Arti Sebuah Hubungan

Arti Sebuah Hubungan
Episode 34 - Teman


__ADS_3

" Em, bunga lagi" gumam Reva sembari mengerutkan dahinya.


Ini sudah ke enam kalinya Reva mendapatkan setangkai mawar merah. Entah siapa yang dengan sengaja menaruhnya dimeja, Reva tak mengetahui orangnya.


" Permisi, apa kalian melihat siapa yang menaruhnya" tanya Reva kepada salah satu teman kelasnya, yang datang lebih dulu.


" Maaf kami tidak tau" ucap teman kelasnya.


" Em, baiklah terima kasih" Reva tersenyum ramah, dan menaruh bunga marah itu dikolong meja.


" Hay Reva" tiba-tiba saja seseorang menarik kurus dan duduk dihadapannya.


" Humz" Reva hanya melirik kearah pemilik suara.


" Apa loe suka dengan bunganya" ucapnya lagi, mencoba mengalihkan pandangan Reva agar melihatnya.


" Biasa saja" nada Reva terdengar ketus.


Mungkin akan berbeda lagi jika bunga itu yang memberi adalah Raditia. Pasti hati Reva akan ikut merekah indah karena bahagia. Dan akan menaruh bunga itu tetap disisi tempat tidurnya. Agar setiap saat ia dapat mencium harum aromanya.


" Jadi loe gak suka, apa loe mau yang lain" mesti sedikit kesal, tapi lelaki tak pantang untuk mundur.


" Tidak perlu" lagi Reva ketus padanya.


" Tapi gue akan dengan senang menuruti apa yang loe mau"


" Benar kah"


" Jelas benar dong, bilang sekarang apa yang loe mau" ucap Tara penuh semangat.


" Pergilah dari sini, dan jangan menggangguku lagi" mendengar Reva mengusirnya membuat kedua bola matanya membulat sempurna.


" Apa, kenapa malah menyuruh ku untuk pergi" nada tara meninggi.


" Selamat pagi anak-anak. Persiapkan presentasi kalian untuk hari ini" Tiba-tiba saja seorang dosen datang.


" Eh, pak dosen. Selamat pagi pak" sapa Tara dengan gaya tengilnya.


" Kenapa kamu ada disini, balik ke kelas mu sekarang" perintah sang dosen.


" Baiklah, baiklah. Permisi pak dosen" Tara berlalu begitu saja.

__ADS_1


" Untung saja dosen segera datang, kalau tidak pasti dia akan terus menggangguku"


Angan Reva tiba-tiba saja kembali lagi ke Raditia. Apa ini akhir dari hubungan mereka, apa yang sebenarnya Raditia inginkan. Apa ini semacam pengujian cinta, atau Raditia sudah benar-benar melupakannya.


" Huhf, ayolah Reva. Fokus, fokus sama kuliah mu. Jangan sampai mengecewakan Ayah, dan membuatnya sedih" Reva mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Jadwal hari ini hanya satu mata kuliah saja, itu berarti Reva akan pulang lebih awal. Dan seperti biasa sepulang dari kampus, Reva akan ke kantin membantu Bu Arum.


Reva keluar dari kelas setelah dosen mengakhiri mata kuliahnya. Reva berjalan melewati kelas fakultas hukum yang masih dipenuhi oleh mahasiswa. Itu tanda Tria masih ada didalam. Dan tiba-tiba saja.


" Emhgg, emhgg...." Mulus Reva dibungkam seseorang, dan ditariknya tubuh Reva ke sisi sudut ruang kelas yang kosong.


" Diamlah Reva" Bentak seseorang padanya. Reva pun terdiam dan tak sedikit pun bergerak.


" Sebenarnya apa mau hah, apa kamu sudah gila" Dengan nafas tersengal-sengal, Reva mencoba mengatur ritme bicaranya.


" Oke, oke. Gue minta maaf. Gue cuma mau bicara sama loe"


" Tapi bukan seperti ini caranya. Tingkahmu mirip preman" ujar Reva kesal, karena paksaan dari Tara.


" Gue kayak gini itu karena udah gak ada cara lain. Kalau gue minta baik-baik pun, elo pasti ngindari gue, ya kan"


" Pertama gue minta maaf sama loe, untuk kejadian di kantin kemaren. Kedua gue mau kenal loe lebih jauh lagi. Dan yang ketiga gue mau loe jadi pacar gue" Reva hanya terngangah, menggeleng tak percaya dengan permintaan Tara.


" Heh, malah diem aja. Jawab dong" tambah Tara. Reva menghela nafas panjang.


" Pertama aku udah maafin kamu. Kedua gak perlu mengenalku untuk lebih jauh lagi. Ketiga aku gak butuh pacar" Selesai menjelaskan Reva ingin pergi malah dihalangi oleh Tara.


" Tunggu" Nada Tara terdengar mengancam.


" Ada apa lagi, lepaskan aku. Biarkan aku pergi" Tara memegang pergelangan cukup erat.


" Kenapa loe gak mau pacaran, apa loe udah punya pacar"


" Itu bukan urusanmu, lepaskan aku"


" Sekarang itu akan menjadi urusan gue. Karena gue suka sama loe"


" Terserah. Tapi aku tak berminat menjelaskan apa pun padamu. Lepaskan aku sekarang juga, atau aku akan berteriak"


" Berteriak lah, teriak yang kencang. Karena jika orang lain tau, itu artinya loe gak bisa lagi jauh dari gue"

__ADS_1


" Ke..kenapa seperti itu"


" Karena apa yang gue mau itu yang terjadi. Dan gak ada yang berani ikut campur dengan urusan gue"


Nyali Reva menjadi ciut, ia memutar otak agar selamat dari cengkeraman Tara. Tapi apa, apa yang harus Reva perbuat. Ingin rasanya Reva menonjok muka Tara dan menendang alat vitalnya. Agar ia terbebas dari manusia rusuh macam Tara.


" Baiklah, ini tawaran terakhirku. Jika mau jadilah temanku. Aku tak menerima penolakan, dan tak ingin memperumit masalah ini" semoga ini keputusan yang baik, itu yang Reva pikirkan


" Te..teman, o..oke, oke. Untuk saat ini gue terima tawaran loe. Dan sebagai seorang teman berarti gue boleh dong minta nomor hp loe" Meski tak suka dengan tawaran yang Reva buat, tapi Tara tetap tak ingin rugi.


" Huhf, baiklah. Cepat catet nomerku" Reva terpaksa memberikan nomernya, ia tak tahan lagi dengan sikap Tara.


" Thaks girl. Muachhh, muachh, muachhh...." Tara mencium ponselnya sendiri. Dan saat itu juga Reva guna untuk kabur dari Tara. Reva berlari menuju kantin.


" Dasar gila, benar-benar gak waras" Reva bergumam atas perbuatan Tara.


" Ada apa nak, sepertinya kamu lagi ada masalah"


" Itu Bu si Tara, ngancem-ngancem saya Bu. Bikin kesal saja, Reva gak suka sama sikap orogannya Bu"


" Astaga, benar kah. Apa sesuatu sudah terjadi padamu nak. Apa kamu baik-baik saja?!" nampak kecemasan diwajah Bu Arum.


" Reva gak papa Bu, hanya saja Reva gak suka dipaksa Bu. Awalnya minta maaf, eh.. ujung-ujungnya ada maunya"


" Kamu sudah di apain nak. Bilang sama ibu, nanti ibu akan lapor ke Dekan"


" Alhamdulillah Reva baik-baik saja Bu, Tara minta Reva jadi pacarnya. Tapi Reva gak mau, akhirnya Reva minta kita berteman saja. Dan Tara malah minta nomor hp. Ya udah Reva kasih Bu, terus Reva kabur dari dia"


" Syukur Alhamdulillah, kamu gak papa nak Reva. Ibu sudah cemas dari tadi, lain kali berhati-hati ya nak"


" Iya Bu pasti" ucap Reva tegas.


" Sama-sama nak Reva, kamu sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri. Disini ibu akan menjaga dan menyayangimu"


" Terima kasih Bu, terima kasih" Reva memeluk Bu Arum, dengan penuh sayang. Bu Arum juga tak kalah hangatnya memeluk Reva.


*****


Semenjak Tara mendapatkan nomor hp Reva, ia tak henti-hentinya menghubungi Reva. Entah itu sekedar chat basa-basi, tau panggilan video. Namun semua yang dilakukan Tara tak pernah Reva tanggapi.


Happy reading 🤗

__ADS_1


__ADS_2