
"D-Dikta!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"KALIAN DARI MANA AJA!?" tanya Winda frustasi.
Nadine dan Sakti melenggang tanpa dosa memasuki rumah Winda.
"UDAH LUMUTAN TAHU, NGGAK KITA NUNGGUIN KALIAN!?"
"Iya, iya, maaf! Ada kesalahan teknis dulu tadi!" sahut Nadine.
"Kesalahan teknis, kesalahan teknis! Jangan bilang kalau kalian pacaran dulu!"
"Enak aja! Gue lama karena supir gue nggak datang-datang! Ada satu jam gue sama Sakti nunggu depan sekolah!"
"Kenapa nggak pesan taksi online aja, sih?" tanya Fardan.
"Bener banget!" timpal Winda.
"Bisa di amuk gue sama bokap!"
"Untung aja disini banyak makanan!" ucap Zidan yang tengah menyantap berbagai cemilan yang disuguhkan di meja tamu.
"Udah dong, jangan dimakanin terus! Abis nanti!" sergah Winda.
"Tenang! Gue udah beli banyak, kok, di minimarket tadi." ucap Nadine sambil memperlihatkan kantong belanja di tangannya.
"Ya udah, kalau gitu, ayo kita mulai kerja kelompoknya! Mana bahan-bahannya?"
"Ada di Sakti."
Nadine melirik Sakti yang kini tengah membuang mukanya.
Winda pun mulai menyalakan kamera nya untuk merekam kegiatan kerja kelompok mereka. Mereka bekerja sama dengan baik dan kompak. Walaupun sepanjang kerja kelompok, Nadine dan Sakti tampak asing dan dingin. Dan jangan lupakan Zidan yang mulutnya tidak pernah berhenti makan cemilan.
"Zidan! Jangan makan terus, kerja dong!" tegur Fardan.
"Gue juga kerja, kok! Lihat! Gue udah bikin dua baju bonekanya!" tukas Zidan.
"Baru bikin dua aja bangga! Mana nggak rapi lagi jahitnya!"
"Ya nggak apa-apa lah! Buat boneka ini!"
"Heran gue sama lo! Makan banyak tapi, kok badannya nggak gede-gede!"
"Maklum! Faktor genetik!"
"Udah! Udah! Kalian ini malah berantem!" sergah Winda. "Ini tuh, lagi di rekam, tahu!"
"Dih, siapa juga yang berantem!" bantah Zidan. "Iya, nggak Far?"
__ADS_1
"Bener banget, tuh! Debat dikit, doang!" timpal Fardan.
Hingga tak memakan waktu berjam-jam, mereka pun selesai membuat tiga boneka beruang.
"Fiuh! Akhirnya selesai juga!" ucap Winda lega.
"Ya kalau dikerjain bareng-bareng, pasti cepat selesai!" timpal Fardan. "Boneka buatan Sakti bagus banget! Jahitannya juga rapi banget!"
Sakti hanya tersenyum.
"Kenapa sih, lo? Dari tadi diam aja. Nggak biasanya." ucap Zidan pada Sakti.
"Iya, bener! Selama ngerjain juga lo murung banget!" timpal Fardan.
"Kalau si Nadine sih, udah nggak aneh kayak gitu!"
Nadine langsung mendelik pada Zidan.
"Nggak apa-apa... Sakti lagi malas ngomong aja." sahut Sakti.
Fardan dan Zidan pun saling tatap.
"Udah selesai, kan? Kalau gitu gue pamit mau pulang dulu, ya?" ucap Nadine.
"Ih, napa buru-buru banget, sih? Bentar lagi aja kali." ucap Winda.
"Nggak apa-apa, Win. Nyokap gue udah nanyain terus kapan selesainya." Nadine pun melihat ke luar jendela. "Tuh, supir gue udah datang. Gua pulang dulu, ya? Bye..."
Sakti menggeleng. "Nggak usah, makasih."
Nadine pun menghela nafas kasar.
"Ya udah, hati-hati, ya Dine." ucap Winda.
"Bye, Bestie! Makasih cemilannya!" seru Zidan.
"Hati-hati, Dine!" timpal Fardan.
Nadine pun mengangguk sambil tersenyum lalu bergegas keluar menuju mobil yang sudah menjemputnya.
"Kalau gitu, gue juga pulang dulu, deh." ucap Fardan.
"Gue juga kalau gitu." timpal Zidan.
"Sakti juga." ucap Sakti.
"Ya udah, makasih banget, ya kerja samanya! Boneka nya mau di simpan di siapa dulu?" tanya Winda.
"Ok, sans!" ucap Zidan.
"Di lo aja dulu." ucap Fardan.
"Sip!" ucap Winda. "Mau gue pesanin taksi online? Sorry banget, kakak gue nggak bisa antar kalian lagi!"
__ADS_1
"Boleh, boleh banget!" jawab Zidan.
"Eh!" Fardan langsung menyikut Zidan. "Nggak usah repot-repot, Win. Rumah gue dekat, kok!"
"Itu kan, rumah lo! Kalau Sakti sama Zidan?"
"Sakti juga nggak apa-apa, Winda. Sakti bisa pulang sendiri." ucap Sakti.
"Okay, kalau gitu. Hati-hati, ya?" ucap Winda.
Fardan, Zidan dan Sakti pun meninggalkan rumah Winda yang harus segera dibereskan karena penuh dengan bekas kerja kelompok dan sampah cemilan mereka.
"Mau nginep di rumah gue, nggak?" tanya Fardan pada Sakti dan Zidan.
"Ayo, gas! Udah lama gue nggak nginep dirumah lo!" seru Zidan semangat.
"Rumah Fardan emang dimana?" tanya Sakti.
"Nggak jauh dari sini. Paling cuma jalan lima menit." jawab Fardan. "Gimana? Lo mau, nggak?"
"Hm... Gimana, ya? Sakti kan, nggak bawa baju tidur sama seragam."
"Ya ampun, Sakti! Masalah baju tidur, lo bisa pakai yang gue! Lo juga bisa pulang pagi-pagi ke rumah lo, biar bisa siap-siap buat sekolah dulu!"
"Hm... Boleh kalau gitu."
...****************...
Laki-laki bernama Dikta itu mencekal lengan Nadine saat akan keluar dari minimarket.
"Tunggu! Kenapa kamu **ng**gak pernah kelihatan sekarang? Dan kenapa kamu blokir nomer aku?'" tanya Dikta.
"Lepasin, Dikta!" sergah Nadine sambil berusaha melepas cekalan di lengannya.
"Aku **ng**gak akan pernah lepasin tangan kamu sampai kamu mau maafin aku!"
"Dikta, please lepasin! Malu!"
"Nggak!"
"Lepasin tangan Nadine!" Sakti ikut bicara.
"*Ngg*ak usah ikut campur, lo! Lo siapa!?" sergah Dikta.
"Dia pacar gue!" jawab Nadine lantang, yang membuat mata Sakti langsung terbelalak. "Emang kenapa!?"
Kedua bola mata Dikta berkilat marah. Cekalan pada lengan Nadine pun terlepas. "Pacar!? Aku baru tahu kalau seorang Nadine Raheela sekarang udah boleh punya pacar!"
"Emang kenapa!? Dia jauh lebih bisa bikin gue nyaman, dan nggak banyak nuntut kayak lo dulu! Jadi mulai sekarang jangan pernah ganggu hidup gue lagi! Kita udah lama selesai! Urusin pacar yang selalu ada buat lo itu!"
Nadine pun menarik tangan Sakti. "Ayo, Sakti! Kita pergi dari sini!"
Sakti pun hanya bisa menerima tarikan Nadine untuk keluar dari minimarket yang sudah mulai ramai menonton itu.
__ADS_1