi aja cekikikan pas lagi sama Tara" goda Tria yang melihat kesedihan di wajah Reva.


" Lagi inget aja sama Raditia juga kak Rian" jawab Reva asal.


" Oh, kak Rian ya. Oh ya, denger-dengar kak Rian satu kampus lhow Ree sama kita"


" Benarkah, kenapa kita gak tau. Kenapa kita gak pernah ketemu sama kak Rian"


" Aku juga gak tau Ree, coba aja besok kita tanya ke bagian informan. Siapa tau kita dapat jawaban disana"


" Ide yang bagus Tria. Besok kita ke sana" Reva terlihat antusias, ia senang mendengar kabar ini.


Happy Reading 🤗

__ADS_1


__ADS_2