AURIGA

AURIGA
BAB 17 : Mantan Nadine?


__ADS_3

Sakti pun hanya bisa menerima tarikan Nadine untuk keluar dari minimarket yang sudah mulai ramai menonton itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nadine, yang tadi itu siapa?" tanya Sakti begitu mereka di pelataran parkir.


"Gue rasa lo udah tahu!" sahut Nadine.


"Mantan Nadine, ya?"


Nadine tak menjawab.


"Terus kenapa Nadine bilang kalau Sakti pacar Nadine?" tanya Sakti.


"Kenapa? Lo keberatan?"


"Bukan gitu, Nadine. Justru Sakti senang..."


"Idih! Nggak usah kege-eran lo, ya? Gue ngakuin lo pacar gue, biar si Dikta kagak gangguin gue lagi! Jangan ngarep!"


Hati Sakti mencelos seketika. Raut wajahnya pun berubah muram.


"S-Sakti, maaf... Gue terlalu kasar, ya...?"


Beep!


Beep!


"Non, udah kan belanjanya? Ayo atuh berangkat. Jangan ngobrol disitu nanti kepanasan!" seru Mang Asep dari balik kaca mobilnya yang terbuka.


...****************...


"Maaf, ya? Kamar gue berantakan!" ucap Fardan begitu Sakti dan Zidan masuk ke dalam kamarnya yang tidak layak disebut dengan kamar, melainkan kapal pecah.


"Nggak apa-apa, Fardan." sahut Sakti.


"Ya udah, gue mandi dulu, ya? Apa kalian juga mau bareng gue?" tanya Fardan jahil.


"Kagak, ya!? Bahaya tau, nggak!?" sergah Zidan.


"Iya, benar! Takut terjadi hal yang tidak diinginkan!" timpal Sakti.


"Idih! Pikiran kalian kotor semua, ya? Lagian siapa juga yang mau mandi bareng kalian? Wek!" Fardan menjulurkan lidahnya tanda mengejek, lalu masuk ke kamar mandi yang ada dalam kamarnya.


"Lah!? Tadi dia yang ngajakin!" sergah Zidan, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik Fardan.


Sakti memandang sekelilingnya.


Begitu menginjakkan kaki disini, Sakti langsung takjub dengan gerbang dan kolam renang depan rumahnya yang minimalis. Belum lagi dalam rumah Zidan yang tanpa sekat dinding dengan nuansa serba putih. Sebelas dua belas dengan rumah Winda tadi.


Dan kamar ini begitu luas dengan ranjang king size, lemari empat pintu, meja belajar, dan televisi di atas meja sudut kamar. Walaupun semua tidak tersusun rapi alias berantakan.


Jauh sekali dengan kamarnya dulu.


Hanya diisi dengan kasur lantai dan satu lemari susun.

__ADS_1


Dengan inisiatif nya, Sakti mulai membereskan kamar Fardan. Bantal dan guling ia susun, buku-buku ia rapikan di atas meja belajar, sampah juga ia kumpulkan di sudut ruangan. Sementara Zidan sudah sibuk bertarung di alam mimpinya.


Sekejap saja, kamar Fardan sudah rapi dan bersih. Sakti tersenyum lega.


Pintu kamar mandi pun terbuka. Fardan yang sudah berpakaian lengkap sampai melongo tak percaya.


"SAKTI! KAMAR GUE LO APAIN!?'


...****************...


"Seumur hidup baru kamar gue serapi dan sebersih ini." ujar Fardan sambil mencemil keripik kentang. "Thanks ya, Bro!"


"Sama-sama." sahut Sakti.


"ARGHHH!!!"


Zidan berteriak frustasi. Sampai membuat Sakti dan Fardan terkejut.


"Lo kenapa, anjir!?" tanya Fardan.


"GUA GAGAL DAPAT LORD! ANJIR LAH!"


Zidan terus mengumpat dengan kata-kata mutiara nya.


Biasa.


Anak Mobile Legends.


"Istighfar, Zidan!" sergah Sakti.


Zidan pun melempar ponselnya ke ranjang. "Tahu, lah! Bikin emosi aja! Mau dong!"


Dengan tanpa tahu malu, Zidan mulai memakan keripik kentang Fardan.


"Oh iya, Sakti. Gue mau nanya sama lo." ucap Fardan.


"Mau nanya apa?" tanya Sakti.


"Lo... Pacaran sama Salsa?"


Mata Sakti membulat sempurna. "Nggak! Kata siapa!?"


"Kata siapa, kata siapa! Satu sekolah udah tahu lo kencan sama Salsa pas hari Senin. Lo juga dibikinin bekal sama dia tiap hari. Dan jam tangan itu, itu dari Salsa, kan?"


Sakti menghela nafas. "Sakti juga nggak tahu harus gimana! Sakti nggak suka sama Salsa. Tapi Sakti juga nggak bisa nolak setiap ajakan dan pemberian dia."


"Lo manfaatin dia?'


"Astaghfirullah! Nggak Fardan! Salsa selalu maksa dan bilang kalau Sakti sombong kalau nolak pemberian dia! Sakti nggak tahu harus gimana..."


Fardan menghela nafas kasar. "Kayaknya dia benar-benar cinta sama lo..."


"Tapi Sakti nggak cinta sama Salsa..."


"Lo kan cinta nya sama Nadine!" celetuk Zidan.

__ADS_1


Sakti yang sedang meneguk thai tea yang tadi Nadine belikan di minimarket langsung tersedak.


"Tuh, kan! Sampai keselek!"


"Pelan-pelan Sakti!" ucap Fardan.


Sakti menggeleng cepat. "Kata siapa Sakti cinta sama Nadine?"


"Nggak usah bohong! Gue udah tahu dari awal kalau kalian tuh, saling suka! Iya kagak, Far?" Zidan menyikut Fardan.


"Nggak tahu. Gue kira Sakti pacaran sama Salsa."


"Nggak, Far! Sakti nggak suka Salsa! Salsa aja yang gatel terus-terusan mepet Sakti! Sakti sukanya sama Nadine! Dari cara ngelihat sama perlakuannya aja udah beda! Waktu Nadine pingsan aja, Sakti langsung gercep gendong Nadine. Dan Nadine, dia juga suka sama Sakti!"


"Ah! Masa, sih?" ucap Sakti.


"Lo nggak percaya? Selama dua tahun lebih sekelas sama dia, gue nggak pernah lihat dia ngobrol ataupun dekat sama cowok! Cuman sama lo doang, dia bisa hangat kayak gitu! Tadi pagi juga kalian ngobrol akrab banget kan, sebelum si Salsa datang ke kelas?"


Sakti tersenyum pahit. "Nggak pernah dekat sama cowok? Tadi di minimarket Sakti sama Nadine ketemu mantannya Nadine!"


"HAH!?"


Fardan dan Zidan terkejut bukan main.


"Mantan Nadine? Nggak salah, lo?" tanya Fardan.


"Beneran!"


"Coba ceritain gimana kejadiannya tadi!" ucap Zidan antusias.


Sakti pun menceritakan pertemuannya dengan Dikta di minimarket tadi, juga dengan perkataan Nadine yang membuat hatinya sakit.


"Dikta? Dikta mana, ya?" tanya Fardan.


"Nggak tahu. Tapi kayaknya nggak sekolah di Tunas Bangsa." jawab Sakti.


"Tuh, kan! Bahkan dia aja ngakuin lo pacarnya di depan mantannya! Fiks! Dia suka sama lo!" ucap Zidan bersemangat.


"Eh, bentar, bentar! Kapten klub basket SMA Pelita Bakti namanya Dikta, lho!" ucap Fardan.


"Fardan kenal?" tanya Sakti.


"Kenal tapi nggak dekat, sih! Gue kan kapten klub basket di SMA kita. Jadi kenal si Dikta ya, karena sering ketemu di kejuaraan antarsekolah."


"Oh, iya! SMA Pelita Bakti juga pernah datang ke sekolah kita kan, waktu sekolah kita ngadain kejuaraan!" timpal Zidan.


"Iya, dan mereka kalah di semifinal waktu tanding lawan sekolah kita!"


"Apa benar Dikta yang itu, ya...?" ucap Sakti.


"Gue ada fotonya, bentar!"


Fardan pun mengotak-atik ponselnya. Beberapa saat kemudian, ia pun memperlihatkan layar benda gepeng nya itu pada Sakti.


"Dikta yang ini, kan?"

__ADS_1


__ADS_2