AURIGA

AURIGA
BAB 1 : Tampan dan Berbahaya


__ADS_3


"Hari ini kalian kedatangan murid baru."


Kalimat yang dilontarkan oleh Bu Siska, wali kelas 12 IPA 9 itu langsung membuat seluruh murid di kelas gaduh, terutama para siswi.


"Wah! Ada murid baru!"


"Cowok apa cewek, ya?"


"Katanya sih, cowok!"


"Asyik! Ganteng nggak, ya?"


"Gue denger dia pinter banget, makanya dapat beasiswa masuk ke sekolah ini!"


"Wah, bakal jadi saingan berat Nadine!"


"Tadi gue liat dia di ruang kepsek. Gila! Ganteng banget parah!"


BRAK!


Bu Siska menggebrak keras meja. Sontak membuat kelas yang sedetik lalu seperti pasar menjadi sunyi bagai kuburan.


"Kalian ini, ya! Ibu belum selesai bicara malah bergosip! TIDAK ADA ETIKA!" suara Bu Siska menggelegar seisi kelas. Kacamata rabun jauhnya bahkan sudah melorot ke hidung. "KALIAN TIDAK MENGHARGAI SAYA!?"


Semua murid hanya bisa menunduk.


"SEBAGAI MURID HARUSNYA KALIAN MENDENGARKAN OMONGAN SAYA, GURU KALIAN DI DEPAN! BUKAN MALAH SIBUK SENDIRI!"


"Permisi..."


Semua kepala menoleh ke arah pintu kelas. Tampak seorang siswa dengan malu-malu berdiri di ambang kelas. Dan sontak membuat para siswi meleleh di tempat.


Tubuhnya tinggi besar dibalik seragam lengan panjangnya yang longgar, beda dengan siswa lain yang mengenakan seragam lengan pendek dan ketat. Rambutnya bergaya comma hair yang pasti akan tuing-tuing saat ia berlari.


Dan wajahnya,


jangan tanyakan wajahnya!


Karena inilah wujud nyata dari kesempurnaan! Bukti anugerah dari Tuhan!


Alis yang sudah alamiah terbentuk tanpa pensil. Mata yang hitam dan tajam. Hidung mancung sempurna. Bibir yang tebal dan ideal.


Demi apapun, Bu Siska, si guru matematika gendut yang kiler ini pun pasti sedang terpesona.


"Sakti, silahkan masuk..." suara Bu Siska langsung menurun dua oktaf.


"Assalamualaikum..." suaranya mengalun lembut saat ia memasuki ruangan kelas.


"Wa'alaikum salam..." jawab Bu Siska bersama para murid lainnya.


Sakti pun berdiri di depan kelas dengan canggung. Kedua tangan di belakang punggung. Menatap seluruh teman sekelasnya yang memandanginya.


"Perkenalkan dirimu dulu, Sakti." ucap Bu Siska.


"Hai, teman-teman..." sapa Sakti. "Nama saya Sakti Auriga Kaivan, saya pindahan dari SMAN 1 di Sukasari. Saya bisa bersekolah disini karena mendapat beasiswa. Semoga saya bisa menyesuaikan sekolah disini. Dan semoga kita bisa berteman baik." Sakti pun mengakhiri ucapannya dengan senyuman tulus.


"Jangankan berteman, lebih dari itu juga mau, kok!" goda salah satu siswi.


"Boleh minta nomor whatsapp nya, nggak?"


"Pakai skincare apa, sih? Kok, bisa putih mulus gitu?'

__ADS_1


"Ganteng, jadi pacarku mau, ya?"


"Masih gantengan gue kali!" sahut salah satu siswa.


"Huuu!!!" semua siswi langsung menyoraki.


"Mau dibeliin kaca, hah?"


"Jangan mimpi!"


"Ngarep lu, Tong!"


Sakti jadi bingung dan menggaruk kepalanya sendiri. Kok, jadi pada ribut gini?


"DIAM!!!" Bu Siska kembali berteriak. "Kalian ini benar-benar, ya!? Dasar cewek-cewek centil! Nggak tahu malu! Sakti nggak bakal mau sama cewek ganjen kayak kalian!"


Semuanya kembali diam.


"Ya sudah Sakti, selamat bergabung di kelas ini. Semoga kamu nyaman dan betah di sekolah ini. Maaf jika suasana hari ini tidak mengenakan. Tidak usah kamu perdulikan jika anak-anak cewek disini menggodamu atau mengganggumu, ya? Kamu tinggal bilang saja pada Ibu."


"Baik, Bu."


"Sekarang kamu boleh duduk di situ, di depan Nadine." ucap Bu Siska seraya menunjuk bangku kosong kedua dari belakang.


"Baik, Bu. Terima kasih!"


"Sama-sama." Bu Siska pun memamerkan senyum termanisnya.


Sakti pun berjalan menuju bangku kosong untuknya itu. Secara tak sengaja matanya bertemu dengan mata tajam seorang gadis yang tadi Bu Siska sebut adalah Nadine. Pandangannya sungguh tidak bersahabat. Padahal wajahnya sangat cantik.


Tapi dingin.


Sakti pun mencoba tersenyum pada Nadine. Ia berjanji akan selalu ramah terhadap siapapun di sekolah ini, agar terhindar dari berbagai macam masalah.


"Lo udah bilang itu di depan tadi!" ucap Nadine ketus.


Astaga, sangat tidak ramah bintang satu!


"Lo juga udah tahu nama gue." lanjut Nadine. "Jadi nggak perlu!"


Sakti meneguk ludahnya susah payah. Dengan perlahan ia menarik kembali tangannya, lalu duduk di bangkunya.


Banyak yang mendelik ke arah Nadine lalu menggosipinya. Bisa-bisanya ia begitu ketus dan menolak bersalaman dengan pangeran baru di IPA 9 itu. Tapi Nadine sama sekali tak menghiraukannya.


"Baik anak-anak, sekarang keluarkan buku matematika kalian!" titah Bu Siska, lalu mulai menulis di papan tulis.


...Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data Berkelompok...


"Materi kali ini akan mengkaji mengenai metode-metode statistika yang dapat digunakan dalam mendeskripsikan suatu data berkelompok." Bu Siska pun menerangkan materi, lalu menjelaskan rumus, dan memberi satu soal. "Silahkan kerjakan, dan yang bisa boleh maju ke depan."


...Nilai rata-rata ulangan matematika dari suatu kelas adalah 6,9. Jika dua siswa baru yang nilainya 4 dan 6 digabungkan maka nilai rata-rata kelas tersebut menjadi 6,8. Banyaknya siswa semula adalah ......


Sakti dengan santai mengerjakan soal itu di buku tulisnya. Setelah menghitung dengan penuh pengamatan, Sakti memperoleh hasil 36.


Baru saja Sakti akan mengangkat tangannya. Ia dikagetkan oleh suara di belakangnya.


"Saya bisa, Bu!"


Sakti menoleh ke belakang dan mendapati Nadine sudah berdiri sambil mengangkat tangan.


"Silahkan ke depan, Nadine." ucap Bu Siska.


Nadine maju ke depan dengan perlahan dan sesekali menghembuskan napas. Sakti bisa lihat gadis itu sedikit gelisah.

__ADS_1


Nadine menulis hasil jawabannya di papan tulis dengan tangan yang gemetar. Berdoa untuk keberuntungannya hari ini.


"Ini Bu, hasilnya..." ucap Nadine pelan.


Bu Siska memperhatikan hasil jawaban Nadine. "Cara mengerjakan kamu sudah benar, tapi hasil hitunganmu yang salah."


Mata Nadine membelalak tak percaya. "S-salah...?"


"Iya. Bukan 38 hasilnya. Tapi kamu bagus sudah berani mencoba. Silahkan kembali duduk ke tempatmu." ucap Bu Siska. "Yang lain? Ada yang mau menjawab?"


Nadine menunduk, rasanya malu sekali. Dapat ia dengar beberapa teman sekelasnya ada yang cekikikan puas melihat kegagalannya. Kenapa akhir-akhir ini ia begitu sering kurang fokus?


Nadine berjalan gontai menuju tempat duduknya, lalu menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya yang terlipat diatas meja.


"Saya bisa, Bu."


Suara Sakti sontak membuat Nadine mengangkat kepalanya.


"Silahkan, Sakti." ucap Bu Siska sambil tersenyum manis.


Sakti maju ke depan diiringi tepukan dan kata-kata penyemangat dari para gadis pengagumnya. Sungguh membuatnya senang dan merasa dihargai. Sakti menunduk hormat pada teman-temannya sambil tersenyum manis. Membuat mereka jadi salah tingkah.


"Bismillahirahmanirahim..." ucap Sakti, lalu mulai menulis hasil jawabannya di papan tulis.


...X1 \= 6,9...


...X2 \= 4...


...N2 \= 1...


...mean \= 6,8...


...X3 \= 6...


...N3 \= 1...


...nt \= n1 + 2...


...mean \= n1. x1 . x2 + x3 / n1 +2...


...6,8 \= n1 . 6,9 + 4 + 6 / n1 + 2...


...6,8 (n1 + 2) \= 6,9 n1 + 10...


...6,8 n1 13,6 \= 6,9 n1 + 10...


...6,9 n1 – 6,8 n1 \= 13,6 – 10...


...0,1 n1 \= 3,6...


...n1 \= 36...


"Jadi banyaknya siswa semula adalah 36, Bu." jawab Sakti mantap.


Bu Siska memperhatikan hasil jawaban Sakti dengan saksama.


Jantung Sakti berdegup kencang. Ia berharap jawabannya sudah benar, karena ia menghitung tanpa tergesa.


Dan apa salah jika hati kecil Nadine berharap itu jawaban yang salah? Walaupun ia sudah mencoba kembali menjawab di buku tulisnya dengan lebih teliti dan memiliki hasil yang sama dengan jawaban Sakti di papan tulis sana?


Mengapa si tampan satu ini sangat berbahaya?


Namun harapan Sakti meluntur seketika saat Bu Siska berkata, "Sayang sekali, Sakti..."

__ADS_1


__ADS_2