
Aku membalikkan tubuhnya ke belakang, menatap ke arah Yohan yang tersenyum lembut kepadaku.
"Maaf. Maafkan adikku Yohan."
"Tak apa, sayang. Tak masalah, dia hanya belum bisa menerimaku saja dan belum mengenalku lebih dekat."
aku menganggukkan kepalaku, sungguh aku sangat sakit ketika semua keluargaku selalu tidak mau menerima kekurangan Yohan. aku benci itu.
"Aku mencintaimu."
"Aku jauh lebih mencintai mu, Anna." Yohan mencium keningku lembut dan lama.
"Baiklah, malam ini biarkan aku yang memasak. kau duduk saja." aku menggelengkan kepalaku tidak mau.
lalu aku memutar tubuhku ke belakang Yohan, lalu memeluknya dari belakang.
"Aku mau ikut."
"Baiklah, kau ikut." aku tersenyum mendengarnya. Yohan akan selalu menuruti semua perkataannya.
aku masih terus memeluknya dan mengikuti kemanapun Yohan melangkah selama memasak. Yohan bahkan sangat tidak terganggu dengan kehadiran diriku dibelakangnya yang mengganggunya memasak.
masakan Yohan sangat enak. aku suka, terkadang kami memasak bersama dan bermimpi ketika menikah nanti kita akan membuka restoran bersama.
__ADS_1
tentu itu adalah impian terbesarku bersama dengan Yohan. aku berharap semoga kita bisa membangun mimpi kita bersama.
kami sudah duduk dimeja makan, bahkan Atha pun sudah ada disini.
"Ayo makan, ini buatan dari Yohan. kau tau Atha, rasanya sangat enak. Kakak yakin kau akan ketagihan nantinya."
Atha menganggukan kepalanya dan mereka bertiga pun langsung memakannya dengan tenang.
"wah...benar-benar enak masakan mu kak. boleh aku menambah lagi?" tanya Atha kepada Yohan dengan tatapan yang takjub.
"Ambillah. makanlah hingga kah kenyang." tanpa basa-basi lagi Yohan dengan kalap menambah dengan porsi banyak.
ia terlihat sangat bernafsu makan. Membuat aku tersenyum melihat itu.
aku masuk kedalam kamarku, lalu mematikan lampu kamar membuat kamar terlihat gelap. Mengambil tablet yang sedang dipegang oleh Yohan.
"Sudah malam waktunya tidur." ucapku mengingatkan Yohan.
"Baiklah." aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, kepalaku berada di dada Yohan.
"Mark baru saja mengabari ku jika besok dia akan datang ke sini. Dia mengajak kita berkunjung ke villa orang tuanya." cerita Yohan sebelum tidur.
"Kau serius?"
__ADS_1
"ya."
"Yohan. selama ini aku selalu kepikiran terhadap Bos Daniel dan Nona Stella." ucapku dengan lirih.
"sayang, jangan bahas masa lalu. memang bukan takdirnya mereka bersama mau bagaimana lagi?" ucap Yohan memperingati ku.
"Aku tau itu. namun setelah itu, Bos Daniel menjadi seperti anak kecil. Dia selalu berteriak dan semakin kekanak-kanakan. Kau tau tadi dia jatuh dari tangga dan berteriak dengan sangat keras. dia memintaku menggendongku dari bawah sampai atas kamarnya. meminta di pijat di kakinya sampai dia tertidur. semua itu aku lakukan Yohan." jelasku sambil berteriak frustasi.
Yohan terkekeh mendengarnya, "Mungkin dia hanya sedang mengalihkan perhatiannya agar tidak mengingat masa lalunya."
"Mungkin saja. Mengingat dulu saat mereka putus, Bos Daniel bagaikan orang gila, memaki ku dan mengejek ku jelek. dan kau tau Yohan? dia menuduhku mau memperkosanya, gila saat itu ingin sekali aku memukul wajahnya."
"Kau cantik ketika marah, sayang." puji Yohan tanpa tahu situasi.
"Kau ini menyebalkan. aku sedang curhat mengenai bos ku harusnya kau menyemangati mu bukan malah meledekku seperti ini."
karena kesal aku membalik tubuhku memunggungi Yohan. Sekarang berbalik Yohan lah yang memelukku dari belakang.
"Anna."
"hmm..."
"aku ingin punya anak."
__ADS_1