
Tria memanggil Reva sampai berkali-kali karena tak ada jawaban darinya. Tria pun mencubit pipi Reva.
" Aw....sakit tau Tria" keluh Reva, sembari mengelus pipinya.
" Abisnya ditanya gak jawab, dipanggil kagak nyahut, gemes aku jadinya" jelas Tria.
" Hehehe, iya maaf"
" Terus siapa gadis itu Ree?"
" Aku tak tau siapa gadis itu Tria, Raditia tak bilang kalau keluar sama orang lain" Reva tiba-tiba terlihat murung.
" lhah...Terus siapa dia, mereka terlihat akrab dan mesra Reva. Gadis itu masih seumuran kita, mungkin umurnya dibawah kita 2 sampai 3tahun" penjelasan Tria menjadi mood Reva semakin buruk.
" Emchh, iya kah, apa dia cantik?" tanya Reva lesu.
" Sama cantiknya dengan mu Ree, apa mungkin dia pacar Raditia?"
" Itu tak mungkin, Raditia tak mungkin membohongiku, mungkin gadis itu saudaranya Tria" Reva mencoba berfikir positif, dan percaya pada Raditia.
" Ya mungkin saja, mudah-mudah seperti itu kenyataanya" Tria mengelus bahu Reva, nampak jelas ada kesedihan terlihat diraut wajah Reva.
" Emchh, sepertinya aku tau siapa yang dapat memberitahu kita Tria" Reva tersenyum.
" Maksudmu menjelaskan siapa gadis itu, Siapa Ree?" tanya Tria.
" Dian. aku akan tanya ke Dian, dia kan tetangga Raditia, mereka berteman sejak kecil, pastinya Dian tau siapa gadis itu"
" Semoga Dian berkata jujur, dan itu kenyataanya, aamiin" Tria menyemangati Reva.
" Aamiin, nanti waktu istirahat kita akan tanya ke Dian" jelas Reva.
" Oke, siapp"
****
Bel istirahat berbunyi, setelah guru keluar murid-murid berhamburan keluar kelas. Raditia dan Dian berjalan keluar kelas, namun langkah Dian dihentikan Tria. Tria menarik baju Dian.
" Ehh...ehhh... Apa an sih lu Tria" Jawab Dian kesal.
" Raditia aku ada perlu sama Dian kamu duluan aja ya" Ucap Tria.
" Oke, kamu gak ke kantin?" Tanya Raditia pada Reva.
" Ehh...iy..iya... Aku kesana, nanti kita nyusul, kamu duluan saja" Ucap Reva sembari tersenyum.
" Emch..baiklah, aku tunggu kalian di kantin"
Setelah Raditia berlalu, Tria dan Reva mulai mengintrogasi Dian. Wina dan Eka yang dibelakang mereka saling berpandangan penuh tanya.
" Lepas baju gue comel, ada apa sih dengan kalian?" perintah Dian pada Tria, Tria pun melepas baju Dian yang digenggamnya hingga kusut.
" Ehh.. Iya, iya maaf bebek, gitu aja marah" Ucap Tria, Dian merapikan bajunya yang koyak.
" Nah elu, bisa kan panggil, gak usah tarik-tarik baju bikin kesel aja"
" Aduh, kamu ya cowok tapi cerewetnya minta ampun" Tria
" Sudah-sudah, Dian maafkan aku dan Tria, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, tolong jawab jujur ya" Reva menenangkan mereka, Tria dan Dian pun menghentikan perdebatan mereka. Reva bertanya dengan nada kalem.
" Oke, apa yang elu mau tanyakan Ree?" Dian terlihat serius.
" Langsung saja ya, kamu kan teman dekat Raditia pasti tau tentang dia kan, apa diluar sana Radit punya teman perempuan selain kita, atau punya saudari perempuan?" Dian mengenyitkan Dahinya, mendapatkan pertanyaan dari Reva seperti itu.
__ADS_1
" Ingat jawab dengan jujur" Gertak Tria.
" Iya bawel, tunggu, kenapa tiba-tiba kalian menanyakan hal itu" Dian penasaran, tak bisanya mereka seperti ini.
" Iya itu karena semalam waktu di mall aku melihat Raditia bersama gadis lain, mereka terlihat begitu dekat" jelas Tria.
" Ohh...begitu, sejauh yang aku tau tentang Raditia, dia tak pernah mempunyai teman perempuan selain teman kelasnya, dan aku rasa baru dengan mu Ree dia membuka hati" penjelasan Dian membuat mereka berempat tertegun. Lanjutnya,
" Dan untuk saudara, dia memiliki adik perempuan, namanya Niken Dwi Putris, sicabi yang unyu-unyu" Raut wajah Dian menjadi malu-malu saat menyebut nama Niken.
" Ihh...menggelikan sekali, kenapa lu" Tria melihat Dian heran.
" Kenapa sih, wajar kan, karena aku suka dia" Wajah Dian memerah.
" Ya tuhan Bucin nya anak ini" ledek Tria.
Saat Dian hendak membela diri Reva memotong pembicaraannya.
" Sudah dong, jangan ribut sendiri" ucap Reva
" Emchh....baiklah" ucap Tria dan Dian.
" Apa kamu punya foto Niken, Bisa tunjukkan padaku" pinta Reva
" Ohh...oke sebentar" Dian mengambil ponsel dari satu celananya, membuka galeri mencari foto yang dimaksud.
" Ini, ini Niken, foto ini diambil saat ulang tahunnya tahun lalu" Tunjuk Dian pada foto gadis cantik berpipi cabi, yang berada ditengah diantara Raditia dan dirinya.
Saat Tria dan Reva melihat sosok gadis itu mereka saling berpandangan. Tria menganggukkan kepalanya, mengartikan bawah gadis itu lah yang dilihatnya semalam. Dian menunjukkan foto Niken yang lain.
Ternyata Dian menyimpan banyak foto Niken yang diambilnya dari medsos. Diam-diam Dian mengagumi adik sahabatnya, Dian menyukainya entah kapan Dian mulai suka padanya, yang jelas sejak Niken tumbuh menjadi Remaja yang berparas cantik.
" Apa dia yang lu lihat Tria, atau orang lain?" tanya Dian
" Iya, gadis itu yang aku lihat semalam" jawabnya tegas
" Baiklah, terima kasih ya Dian" Reva
" Sama-sama Ree, lu gak usah sungkan kalau soal Raditia, tanyakan apa pun, gue akan memberitahu lu"
" Oke, makasih banyak ya Dian" Reva
" Tapi janji lu jangan bilang ke Raditia, kalau gue suka sama Niken, malu gue" pinta Dian.
" Oke, kamu juga jangan bilang Raditia aku menanyakan hal ini, aku takut Raditia marah. Nanti dia berpikir aku tak mempercayainya" ucap Reva
" Baiklah, kita sepakat" Dian menjabat tangan Reva.
Mereka pun pergi menyusul Raditia dikantin, Dian dan yang lain memesan makan. Sikap mereka biasa saja, Raditia pun tak menanyakan urusan mereka tadi.
Mereka bercanda gurau, sembari menikmati makan siang mereka. Bel masuk berbunyi, semua murid berhamburan pergi ke kelas masing-masing.
" Oh...ya Radit kamu ambil jurusan apa nantinya?" tanya Reva.
" Entahlah, Masuk kemanapun gak ada bedanya"
" Kenapa begitu?"
" Aku kan malas belajar Ree..hehe"
" Emchh, kamu ini, kenapa tak serius dengan pendidikan mu Radit"
" Untuk apa, sudah pasti kelak aku akan menggantikan posisi papaku, hanya mempelajari beberapa hal bukankah itu sudah cukup"
__ADS_1
" Ya tak bisa seperti itu juga Radit, kamu harus lebih unggul di bidang yang kelak kamu geluti"
" Iya, iya, aku tau. Untuk saat ini kan ada kamu yang slalu membantuku"
" Iya sekarang, tapi gak mungkin untuk seterusnya aku bisa membantumu kan"
" Benar juga, baiklah aku akan lebih rajin lagi" Raditia memikirkan apa yang dikata Reva padanya.
Tak sengaja apa yang dikatakan Reva sama dengan yang dikatakan Almarhumah mamanya. Mamanya pernah bilang,
"Jadilah laki-laki yang punya rasa tanggung jawab yang besar. Jangan pernah bergantung pada orang lain. Berdirilah dengan kakimu sendiri. Karena kelak bukan hanya keluargamu yang kau utus tapi ada orang lain juga"
Entah kenapa setiap dekat dengan Reva, ia merasakan kenyamanan yang berbeda dalam hatinya. Seperti saat ia berada didekat mamanya.
Raditia menyadari kehadiran Reva membawa perubahan pada dirinya. Kini dia tak merasakan kesepian dalam hidupnya. Ia lebih perhatian dengan orang disekitarnya.
Raditia tak ingat mulai kapan dia menyukai Reva, yang pasti gadis cantik itu sudah mempunyai tempat dihatinya. Tempat yang hanya bisa diisi oleh mamanya.
Mereka pulang bersama lagi, mungkin untuk kedepanya mereka akan lebih sering berangkat dan pulang sekolah bersama.
Saat pulang
" Radit, aku boleh tanya sesuatu" Ucapnya ragu-ragu.
" Boleh Reva, apa katakan"
" Semalam kamu ke mall sendiri atau dengan siapa?" Sebenarnya Reva tak enak hati menanyakan ini pada Raditia. Tapi apa boleh buat Reva ingin tau sendiri apa jawaban Raditia.
" Ohh, itu. Aku belum cerita ya, semalam aku pergi dengan adikku Ree, aku mempunyai adik perempuan nama Niken" jelasnya.
" Ohh... Iya, syukurlah dia jujur padaku" Gumamnya lirih.
" Kamu bicara sesuatu"
" Emch, itu kapan-kapan perkenalkan kami" pinta Reva mengalihkan pembicaraannya.
" Iya nanti, saat waktunya sudah tepat aku akan kenal kamu dengan keluargaku Ree"
" Emch, baiklah, kelas berapa Niken sekarang?"
" Dia kelas 2SMP, mungkin nanti dia juga akan melanjutkan disekolah kita"
" Wahhh, benarkah, pasti dia lebih pandai darimu" ledek Reva.
" Kalau itu sudah pasti Ree, dia gadis pasti lebih rajin dariku, tapi dia pemalu, jadi tak sepopuler dirimu"
" Kenapa membandingkan denganku"
" Bukan membandingkan, hanya saja aku kagum padamu. Bukan hanya aktif diOrganisasi, kamu juga pintar melukis, dan kamu mempunyai suara yang merdu dan indah"
" Kamu terlalu berlebihan Radit, itu karena aku suka dengan hal-hal yang tak perlu menguras pikiran. Nyatanya aku juga tak pandai dalam pelajaran yang menyangkut angkat, itu membuatku pusing"
" Mending kamu timbang aku"
" Tapi kamu jago main sepak bola kan, kenapa gak kembangin bakat mu itu Radit"
" Itu cuma sekedar hobi Ree, kamu kan tau kalau aku calon pewaris. Jadi tak mungkin bagiku memilih sesuatu yang aku sukai"
" Benar juga, kalau begitu nikmatilah takdirmu yang akan menjadi pemimpin Radit, karena itu suatu kebanggaan tersendiri. Menjadi Direktur utama, kamu akan disegani banyak orang, banggalah dengan takdirmu dan pada dirimu sendiri"
Raditia tak menjawab apa yang dikatakan Reva, ia terlalu kagum dengan apa yang dikatakan Reva. Reva selalu memberi semangat padanya, membuat dia lebih percaya diri. Dengan mendengar kata-kata Reva membuatnya senang.
Setibanya didepan rumah Reva, ia pun langsung melajukan motornya. Ia pulang dengan hati yang terasa damai.
__ADS_1
Happy Reading🤗
Terima Kasih untuk semua yang sudah membaca dan setia menunggu episode selanjutnya😘