
"Kau yakin akan meninggalkan pekerjaan ini?" suara ketukan pulpen di atas meja kaca terdengar sangat jelas.
Hanya ada Aku dan Tuan Saga didalam ruangan kerja miliknya.
"Katakan alasan mu kenapa keluar?"
sebelum menjawab aku menarik nafas panjang terlebih dahulu, "Maafkan saya Tuan sebelumnya. Saya akan menikah, kekasih saya meminta saya berhenti bekerja karena dia mengira bahwa pekerjaan saya tidak lazim. Posisi saya akan digantikan oleh adik saya, Athanasius."
ucap ku dengan lancar didepan Tuan Saga yang terus menatapku. Tuan saga sudah memasuki usia 50 tahun lebih, tubuhnya masih bugar dan sehat. Masih terlihat muda juga.
"Kau yakin menikah dengan pria seperti itu? kau tidak salah pilih Anna?" aku terdiam saat mendengarkan Mada merendah Tuan Saga.
"Saya mencintai Kekasih saya dengan tulus tanpa memandang fisik ataupun statusnya."
"Kau tidak ingin menikah dengan Daniel? dia tampan, uangnya banyak dan satu lagi fisiknya sempurna." nafasku tercekat saat Tuan Saga mengatakan itu.
Apa ini? kenapa tiba-tiba dia mempromosikan anaknya itu kepada ku? sepertinya aku harus berhati-hati kepada Tuan Saga mulai sekarang.
"Tuan, fisik yang sempurna belum tentu dapat membahagiakan kekasihnya. Terkadang masih ada kekurangan yang dia miliki. Bagi Tuan mungkin Yohan adalah Pria cacat. Namun..." aku mengulum senyum didepan Tuan Saga.
"Bagiku Yohan pria yang sempurna. Di dunia ini tidak semua harus dilihat dari materinya tuan, jika kita memandang seseorang melalui materi akan menjadikan orang itu sombong dan angkuh dengan harta yang dimilikinya. Bukankah itu yang Tuan Saga ajarkan kepadaku?" tanyaku balik kepadanya dengan senyum tipis.
Ku lihat Tuan Saga tersenyum tipis lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Kau masih mengingatnya."
"Baiklah kau mau hadiah apa di pernikahan mu nanti?" tawar nya kepadaku.
"Aku hanya ingin Tuan menerima keputusan ku ini, aku tidak berharap yang lainnya Tuan." Tuan Saga bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Baiklah kau boleh keluar, Athanasius akan mengantikan mu. Sebagai jaminannya atas keluarnya dirimu." aku mengangguk setuju. Setelah itu Tuan Saga pergi meninggalkan ku.
"Aku yakin kau bisa Atha. Kakak percaya kepadamu." gumam ku merasa senang karena akan segera lepas dari jeratan rantai emas ini walaupun aku harus melepaskan dua manusia yang menjadi sumber uangku ini yang selalu mengalir setiap saat.
Demi cinta aku rela berkorban bukan?.
Dalam beberapa hari kedepan, Athanasius akan datang kesini. Itu artinya Athanasius akan tinggal bersamaku dan Yohan nantinya, namun jika Athanasius mau jika tidak maka aku membelikannya apartemen yang dekat dengan apartemen Yohan agar aku masih bisa mengurusnya dan memantaunya.
"Ah aku hampir lupa dipanggil Bos Daniel." dengan tergesa-gesa aku keluar dari dalam kamar Tuan Saga dan berlari menuju kamar Bos Daniel.
Didepan pintu aku langsung membukanya dan menemukan Bos Daniel yang berada di balkon kamar duduk diatas sofa panjang.
Berjalan dengan pelan mendekati Bos Daniel yang termenung menatap senja yang indah.
"Kau sudah datang?"
"Duduklah disebelahku." tanpa banyak bicara aku langsung duduk disampingnya.
Ia menarik tanganku lalu meletakkannya di atas kepalanya, Maksudnya ia ingin aku mengusap kepalanya dengan lembut.
"Jika kau menikah nanti siapa yang akan mengurus ku?"
aku terdiam dan mengulas senyum mendengar pertanyaannya, "Anda bisa mencari kekasih Bos, agar anda tidak sendirian lagi."
"Anna kau tahu persamaan kau dan Stella?"
"Bukankah sudah sangat jelas Bos, jika saya dan Nona Stella sangat jauh berbeda. Tidak ada kesamaan diantara kami berdua." jawabku masih dengan mengelus rambut dan pipinya. Dapat ku lihat dari atas Bos Daniel menutup matanya, menikmati usapan di kepalanya.
"Kalian sama-sama pergi meninggalkan ku seorang diri." deg, entah mengapa perkataan Bos Daniel Sangar menusuk kedalam hatiku.
__ADS_1
Sontak aku mengantikan usapan ku dan tanganku berpindah di lengannya. Aku menatap Bos Daniel dengan tatapan yang sulit aku artikan.
"Anna jika kau serius akan keluar maka kau akan masuk ke dalam list wanita yang aku benci seumur hidupku." tubuhku semakin menegang kaku dibuatnya.
"Lima tahun Anna, kau bersamaku. Tapi demi kekasih mu itu kau pergi meninggalkan ku." bos Daniel menatap mataku tajam namun aku menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Saya berjanji akan sering mengunjungi anda walaupun saya sudah menikah nanti. Jangan buat saya seolah menjadi wanita jahat untuk Bapak."
"Kenyataanya kah memang jahat Anna." bantahnya dengan tegas. Aku tersenyum dan mengusap lengannya. Dadanya terlihat naik turun mungkin karena tadi dia habis meluapkan emosinya kepadaku.
terlihat bos Daniel sangat marah, dia memejamkan matanya dengan posisi telentang menjadikan pahaku sebagai bantalan tidurnya.
dengan pelan ku turunkan kepalaku dan mencium dahinya dengan lembut dan lama. Memberikannya ciuman didahi dengan tulus sebagai rasa sayang seorang Adik kepada Kakaknya.
Saat aku melepaskan ciuman ku di dahinya, aku menutup matanya karena malu atas perlakuan ku kepadanya yang dengan kurang ajar menciumnya tanpa izin.
"Tidurlah sejenak Bos, saya temani. Buanglah pikiran buruk dan rasa lelah anda pada dunia ini."
ajaibnya, Daniel menuruti apa kata Anna. Ia tidak membuka matanya sama sekali padahal tangan Anna sudah tidak menutup matanya. Jantungnya berdetak tak karuan mendapatkan ciuman dari Anna.
Rasanya sangat hangat dan bahagia. Ia menyukainya.
"Istirahatlah Pangeran mahkota." ucapnya dengan pelan namun masih terdengar jelas ditelinga Daniel.
Cinta.
ya Daniel aku-akui sekarang. Dia mencintai asisten pribadinya itu. Makanya dia tidak rela asistennya berhenti bekerja dan menikah dengan si tuli itu.
Jika ia mau, ia bisa saja memaksa Anna untuk menikah dengannya dan membunuh pria tuli itu. Namun ia takut Anna malah akan membencinya.
__ADS_1
Ia tidak mau merusak kebahagiaan wanita yang dia cintai itu.
Ia sekarang lebih memilih memendam cintanya itu daripada kekecewaaan terulang kembali.