
Nadine mendudukkan bokongnya di salah satu kursi taman sekolah. Tidak seperti saat jam istirahat, taman lebih sepi di pagi hari.
Asri.
Sunyi.
Damai.
Tenang.
Dan itulah yang dibutukan Nadine sekarang.
Kini Nadine sudah tidak punya tempat bersandar dan bercerita. Bahkan ketiga sahabatnya pun kini tak lagi di pihaknya.
"*KALIAN BENAR-BENAR NGG*AK PERDULI YA, SAMA GUE!!!???"
"Apa sih, lo! Lebay banget! Mending sini ikut cuci mata!"
"Iya, lagipula nggak usah lo ambil pusing. Belajar aja sewajarnya. Nggak usah dipaksain, daripada nanti lo stress." timpal Syarla.
"Bener banget! Hidup itu bukan cuman buat belajar, apalagi ini masa remaja! Masa yang benar-benar harus dinikmati dan jangan di sia-siakan!" sahut Alea.
Lalu mereka kembali sibuk dengan foto-foto Sakti di ponsel Chika. Nadine amat merasa tidak dihargai. Bukan itu jawaban yang Nadine inginkan dari sahabat-sahabatnya. Padahal mereka lah tempat Nadine berkeluh kesah dan bersandar.
Jika ingat kejadian dua hari yang lalu itu, dada Nadine kembali sesak. Apalagi dua hari kemarin juga Nadine tak diberi kesempatan keluar rumah dan hanya boleh belajar, karena Mama nya mendapat telepon dari Bu Siska kalau Nadine akhir-akhir ini kurang fokus saat belajar di sekolah.
"Mama dapat telepon dari Bu Siska, kalau nilai ulangan harian kamu menurun dan kamu banyak melamun di sekolah!"
"Maksud kamu apa, Nadine!? Mempermalukan Mama dan Papa! Sampai di telepon oleh guru!"
"Masih kurang waktu belajar yang kami kasih di rumah untuk kamu!?"
"Ini pasti gara-gara kamu kebanyakan main dengan teman-teman nakal mu itu!"
"Sekarang kamu lebih fokus belajar di sekolah maupun di rumah!"
"Awas kalau Mama sampai dapat telepon dari Bu Siska lagi!!!"
Perkataan ibunya itu selalu terngiang-ngiang di telinganya. Kini sudah tidak ada yang perduli dengannya.
Kalau bisa, Nadine ingin menghilang dari dunia ini.
Walau hanya untuk sesaat saja.
...****************...
Seluruh anak IPA 9 sudah berbaris rapi di lapangan outdoor dengan baju olahraga biru muda plat hitam kebanggaan Tunas Bangsa.
Pak Irwan, selaku guru penjaskes memimpin pemanasan.
"SATU! DUA!"
"TIGA! EMPAT!"
"LIMA! ENAM!"
"TUJUH! DELAPAN!"
Ketika melakukan gerakan dinamis kepala, secara tak sengaja Sakti melihat Nadine memegangi kepalanya dengan wajah mengernyit menahan nyeri.
Dan beberapa detik kemudian, tubuh Nadine pun ambruk dan pasti akan jatuh ke tanah lapangan.
Namun hal itu tak terjadi.
Bagai slowmotion, Sakti berlari menuju barisan perempuan dan menyambut pinggang ramping Nadine sebelum mencium tanah lapangan.
Semua langsung menyudahi pemanasannya dan langsung mengerubuti Nadine yang jatuh pingsan.
__ADS_1
"Bawa dia ke UKS! Setelah itu kamu kembali kesini!" perintah Pak Irwan.
"Baik, Pak." sahut Sakti lalu menggendong tubuh Nadine dan membawanya menuju UKS dengan perasaan khawatir.
Sesampainya di UKS, ada beberapa anak PMR yang sedang bertugas untuk jaga, dan salah satunya adalah Chika.
"NADINE KENAPA, AYANG!!?" tanya Chika heboh.
"Dia pingsan sewaktu tadi olahraga." jawab Sakti seraya membaringkan tubuh Nadine di ranjang UKS.
"Ya ampun, my Princess..."
Chika pun menepuk dan mengguncang-guncangkan bahu Nadine, lalu memanggilnya kencang.
"NADINE!"
"NADINE!"
"NADINE!"
Tapi Nadine sama sekali tak tersadar dari pingsannya.
Chika pun mengecek pernapasannya dan denyut nadi di lehernya. Sedangkan anak PMR lain ada yang menaikkan kaki Nadine dan ada yang melonggarkan pakaiannya.
"Nadine nggak kenapa-napa, kan?" tanya Sakti panik.
"Napasnya sih, normal." jawab Chika. "Lita, kayu putihnya, dong."
Lita, anak PMR kelas 10 pun langsung menyodorkan botol kayu putih pada Chika.
Chika membuka tutup botol kayu putih itu dan menempelkannya di hidung Nadine. "Nadine, please... Sadar..."
Namun tak ada tanda-tanda kesadaran Nadine.
"Wah! Kalau Kak Nadine nggak sadar-sadar berarti kita harus panggil ambulans, dong!"
"Nggak, lah! Kasih napas buatan dulu!"
"Kan ada Kak Sakti!"
Semua langsung menoleh ke arah Sakti.
Lho, kenapa harus aku?
Tapi, boleh juga...
"Kalian ini apa-apaan, sih!" sergah Chika. "Lagian Nadine masih bernapas, kok! Dalam kasus pingsan biasa, CPR nggak dibutuhkan!"
"Terus gimana?" tanya Lita pada Chika.
"SAKTI!!!"
Tiba-tiba terdengar panggilan keras dari luar UKS. Sakti sontak menoleh dan mendapati Fardan, teman sekelasnya diluar sana.
"AYO BALIK KE LAPANGAN!!!"
...****************...
Rasanya sulit sekali bagi Nadine untuk membuka matanya hingga membulat sempurna. Kepalanya lagi-lagi terasa berat. Dan yang pertama kali matanya lihat adalah langit-langit ruang UKS.
"Kak Nadine udah sadar!?" seru satu suara di sebelahnya.
Nadine langsung menoleh dan mendapati Lita sedang tersenyum lega. Karena napas dan denyut nadi Nadine masih normal, Chika pun hanya menyuruh Lita menjaga Nadine sampai tersadar sendiri sambil sesekali menempelkan kayu putih di hidungnya. Dan itu sudah berlangsung selama lima belas menit.
"A-aku kenapa bisa ada disini...?" tanya Nadine.
"Tadi Kak Nadine pingsan waktu olahraga dan digendong sama Kak Sakti kesini."
Deg!
__ADS_1
Jantung Nadine langsung berdegup kencang.
Otaknya coba mengingat apa yang terjadi. Hingga ia ingat saat pemanasan tadi, kepalanya terasa pusing sekali dan telinganya terus berdenging. Hingga akhirnya pandangannya mulai kabur, dan ia tidak ingat apa yang terjadi setelah itu.
Indra penciumannya menangkap aroma parfum woody yang maskulin dan lembut. Dan itu berasal dari baju olahraga bagian lengannya.
Wangi Sakti yang menempel.
"Aku buatin teh manis dulu, ya Kak?" ucap Lita, lalu membuatkan teh manis untuk Nadine.
Tak lama kemudian, Lita pun datang kembali dengan teh manis hangat di tangannya. "Ini Kak, diminum dulu."
Nadine pun bangkit duduk dari posisi berbaringnya, lalu meminum teh manis hangat itu. "Makasih ya, Lit."
"Sama-sama, Kak."
"Sudah berapa lama aku pingsan?"
"Lima belas menit kurang lebih, Kak. Memangnya kenapa Kak Nadine bisa pingsan?"
"Sedari pagi aku memang sudah pusing, tapi aku sudah minum obat."
"Padahal tidak usah dipaksakan ke sekolah kalau sedang pusing, Kak."
Nadine menghela nafas panjang. Apa kata orang tuanya nanti jika ia absen hanya karena sakit kepala?
"Payah! Anak PMR kok, pingsan?"
Nadine dan Lita pun menoleh ke ambang pintu dan mendapati Alea di ambang pintu.
Nadine membuang mukanya sambil tersenyum kecut. "PMR juga manusia..."
Sudah dua hari ini ia tidak berinteraksi dengan ketiga sahabatnya. Bahkan malam itu pun ia tak menginap di rumah Chika dan memilih pulang walau Chika, Alea dan Syarla menahannya.
Katakanlah Nadine egois, keras kepala, gampang marah. Tapi memang itulah dia.
Alea pun mendekati ranjang UKS dan meraba dahi Nadine. "Lo panas banget, Nadine..."
"Lo juga pucat banget." lanjut Alea. "Kenapa lo sekolah kalau lagi sakit? Olahraga pula!"
"Tadi gue cuman pusing sedikit, tapi udah minum obat." sahut Nadine.
"Terus kenapa lo bisa pingsan?'
"Tadi waktu pemanasan olahraga kerasa lagi..."
"Padahal lo nggak usah ikut olahraga! Izin aja dan diam di UKS!"
"Iya, Alea... Iya..."
Alea menghela nafas panjang. "Gue benar-benar khawatir sama lo... Ini aja gue bela-belain izin ke toilet sama guru, padahal buat kesini."
"Ya ampun, Lea! Kalau ketahuan bisa-bisa lo di skors lagi!"
"Ya nggak bakalan, lah!"
"Ya udah, sana balik lagi ke kelas lu. Gue udah nggak apa-apa, kok!"
"Bener lo udah kagak apa-apa?"
"Bener, Lea!"
"Tapi gue juga males kalau harus ke kelas lagi! Mana pelajaran matematika!"
"Kak Nadine mau pulang, nggak?" tanya Lita, yang sedari tadi hanya menjadi nyamuk.
Nadine tampak berpikir sebentar.
"NADINE!"
__ADS_1
Tapi tiba-tiba ada suara yang amat Nadine kenali memanggilnya.