
Sudah sekitar tiga puluh menit Nadine menghabiskan waktu di perpustakaan. Membaca buku fisika sialan yang sama sekali tak masuk otaknya.
Baru saja ia bisa bernafas lega pagi ini, sudah ada saja perihal lain yang membuat batinnya meringis nyeri.
Sedekat itukah Sakti dan Salsa?
Memberi bekal setiap pagi. Sampai-sampai membelikan jins, kemeja, hoodie, dan barang-barang sialan lainnya?
Sial.
Entah sudah berapa kali Nadine mengumpat dalam hatinya.
Entah kenapa juga hatinya bisa sepanas ini sekarang.
Sungguh, Sakti telah merusak suasana hatinya pagi ini.
Mau Sakti dekat dengan Salsa, atau siapapun wanita yang tidak beruntung lainnya, itu bukan urusan Nadine.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidup, Nadine ingin menjadi wanita yang tidak beruntung.
Demi apapun, Nadine harus mengutuk dirinya sendiri.
Bel masuk pun berbunyi nyaring. Mengharuskan Nadine angkat kaki dari perpustakaan yang sunyi damai menuju kelas yang ramai dan memuakkan.
Begitu sampai di kelas, Nadine mengerutkan keningnya saat melihat bangku depan Sakti, yang seharusnya diisi oleh Winda, kini di duduki oleh Salsa. Padahal dari kelas 10, Salsa selalu ingin duduk paling depan.
Nadine berusaha mati-matian agar tak memusatkan perhatiannya pada Salsa yang tengah memutar badannya ke belakang sambil mengajak Sakti mengobrol.
"Nanti malam, ya?" ucap Salsa, dikeras-keraskan saat Nadine sudah duduk di bangkunya.
Sialan.
Sakti tahu Salsa tengah memanas-manasi Nadine.
"Sakti nggak janji, Salsa." sahut Sakti.
Mampus.
Nadine tersenyum miring ke arah Salsa.
"Kok, gitu? Nggak biasanya kamu nolak ajakan aku." protes Salsa
"Sakti belum ngerjain PR matematika." dusta Sakti.
Sial. Padahal Sakti sudah mengerjakannya tadi malam.
"Tumben banget, nunda bikin PR."
"Malam tadi Sakti duluin ngerjain kimia."
"Kalau gitu, kita ngerjain PR bareng aja! Gimana? PR matematika aku juga belum beres, kok."
Astaganaga!
Untung saja saat itu, Pak Iden, selaku guru mata pelajaran seni budaya memasuki kelas IPA 9, dengan sebuah patung yang terbuat dari tanah liat di tangannya, sehingga dengan terpaksa Salsa harus menyudahi obrolannya dengan Sakti.
"Minggu kemarin, kita sudah membahas tentang jenis, tema dan fungsi karya seni rupa tiga dimensi. Dan hari ini, Bapak sudah membawa contohnya untuk kalian."
Pak Iden menaruh patung tanah liat berbentuk gajah tersebut di meja.
__ADS_1
"Ini adalah salah satu contoh seni rupa tiga dimensi. Patung yang terbuat dari tanah liat ini hasil buatan Bapak. Kalian bisa lihat tutorial pembuatannya di channel youtube Bapak, Iden Koswara. Jangan lupa like, comment, dan subscribe."
Semua murid berdecak malas.
"Dan kali ini, Bapak akan memberikan tugas kepada kalian untuk membuat seni rupa tiga dimensi."
"HAH!!!???"
Semua murid langsung ternganga-nganga.
"Ih, Bapak, nggak bisa!"
"Yang bener aja, Pak. Mana bisa bikin yang kayak gitu!"
"Nggak mau, ah, Bapak!"
"Di rumah, kan bikinnya, Pak?"
Kelas menjadi amat riuh.
"Hei, tenang, tenang!" ujar Pak Iden. "Ini adalah tugas kelompok yang dikerjakan di rumah. Tapi kalian harus merekam video selama proses pembuatannya, dan mempostingnya di channel youtube kalian."
"YESSS!!!"
"ALHAMDULILLAH...!"
"Kenapa harus direkam segala, sih?"
"Untung berkelompok!"
"Gue bagian merekam aja, deh!"
"Ntar rekamnya pakai filter IG, ya?"
Pak Iden pun menulis kelompok 1 sampai kelompok 5 di papan tulis yang masing-masing terdiri dari lima murid.
Ketika melihat namanya di dalam kelompok yang sama dengan Nadine, Sakti secara refleks membalikkan badannya.
"Nadine! Kita sekelompok!" seru Sakti.
"Eh, iya..." betapa salah tingkahnya Nadine.
"Sakti! Kita gak sekelompok...!" rajuk Salsa.
"Eh, iya, ya..." timpal Sakti, dengan perasaan yang amat gembira. Dengan ini, ia bisa lolos dari kencan membosankan dengan Salsa, dan bisa menghabiskan waktu dengan Nadine.
"Bapak, saya bisa pindah kelompok, nggak?" tanya Salsa pada Pak Iden.
"Maaf, Salsa. Ini sudah ditentukan oleh Bapak. Tidak bisa diganggu gugat." jawab Pak Iden.
"Tapi, Pak... Saya pengen satu kelompok sama Sakti... Tukar saja sama Nadine!"
Nadine langsung mendelik. Mana bisa begitu?
Sakti pun panik. Bagaimana kalau Nadine bisa ditukar dengan Salsa? Tidak boleh.
"Maaf, Salsa. Tidak bisa." Pak Iden tetap pada keputusannya.
Salsa pun berdecak kesal. Suasana hatinya benar-benar buruk sekarang. Bagaimana bisa guru seni budaya itu memasukkan Nadine dan Sakti di kelompok yang sama?
__ADS_1
"Tenang, Salsa! Lo satu kelompok sama gue." ucap Rheina yang duduk di bangku sebelahnya.
Salsa hanya memutar bola matanya malas.
"Kelompok 1, harus membuat seni rupa patung yang terbuat dari tanah liat, seperti contoh patung gajah Bapak ini. Kelompok 2, membuat seni rupa patung yang terbuat dari gypsum. Kelompok 3, seni replika, bisa menggunakan kertas, kardus bekas atau buah-buahan dan sayuran. Kelompok 4, seni gerabah dari tanah liat. Dan kelompok 5, seni kriya, bisa menggunakan tanah liat, atau menjahit beberapa boneka." tutur Pak Iden. "Untuk hari ini, Bapak tidak akan mengajar, silahkan jam pelajaran Bapak dipakai untuk berdiskusi bersama teman satu kelompoknya masing-masing. Mengerti?"
"MENGERTI, PAK!" sahut semuanya.
Pak Iden pun meninggalkan kelas IPA 9. Semua murid langsung riuh berkumpul dengan teman kelompoknya masing-masing. Membahas waktu pengerjaan, tempat pengerjaan, dan pembagian tugas.
"Jadi kapan mau ngerjainnya?" tanya Winda, pada Nadine, Sakti, Fardan, dan Zidan.
"Kapan aja boleh, gua mah." jawab Fardan.
"Tadi kelompok kita dapat tugas bikin apa, sih?" tanya Zidan. "Lupa gue!"
"Kelompok 5, seni kriya." jawab Sakti.
"Mau bikin apa?" tanya Fardan. "Boneka atau benda dari tanah liat?"
"Tanah liat, lah! Apaan boneka? Mainan bocil cewek!" sergah Zidan.
"Tapi kelompok 1 sama kelompok 4 juga dari tanah liat. Masa, kita juga tanah liat, sih?" protes Sakti.
"Iya juga! Kita harus berbeda dari yang lain!" timpal Winda.
"Emang seni kriya apa aja, sih? Masa, boneka sama tanah liat doang!" ucap Fardan, lalu membuka google dan searching. "Ada seni kayu, batu, keramik,"
"Alah! Susah! Harus dipahat kalau kayak gitu!" protes Winda.
"Jadi boneka aja, atau tanah liat?"
"Tanah liat!" tegas Zidan, sambil menggebrak meja.
"Santai, Bro!" ucap Fardan. "Gue juga tanah liat, deh!"
"Kalau gue boneka!" timpal Winda.
"Sakti juga boneka." sahut Sakti.
"Lo nggak boti, kan?" tanya Zidan.
"Boti apa?"
"Bonceng tiga!" sergah Winda, meluruskan.
Padahal maksud Zidan bukan bonceng tiga, kan...?
"Bonceng tiga? Maksudnya? Kenapa Sakti bonceng tiga?" tanya Sakti yang semakin dibuat heran.
"Udah, udah! Nggak usah diperpanjang!" sergah Winda, lalu melirik Nadine yang sedari tadi membisu. "Kalau lo mau apa, Nadine?"
"Gua ngikut aja." jawabnya enteng.
"Nggak bisa ngikut aja! Ini masalahnya boneka sama tanah liat udah sama-sama dapat dua suara. Lo jadi penentu!"
Nadine melirik Sakti yang sedang menatapnya penuh harap.
"Boneka, boneka..." ucap Sakti tanpa suara.
__ADS_1
Nadine mengangkat sebelah alisnya.
Apa ia harus menuruti permintaan laki-laki ini setelah merusak suasana hatinya tadi?