ASISTEN PRIBADI RASA ISTRI

ASISTEN PRIBADI RASA ISTRI
Part 10 {Doubel Date}


__ADS_3

"Sayang kita jadikan berlibur ke vila mu?" tanya Stella dengan manja.


"Kenapa? apakah tidak jadi?" tanyaku balik kepada Stella yang sedang duduk dimeja rias menyisir rambutnya.


Stella tampak menggelengkan kepalanya, "Aku berniat mengajak Anna dan kekasihnya itu. apakah boleh?"


aku menghela nafas berat, "Terserah." aku bangkit dari tidurku dengan telanjang karena tadi malam aku dan Stella baru saja melakukan kegiatan panas bersama.


ku tutup pintu kamar mandi, lalu menyalakan shower dan air dingin mengalir membasahi tubuhku. aku memejamkan mataku, entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi selalu memikirkan Anna.


Ada rasa sedikit tidak suka saat melihat Anna bersama dengan kekasihnya yang tuli itu. Apakah ia mulai menyukai Anna? tidak mungkin, ia hanya mencintai Stella tidak dengan wanita lainnya.


"Akh...sial. mengapa aku memikirkan dia sih." Raung ku kesal.


__________________❤️❤️❤️___________________


Aku turun ke bawah berniat membuat kopi. Aku berjalan menuju dapur namun aku berhenti saat mendapat Anna sedang berada disana.


"Eh bos mau apa? mau saya buatkan kopi?" ternyata dia menyadari keberadaan ku.


"Boleh." jawabku seadanya karena memang keniatan ku ke bawah mau meminta di buatkan kopi kepada pelayan ku.


aku berdiri disampingnya, tiba-tiba mataku menatap sesuatu yang asing pada leher Anna. Sontak aku menyentuhnya dengan pelan. Kenapa bisa ada tanda merah seperti ini? apakah?.


"Akh...bos ini membuat saya malu saja." aku semakin heran dengan sikapnya yang tiba-tiba saja menjadi malu-malu.


"Apa maksudmu?" tanyaku dengan singkat. Ia menghadap ke arahku dengan sorot mata yang tampak bahagia.


"Saya sudah melepas status gadis saya, sekarang saya menjadi wanita. Yeye....senang sekali rasanya saya bos...." teriaknya kegirangan bahkan sampai berjoget kecil di depanku.


Mendengar penjelasannya aku melototkan mataku, seketika jantungnya berhenti berdetak untuk sementara detik. Dadaku terasa nyeri mendengar ucapannya barusan.


Melepas status gadis? berubah menjadi wanita? berarti mereka sudah melakukan itu kan?.


kenapa ia merasakan marah, cemburu, kecewa disaat yang bersamaan padahal ini bukanlah hal yang perlu di khawatirkan. entahlah dia akhir-akhir ini semakin binggung dibuatnya.


"Ah kalian sudah melakukannya?" ucapku dengan senyum tipis. Dia membalasnya dengan senyum hangatnya.


"Anda tahu bos, saya sangat mencintai kekasih saya. Hanya saya satu-satunya orang yang menjadi sandaran baginya, ayahnya meninggal saat dia berusia 5 tahun lalu ibunya meninggal 1 bulan yang lalu. sekarang dia menjadi yatim piatu."


mendengar ceritanya aku menjadi kasihan. melihat wajah Anna yang tampak teduh membuat aku merasakan sesuatu perasaan yang belum pernah aku rasakan.


"Disaat semua orang mengejeknya dan menjatuhkan harga dirinya karena kecacatan yang dia miliki. Aku tidak mempermasalahkannya bagiku Yohan adalah pria sempurna. bukankah manusia diciptakan dengan keistimewaan dan kekurangan. aku dan Yohan akan bahagia dengan keistimewaan yang kami miliki dan melengkapi kekurangan yang kami punya."


"Apakah Bos pernah berpikir seperti itu dengan nona Stella?"

__ADS_1


"Memikirkan apa?" tanyaku yang tak paham dengan pertanyaannya barusan.


"Aku dan Yohan memiliki sifat yang sangat berbeda. Namun kami yakin bahwa kami bisa saling melengkapi. apakah bos berpemikiran seperti itu?"


aku menghembuskan nafas pelan, "Ya...aku selalu berpikiran seperti itu. Bagiku Stella adalah segalanya."


ku lihat Anna terkekeh, "Cinta tak bisa di ukur dengan Rupa. Jika kita sayang, kekurangannya saja kita anggap kelebihannya. Aku selalu menatap Yohan seperti itu."


entah mengapa melihat ekspresinya yang sangat berbunga-bunga saat menceritakannya kekasihnya membuat hatiku terasa tercubit.


"Sepertinya kau sangat mencintai kekasihmu itu ya?"


"Hahaha...dia adalah cinta ke diaku."


"Lalu cinta pertamamu siapa?" tanyaku dengan penasaran.


"Ayahku." aku tersenyum mendengar jawabannya.


"Dulu saat aku menangis aku akan selalu tenang ketika ayah mengendong ku."


"Lalu setelah digendong ayah aku akan tenang. Baiklah Bos di minum dulu kopinya nanti dingin, saya juga mau menemui kekasih saya." aku hanya menganggukan kepalaku.


"Saya permisi dulu Bos." aku hanya diam. Lalu aku duduk di kursi sambil meminum kopi yang dibuatkan oleh Anna.


beberapa saat kemudian, Anna berdiri disamping kekasihnya yang tertidur pulas. Yohan sudah mandi dan wangi, bajunya pun sudah berganti namun sepertinya setelah mandi Yohan kembali melanjutkan tidurnya.


Yohan tak bergeming, ia masih memejamkan matanya rapat.


"Sayang, bangun udah siang nih. Nanti Bos aku nungguinya terlalu lama kan engak enak." aku mengundang bahu Yohan dengan sedikit kuat, namun nyatanya Yohan tak kunjung bangun juga.


Ide jahil mulai muncul dikepalaku. Aku menarik kepala Yohan dan menciumnya hingga hidungnya terhimpit oleh pipiku.


sekian detik, Yohan mendorong bahuku dengan kuat. Lihat wajahnya terlihat ngos-ngosan seperti habis lari-larian.


"Kau mau membunuhku?" ucapnya dengan kesal.


"Siapa suruh di panggil-panggil enggak nyaur kan sebel jadinya."


"Iya maaf. Ya udah sekarang siap-siap gih katanya mau pergi sama bos kamu." aku kesal dengan perkataan Yohan yang seperti tidak merasakan apa-apa.


aku menjatuhkan diriku diatas ranjang, duduk dengan melipat kedua tanganku didepan dada.


"Udah selesai semua tinggal berangkat." ucapku dengan sedikit terdengar nada kesal. Yohan memelukku dari samping dan menaruh dagunya di bahuku.


"Iya aku minta maaf. Lagian kamu juga sih?" dengar? dia malah menuduhku lagi. memang Yohan ini kurang peka dengan wanita.

__ADS_1


"Kok aku? aku salah apa?" tanyaku dengan marah.


"aku habis pulang kerja, kamu malah buat aku kayak gini, siapa yang enggak lelah coba? kerja itu capek malamnya aku disuruh lembur garap kamu lagi." aku terkekeh mendengar keluhannya. Ah dia merajuk karena aku mengambil keperkasaan dia tadi malam.


aku membalikkan badanku menghadap ke arahnya lalu melingkarkan tanganku di lehernya.


"Maaf, abisnya aku udah enggak tahan kalau liat kamu yang terus terlihat menggoda di mata aku." aku membaringkan tubuhnya dan membuat dia berada di atas ku.


"Apakah punyamu tidak sakit?" aku menggelengkan kepalaku. sebenarnya aku berbohong, jelas sekali milikku sakit sekali rasanya perih ketika digerakkan tapi jika aku mengatakannya aku akan malu didepan Yohan.


"Kontrak kerjaku 3 bulan lagi akan selesai. Apakah kau yakin akan menunggu selama itu?"


"Bukankah kita sudah sepakat, kau akan resign dan tidak usah bekerja lagi."


"Ya aku hanya memberitahumu." Yohan mengelus punggungku dengan lembut.


"Anna?"


"HM..." aku hanya berdehem. ku pejamkan mataku dan menikmati setiap usapan yang Yohan berikan kepadaku.


"Banyak di luaran sana yang terlahir sempurna. Good looking dan good rekening contohnya seperti bos mu itu. Tapi kenapa kau memilih ku?"


aku yang awalnya memejamkan mataku sontak membuka mataku namun aku tak mau mengangkat kepalaku ke atas.


"Aku tuli, apakah kau tidak malu memiliki pendamping hidup dengan keterbatasan fisik seperti ini?"


"Sedangkan diluaran saja banyak yang mengejar-ngejar mu, teman-temanku selalu menyudutkan ku karena memiliki dirimu."


setelah sekian lama aku terdiam, akhirnya aku bersuara, "Apakah kau malu memiliki kekasih seperti ku?" aku balik bertanya kepadanya.


"Kenapa kau balik bertanya kepadaku?" tanpa diduga Yohan malah balik bertanya kepadaku.


aku mengangkat sedikit bahuku dan menatap mata Yohan dengan hangat.


"Dengarkan aku!!! sekalipun kau terlahir lumpuh, jika aku sudah jatuh cinta kepadamu sekalipun kepadamu, maka aku akan tetap menerimamu apa adanya. jangan berpah berpikir bahwa aku mau denganmu karena kau memiliki sesuatu yang berharga."


"Aku bukan wanita matre yang menatap materi kepada seorang wanita, sekalipun pria itu tua jika materinya tinggi para wanita cantik pun akan mau menikah dengan pria tua itu. Kau memandangku seolah-olah aku hanya mengincar materi mu."


Yohan terdiam menatap mataku yang berkaca-kaca mengatakannya.


"Anna..."


"Jangan dengarkan apa kata orang Yohan. kebahagiaan kita hanya akan kita yang merajut bukan orang lain. Mereka hanya iri dengan apa yang kau punya. Jangan bicara seperti ini lagi, jika kau berbicara seperti ini lagi aku malah yang merasa tidak pantas bersanding denganmu."


Yohan menjawabnya dengan cepat, "Tidak, jangan katakan itu. Aku minta maaf, sungguh aku minta maaf."

__ADS_1


Yohan menarik ku ke dalam pelukannya, "Aku janji tidak akan membicarakan ini lagi. maafkan aku..."


Yohan mengelus rambutku dan mencium pelipis ku beberapa kali. sungguh aku sangat sakit jika mendengar Yohan mengatakan ini.


__ADS_2