ASISTEN PRIBADI RASA ISTRI

ASISTEN PRIBADI RASA ISTRI
Part 16 {Pengkhianatan}


__ADS_3

Aku berdiri dengan tatapan datar menatap gedung-gedung tinggi diatas gedung ku sendiri.


Menikmati semilir angin sore yang sejuk, membuat aku menghembuskan nafas lelah.


Sudah cukup lama aku hanya berdiam diri disini dan terdiam membisu. Dengan ditemani Anna dibelakangku.


"Bos?" aku hanya diam mendengar panggilannya.


"Apa bos baik-baik saja?" Aku terdiam, Bagaimana mungkin dia mengatakan aku baik-baik saja sedangkan skandal percintaan Stella sudah tersebar di luaran sana.


Mengingat akan hal itu membuat aku kembali marah. Ternyata wanita yang selama ini aku puja berkhianat dibelakangku dengan rekan kerjanya. Ditambah ternyata Stella sedang mengandung anak selingkuhannya itu bukan anakku.


Sampai saat ini aku belum mendengar kabar tentang Stella dan selingkuhannya lagi. Selama ini aku ditipu olehnya, padahal aku selalu melakukan apapun yang dia mau.


Aku membantunya menjadikannya model terkenal seperti impiannya, sekarang dua sudah menjadi model terkenal berkat diriku. Dia ingin hubungan kita disembunyikan dan aku menurutinya tapi apa? inikah balasannya?.


Aku berbalik dan menatap asisten pribadiku dengan sendu. Aku berjalan ke arahnya dengan langkah pelan lalu menyandarkan tubuhku kepadanya. ku hembuskan nafas lelahku.


"Aku lelah." ucapku dengan pelan. Dia hanya terdiam mendapat perlakuan ku, Anna cukup peka dengan suasana hatiku.


jika aku mengatakan aku lelah maka Anna akan memberikan aku semangat agar aku bangkit kembali. Lalu jika aku sangat lelah, aku akan seperti ini dan mendapatkan dekapan hangat Anna.


Baru saja aku memejamkan mataku, aku merasakan Anna mengusap punggungku dengan pelan.


"Saya memang tidak tahu apa masalah Bos, tapi jangan menyerah bos. Banyak orang yang bergantung sama bos dan mereka juga berharap banyak kepada bos."


"Lelah itu hal yang wajar, tapi jangan sampai bos menyerah dengan keadaan. Bos hanya perlu beristirahat sebentar saja pasti lelah bos akan hilang."


aku membuka mataku saat dia sudah menyelesaikan perkataannya. Aku masih bersandar kepada-nya.


"Jika bos lelah, pulanglah ke rumah. Bos memiliki rumah untuk pulang. Pergi temui orang tua Bos, pasti akan sangat menyenangkan bertemu keluarga bos."


Aku terdiam, entah apa yang akan aku katakan kepada dia atau menjawab ocehannya. Pokoknya aku sangat lelah hari ini.

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


Dengan sempoyongan Anna memapah tubuh Bosnya ini, "Eeeee....jangan kesitu aduh bos...."


"Aduh....aduh...."


"Bos jangan ngegantung dong....berat nih...." gerutu ku saat dengan asiknya bosnya ini bersandar dibelakang tubuhnya meminta gendong.


Padahal yang ada ia menyeret tubuh Bosnya dipundaknya.


"Wah....liat ini...dilihat dari sini...asisten ku begitu jelek."


"Dasar jelek...." wajahku semakin menekuk saat mendapati ejekan dari sang bos.


"Cantikan juga Stella...dari pada kau yang jelek"


"Iya bos saya memang jelek." jawabku sekenanya. Dengan penuh energi aku membawa tubuh besar bos Daniel ke arah kamarnya.


"Aku tampan...aku kaya...dan aku apalagi ya Anna?" aku memutar bola mataku malas saat mendengar nada ucapannya yang seperti anak kecil.


"Hahahaha....benar aku baik hati." terdengarlah suara gelak tawa Daniel yang sangat membahana.


aku mendudukkan bos Daniel di atas ranjangnya, namun dia malah membaringkan tubuhnya dengan kaki yang masih menggelantung dilantai.


Aku berjongkok dan melepaskan sepatu serta kaos kakinya. lalu aku menarik bahunya agar duduk tegak, namun dia lemas membuat aku harus menahannya sambil melepaskan jas yang ia gunakan.


"Anna aku ngantuk, menyingkir..." dia malah mengusirku padahal aku dengan baik hati membantunya melepaskan bajunya.


"Sebentar bos saya lepas dulu ya..." berhasil melepaskan jasnya, bos Daniel malah kembali berbaring membuat aku dengan kekuatan ekstra kembali membangunkannya, lalu melepaskan kancing kemejanya.


aku melihat tatapan bos Daniel yang tiba-tiba menyipit, namun aku cuek saja dan kembali fokus membuka kancing kemejanya.


"Hush...Anna kau mesum sekali membuka bajuku." tiba-tiba saja dia menuduh ku mesum, membuat wajahku masam seketika.

__ADS_1


"Kau mau apakan aku Anna? kau mau memperkosa ku ya?"


"Yak...mana ada perempuan yang memperkosa pria bukanya terbalik ya?" tanyaku dengan sedikit berteriak.


"Bukannya ini zamannya perempuan yang memperkosa ya?" wajah bos Daniel seketika menjadi bodoh.


Aku mengedikan bahu acuh, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil kaos lengan pendek.


Aku memakaikannya dengan telaten untungnya kali ini dia menurut dan tidak banyak bicara.


"Anna..." aku menatap ke bawah ke arah bos Daniel. Ia mendongakkan kepalanya membuat kami saling tatap-menatap.


ku lihat wajahnya yang bersemu merah mungkin karena efek alkohol yang dia konsumsi.


"Hmm..." jawabku dengan berdehem, aku menyisir rambutnya dengan jari-jari tanganku. Aku tahu sepertinya dia sedang bersedih memikirkan tentang nona Stella.


Aku baru tahu permasalahan ini dari Nathan. Jika saja aku tidak diberi tahu oleh Nathan maka aku tidak akan tahu masalah ini. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh nona Stella karena menurutku dia wanita yang baik dan ramah. Tapi....


"Anna dia berkhianat.....dia selingkuh dibelakang ku Anna....lalu aku bagaimana Anna?"


"Apakah aku akan sendirian? Anna dia akan pergi dariku? lalu aku bagaimana? bagaimana hidupku nanti? Anna..." tak sanggup mendengar ocehan bos Daniel yang menyakitkan aku menariknya dan memeluknya.


Satu tanganku mengusap punggungnya dan satu tangan ku yang lain mengusap kepalanya dengan lembut. ku rasakan dia memeluk pinggangku dengan erat dan terasa basah di daerah perutku.


Dia menangis.


Ya.


dia menangis.


Sejauh ini yang aku tahu. Bos Daniel yang terkenal garang bersama organisasi miliknya, jika sudah dikecewakan oleh orang yang dia sayangi maka dia akan menangis.


Aku biarkan dia menangis di pelukanku. Setidaknya aku ada disaat dia sedang bersedih dan susah. Walaupun aku tidak bisa memberi sesuatu yang berkesan kepadanya setidaknya

__ADS_1


aku ada untuknya setiap saat.


__ADS_2