AURIGA

AURIGA
BAB 7 : Tekanan Mental


__ADS_3


Tapi tiba-tiba ada suara yang amat Nadine kenali memanggilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nadine memiliki riwayat tekanan darah rendah. Dan akhir-akhir ini katanya dia sulit berkonsentrasi, mengalami gangguan tidur, nyeri otot dan sering merasa kelelahan apalagi saat belajar. Ini bisa menjadi tanda-tanda kalau Nadine sedang mengalami stress." tutur dokter perempuan muda itu.


"Stress?" Bu Friska melirik anaknya yang terbaring di ranjang ruang periksa dengan wajah yang sangat pucat itu. "Penyebab stress itu apa saja, ya Dok?"


"Penyebabnya sangat beragam, Bu. Apalagi Nadine adalah seorang remaja, yang dinilai lebih mudah mengalami stress ketimbang orang dewasa. Bisa jadi karena masalah percintaan, masalah dengan teman, bahkan dengan orang tua. Atau bisa jadi karena terlalu keras belajar."


"Tapi saya sebagai orang tuanya sangat bingung mengenai hal ini. Saya benar-benar protektif terhadap anak saya. Saya tidak pernah membolehkan dia berpacaran dan terlalu sering bermain dengan teman-temannya. Saya pun selalu berusaha menjadi orang tua yang baik. Tapi saya memang selalu menyuruhnya belajar setiap hari. Tapi saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Saya ingin anak saya disiplin dan meningkatkan prestasinya. Apa saya salah?"


"Saya paham, Bu. Sebenarnya bagus sekali sebagai orang tua, kita menyuruh anak untuk belajar dan meningkatkan prestasinya. Tapi kita juga harus menjadikan belajar ini menyenangkan dan tidak menjadi beban untuk anak kita. Kita juga harus tahu mana waktunya dia belajar, mana waktunya dia istirahat atau healing. Kita tidak boleh terlalu memaksa anak untuk terus menerus belajar, karena bisa menyebabkan stress yang dapat menurunkan kecerdasannya. Kita juga tidak boleh menuntut nilai yang tinggi kepada anak kita, karena ini justru menjadi tekanan pada mentalnya yang malah membuat ia kurang fokus saat belajar." tutur Dokter.


Bu Friska tak menjawab apa-apa.


"Ini bisa menjadi bahaya besar, Bu. Apalagi Nadine sampai pingsan karena stress akibat terlalu keras belajar. Disini peran kedua orang tua sangat dibutuhkan. Ibu harus lebih mendekatkan diri dengannya dan bicara dengannya baik-baik. Apa yang dibutuhkannya, apa yang selama ini menjadi tekanannya, dan jangan lupa memberikannya dukungan dan semangat. Ibu juga harus lebih memperhatikan pola belajar yang tepat bagi anak Ibu agar tidak menjadi beban yang akan menyebabkan stress dan lebih parahnya depresi."


"Baik, Dokter."


"Kalau begitu, saya beri resep obatnya dulu ya, Bu?" kemudian dokter itu menuliskan resep obat, dan menyerahkannya kepada Bu Friska. "Ini, Bu."


"Terima kasih ya, Dok."


"Sama-sama."


Bu Friska pun membantu Nadine bangkit dari ranjang ruang periksa dan menuntunnya pelan berjalan keluar.


"Dasar dokter menyebalkan! Masih muda sok menasehati Mama begitu!" dumal Bu Friska saat sedang mengendarai mobil yang sudah meninggalkan parkiran rumah sakit.


"Padahal Mama yang paling paham bagaimana mengurus anak Mama!"


"Tapi dia seperti menyudutkan Mama seolah-olah Mama adalah orang tua yang tidak becus dan salah dalam pola mendidik anak!"


"Tahu apa dia soal menjadi seorang ibu!?"

__ADS_1


"Padahal dia juga pasti ingin yang terbaik untuk anaknya setelah menjadi ibu nanti!"


"Mama mendidik kamu dengan keras supaya kamu menjadi anak yang disiplin dan membanggakan!"


Ocehan Bu Friska sepanjang perjalanan sama sekali tak ingin Nadine dengar. Nadine memilih membuang muka dan menatap jalan lewat kaca mobil dan perlahan mulai memasuki alam mimpi.


Alam yang lebih jauh indah dan tenang dari tempat kini ia berpijak.


...****************...


Sepanjang di sekolah, Sakti benar-benar tak tenang dan khawatir pada Nadine. Jam istirahat pertama tadi, Sakti langsung ke UKS namun tidak menemukan Nadine. Lita pun memberi tahu kalau Nadine sudah sadar dan dijemput oleh ibunya.


Dan Sakti agak bisa bernafas lega.


Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Sakti sudah siap untuk pulang dengan berjalan kaki, namun tiba-tiba ada seseorang yang mencegat langkahnya.


"Hai, Sakti!" ternyata itu adalah Salsa. "Gimana? Kamu mau nggak, kencan sama aku?" pertanyaan yang sudah ia lontarkan berkali-kali hari ini.


Dan sedari tadi Sakti menjawab 'gimana nanti saja, ya?'


Kalau kencan, cowok yang harus keluar uang, kan?


Tapi kalau menolak, Sakti takut nanti dianggap sombong.


"Hm... Gimana, ya...?" gumam Sakti.


"Kenapa?"


"Sakti nggak punya banyak uang buat kencan, Salsa. Apalagi kalau ke mall atau caffe." Sakti menghela nafas. "Uang saku Sakti pas-pasan."


Salsa tertawa kecil. "Kamu itu ngomong apa, sih? Kamu nggak usah keluar uang! Kan, aku yang ngajak, masa kamu yang harus keluarin uang! Aku juga paham kondisi keuangan kamu."


Sakti tak menjawab apa-apa. Sibuk mencari alasan lain.


"Ayo, Sakti! Kapan lagi kamu kencan sama cewek tanpa harus keluar duit? Lagian kita nggak berdua, kok! Ada Rheina juga sama temen cowoknya." bujuk Salsa. "Ayo, Sakti. Please... Kamu bukan cowok sombong, kan?"


"Hm... Ya sudah, terserah..."

__ADS_1


"Sip!" Salsa mengacungkan ibu jarinya. "Rumah kamu dimana? Nanti aku jemput."


"Di Ananda Kost."


"Oh, dekat berarti dari sini, ya? Ya udah, nanti kamu langsung siap-siap aja. Aku sekarang pulang dulu dan langsung siap-siap juga. Nanti aku jemput depan kost kamu, oke?"


Sakti mengangguk.


"Boleh minta nomor whatsapp kamu?"


Sakti pun memberikan nomor whatsapp nya


"Thanks!"


Salsa pun berlalu menuju mobil yang sudah menjemputnya sebelum membelai pipi Sakti terlebih dahulu.


...****************...


"Ayo, Non, makan dulu." bujuk Bi Irni, asisten rumah tangga yang sudah mengabdi selama dua puluh tahun di kediaman keluarga Wiratama.


"Nggak mau, Bi..." tolak Nadine untuk yang kesekian kalinya. Ia pun menyembunyikan kepalanya di dalam selimut.


"Kalau Non Nadine nggak mau makan, nanti nggak bisa minum obat." Bi Irni tak letih membujuk. "Non Nadine kan harus minum obat. Mau sembuh, kan?"


"Nggak, Bi... Nadine nggak mau sembuh..."


"Lho? Kok, Non ngomong gitu? Kenapa?"


Nadine tak menjawab, terus bersembunyi dalam selimut. Kepalanya sudah tak begitu sakit. Badannya sudah tak begitu lemas. Tapi membayangkan kesembuhan yang akan membawanya kembali dalam kesengsaraan belajar dan tekanan dari orang tuanya, enggan membuat Nadine bernafsu bahkan hanya untuk melihat makanan yang tersaji di atas nakas itu.


Bi Irni mendesah putus asa. Ia pun bangkit dari posisi duduk di ranjang Nadine lalu menuju keluar kamar sambil berkata, "Nanti makanannya dimakan, ya Non."


Nadine menangis dalam selimutnya. Mentalnya sedang sangat tertekan saat ini. Tapi sama sekali tak ada dukungan dan semangat dari orang di sekitarnya. Yang ada malah semakin menekannya.


Bahkan ibunya sendiri pun, sama sekali tak melakukan apa yang dokter tadi sarankan, seperti mendekatkan diri lebih dekat Nadine, mempertanyakan dengan baik-baik apa yang Nadine butuhkan sekarang. Yang ada, ia malah kembali ke kantor nya untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum berpesan pada Nadine.


"Jangan lupa makan yang banyak dan minum obat! Kamu harus segera sembuh agar bisa kembali ke sekolah dan tidak tertinggal pelajaran!"

__ADS_1


__ADS_2