
Tak terasa setalah disibukkan dengan ulangan kenaikan kelas (Akhir Semester), dan sekolah libur 2 minggu. Kini sekolah masuk kembali seperti biasa.
Anak murid Kelas XII menunggu dengan harap-harap cemas pengumuman kelulusan mereka. Sedangkan kelas X naik kekelas XI disibukkan mengurus kejurusan yang dipilih.
Di rapot kenaikan kelas sudah tertulis jelas mereka akan masuk di jurusan masing-masing yang tertera disana. Namun untuk tahun ini terlihat berbeda. Banyak murid yang tak setuju untuk masuk ke jurusan yang sudah tertera pada Rapot. Staf guru pusing memikirkan permintaan murid-murid nya.
" Astaga, tidak-tidak... Aku gak mau pokoknya aku gak mau..." Jerit Reva kesal melihat tulisan dalam rapotnya.
" Kamu kenapa Ree" Ucap ketiga sahabatnya.
" Lihatlah aku masuk ke jurusan ilmu pengetauan alam (IPA), matilah aku" ucapnya pasrah.
" Terang saja Reva nilai-nilai mu lebih unggul di pelajaran IPA, terima saja lah" Ucap Tria, meneliti hasil ulangan Reva.
" Itu kebetulan Tria, bisa stres penuh angka otakku ini jika aku masuk disana, ya tuhan" keluhnya sedih.
" Tapi dulu kamu pilih jurusan IPS kan Reva" tanya Eka.
" Iya aku isi formulir dengan jelas aku ambil ke jurusan IPS, ehh...ayo ikut aku Eka" Reva menarik tangan Eka untuk mengikutinya, sepertinya ia mendapatkan wangsit,hehehe.
" Hay kalian mau kemana?" tanya Tria
" Sebentar aku mau ke ruang TU, kalian tunggu saja dikantin atau dikelas" ucap Reva terus melangkahkan kakinya.
" Ngapain kita kesana Ree" tanya Eka penasaran.
" Aku mau protes, hehehe"
" Kamu gak bercanda kan"
" Tentu saja tidak, nanti ikuti saja kata-kataku, oke"
" Em.. Baiklah, mesti aku kurang faham apa maksudmu" Eka masih tak mengerti apa rencana Reva.
Reva berjalan menuju Ruang Guru, ia masuk ke ruangan yang tertulis Ruang TU. Reva mengetok pintu rungan itu.
Tokkk...tok...tok...
" Masuk.." Suara guru dari dalam, Reva dan Eka membuka pintu dan masuk.
" Lhow Reva, ada apa nak?" Tanya bu Fatma, selaku guru bimbingan konseling.
" Bu kedatangan saya kesini, saya ingin mengajukan pindah jurusan" ucap yang tegas, sembari memberi buku rapotnya kepada bu fatma.
" Memang kamu masuk di jurusan apa nak?"
" Saya masuk ke jurusan IPA, saya gak mau, saya mau pindah ke jurusan IPS saja"
" Lho kenapa?, padahal banyak siswa-siswi yang minat masuk ke jurusan IPA, kamu malah ingin pidah jurusan"
" Percuma kalau saya masuk ke sana tapi otak saya tak sampai sana bu"
" Tapi ini nilaimu bagus-bagus Reva" bu fatma melihat hasil nilai ulangan Reva.
" Iya itu kebetulan bu, apa ibu mau saya stres dan jatuh sakit karena otak saya penuh dengan angka dan rumus yang saya tidak mengerti sama sekali bu"
" Sudah pasti ibu tak ingin anak didiknya sampai sakit Reva, apa kamu sudah bener mempertimbangkan nya" ucap bu fatma guru yang sabar dan penuh perhatian.
" Sudah bu, dan lagi kasihan Eka bu dia dikelas itu sendirian tak ada yang dikenalnya" Reva menyenggol bahu Eka, ulah Reva mengagetkannya.
" Ehhh... Iy..iya bu, cuma saya salah satu siswi dari kelas X-1 yang masuk jurusan IPS bu, gak ada teman yang saya kenal disana, dan lagi saya hanya sendiri, beta malangnya nasibku" Reva cekikikan tak disangka Eka pintar mendrama.
__ADS_1
" Baiklah, sebentar saya sampai ke bapak kepala sekolah dulu, dan bapak ibu guru yang lain, tunggu disini sebentar ya" Bu Fatma meninggalkan Reva dan Eka diruangannya.
" Gak nyangka kamu drama sekali Kaa" ucapnya masih heran karena Eka.
" Kita harus totalitas bukan, hehehe" perbincangan mereka dikejutkan suara ketokan pintu dari luar.
" Iya, masuk.." jawab Reva, Reva terkejut melihat siapa yang masuk ke ruangan TU.
" Reva" ucap Raditia sama terkejutnya.
" Raditia, ngapain kamu kesini?" jawab Reva
" Ini Dian mau pindah ke kelasku"
" Nah, elu ngapain disini Ree?" Dian
" Iya kamu ada perlu apa kesini Ree?" Raditia
" Mau pindah jurusan" jawabnya santai.
" Lhah elu, ikut-ikut aja Ree" Dian
" Siapa yang ngikutin kamu, jelas-jelas aku kesini duluan, lagian aku gak minat masuk ke jurusan IPA, wekkk..." jelasnya mencibir Dian.
" Terus kamu pindah ke mana?" tanya Raditia
" Pindah ke kelasmu, hehehe" Reva tertawa menggoda. Sejujurnya Reva tak tau Raditia masuk ke jurusan apa, karena sibuk dengan urusannya sendiri dia tak tau tentang Raditia.
" Kamu serius?" Raditia masih tak percaya yang dikatakan Reva. Tiba-tiba bu Fatma masuk.
" Lho, ngapain kalian ada disini?" Tanya bu fatma yang terkejut melihat Raditia dan Dian.
" Ya tuhan, anak-anak kenapa kalian bikin ibu pusing" Bu fatma mengeluh dengan memegang kepalanya.
" Maaf bu" Ucap Reva dan Dian.
" Humm... Sudahlah tak apa. Oh ya Reva ibu sudah pindahkan kamu ke Jurusan IPS-1 ya, kamu satu kelas dengan Eka" Bu fatma memberikan absensi baru yang sudah tercetak namanya.
Raditia terkejut setengah mati, ternyata benar kata Reva, kalau dia masuk ke kelasnya, ya tuhan ini takdir😅. Reva terjekut terlihat raut wajahnya berubah.
" Raditia Putra" Gumamnya melihat nama pada absensi yang tepat di atas kolom nama Reva. Mereka saling menatap satu sama lain.
Reva tersenyum pada Raditia, entah kebetulan atau takdir mereka satu kelas lagi. Namun wajah Raditia terlihat datar tak terbaca.
Bu fatma menjelaskan pada mereka berempat, Reva dan Dian dapat masuk ke jurusan IPS. Karena ada beberapa anak dari jurusan IPS yang mau pindah ke jurusan IPA.
Meski nilainya dibawah standar untuk masuk ke jurusan IPA. Kepala sekolah memberi kesempatan karena tak ingin jurusan IPA memiliki murid yang sedikit jauh di bawah perkiraannya.
Reva berpelukan dengan Eka akhirnya mereka sekelas lagi. Mereka pun meninggalkan Raditia dan Dian yang masih dalam ruangan.
" Oh ya Ree seingatku aku belum bilang kalau Raditia satu kelas denganku, tapi kenapa tadi kamu bisa bilang mau pindah satu kelas dengannya" tanya Eka
" Jujur saja niatku tadi bercanda, aku juga belum tau dia masuk jurusan apa, hehehe" Reva tertawa konyol.
" Tapi bercandamu jadi kenyataan, kini kita akan kekesal lagi"
" Benar juga, hehe"
Hari ini penuh drama, banyak siswa siswi yang mengajukan pindah jurusan. Karena tak seperti keinginan mereka.
" Ree, pulang dengan ya" ajak Raditia.
__ADS_1
" Baiklah" Reva berpisah dengan sahabatnya di halaman sekolah, ia naik di motor Raditia.
" Kami duluan ya" pamit Raditia melajukan motornya. Mereka bertiga melambaikan tangan pada Reva.
" Oh ya maaf, tadi pagi telad jadi gak bisa jemput kamu"
" Iya gak papa"
" Kita makan siang di warung pak Toha mau?" ajaknya
" Iyha mau" Reva mengangguk dengan penuh semangat.
Raditia pun melajukan motornya lebih kencang, Reva berpegangan pada Raditia. Beberapa menit kemudian mereka sampai di warung pak Toha.
" Ehh, Nak Raditia" sapa pak Toha yang sedang meracik pesanan pelanggan lain.
" Iya pak, pesan seperti biasanya ya pak" ucap Raditia, Reva yang berada dibelakang Raditia tersenyum menyapa pak Toha yang melihat keberadaanya.
" Shiap nak Raditia"
Mereka berjalan menuju meja kosong yang berapa di pojokan, dekat jendela. Karena warung sedang ramai pengunjung, mereka harus antri menunggu pesanan mereka lebih lama.
" Reva kenapa kamu pindah jurusan, sudah bagus-bagus masuk ke jurusan IPA"
" Kamu kan tau aku kurang suka dengan hitung-menghitung, bikin pusing"
" Terus kenapa pilih pindah satu kelas denganku"
" Kenapa kamu gak suka ya, jujur saja aku tadi hanya bercanda, aku tak tau ternyata kamu satu kelas dengan Eka. Niatku pindah karena aku gak suka jurusan IPA"
" Ow... Bukannya aku tak suka. Aku pikir tak satu kelas denganmu aku akan lebih bebas lagi, dan bisa bolos kapan pun aku mau, hehehe"
" Oh... Dasar" Reva mencubit lengan Raditia yang duduk disebelahnya.
" Aww...aww.. Sakit Ree"
" Biarin, Niatmu sudah jelek makanya Tuhan tak mengabulkannya"
" Tapi ada baiknya juga kita satu kelas lagi"
" Kenapa, kan kamu gak suka" ucap Reva cemberut.
" Siapa bilang, aku sangat senang, karena 2th ke depan aku mempunyai sekertaris pribadi untuk tugas-tugasku, hahaha"
" Ahh.... Dasar, jahat sekali" keluh Reva dengan wajah cemberut.
" Kenapa, kalau tak mau berarti aku boleh lakukan apa pun nantinya, ah.. senang sekali" Raditia terlihat puas menggoda Reva.
" Jangan harap, aku akan terus mengawasi mu" ucap Reva dengan nada mengancam.
" Siapa takut, wekkk..." cibir Raditia menggoda.
" Anak-anak ini pesanannya datang, maaf ya sedik lama" pak Toha datang membawa dua mangkok berisi mie Ayam.
" Tak apa pak Toha, kami setia menunggu" ucap Reva.
" Selamat makan ya" ucap pak Toha lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Reva dan Raditia mengakhiri perdebatan mereka. Kini saatnya menyantap makanan yang sudah ia tunggu sedari tadi. Mereka menikmati makannya tanpa sepatah kata pun.
🤗
__ADS_1