
Pagi-pagi sekali aku sudah masuk ke dalam kamar Bos Daniel, membangunkannya dengan membuka jendela kamarnya.
"Selamat pagi Pak bos yang tampan dan rupawan." sapa ku dengan ceria bejalan mendekati ranjangnya.
Aku mengusap lengannya dengan lembut, "Bangun Pak Bos. lihatlah sekretaris cantikmu ini sudah menunggu."
Daniel menggeliatkan badannya, ia dengan pelan membuka matanya. setelah terbuka lebar ia bangun dari baringnya dan memegang kepalanya yang berdenyut sakit, ia memegang kepalanya yang berdenyut sakit itu.
"Kemari bos biar aku pijat sebentar." aku berdiri disampingnya, satu tanganku berada dibelakang kepalanya sedangkan satunya lagi fokus memijat kepalanya.
"Bos mau aku buatkan SOP hangat? Dengan potongan daging sapi?" tanyaku dengan lembut, sebisa mungkin hari ini aku membuat bos Daniel tersenyum dan tidak mengingat permasalahan percintaannya itu.
"HM..." jawabnya hanya dengan deheman.
"Ahahahaha....bos mau makan dulu atau mandi?" tanyaku lalu menyodorkan segelas air putih kepadanya. Ia menengguk nya hingga tandas.
"Seperti biasa saja." aku menganggukan kepalaku lalu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi menyiapkan air untuknya.
Setelah selesai aku keluar dan berjalan menghampirinya yang terduduk diatas ranjang, "Mandilah, jangan lupa pakai shampo agar pikiran bos fresh oke?" ku berikan Bos Daniel senyuman terindahku namun dia hanya acuh dengan sikapku ini.
membuat aku mendesah kecewa setelah dia melewati ku, "Harus dengan apa aku membuatmu tersenyum Bos?"
aku berjalan dengan lesu menuju walk-in close, mengambil baju kantornya dan perlengkapan lainnya.
Aku berjalan ke arah bingkai foto kecil dimeja rias Bos. terdapat foto antara Bos Daniel dan nona Stella. Aku mengambilnya dan menatapnya dengan pandangan sendu. Lalu ku bawa bingkai itu pergi.
setelah menyiapkan perlengkapan berangkat kantornya. Aku turun ke bawah dengan tergesa-gesa untuk membuat sup hangat.
"Ibu biar saya saja yang memasak sup, ibu masak saja untuk yang lainya." ucapku kepada kepala pelayan bos Daniel. Dia adalah Ibu Nani, yang sudah mengurus bos Daniel sedari kecil menurut yang ia dengar dari cerita orang mansion.
"Apakah tuan sakit?" aku menggelengkan kepalaku.
"Tidak ibu, dia hanya kebanyakan mabuk tadi malam."
"Ah begitu, baiklah. buatkan dia yang spesial ya An." aku menganggukan kepalaku, "Baik bu."
lalu aku mulai masak SOP untuk bos Daniel ditemani Ibu Nani yang memasak untuk pegawai lainnya.
Setengah jam berlalu aku akhirnya selesai membuat SOP untuk bos Daniel. Aku langsung menaruhnya di mangkok dan mengambil sedikit nasi untuknya. Lalu aku membawanya mengunakan nampan dan segera beranjak ke arah kamar bos.
Aku masuk dan meletakan makan pagi di atas meja, aku berjalan memasuki walk-in close dan menatap bos Daniel yang sedang menggancingi kemejanya.
Aku mengambil dasi miliknya, setelah selesai menggancingi kemejanya aku memakaikan dasi untuknya, ku berikan Bros di dasi milik Bos Daniel agar dia terlihat semakin tampan. Aku tersenyum melihatnya.
"Sop-nya sudah jadi Bos." Bos Daniel hanya menganggukan kepalanya lalu pergi meninggalkan ku. Aku mengambil jasnya dan menyampaikannya di lenganku lalu mengikuti dia dari belakang.
Dia duduk dan menatap makanan yang aku buatkan. Aku tersenyum melihat dia makan SOP buatan ku walaupun dia sedari tadi hanya diam.
Batas kesabaran Daniel adalah sampai dia menjadi pendiam, itu artinya Daniel sudah sangat marah sekali. Kesabarannya sudah berada diambang batas.
Ini berarti Nona Stella sedang dalam masalah besar bersama selingkuhannya itu.
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
"Daniel tolong dengarkan aku dulu." tangis Stella pecah melihat bagaimana Daniel memukuli pria yang memperkosa dirinya hingga hamil.
Daniel dengan bringasan terus memukul pria itu hingga babak belur.
"KAU BAJINGAN RIAN. KENAPA HARUS STELLA YANG HARUS MENJADI KORBAN KEBEJATAN MU ITU." teriak Daniel dengan penuh emosi. Sedangkan Rian hanya diam menahan sakit akibat pukulan tak main-main Daniel.
"Daniel hiks...hentikan. dia bisa mati...hiks...." dengan lemas Stella meraih tubuh Daniel dan menariknya namun usaha Stella sia-sia karena Daniel mendorong tubuhnya hingga terjatuh.
"Auh..." mendengar teriakan Stella sontak membuat Rian mengalihkan penglihatannya. Ia melihat Stella yang meringis kesakitan, ia dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Daniel dan menonjok nya kuat.
Ia mencengkram kerah kemeja Daniel, "LO ENGGAK USAH KASAR SAMA CEWEK, BANGSAT." teriak penuh emosi Rian didepan Daniel yang tampak marah.
Buk...
tubuh Daniel terdorong hingga jatuh, baru saja Rian akan memukul Daniel namun tubuhnya terdorong ke samping karena dorongan dari seseorang.
"BOS...BOS TIDAK APA-APA?" teriak Anna saat berhasil menyingkirkan Rian.
Ia berlari lalu mendekap tubuh Bosnya, melindungi dari pukulan Rian selanjutnya.
"Minggir Anna, biar ku hajar dia." ucap Rian dengan penuh emosi.
Anna menatap sahabat bosnya itu tajam, "Bukankah terbalik tuan?"
"Seharunya yang memukulmu itu Bos saya, bukan anda. Anda rendah sekali ya ternyata." ucap Anna dengan sinis. Ia menatap Tuan Rian dengan tajam, lalu memegang sudut bibir Daniel yang terluka.
"Saya tahu anda sudah lama mencintai Nona Stella, namun tidak seharunya anda merebut milik sahabat anda sendiri. Kenapa anda mengambil kesempatan dalam kesempitan? apakah anda tidak memikirkan perasaan sahabat anda?"
"Anda lebih mementingkan ego anda daripada sahabat anda. Saya tahu, hidup ini butuh cinta apalagi pasangan hidup. Namun, cara anda yang seperti ini membuat saya menatap anda dengan rendah. Demi memilikinya anda berani mengambil cara semenjijikan seperti ini." Rian mematung mendengar penuturan dari asisten Daniel itu.
Anna menatap Stella dengan tajam, "Saya pikir anda wanita yang baik untuk Bos saya, namun ternyata pikiran saya salah. Sebagai wanita seharusnya anda memiliki prinsip hidup. Jangan salahkan hanya karena Tuan Rian mabuk anda bisa saja pasrah dilecehkan olehnya hingga hamil. Anda bisa saja kabur dengan berbagai cara, mungkin saat itu anda juga sedang menginginkannya kan? makannya anda menyambut hangat ***** tuan Rian."
Stella melebarkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang Anna katakan barusan. Anna yang ia kenal selalu bersikap ramah dan baik ternyata bisa berbicara kejam seperti ini juga.
"Anda juga wanita tidak tahu diri nona Stella. Ingatlah siapa yang menjunjung tinggi reputasi mu sampai setinggi ini?" Stella menatap Anna dengan tatapan bersalah.
"Maafkan aku, aku tahu aku salah. maafkan aku Daniel. Aku sungguh mencintai mu, Maukah kau menerima ku kembali. ak-aku akan mengugurkan anak ini jika itu keinginanmu." Rian tersentak kaget mendengar ucapan Stella.
Sedangkan Daniel membuang pandangannya ke arah lain, rasanya muak melihat Stella yang seperti ini.
"STELLA APA YANG KAU KATAKAN?" Rian mengguncang tubuh Stella dengan sedikit kencang. Stella meluruhkan air matanya.
"Aku tidak mencintaimu ataupun janin ini Rian. aku hanya mencintai Daniel saja, memang benar malam itu aku juga sedang menginginkannya makanya aku menyambut hangat perlakuan mu saat itu." Rian menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya dengan apa yang Stella katakan.
ia sontak melepaskan kedua tangannya pada bahu Stella dengan lemas, "Ini kesalahanku Stella bukan janin itu. Bagaimanapun dia juga anakmu, jangan lakukan hal bodoh Stella. aku mohon..." mohon Rian dengan wajah memelas namun Stella menundukkan wajahnya.
"Ak...aku tidak bisa Rian maaf..."
"Lalu kau ingin aku yang bertanggung jawab untuk anak itu Stella?" tanya tajam Daniel tanpa menatap ke arah Atalla. Ia masih duduk dilantai dengan satu kaki tertekuk dan lengannya yang berada diatasnya.
"Aku tidak bisa menerima anak yang bukan darah daging ku sendiri. Aku juga seorang pria, aku tidak ingin melihat anak itu hidup Sengara denganku." ucap Daniel dengan lirih.
"Pergilah Rian. Aku ikhlaskan Stella untuk mu, jangan pikirkan aku, pikirkan calon anak mu itu dan buatlah Stella menjadi mencintaimu."
__ADS_1
hati Rian terenyuh mendengar penuturan sahabatnya itu, setelah ia mengkhianati sahabatnya malah memberikan miliknya kepadanya.
"Kau benar-benar ingin ini berakhir Daniel?" tanya Stella dengan sendu.
"Ya Stella. Aku tidak mau anak itu hidup tanpa figur Ayah, walaupun aku pun sebenarnya bisa namun aku tidak ingin berbohong kepada janin tak bersalah itu. Menikahlah dengan Rian Stella, aku tau Rian tulus mencintai mu." ucap Daniel dengan sendu, Daniel bahkan sampai menitikkan air matanya dalam kepala yang menunduk.
"Daniel aku sangat mencintaimu sungguh, maafkan aku karena telah berkhianat kepadamu." Stella berjalan dan berjongkok didepan Daniel.
ia hendak menyentuh wajah Daniel yang tertunduk namun tangannya langsung dicekal kuat oleh Anna yang menatapnya tajam, "Jangan sentuh Tuan saya dengan tanganmu itu sampai semuanya berubah."
Stella tersenyum miris, "Anna kau yang paling tahu tentang Daniel, jaga dia untukku ya. Aku janji tidak akan mengejar cintanya lagi. Dan Daniel..."
Daniel hanya terdiam mendengar mantan kekasihnya itu berbicara untuk terakhir kalinya setelah hubungan ini benar-benar selesai.
"Maaf aku belum bisa menuruti permintaan mu untuk belajar mencintai Rian, karena didalam hatiku sudah terukir namamu dengan begitu indah. Terima kasih untuk waktu 2 tahun ini bersamaku, akan ku ingat kenangan indah bersamamu selalu. Aku mencintaimu Daniel, sayang." ucap Stella dengan lirih lalu berlari keluar dari dalam ruangan Daniel yang berantakan. Ia tidak kuat lagi bertemu dengan Daniel.
karena nafsunya, cintanya berakhir dengan tragis seperti ini. Sumpah demi Tuhan hanya Daniel lah lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hati.
Ada perasaan senang dan kecewa mendengar pengakuan Stella. Rian tidak bisa mendeskripsikan perasaanya saat ini. antara bahagia karena Daniel memberikan Stella untuknya dan kecewa karena Stella tidak mau belajar mencintai dirinya. Ia harus menerima konsekuensinya seperti ini.
Daniel bangkit dari duduknya, ia menatap Rian dengan pias. Rian melangkah maju mendekati Daniel, namun Anna lagi-lagi menghalanginya.
"Aku hanya ingin berbicara dengan Daniel, Anna." ucap Rian meminta pengertian kepada Anna yang tidak mengizinkannya berdekatan dengan Daniel.
"Biarkan dia mendekat Anna." Anna langsung menyingkir membuat Rian dan Daniel sangat bersitatap.
"Maaf."
"Maafkan aku." sesal Rian dengan menundukkan kepalanya.
"Pergilah, kejar Stella. Aku yakin kau bisa meluluhkan hatinya. Aku sudah ikhlas melepasnya, jangan tersinggung dengan perkataan ku barusan." Rian mengangkat kepalanya dan menatap sahabatnya itu.
"Apakah kita masih bisa berteman?" Daniel terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menyunggingkan senyum.
"Tentu Rian. Tapi jangan temui aku sampai kau berhasil meluluhkan hati Stella. Kau sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri. Pergilah, ayo kejar cintamu...dia menunggumu bersama calon anak kalian." ucap Daniel dengan tersenyum.
Rian menatap mata Daniel, terlihat kebohongan disana. Ia tak percaya Daniel bisa mengatakan itu padahal didalam hatinya dia sungguh terluka. Ia terdiam kaku sampai Daniel mendorong tubuhnya.
"Maaf atas pukulan mematikan ku barusan ya." ia menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang menatap Daniel.
Daniel terlihat tersenyum, Ia dengan pelan melangkahkan kakinya keluar dari kantor Daniel. Sebelum benar-benar keluar, Rian berbalik dan menatap sahabatnya itu dengan lamat.
"Maaf telah merebutnya darimu." setelah mengatakan itu Rian keluar dari ruangan Daniel dengan perasaan campur aduk. saat ini ia harus memikirkan bagaimana cara meluluhkan Stella agar Stella tidak jadi mengugurkan kandungannya.
Daniel masih setia berdiri saat kepergian Rian 5 menit yang lalu. Ia menangis, tidak ada yang tahu saat ini dia sedang hancur sehancur-hancurnya. Ia patah hati.
ia sangat tidak menyangka akan hal ini, kekasih, sahabat lalu apalagi setelah ini?. Tubuhnya terasa lemas, membuat keseimbangannya hilang.
Belum sempat lutut nya mengenai lantai, tubuhnya sudah bersandar di bahu seorang wanita. Wajahnya berada di bahu wanita itu yang menopang berat badannya.
Dengan perlahan wanita itu menurunkan badannya diatas lantai, ia tetap mendekap tubuhnya dengan lemas itu. Selalu mengusap punggungnya yang bergetar, bahkan ia sampai membasahi bajunya dia tidak bereaksi.
Semakin aku menangis dengan deras walaupun tanpa suara yang ada hanya suara hembusan nafasku yang kasar, semakin kencang dia memelukku.
__ADS_1
Aku memejamkan mataku yang memerah dan masih setia meneteskan air mata. Mencoba meredam rasa emosiku.