
Tak seperti malam-malam biasanya, malam ini seperti ada yang berbeda pada diri Reva. Reva kenapa?! Apa yang terjadi padanya.
" Reva kamu kenapa?!" tanya Eka resah.
" Aku gak pa pa kok Ka" Reva terlihat gelisah.
" Beneran kamu gak papa Ree?!" Tanya Tria.
" Iya aku gak pa pa" ucapnya meyakinkan ketiga sahabatnya. Akan tetapi mereka melihat Reva yang terlihat gelisah.
" Aku tidur dulu ya teman-teman" ucap Reva menarik selimut berusaha untuk tidur.
" Baiklah tidur yang nyenyak ya" ucap Tria, Reva hanya menganggukkan kepala.
" Reva kenapa ya?!" tanya Wina.
" Gak tau, seperti ada yang aneh padanya" jawab Tria.
Mereka sedang menata oleh-oleh yang dibelinya tadi untuk dimasukkan kedalam tas besar. Aktifitas yang mereka lakukan sembari terus memperhatikan Reva yang terus gelisah dalam tidurnya.
Reva selalu berpindah posisi, sesekali berbaring ke kanan, sesekali berbalik ke arah kiri. Tria melihat Reva semakin diliputi rasa cemas. Dan tiba-tiba...
" uwkkkk...." Reva berlari ke arah kamar mandi.
" Reva kamu kenapa" Semua berteriak karena kaget dan panik.
" Uwekkkk, uwekkkk...." Tria berlari ke kamar mandi menyusul Reva dan mengelus-ngelus punggung Reva.
Reva memuntahkan semua isi dalam perutnya. Ia muntah-muntah sampai beberapa kali, keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya.
" Ya ampun Ree kamu kenapa" Tria terus mengelus-elus punggung Reva. Reva tak berekspresi, wajahnya terlihat pucat.
" Balik ketempat tidur" pinta Reva, Tria pun memapah Reva kembali ke tempat tidur dan BRUKKK...
" Reva" semua menjerit histeris. Reva terjatuh karena pingsan.
" Ya tuhan bagaimana ini" Wina panik mondar-mandir gak karuan.
" Aduh, jangan panik teman-teman, berfikir lah" ucap Tria.
" Kita panggil Raditia gimana?!" tanya Eka.
" Baiklah cepat panggil Raditia Ka" perintah Tria. Eka pun berlalu meninggalkan kamarnya.
Tria dan Wina membaringkan Reva disofa dekat kamar mandi. Wina mengoleskan minyak kayu putih diperut Reva, telapak tangan, dan telapak kaki Reva. Berapa menit kemudian Raditia datang bersama Dian.
" Ya Tuhan apa yang terjadi padanya" Raditia berlutut memegang wajah Reva dan tangannya, wajahnya terlihat sangat cemas.
" Awalnya tadi Reva muntah-muntah Radit, setelah itu dia minta ketempat tidur tau-taunya jatuh pingsan" jelas Wina dengan mata yang berkaca-kaca.
" Apa didekat sini ada klinik, kalau kita ke rumah sakit jaraknya sangat jauh bukan" Tanya Raditia.
" Iya benar" seru Tria.
" Klinik, sepertinya ada Radit. Tapi jaraknya lumayan dari sini" jawab Dian.
" Baiklah kita bawah Reva ke klinik, tolong kamu siapkan mobil Dian, cepat ya"
" Baik" Dian bergegas pergi keluar kamar, menghampiri pihak hotel untuk meminjam mobil karena temannya ada yang tiba-tiba jatuh pingsan.
Raditia membopong Reva keluar dari kamar, Tria mengambil beberapa barang yang perlu dibawanya.
" Eka, Wina kalian disini saja ya, dan jangan lupa beri tahu bu lesti. Tapi jangan sampai bikin kepanikan. Setelah itu susul kita ke klinik" perintah Tria, mereka pun mengangguk tanda mengerti.
Raditia membaringkan Reva dikursi belakang, Tria menemani Reva dibelakang. Raditia dengan cepat mengambil alih kemudi, Dian duduk di sebelah Raditia.
Dian menatap Raditia heran, terlihat kecemasan diwajah Dian. Namun dia berusaha memendamnya. Dian kembali fokus keMaps untuk menunjukkan jalan ke Raditia .
Beberapa menit kemudian mereka tiba diklinik, Raditia langsung membopong Reva kedalam klinik.
" Suster, suster tolong teman saya" teriak Raditia. Seorang perawat keluar menghampiri mereka.
" Ada apa ini?" tanya salah satu petugas.
" Tolong teman saya tiba-tiba pingsan" ucap Raditia.
Mereka pun membawa Reva kedalam ruangan, salah satu perawat bergegas memanggil dokter. Dari ruang sebelah dokter keluar berjalan ke ruangan Reva untuk memeriksanya. Beberapa perawat terlihat keluar untuk mengambil peralatan dan obat.
__ADS_1
Kecemasan terlihat di wajah raditia, ia menatap ruang perawatan dengan tatapan hampa.
" Raditia tenanglah dokter sudah menangani Reva" Ucap Tria mencoba menenangkan Raditia.
" Bagaimana aku bisa tenang Tria, sedangkan Reva berbaring lemah di dalam sana" Mata Raditia berkaca-kaca. Butiran air mata pun jatuh dari sudut mata Tria.
" Mari kita berdo'a untuk keselamatan Reva" tegur Dian dengan nada yang gemetar.
" Ya Tuhan, selamatkan Reva, selamatkan dia Tuhan. Jika bisa alihkan rasa sakitnya untukku saja. Asalkan dia selamat, aku akan lakukan apa pun untuknya Tuhan" gumam Raditia dalam hati.
Beberapa menit kemudian Eka, wina dan bu lesti datang menghampiri mereka bertiga. Bu lesti terlihat begitu cemas. Dari awal mendengar cerita Eka bahwa Reva jatuh pingsan, bu lesti hendak terjatuh seperti kehilangan keseimbangannya.
Ibu Rahma menitipkan Reva padanya, kebetulan bu Lesti masih kerabat jauh dari keluarga bu Rahma.
" Bagaimana keadaan Reva?!" tanya bu Lesti pada Tria.
" Dokter masih memeriksanya bu" jawab Tria.
Lima belas menit berlalu, akhirnya dokter keluar dengan senyum di wajahnya. Raditia langsung membordir dengan beberapa pertanyaan.
" Dok, bagaimana keadaan teman saya, dia baik-baik saja kan, tak ada yang serius dengan kondisinya kan, apakah dia sudah siuman. Dok, jawab pertanyaan saya" Raditia bicara tanpa henti.
" Tenanglah Nak" ucap Dokter.
" Raditia tenanglah, mana bisa dokter menjawab pertanyaan mu yang sangat panjang itu" tegur Dian. Raditia menghela nafas.
" Maaf kan saya Dok, karena saya terlalu khawatir" ucap Raditia memelas.
" Tak apa Nak, Dan ya temanmu baik-baik. Untung kalian cepat bawa dia kemari. Kini tak ada lagi yang serius dengan kondisinya. Dia hanya alergi makanan sea food. Jadi jangan biarkan dia memakan makanan sea food lagi ya" ucap sang Dokter. Semua yang ada di sana berucap syukur pada Tuhan, karena tak ada yang serius dengan kondisi Reva.
" Syukurlah, baik dok. Apa kita boleh melihatnya" ucap Raditia lega.
" Boleh, silahkan saja. Tapi jangan gaduh ya, biarkan dia istirahat. Mungkin beberapa menit lagi dia akan siuman" ucap sang Dokter kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.
Dengan cepat Raditia masuk kedalam ruang perawatan. Dilihatnya Reva sedang terbaring lemah, dengan selang infus yang terpasang ditangan sebelah kanannya. Meski terlihat lemah tetapi wajah Reva terlihat tak lagi sepucat yang tadi.
" Reva bangunlah sayang, aku sungguh takut melihatmu seperti tadi. Tiba-tiba tak sadarkan diri dan wajahmu terlihat pucat. Cepatlah bangun, atau aku akan menjadi orang gila, jika hal-hal buruk sampai terjadi padamu" Raditia menundukkan kepalanya, kesedihan nampak jelas diwajahnya, matanya terlihat berkaca-kaca.
Tiba-tiba Raditia merasakan tangannya ada yang meremas. Ia mendongakkan kepalanya menatap kearah Reva. Sayup-sayup Reva membuka kedua matanya. Pandangannya masih kabur, dilihatnya ada beberapa orang disisinya.
" Reva.. nak, kamu siuman. Alhamdulillah kamu siuman sayang" bu lesti mendekat kearah sisi Ranjang, membelai rambut Reva. Semua teman Reva tersenyum senang. " Cepat panggil dokter" lanjut bu lesti.
Dian keluar ruangan untuk memanggil dokter. Tak butuh waktu lama dokter pun datang, dan memeriksa kondisi Reva. Dokter tersenyum saat telah selesai melakukan pemeriksaan.
" Bagaimana kondisi anak saya dok?!" tanya bu lesti.
" Kondisinya sudah membaik, namun dia masih butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya. Dan ya besok ia sudah boleh pulang. Cepat sembuh ya nak, dan ingat jangan makan makanan sea food lagi ya. Saya permisi dulu" ucap sang Dokter, Reva hanya mengangguk. Dan Dokter pun pergi meninggalkan mereka.
" Syukur Alhamdulillah. Baik dok, terima kasih." bu lesti bernafas lega.
" Minun, aku mau minum" keluh Reva lirih. Tria mengambil segelas air putih yang berada di meja sebelahnya.
" Ini Ree" Tria menyodorkan gelas berisi air putih ke Reva. dengan segara Reva meneguknya.
" Terima Kasih ya" Ucap Reva sesudah meminum habis segelas air yang terisi disana.
" Waow Ree, sudah berapa lama lu gak minum. Lu menghabiskan satu gelas besar air dalam beberapa detik saja" candaan Dian.
" Ehh, bebek rempong amat elu. Mau Reva abis satu ember kek, satu galon kek, masalah buat elu hah" gertak Tria.
" Sudah anak-anak jangan berisik. Biarkan Reva istirahat" ucap bu lesti menghentikan perdebatan mereka.
" Bu lesti biar saya yang menjaga Reva, ibu dan teman-teman yang lain balik ke hotel saja" pinta Raditia.
" Tapi nak, apa tidak apa? Kamu sendirian disini"
" Tidak apa-apa bu, saya baik-baik saja. Bu lesti kembali saja dan istirahat ya bu"
" Jelas saja dia bakal baik-baik bu, malah dengan senang hati dia disini" Sindir Dian. Raditia melirik ke arah Dian dengan tatapan tajam. Dian tersenyum dengan gigi kudanyaš¬.
" Ya sudah kalau begitu, ibu titip Reva ya nak Raditia. Jaga Reva baik-baik ya"
" Pasti bu"
" Ibu balik dulu ya sayang, cepat sembuh ya nak" ucap bu lesti sembari mencium kening Reva.
" Makasih ya tante. Oh ya, tante jangan bilang ke ibu ya kalau Reva jatuh sakit. Nanti ibu jadi khawatir dengan kondisiku disini"
__ADS_1
" Iya sayang, ya sudah istirahatlah"
" Kami balik dulu ya Ree, cepat sembuh ya" ucap Tria. Mereka bergantian berpamitan.
" Iya, makasih ya teman-teman"
" Gue balik dulu ya Ree, ada babang Raditia jadi cepat sembuh oke" pesan Dian dengan jail memainkan alisnya. Reva hanya tersenyum.
" Oh ya, kalian balik naik mobil tadi saja ya. Biar besok kita baliknya naik taksi" ucap Raditia.
" Siap bosku" ujar Dian. " Oh ya, ngomong-ngomong soal mobil tadi Raditia..." gumam Dian dalam hati.
" Eh, cepat balik. Ngapain malah bengong disini" Raditia menjitak kepala Dian.
" Ehhh, iya ya baik" Dian berlalu pergi.
Setelah semua kembali, tinggallah Raditia dan Reva berdua dalam ruang perawatan itu. Ruang itu cukup luas, ada beberapa ranjang disana. Akan tetapi hanya mereka berdua didalam ruangan.
" Tidurlah sayang, aku akan menemanimu disini" ucap Raditia sembari merapikan selimut Reva.
" Raditia" Reva berusaha untuk duduk, dengan sigap Raditia membantunya untuk bersandar. Dengan memasang beberapa bantal di punggungnya.
" Iya, ada apa. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?!"
" Emchh.." Reva menggelengkan kepalanya.
" Apa ada yang sakit, apa kamu mau makan sesuatu, atau kamu mau minum?!"
" Emchh.." lagi-lagi Reva menggelengkan kepala, Raditia mengerutkan dahinya.
" Lalu apa sayang katakan" Raditia meraih tangan Reva dan menggenggamnya.
" Kenapa kamu terlihat sedih" dengan berani Reva mengatakannya.
Mendengar kata-kata Reva, Raditia mengarahkan pandangannya ke arah mata Reva. Tatapan mereka bertemu, terlihat kesedihan dimata Raditia. Mereka bertatapan cukup lama.
" Bagaimana aku tak sedih sayang, melihatmu tak sadarkan diri seperti tadi itu sangat membuatku takut. Aku takut hal buruk terjadi padamu" Mata Raditia berkaca-kaca.
" Kenapa begitu, sebesar itu kah kamu menyayangiku"
" Tentu saja, aku menyayangimu melebihi nyawaku sendiri Ree, bahkan aku siap menggantikan mu berbaring disini..." Reva menutup mulut Raditia dengan jarinya, menarik tubuh Raditia dan memeluk tubuh tegap itu dengan erat.
" Dasar bodoh, jangan katakan itu lagi. Apalah arti hidupku tanpamu, huuhhh..huhhh.." ucap Reva tersedu, tangis Reva pun pecah.
" Bahkan aku akan lebih bodoh lagi jika sudah menyangkut mu Ree. Mungkin aku akan menjadi orang gila jika tanpamu" mendengar ucapan Raditia membuat tubuh Reva semakin bergetar karena menangis.
" Aku menyayangimu Radit, aku sangat menyayangimu. Huuhhh...huuhhh..." ucapnya dalam tangis.
" Aku juga sangat menyayangimu sayang, aku tak ingin kehilangan orang yang paling aku sayangi. Aku akan selalu menjagamu" cukup lama mereka berpelukan, pada akhirnya Raditia merenggangkan pelukannya, membasuh air mata dipipi Reva dengan kedua tangannya.
Tatap mereka saling bertemu, mereka menatap satu sama lain, dan "CUPP" Reva mencium pipi Raditia. Dengan satu kecupan mampu membuat Raditia terdiam. Tubuhnya mematung, sikap spontan Reva mampu menghipnotisnya.
" Terima Kasih sayang" Bisik Reva dekat ditelinga Raditia.
Dan dengan cepat Reva menyembunyikan wajahnya dibalik semilut. Karena ia tak ingin wajahnya yang memerah dilihat oleh Raditia.
Raditia tersadar dari lamunannya. Wajahnya serasa terbakar, Raditia memegangi pipinya. Ia sadar apa yang dilakukan Reva padanya. Ini ciuman pertama mereka.
Kelakuan Reva masih terngiang dipikiran Raditia. Malam ini membuat keduanya tak dapat tidur nyenyak. Raditia berbaring disofa dekat pintu, ia terus menatap punggung Reva. Reva membalikkan badannya, betapa terkejutnya Reva, ternyata Raditia belum tertidur dan tatap mereka bertemu.
Raditia beranjak dari sofa, berjalan mendekati ranjang Reva. Reva terlihat gugup, apa yang akan dilakukan Raditia padanya. Apa Raditia akan berbalik menciumnya, membayangkan itu membuat pipi Reva serasa terbakar.
" I LoVe you sayang, tidurlah. Aku akan menemanimu" Raditia mengecup kening Reva, dan merapikan selimut Reva. Reva hanya mengangguk, menuruti apa yang diperintahkan Raditia.
Raditia duduk dikursi disamping ranjang Reva, ia meraih tangan Reva dan menggenggamnya. Dan tangannya yang satunya dijadikanya untuk bantal. Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka mulai tertidur, karena rasa lelah yang sudah menguasai, membuat mereka mengantuk.
.
.
.
.
Happy Reading
Salam manis dari Author untuk kalian semua yang sudah mau mampirš
__ADS_1