
"Ayo katakan Yohan sayang." aku berlari mengejar Yohan yang berjalan meninggalkan ku.
Aku menarik lengan Yohan namun Yohan malah balik menarik rahang ku dan menempelkan bibirku. Hanya menempel namun mampu membaut aku mematung seketika.
Saat Yohan melepaskan bibirnya di bibirku mata kita saling berpandangan.
"Aku mencintai mu, Aileen." aku tersenyum bahagia mendengar pengakuannya. Aku menarik pipinya dan menciumnya dalam.
"Aku juga mencintaimu, Yohan." balas ku dengan malu-malu dengan menundukkan kepalaku ke bawah.
"Baiklah, ayo kita jalan-jalan. Kau bilang ingin jalan-jalan kan?" aku menganggukan kepalaku.
"Bisakah kau bawakan sandal ku?" Yohan mengangguk dan membawakan sandal kekasihnya itu disebabkan tangan nya lalu satu tangan yang lainnya mengandeng tangan Anna.
"Anna, bolehkan aku jujur kepadamu?" Anna hanya berdehem.
"Aku cemburu saat kau dekat dengan bos mu itu."
aku menoleh menatap Yohan dengan binggung, "Kenapa? aku tidak memiliki perasaan apa-apa kepadanya. Memangnya kenapa? apa yang kau cemburukan?"
"Aku cemburu karena kau selalu berada dekat dengannya dan memenuhi semua kebutuhannya, dari dia bangun sampai dia tidur lagi. Tidakkah kau merasa, pekerjaan mu itu seperti istri kontrak?" aku tersentak kaget saat Yohan mengatakannya.
aku tampak berpikir, benar juga apa yang Yohan katakan.
"Yohan, ini memang pekerjaan ku namun aku tidak pernah melewati batas kepada bos Daniel. aku berani bersumpah di depanmu. jika memang kita memiliki hubungan buat apa aku mendekatimu? lalu untuk apa akan mengakhiri kontrak demi keinginanmu?" aku bertanya balik kepadanya, ia menatapku dengan sendu.
__ADS_1
Diperjalanan, aku menepuk bahunya dan mengelus tangannya yang ku gengam, "Aku tahu itu hal yang wajar jika kau memang merasa cemburu. Maaf kan aku, bersabarlah sedikit lagi Yohan."
"Maafkan aku yang pencemburu ini. Kau pasti tertekan kan dengan sifat ku yang ini?" aku menggelengkan kepalaku.
"Aku senang kau cemburu kepadaku itu tandanya kau sayang denganku. Sudah jangan bahas bos Daniel lagi, nanti yang ada aku disuruh pulang sama dia."
"Terima kasih karena telah menerimaku apa adanya, Anna." Yohan menatapku dengan tatapan lembutnya, jika seperti ini maka Yohan terlihat semakin tampan.
aku hanya mengangguk samar menangapi ucapannya.
...❤️❤️❤️...
Daniel, Nathan dan Alex. Nathan mengeram, ia melempar sendok miliknya begitu saja.
Nathan iri, kenapa Yohan yang tuli bisa mendapatkan wanita sesempurna Anna sedangkan dirinya tidak bisa? Nathan tidak menyukai Anna secara diam-diam, dia hanya iri saja kepada Yohan yang cacat namun mendapatkan kekasih sempurna seperti Anna.
"Kenapa Lo? suka sama Anna?" Nathan menatap tajam Alex. Alex hanya tersenyum miring menanggapinya.
mereka bertiga sedang makan di restoran yang berada didekat pantai. Setelah main voli mereka lapar dan memutuskan makan disalah satu restoran saja.
"Ya, kau benar Nath." Nathan menengok ke arah bosnya yang tiba-tiba saja merespon ucapannya biasanya bosnya akan cuek namun kali ini sepertinya tidak.
"Namun, semua orang memang tidaklah sempurna. Mereka berdua cocok, saling melengkapi." Nathan menganggukan kepalanya setuju. Ia menyandarkan punggungnya di kursi.
"Anna, wanita cantik, dewasa, aduh tubuhnya itu loh....liat dia pakai bikini aja udah buat gue pengin lempar dia ke rajang tapi sayang udah ada yang punya." mendengar ucapan Nathan, Daniel menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
ia pun sama halnya dengan Nathan tadi, apalagi dia tadi berdekatan dengan Anna saat Anna terkena lemparan bola voli.
"Body nya montok banget, kan Lex? apa lagi tuh ya, gunung kembarnya gila gede banget." semakin tidak terkontrol perkataan yang keluar dari mulut Nathan.
"Lo baru liat kan?" tanya Alex, membuat Nathan menganggukan kepalanya. lalu Alex tiba-tiba menepuk dadanya berbangga hati.
"Gue udah pernah pegang, waktu dia tenggelam di laut." Daniel dan Nathan membuka mulutnya lebar.
"SIALAN, KENAPA GUE BISA LUPA KEJADIAN ITU. WAH...CURANG LO LEX, MENANG BANYAK TUH.". teriak Nathan yang tak terima.
"Sialan kau, mencari kesempatan dalam kesempitan." maki Daniel kepada tangan kanannya itu.
"Hahahaha....gila empuk banget bos rasanya." telinga Daniel panas rasanya, ia pun mengebrak meja membuat Alex dan Nathan semakin tertawa keras.
"Body nona Stella saja kalah kan bos dibandingkan body Anna." aku menganggukan kepalaku setuju.
"Eh...eh...gimana Lex rasanya waktu pelukan telanjang itu?" tanya Nathan dengan kepo tingkat dewanya saat ini.
"Anna terkena hipotermia kalau enggak salah, gue pernah baca, cara menyelamatkannya dengan menghangatkan tubuh satu sama lain, skin to skin."
"Gue sebenernya gelagapan waktu dia peluk gue, gimanapun juga gue kan pria normal. Sebenernya gue takut juga sih, tapi nyawanya lagi sekarat masa iya gue tega banget mau perkosa dia."
"Padahal badan gue rasanya panas dingin banget." cerita Alex membuat Nathan dan Daniel berdecak kagum karena Alex yang berhasil menahan diri dari santapan lezat yang terhidang.
namun Alex yang memiliki jiwa perikemanusiaan jadi dia urungkan niatnya. coba saja Alex tidak memiliki jiwa perikemanusiaan, sudah didalam tanah tuh sih Anna.
__ADS_1