
" Lepaskan Reva" Tara mendekat dan menarik tangan Reva. Belum sempat Tara meraih tangan Reva lelaki itu menepis tangan Tara dengan tangannya.
" Jangan pernah lagi kau berani memegang Reva dengan tanganmu yang menjijikkan itu Tara"
" Rian loe jangan ikut campur. Ini masalah gue sama Reva"
" Rian" jantung Reva berdesir. Ia melihat sekilas sosok lelaki itu dengan ekor matanya.
" Kalau sudah menyangkut Reva. Itu artinya menjadi urusanku juga. Jadi kau jangan macam-macam"
" Persetan denganmu" Tara melayangkan satu pukul ke arah Rian. Dengan sigap Rian berhasil menangkap tangan Tara. Dan dengan cepat pula Rian melayangkan satu pukulan ke wajah Tara. Yang membuat Tara tumbang dan tersungkur di tanah.
Brakkk
" Reva, ayo masuk. Tunggu aku di mobil ya. Aku akan selesaikan masalah ini" Rian membukakan pintu dan memapah Reva masuk dan duduk.
" Kak Rian" Reva bergumam namun Rian mendengarnya.
" Iya Ree. Ini aku, aku bersamamu" Rian buru-buru menutup pintu mobilnya, karena Tara sudah berdiri dibelakangnya dan siap melayangkan satu pukulan kepada Rian.
Bugh... Sayangnya Rian telat menghindar, Tara membuat sudut bibir Rian berdarah.
" Pecundang" Tara melontarkan kata itu dan tertawa cukup keras.
Tanpa ada aba-aba Rian menendang perut Tara, membuat tubuh Tara gontai. Rian berjalan mendekati Tara, meraih kerah jaket Tara.
Bugh, bugh, bugh....
Rian tanpa ampun memukuli wajah Tara hingga babak belur.
" Ini untuk Reva. Karena kau sudah berani membuatnya seperti itu. Dasar berengsek"
Bugh...
" Hay, nak hentikan. Nanti dia bisa mati" Datang beberapa bapak-bapak tetangga rumah Reva.
Satu bapak-bapak menolong Tara. Dua lainnya memegangi Rian yang belum puas memberi pelajaran kepada Tara.
" Lepaskan saya pak. Lelaki ini sudah berani-beraninya melecehkan adik saya"
" Tenang nak, tenang. Kita serahkan saja kepada pihak yang berwajib" Emosi Rian mulai mereda mendengar nasehat yang bapak-bapak itu berikan.
" Baik pak. Terima Kasih" Rian menghubungi polisi.
Beberapa menit kemudian polisi datang, dan membawa Tara yang wajahnya nampak babak belur. Rian memberikan kesaksi kepada polisi tentang laporannya.
" Lain kali jaga adikmu baik-baik ya nak. Lingkungan sini memang bebas, jadi siapa saja biasa masuk"
" Iya pak Terima Kasih"
Setelah mobil polisi pergi Rian menghampiri Reva yang tak henti-hentinya menangis.
" Kita balik ke kosan" ajak Rian. Namun Reva menggelengkan kepalanya.
" Baiklah, kita ke rumah nenekku saja. Apa kamu mau" Reva hanya terdiam.
" Diammu itu aku anggap kamu mengiyakan ajakku Ree. Aku akan mengambil beberapa barang-barangmu dulu. Lalu kita pergi"
Tanpa mendapat persetujuan lagi, Rian keluar dari mobil menuju kosan Reva. Ia mengambil tas Reva, dan mengunci pintu rumah.
Rian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Reva terdiam melihat kearah luar jendela mobil. Tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
Setengah jam kemudian mobil Rian memasuki area perumahan elit yang asri. Terlihat bangunan-bangunan kokoh berjejer rapi.
Seorang satpam membukakan pintu gerbang. Mobil Rian masuk disalah satu rumah yang berpagar besi menjulang tinggi.
Rumah besar berwarna putih berpadu cream, dengan aksen klasik. Membuat bangunan itu nampak mewah. Pemandangan di sekitarnya pun terlihat indah dan segar.
" Ayo turun, kita masuk. Nenek pasti senang melihatmu" Reva hanya menatap Rian heran.
Kenapa Neneknya harus senang melihat Reva. Mana mungkin Nenek menyukai wanita yang telah ternoda.
__ADS_1
Bik Jum membuka pintu rumah. Ia melihat Reva dari atas kebawah, dari bawah keatas. Tatap matanya penuh penilaian.
" Bik nenek ada" suara Rian membuyarkan pandangan bik Jum.
" Iy-iya ada mas Rian. Eyang putri masih menunaikan sholat dhuhur mas"
" Ya sudah. Antar Reva ke kamar tamu ya bik"
" Baik mas Rian"
" Mari mbak Reva" namun Reva hanya terdiam menatap Rian.
" Gak pa-pa Ree. bik Jum akan membantumu. Kalau butuh sesuatu panggil bik Jum ya. Atau panggil aku juga gak pa-pa"
" Hem" Reva mengangguk.
" Mari mbak" bik Jum menunjukan kamar tamu dan mempersilahkan Reva masuk.
Reva menatap kamar yang luas dihadapannya.
" Mbak Reva, Bibik sudah siapkan air hangatnya. Sebaiknya mbak mandi dulu"
" Te-terima kasih bik" Reva dengan sungkan masuk ke kamar mandi.
bik Jum keluar dari kamar tamu. Berjalan ke arah dapur. Untuk mempersiapkan makan siang.
" Bik. Reva bagaimana?"
" Mbak Reva sedang mandi mas Rian"
" Reva! Reva sopo lee? awakmu gowo bocah muleh rene" tiba-tiba saja Nenek muncul dari balik dapur. Nama itu tak asing lagi bagi nenek Sukma.
" Eh, Nenek. Iya nek, Rian bawa Reva pulang kesini. Gak pa-pa kan nek. Reva barusan terkena musibah nek"
" Ya Allah. Musibah opo Lee. Lah terus piye keadaane bocah e saiki Lee? Ora popo tow bocah e?" nenek Sukma terlihat sangat cemas.
" Alhamdulillah Reva baik-baik saja nek. Hanya saja kondisi batin Reva yang kurang baik nek"
" Reva di kamar tamu nek. Sedang mandi"
Brakkk, cring....
" Suoro opo kae Lee?"
Terdengar suara barang jatuh dari kamar tamu.
" Reva" Rian berlari dan masuk begitu saja karena kamar tidak dikunci. Tanpa berpikir panjang ia menuju kamar mandi. Ia takut terjadi sesuatu pada diri Reva.
" Reva, Reva. kamu kenapa. Reva. Ree jawab aku. Reva." Rian menggedor-gedor pintu kamar mandi namun tak ada jawaban dari dalam. Hanya terdengar suara air bergemericik.
" Dobrakken Lee. Aku wedi enek opo-opo nek njero kono"
" Bik Jum. Saya akan dobrak. Tolong setelah itu Bibik lihat kondisi Reva"
" Baik mas Rian"
Rian terus berusaha membenturkan tubuhnya pada pintu. Hingga beberapa kali. Dan..
BRAKK
Pintu terbuka lebar, Rian langsung memalingkan wajahnya. Menyuruh bik Jum masuk memeriksa kondisi Reva. Nenek Sukma ikut masuk kedalam.
" Ya Allah nduk! Lee mlebuo. Cepat iki angkaten Reva Lee."
Mendapat perintah dari Nenek Sukma, Rian segara masuk kedalam. Bik Jum mengambil handuk dan menutupi baju Reva yang basah kuyup.
Rian membaringkan tubuh Reva di tempat tidur. Kondisi Reva nampak tak baik-baik saja. Wajahnya terlihat pucat. Bibirnya terlihat biru, tubuhnya sangat dingin.
" Bik, tolong ganti baju Reva. Saya akan hubungi dokter dulu" Rian keluar dari kamar dan menelpon dokter pribadi keluarga nenek Sukma.
" Reva, Reva. Kok dadi koyok ngene nduk. Kenek opo kok ngelarani awakmu diwe ngono kui" gumam Nenek Sukma sembari mengompres dahi Reva dengan air hangat.
__ADS_1
Setelah selesai mengganti baju Reva. Bik Jum menyelimuti tubuh Reva dengan selimut berbulu tebal.
" Jum gawekno teh anget. Karo bubur yo"
" Sendiko Eyang putri" bik Jum keluar, di depan pintu Rian berdiri dengan wajah penuh kecemasan.
" Bagaimana bik?"
" Sudah mas. Mas Rian bisa masuk" tanpa menjawab Rian bergegas masuk.
" Piye Lee doktere?"
" Sudah Nek. Dokter Irwan perjalanan kesini" Rian duduk disamping ranjang Reva.
Rian menggenggam tangan Reva. Menciumi punggung tangan Reva yang terasa dingin. Kesedihan nampak jelas di wajah Rian.
" Ree, kenapa kamu jadi begini. Kenapa kamu menghukum dirimu sendiri seperti ini Ree. Ree bangun. Cepatlah bangun. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Aku tak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi padamu"
" Sak tenane Reva kenek opo Lee? Kok Sampek koyok ngene bocah e"
" Reva hampir saja dilecehkan teman kampusnya Nek. Untung saja Rian datang disaat yang tetap. Rian menghajar lelaki berengsek itu dan melaporkannya kepolisi Nek?"
" Walah nduk, malang temen nasibmu"
" Nenek tidak keberatan bukan. Jika Reva tinggal dengan kita sampai ia lulus kuliah. Aku takut jika dia kembali ke kosan. Lelaki itu akan menggangunya kembali nek"
" Dengan senang hati Lee nenek menerima Reva tinggal di sini. Tapi nenek tidak bisa menerima Reva tanpa status yang jelas Lee. Kamu harus memperjelas hubungan kalian"
" Tapi nek. Reva masih ada hubungan dengan Raditia. Mana mungkin Rian menjadi orang ketiga diantara mereka"
" Kalau masalah itu tunggu Reva siuman dulu saja. Biarkan Reva yang memutuskan"
" Permisi nyonya besar" Dokter Irwan masuk dengan membawa tas berukuran sedang.
" Silahkan masuk dokter Irwan. Tolong dokter periksa teman saya"
" Baik Tuan"
Dokter Irwan mengeluarkan beberapa peralatan. Dan mulai memeriksa kondisi Reva. Setelah selesai memeriksa kondisi Reva. Dokter Irwan menjelaskan bahwa kondisi Reva kurang baik. Dokter Irwan menulis beberapa resep obat dan menyerahkan kepada Rian.
" Jangan biarkan nona sendirian. Dia harus selalu ditemani. Kondisi nona cukup menghawatirkan. Dia sedang depresi hebat"
" Baik dokter"
" Jangan lupa tebus obatnya. Dan segera minumkan setelah nona siuman"
" Baik dok"
" Kalau begitu saya permisi Tuan, dan Nyonya Besar"
" Iya dokter. Terima Kasih" Rian mengantar dokter Irwan keluar, dan ia bergegas ke rumah sakit untuk menebus obat.
Nenek Sukma menjaga Reva ditemani oleh bik Jum. Sayup-sayup rasa ngantuk yang nenek Sukma rasakan. Bik Jum melihat nenek yang mulai mengantuk.
" Maaf, Eyang putri istirahat di kamar saja. Biar saya yang menjaga mbak Reva"
" Tidak apa Jum. Saya akan tetap disini menjaga calon cucu mantuku"
" Maksud Eyang putri?" seperti tau arah pertanyaan bik Jum, nenek Sukma tersenyum.
" Aku sudah mendengar banyak tentang anak ini dari cucu-cucuku. Entah Raditia atau Rian yang mendampinginya kelak. Anak ini akan saya pastikan menjadi menantu di keluarga besarku"
" Benarkah ini Eyang putri? Kalau dari penilaian saya mbak Reva ini orangnya baik. Tapi kasihan juga, karena musibah yang baru saja terjadi padanya"
" Iya kamu benar Jum. Tapi tidak apa dia sangat pantas bersanding dengan salah satu cucuku. Ini semua musibah diluar dugaan. Seperti Rian juga sangat menyukai Reva"
" Dilihat-lihat si begitu Eyang. Mas Rian langsung pucat melihat mbak Reva pingsan"
" Iya Jum. Anak muda jaman sekarang mudah ditebak kalau soal cinta"
" Eyang putri bisa aja" bik Jum tersenyum, nenek Sukma terus mengompres dahi Reva dengan air hangat. Dan mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh bagian tubuh Reva.
__ADS_1
Happy Readingš¢