Arti Sebuah Hubungan

Arti Sebuah Hubungan
Episode 37 - Keputusan


__ADS_3

Setiap hari Reva hanya terdiam, bagaikan raga tak bernyawa. Ini kali kedua Tria melihat Reva tak mempunyai semangat dalam hidupnya. Bahkan Tara yang selalu menemani Reva tak pernah bisa menghiburnya.


Seperti hari ini, Tara senantiasa menemani dan membujuk Reva agar mau memakan sesuatu.


" Reva makan dong, apa loe gak lapar" Tara menyodorkan sepiring nasi goreng untuk Reva.


" Aku sudah kenyang" Reva menjawab asal.


" Kapan loe makan, kata Tria loe dari kemaren belum makan"


Reva tak menanggapi satu kata pun yang terlontar dari mulut Tara.


" Reva" bentak Tara, suara Tara terdengar cukup keras.


" Huem" Reva menjawab malas.


" Sebenarnya loe kenapa sih, kenapa loe jadi kayak gini"


" Pulang lah aku hanya ingin sendiri"


" Gue gak mau pulang, loe masih hutang jawaban sama gue"


" Hutang jawaban apa?, apa yang ingin kamu dengar"


" Gue ingin loe bilang iya, loe terima gue"


" Baiklah, kalau itu yang kamu ingin kan. Tapi setelah itu pulanglah, aku ingin sendiri"


" Oke, gue janji"


" Iya, iya, iya. Sudah kan, sekarang pergilah"


" Beneran loe terima gue"


" Iya"


" Yeahh...Sekarang loe jadi pacar gue. Yes, yes,yes" Tara melompat-lompat kegirangan, Reva hanya ternganga melihat Tara.


" Tunggu, tapi aku.."


" Tapi apa sayang" Tara mendekatkan wajahnya tepat dihadapan Reva. Reva terdiam, ia merasa gugup dan bingung.


" Gue pulang dulu, gue seneng udah dapet jawaban. Bey sayang" Tara berbisik tepat ditelinga Reva.


Tanpa Reva sadari Tara sudah menghilang dari pandangannya.


" Reva, kamu kenapa" Tria menepuk pundak Reva membuyarkan lamunannya.


" Loh Tria, kemana Tara. Dimana dia" Reva celingukan mencari sosok yang dia cari. Tetapi tak menemukannya.


" Hey, Tara sudah pulang. Barusan aku berpapasan dengannya didepan"

__ADS_1


" Apa, tapi ini tak benar. kacau sudah, masalah baru lagi menimpaku Tria"


" Tak benar apanya, kamu diapain sama dia Ree. Ngomong Ree, ngomong" Tria mencengkram kedua pundak reva dan menggoyang-goyangnya.


" Aku gak diapain-apain Tria, cuma tadi itu..."


" Syukurlah, aku sudah ketakutan tadi. Untung kamu gak kenapa-kenapa" Tria memeluk Reva erat.


" Hum, tapi.."


" Tapi apa Ree, apa yang sebenarnya terjadi" tambahnya lagi, dengan menatap wajah Reva.


" Tadi itu aku gak sengaja bilang iya, dan Tara menganggap aku menerimanya sebagai kekasihku. Bagaimana ini, aku harus bagaimana"


" Huhf, terus apanya yang salah. Lagi pula selama ini Tara baik sama kamu Ree"


" Tapi aku masih dengan Raditia"


" Terus kamu maunya gimana, kejelasan hubunganmu dengan Raditia gimana?"


" Aku tak tau, setelah itu dia tak pernah menghubungiku lagi"


" Kalau sudah seperti itu, apa lagi yang ingin kamu pertahankan Reva. Kenapa sekarang Raditia begitu menyebalkan hah. Kenapa pengecut sekali dia. Aku kecewa padanya, harusnya dia memberi penjelasan. Tapi apa ini, dia malah ngilang gak jelas. Aku harap kamu bisa ambil keputusan yang terbaik untukmu Ree. Aku tak ingin melihatmu bersedih lagi. Cukup sudah, kini pikirkan masa depanmu. Pikirkan keluarga dan kuliahmu"


Mendengar apa yang dikatakan Tria, itu ada benarnya. Ia tak boleh terpaku pada satu hal saya, atau semua akan hancur. Masa depannya masih panjang. Masih banyak cita-cita yang harus digapai. Tapi ini masalah hati. Dan soal perasaan itu sangat berpengaruh besar dalam hidup ini.


" Aku harus bagaimana, apa aku berpisah dengan Raditia. Dan menerima Tara. Tapi perasaanku kepada Tara belum sejauh ini. Ya Tuhan, aku harus bagaimana"


Dretttt..dretttt..drettt.....


Angan Reva dibuyarkan oleh suara dering ponselnya. Reva meraih dan melihat siapa yang menelponnya.


" Hallo Niken, ada apa?"


" Reva ini aku"


" Raditia" mata Reva terbelalak mendengar suara dari sebrang.


" Iya ini aku. Aku ingin bertemu dengan mu"


" Tak perlu, jika ada yang ingin kamu sampaikan bicarakan sekarang juga" nada Reva terdengar ketus.


" Tapi Ree, aku tak bisa jelas lewat telfon"


" Apa bedanya. Tinggal ngomong aja apa susahnya"


" Tapi aku ingin bertemu dengan mu. Dan menjelaskan semuanya"


" Tapi aku tak ingin bertemu denganmu"


" Tapi kenapa Ree, maafkan aku yang sudah lama mengacuhkanmu, dan.." belum selesai Raditia berbicara, Reva memotong kata-katanya.

__ADS_1


" Dan cukup sudah kamu permainkan hatiku Raditia. Dan satu lagi, aku ingin kita putus"


JELEBBB


Bak tertusuk sebuah belati hati Raditia tiba-tiba saja terasa nyeri. Mata Raditia berkaca-kaca. Sakit, rasa sakit menghantam dadanya. Mendengar kata itu keluar dari mulut Reva.


Mata Reva memerah, ia menahan tangisnya agar tak pecah. Reva membungkam mulutnya dengan bantal yang didekapnya. Bukan hanya Raditia saja yang merasakan nyeri di dada, Reva pun merasakan hal yang sama. Tak mudah baginya mengungkapkan kata putus pada Raditia.


" Ree, tolong jangan bercanda. Aku tak ingin mendengar kata itu darimu"


" Aku tak bercanda, aku serius mengatakannya"


" Tapi Ree, aku tak bisa kita seperti ini. Aku tak menerima kata putusmu"


" Kenapa, kenapa tak bisa menerima. Apa kau pikir ini juga mudah bagiku. Tak mendengar kabarmu. Tak tau kepastian hubungan ini bagaimana. Aku menyerah Raditia, Aku menyerah"


" Reva maafkan aku, tolong maafkan aku. Ini semua salah ku. Aku akan jelaskan semuanya padamu Ree. Beri aku kesempatan lagi"


" Apa lagi yang ingin coba kamu jelas kepadaku. Besar harapanku kamu datang dan menjelaskan semuanya padaku. Tapi ini apa, datang saja tidak. Bahkan sekedar untuk menghubungiku pun tak kau lakukan. Hiks...huhhh...." Isak tangis mulai terdengar dari nafas Reva.


" Aku benar-benar minta maaf untuk hal itu Ree. Inginku pun sama seperti harapanmu padaku Ree. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa pada waktu itu. Kumohon maafkan aku"


" Maafkan aku Raditia. Ini sudah menjadi keputusanku. Dan aku sudah memiliki yang lain, selain dirimu"


JEDARRR


Dunia Raditia seakan runtuh. Apa ini semua, apa yang Reva katakan padanya. Apa Reva hanya mengujinya. Apa semua ini benar adanya.


Panggilan mereka berakhir, Reva menangis sejadi-jadinya. Luka tak berdarah mengiris hatinya. Tria memeluk Reva, mencoba menenangkan sahabatnya. Sedari tadi Tria ada didekat Reva.


Disisi lain Raditia bak orang gila, menghancurkan semua barang yang ada di kamarnya. Niken ikut menangis karena melihat kakaknya yang rapuh tak berdaya. Rasa patah hati memenuhi dadanya.


" Niken temani aku ke Surabaya sekarang juga"


" Tapi kak, ini sudah tengah malam. Besok saja ya"


" Aku tak bisa menundanya lagi. Panggil pak Umang untuk siapkan mobil"


" Baik kak. Aku juga akan bersiap-siap" Niken tak ingin membantah kakaknya lagi.


Memang sudah saatnya Raditia untuk bertemu dengan Reva. Peraturan papa Andre yang membuat hubungan Reva dan Raditia menjadi diambang perpisahan.


" Tenang ya Ree, semoga ini keputusan terbaikmu"


" Sebenarnya aku tak ingin semua ini terjadi Tria. huhhh..huhhh..huhhhh"


" Iya aku tau Ree, tapi kamu harus keluar dari hubungan rumit ini"


Reva tak menjawab satu kata pun. Semalaman Reva tak henti-hentinya menangis. Panggilan dari Tara pun tak berpengaruh lagi pada dirinya.


Happy Reading😢

__ADS_1


__ADS_2