
"Tidak bisa Saga, Anna akan menikah dengan pria yang dia cintai. Jangan memaksakan cinta seseorang Saga, itu tidak baik." ucap Margaret memperingati ke niatan suaminya yang akan menikahkan paksa Anna dengan putra mereka.
"Bukan aku. Tapi anakmu. Dia sendiri yang akan merebutnya."
"Bukankah kalian berdua sama." ucap Margaret lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Sorot matanya berubah teduh.
Sedangkan Saga mengepalkan tangannya, dengan erat ia mencengkram setir kemudi.
"Hentikan Margaret. Kau memikirkan pria yang sudah Mati. Tidak ada gunanya." amuk Saga kepada istrinya yang memalingkan wajahnya. Tak ada jawaban dari Margaret.
"Dia mati juga karena ulah mu, Saga." jawab Margaret dengan bergetar.
Saga tersenyum sinis mendengarnya, "Aku peringatkan sekali lagi Margaret, jika kau memikirkannya sekali lagi. Aku pastikan kejadian masa lalu kita akan terulang kembali kepada Anna dan Daniel."
Sontak hal itu membuat Margaret membulatkan matanya, "Jangan gila Saga." bentak Margaret penuh amarah.
"Sudah ku bilang cinta tidak bisa dipaksakan."
__ADS_1
"Ya, seperti dirimu yang tidak bisa menerima cinta dariku selama puluhan tahun." Margaret terdiam mendengar penuturan dari suaminya itu.
Benar, apa yang dikatakan suaminya memang benar apa adanya.
"Sakit. Sakit Margaret, pernah kah kau merasakan itu? Selama ini aku selalu mengalah untuk dirimu, tapi sepertinya kau tidak pernah sadar akan hal itu."
"Setiap malam kau mengigau nama Saka disamping ku, Aku hanya terdiam. Kau selalu rutin pergi ke makamnya, menangis dan bercerita banyak hal kepada kuburan itu. Tapi sedangkan aku? kau hanya menganggap aku sumber uang mu dan sebagai ayah untuk anak-anak kita. Kau tidak pernah tulus melayaniku sebagai seorang suami. Jika memang ia kau masih belum mencintaiku." jantung Margaret rasanya berdetak lebih kencang sekarang, ia takut apa yang akan dikatakan suaminya lagi setelah ini.
"Mungkin aku salah saat meminta mu kepada orang tua mu. Aku salah membunuh saudaraku sendiri hanya karena cinta, aku salah telah menikahi mu secara paksa. Aku selalu salah dimata mu Margaret." suara Saga berubah menjadi pelan dan terdengar nada lelah sekaligus menyerah.
"Aku melepaskan mu." ucap Saga dengan satu nafas tarikan.
Atha berjalan beriringan bersama dengan Kakaknya itu, ia berjalan ke arah apartemen sang Kakak dengan kekasih Kakaknya.
"Masuklah."
ia masuk dan menemukan seorang pria yang duduk di sofa, ia melihat di telinganya terpasang alat bantu dengar yang membuat dia terkejut.
__ADS_1
Yang benar saja, dia adalah kekasih Kakaknya? kenapa bisa? kenapa bisa Kakaknya memiliki kekasih seperti ini? sangat tidak pantas rasanya.
"Atha perkenalkan ini Yohan, kekasih Kakak." kami berdua pun berjabat tangan, ekspresi wajahku tampak binggung dan penuh akan tanda tanya sedangkan pria didepan ku ini menampilkan senyum kecil.
"Yohan, dia adikku Athanasius. Dia akan menemani kita disini. Tak apa kan?"
"Tidak apa, jadinya kau masih bisa mengurus adikmu."
"Kakak bisakah kita bicara berdua?" tanyaku namun malah dibalas tatapan tajam olehnya.
"Cukup Atha. Kakak sudah tahu apa yang akan kau bicarakan. Dengar Atha!!! ini urusan Kakak, masalah tulus atau tidaknya hanya Kakak yang tahu. Tidak ada manusia yang sempurna diDunia ini termasuk kau." ia terkejut mendengar nada suara yang penuh akan peringatan. Belum sempat ia menanyakan hal itu namun Kakaknya sudah tahu apa yang akan ia bicarakan.
"Masuk Kamarmu disebelah sana. Kakak akan menyusul nanti. Istirahatlah." aku mengangguk patuh dan masuk ke dalam kamar yang di tunjuk oleh kakak barusan.
Sebelum benar-benar masuk kedalam kamar, aku sempat menoleh kebelakang, Kakak tampak menutup wajahnya dengan kedua tangannya sedangkan pria yang mengaku sebagai Kekasih Kakak menatapku juga dengan senyum ramahnya.
Aku langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.
__ADS_1
"Gila. Kakak ku memang gila."
"Disaat yang sempurna masih banyak, dia malah mencari yang membuat dia mempermalukan dirinya sendiri."