Arti Sebuah Hubungan

Arti Sebuah Hubungan
Episode 21 - Salah Faham


__ADS_3

" Iya, iya maafin kakak, kamu tau sendiri kakak sedang sibuk mempersiapkan ujian kelulusan. Dan lagi dilanjut sibuk dengan pendaftaran ke universitas. Adik sayang jangan merajuk ya" Rayu Rian.


" Iya, aku maafin. Lain kali jangan diabaikan gitu aja dong. Katanya mau selalu jagain ini malah ngilang gitu aja" Reva


" Kan udah ada yang siap jagain kamu Ree, dia juga lebih berhak dari pada aku" gumamnya.


" Kak, hallo kakak gateng, ngilang lagi ya" Reva ketus.


" Gak, ini ada disini dari tadi juga disini" Rian tak kalah ketus.


" Gitu diem aja diajak ngomong"


" Lagi ada yang manggil tadi" ucapnya Rian berbohong.


" Ohhh... Sorry😁"


" Oh, ya besok malam ke rumah ya, ada acara perayaan kelulusanku"


" Ternyata diundang juga, kirain lupa"


" Tadinya sih maunya gak aku undang"


" Terus kenapa sekarang diundang?"


" Karena sudah berubah pikiran"


" Jadi beneran kakak sengaja ya, sengaja mau ngehindariku, apa salahku kak? atua pacar kakak gak suka dengan kedekatan kita ya, dan dia marah ya, benar kah begitu"


" Hussst, stop ngomong apa sih kamu ini, siapa yang punya pacar, aku kan lagi singel"


" Terus kenapa tadi bilangnya sengaja gitu"


" Aku hanya bercanda, hahahaha"


" Dasar menyebalkan, aku gak mau datang"


" Aku bakal jemput"


" Gak mau"


"pokoknya aku jemput"


" Gak mau ya gak mau, kan kakak yang punya acara pamali keluar rumah, jadi gak usah repot-repot"


" Persetan dengan pamali, pokoknya besok aku jemput"


" Pokoknya aku gak mau"


" Aku tunggu sampai jam 19.00, jika kamu gak datang aku akan jemput paksa"


" Ah....terserah, sekali gak mau ya gak mau" Reva menutup telfonnya begitu saja.


Rian terlihat kesal karena ulah Reva. Jika Reva tak datang untuk apa acara itu diadakan. Pasti sangat membosankan, meski banyak teman dan saudara yang akan hadir.


****


Esok Hari


Seperti biasa dia datang dengan Raditia, terlihat begitu serasi. Hari demi hari mereka semakin dekat. Reva senang setiap hari sedekat ini dengan Raditia. Begitu sebaliknya Raditia merasa nyaman setiap didekat Reva.


" Oh, ya aku ada perlu dengan Dian, sebentar ya gak pa pa kan" ijinnya pada Raditia.


Mereka sedang di perpustakaan, ada tugas kelompok yang harus mewajibkan mereka mencari bahan diskusi di majalah-majalah yang ada di perpustakaan.


" Dian nanti jadi kan kamu ke rumah kak Rian, dan jemput aku" Reva.


" Iya jadilah, lu jadi diundang sama kak Rian"


" Ya jadilah, kan aku sudah bilang undangan ku spesial" Ucap Reva dengan menggerak-gerakkan alisnya ke atas.


" Oke, oke percaya" jawab Dian.


" Ship, nanti jemput aku jam 17.00 ya"


" Kenapa? acaranya kan jam 19.00, lu mau ngapain sesore itu di sana hah"

__ADS_1


" Aduh oon, kita pergi ke mall dulu, aku mau cari kado buat kak Rian, setelah itu ke rumah kak Rian" mentoel kepala Dian.


" Ow, begitu. Oke nanti gue jam 17.00 ke rumahlu"


" Oke, Makasih ya Dian"


Reva pergi meninggalkan Dian dan kembali ke kelompoknya. Untuk melanjutkan mengerjakan tugas.


" Radit jika kamu diberi hadiah kamu suka benda apa?" tanya Reva.


" Emm, hadiah. Memangnya buat siapa?" Raditia mengenyitkan dahinya.


" Aku ingin memberikan kak Rian hadiah untuk ucapan selamat dia telah lulus dan mendapat nilai bagus"


" Owh, apa ya, kalau aku lebih suka kalung, tapi entahlah terserah kamu mau beliin dia apa?" muka Raditia terlihat cemberut.


" Radit aku kan hanya memberikan dia hadiah, bukan memberi hatiku, kenapa mukamu cemberut gitu hah" Reva mentowel-towel pipi Raditia.


" Siapa yang cemburu" Raditia.


" Apa jadi kamu cemburu, astaga🤣" Reva tertawa puas.


" Ihhh, enggak kok, kamu salah denger"


" Ahh...jujur saja lah, cemburu kan iya kan" ucap Reva geli, dengan memukul-mukul lengan Raditia.


" Aku bilang enggak ya enggeh"


" Kan tadi aku bilangnya cemberut, ini malah jawabnya cemburu, ciehhh...ciehhh... Raditia cemburu" Reva terus menggoda Raditia.


Muka Raditia memerah, karena kesal Raditia merangkul pundak Reva, muka mereka papasan. Muka Reva memerah seperti terbakar, hatinya berdegup kencang.


" Iya aku memang cemburu, aku tak suka kamu memperhatikan orang lain melebihiku" ucap Raditia menyihir Reva. Reva hanya terdiam.


" Emggg, emgg...." Suara petugas perpustakaan membuyarkan keromantisan meraka.


Reva tertunduk malu karena mukanya memerah bak tomat matang. Sedang Raditia jadi bingung harus berbuat apa.


" Belikan saja dia kalung atau lainnya, karena sepertinya di suka accessories" ucapnya memecah kecanggungan.


****


Sore itu Reva mengenakan dress warna maroon selutut, menggunakan sepatu kets adidas warna putih, dan tas slempang kecil Gucci warna maroon. Penampilan Reva sengat cantik, khas anak melenial jaman sekarang.


" Nak mau kemana? Rapi nan cantik anak ibu" tanya bu Rahma.


" Mau ke rumah kak Rian buk, Reva di undang ke acara perayaan kelulusan kak Rian" ucap Reva.


" Wah, kalau anak orang kayak seperti itu ya, lulus saja dirayain"


" Ibu ini hal kecil bagi keluarga kak Rian, papa kak Rian CEO buk, dan kak Rian calon pewaris satu-satu, sudah pasti dia bak putra raja buk" jelas Reva.


" Ya meski nak Rian anak orang kaya, tapi ibu suka dia rendah hati dan mau berteman sama kamu, dan mengenal keluarga kita yang sederhana ini"


" Kak Rian memang baik buk, Reva bersyukur juga mengenal kak Rian dan menganggapnya sebagai kakak Reva sendiri"


" Oh, ya dengan nak Raditia ibu juga suka. Mereka berdua itu apa masih kerabat, sepertinya ada kecocokan antara mereka"


" Ahh, ibu ini ada-ada saja, jika memang kerabat pastinya mereka cerita sama Reva buk"


Tinn, tinn... Suara klakson motor Dian terdengar, itu artinya Dian sudah ada didepan rumah Reva. Bu Rahma mengantar Reva kedepan rumah.


" Nak Dian masuk dulu" sapa bu rahma.


" Maaf buk lain kali Dian mampir, Dian telat kejebak macet buk, jadi buru-buru, maaf buk"


" Iya sudah tapi hati-hati dijalan ya nak, jangan ngebut-ngebut"


" Shiap buk" sahut Dian.


" Buk Reva berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum" Pamit Reva sembari mencium tangan ibunya.


" Waalaikumsalam, Iya nak Hati-hati"


Mereka pun berlalu dari pandangan bu rahma, mejunu mall elit dikota mereka. Dian melajukan motornya dengan lihai menyalip kendaraan yang ada didepannya.

__ADS_1


Setibanya dimall Dian memarkirkan motornya diparkiran. Reva menuju penjual accessories, ia terlihat memilih-milih benda yang sesuai dengan karakter Rian. Dan akhirnya dia menemukannya, Reva pergi kekasir dan membungkusnya.


Setelah itu Dian kembali melajukan motornya, dengan lihai dan kecepatan yang cukup tinggi, karena jam menunjukkan pukul 18.30 wib. Dian takut telat.


Setibanya dirumah Rian, Reva nampak terkagum-kagum dengan bangunan rumah Rian yang mewah, kokoh dan bergaya klasik. Mereka tiba pukul 18.45 wib, Reva dan Dian masuk.


Hanya ada beberapa orang yang dikenal Reva, itu juga karena mereka anggota OSIS dan beberapa kakak kelas lainnya. Reva terus membuntuti langkah Dian, dia merasa asing dan canggung.


" Hai, kak Dian datang juga" Suara seorang gadis yang memanggil Dian mengejutkan langkahnya dan Reva.


" Ehh, Niken. Iya aku diundang oleh kak Rian, kenalin ini Reva, kita sama-sama anggota OSIS jadi kak Rian mengundang kami"


Reva dan Niken berjabat tangan saling memperkenalkan nama masing-masing. Niken nampak kagum pada Reva. Cantik, sederhana, dan ramah itu penilaiannya.


" Kak Dian cewek kakak cantik" bisik Niken ditelinga Dian. Membuat mata Dian melotot.


" Ehh, ngawur aja, dia buka cewek kakak" belanya.


" Halah, bohong, jujur aja dong kak, masak cewek sendiri gak diakuin" Niken masih mengeyel. Reva hanya tersenyum melihat perdebatan mereka.


" Beneran Reva bukan pacarku, tapi pacar kakakmu" ucapan Dian membuat Reva dan Niken terkejut, " Dian" Reva.


" Ap..apa, pacar kak Raditia, beneran kak Reva pacar kak Raditia, si cemen punya pacar, jangan bercanda kak Dian, hahaha" Niken malah tertawa tak percaya.


Secara dia tak sekali pun melihat kakaknya dengan seorang gadis, jangankan mempunyai hubungan lebih. Berteman saja hanya dengan laki-laki. Tiba-tiba kakaknya mempunyai pacar, dan itu Reva gadis secantik Reva, ah..yang benar saja.


" Sebenernya aku dan Raditia belum pacaran Niken, hanya masih berteman baik" jelas Reva.


" Oh, benarkah. Bagus itu, setidaknya kakakku ada kemajuan. Dia mau membuka hatinya meski baru sekedar berteman" jelasnya.


" Niken, bicara dengan siapa?" Tiba-tiba seseorang datang menghampiri dari arah belakang Dian dan Reva.


" Kakak, ini ada kak Dian dan kak Reva"


Reva membalikkan badannya matanya tertuju pada sosok pria sangat tampan memakai kemeja warna maroon dengan lengan digulung keatas, celana jens, memakai sepatu kets warna putih.


Mata mereka saling bertemu, memperhatikan satu sama lain. Tersirat kekaguman dari sorot mata keduannya. Mereka berpandangan cukup lama.


" Tuh kan kita jadi obat nyamuk disini" bisik Dian pada Niken.


" Benar juga kak, mereka berdua memang saling menyukai"


" Emggg, emggg, permisi apa ada orang disini" ucap Dian membuyarkan lamunan keduanya.


" Kak Reva cantik ya, kalau gak cepet-cepet jadiin pacar keburu diambil orang" ucap Nike pada Raditia.


" Ussttt, anak kecil tau apa? Bicara pun suka ngawur" ucap Raditia salah tingkah. Reva tertunduk malu.


" Kakak Niken kan bukan anak kecil lagi, liat Niken cocok juga kan kalau jalan sama kak Dian, pasti semua orang mengira kita sepasang kekasih" Niken merangkul lengan Dian.


Sedari tadi Dian terdiam dadanya berdegup kencang, mukanya memerah seperti terbakar. Terang saja gadis kecil yang disukainya mengatakan semua itu dengan begitu mudahnya. Meski hanya suatu perkiraan tapi kata-kata Niken mampu membius Dian.


" Benar juga, kalian serasi" Tambah Reva membuat Dian semakin gugup. " Rasain kamu" ucap Reva dalam hati.


" Ahh, gak aku izinin kamu sama Niken, kamu terlalu bar-bar. Apa jadinya Niken jika bersamamu" Raditia.


" Keterlaluan lu Radit, liat saja kelak akan aku culik adik cantik mu ini" Dian merangkul pundak Niken.


Niken hanya tersenyum karena perdebatan antara dua laki-laki dihadapannya. Raditia langsung menarik lengan Niken dan memelukanya.


" Berani kau lakukan itu akan ku hajar kau" ucap Raditia dengan nada mengancam.


" Mampun bos, ampun🙏🏻" ucapan Dian, membuat mereka tertawa.


" REVA" seseorang memanggil Reva, seketika suasana menjadi hening, mereka semua terdiam, menoleh ke sumber suara itu.


.


.


.


.


Gak terasa udah 21 episode ya kakak, maaf jika saya telat-telat up nya🙏🏻

__ADS_1


Terima Kasih yang masih setia menunggu cerita Reva dan Raditia.


__ADS_2