AURIGA

AURIGA
BAB 22 : Bukan Cinta?


__ADS_3


"Sakti *ng*gak akan buat malu Nadine lagi!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sakti pun berlari meninggalkan Nadine di pelataran parkir restoran setelah penuturan panjangnya.


"Sakti!" seru Nadine, lalu berlari menyusul Sakti. "Sakti, tunggu!"


Sakti terus berlari. Tak menghiraukan sedikitpun Nadine yang terus memanggilnya.


Nadine yang saat itu memakai heels kewalahan dan tidak dapat sedikitpun mengimbangi Sakti.


"Sakti! Sakti, tunggu! Akh...!!!"


Kaki Nadine terkilir hingga keseimbangannya hilang dan terjatuh.


"Aduh!" pekik Nadine kesakitan.


Mendengar pekikan Nadine, Sakti menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.


Terlihat Nadine sudah terjatuh duduk di aspal sambil memegangi kakinya yang sakit.


Seharusnya Sakti kembali berlari, meninggalkan gadis itu seorang diri.


Namun Sakti tidak akan pernah bisa melakukannya.


Karena dia mencintai gadis itu.


Sakti menghampiri Nadine dengan cemas lalu berjongkok dihadapannya. "Nadine nggak apa-apa!?"


Nadine mengangkat wajahnya yang merah dan menatap Sakti dengan mata yang basah. "Sakti, maafin aku..."


...****************...


Tok!


Tok!


Tok!


Seorang gadis pendek mungil dan cantik imut itu mengetuk pintu kost dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang sebuah kantong plastik berisi styrofoam.


Tak lama, pintu pun terbuka, menampakkan sesosok laki-laki memakai hoodie dengan wajah pucatnya yang tersenyum.


"Syarla, aku nggak nyangka kamu akan datang kesini..."


"Kamu ngomong apa David? Aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan aku."


David meraih tangan kanan Syarla lalu meremasnya.


"Kamu baik sekali, Syarla... Bahkan disaat aku sudah jahat sama kamu..."


"Karena aku cinta kamu, David..." Syarla balas meremas jemari David. "Memangnya kamu nggak cinta sama aku?"


"Aku sayang kamu, Syarla..."


Sayang?


Bukan cinta?


"Ayo masuk, Syarla..."


Syarla pun memasuki kost David, lalu duduk di karpet yang digelar di ruang tamu. Di kost sempit dengan dua kamar, satu dapur kecil dan satu kamar mandi ini, David menyewa bersama temannya.


"Ilham mana?" tanya Syarla, tak melihat keberadaan teman satu atap David.

__ADS_1


"Ke rumah ceweknya." jawab David, lalu duduk di sebelah Syarla.


"Jahat banget! Teman lagi sakit, kok ditinggal!?"


"Nggak apa-apa, kan ada kamu."


David menyandarkan kepalanya di bahu Syarla. Syarla langsung menyentuh dahi David.


"Kamu panas banget!" ucap Syarla. "Udah minum obat?"


"Belum..."


"Tuh kan, kebiasaan! Untung aku bawa obat dari rumah! Kamu udah makan?"


"Nggam enak makan, Syar..."


"Ya ampun, David! Kamu harus makan! Biar cepat sembuh! Nih, aku bawa bubur Mang Udin buat kamu."


David mengangkat kepalanya dari bahu Syarla. Syarla langsung membuka styrofoam yang ia bawa.


"Aku suapin ya, Dav?" ucap Syarla, lalu menyendokkan bubur dan menyodorkannya pada mulut David. "Aaaa..."


David menggeleng. "Mual, Syar..."


"Nggak bakal mual, kok! Bubur Mang Udin enak banget! Nadine aja kalau lagi sakit aku bawain bubur Mang Udin langsung sembuh!"


David tetap menggeleng.


"David, ayo...! Beberapa suap aja... Kalau kamu nggak mau buka mulut, aku pulang nih!"


Ancaman Syarla sontak membuat David panik. Ia pun membuka mulutnya yang langsung disuapi bubur oleh Syarla.


"Nah, gitu dong! Pinter!" puji Syarla.


Setelah menyuapi bubur sampai habis dengan paksaan, Syarla langsung memberi David obat lalu membaringkannya di ranjang.


Padahal sebulan yang lalu, David berkata tidak mau mengenal Syarla lagi dan menyuruh Syarla pergi dari hidupnya.


Tapi pagi tadi, bagai mimpi di siang bolong, David kembali menghubunginya dan berkata bahwa ia sudah dua hari sakit.


David akan selalu membutuhkan Syarla. Itu kebenarannya.


Dan Syarla yang bodoh dalam mencintai David. Itu juga sesuatu yang tak dapat diganggu gugat.


Andai Syarla berkata pada Alea bahwa ia menemui David lagi, mungkin ia sudah di tamparnya. Karena itu ia hanya menceritakannya kepada Nadine.


Walaupun mereka bereempat adalah sahabat, namun bagi Syarla tidak ada yang lebih mengerti perasaannya dibanding Nadine.


Mungkin Chika pendengar yang baik, namun paling tidak bisa merahasiakannya dari Alea, orang yang selalu berpikir realistis dan lebih menggunakan otak ketimbang hati.


Tiba-tiba, ponsel Syarla bergetar, tanda panggilan masuk.


"Aku angkat telepon dulu, ya, Dav?" izin Syarla.


"Dari siapa?" tanya David.


"Nadine." Syarla pun keluar kamar lalu mengangkat telepon Nadine. "Halo, Dine?"


"Syar... Lo masih di kost David?"


"Iya, emang kenapa?"


"Jemput gue, please... Lo **ng**gak bakal nginep disana, kan?"


"Nggak, kok. Ini juga gue baru mau pulang. Lo di kost nya Sakti?"


"Nggak, gue di Taman Azalea."

__ADS_1


"Okay, tunggu bentar, ya?"


Syarla pun mematikan sambungan teleponnya. Ia begitu terkejut karena tiba-tiba kedua tangan David sudah melingkar di perutnya.


"Syar..." bisik David dengan bergetar.


"Kenapa, Dav...?" Syarla balik berbisik.


"Kamu mau pulang?"


"Iya, Nadine udah minta dijemput..."


"Aku masih kangen kamu, Syar..."


Syarla membalikkan tubuhnya sehingga kini berhadapan dengan David dengan jarak wajah yang sangat dekat.


"Aku juga masih kangen kamu, Dav... Tapi Nadine kasihan. Nanti aku bakal kesini lagi, kok!" ucap Syarla seraya memegang kedua belah pipi David yang masih terasa hangat.


"Janji ya, Syar..."


"Janji!"


David pun memajukan perlahan wajahnya. Sedangkan Syarla memejamkan matanya, bersiap menyambut ciuman yang amat dirindukannya.


...****************...


Memasuki rumah megah bak istana nya, Nadine sudah berpakaian kasual seperti tadi saat berangkat, dan memakai tas ransel yang berisi pakaiannya tadi dan heels nya. Mang Asep dan Bi Irni sudah terlelap dan lampu sudah dimatikan. Ia pun menaiki satu demi satu anak tangga putar desain marmer yang membawanya ke lantai atas.


Begitu sampai di lantai atas, Nadine menuju pintu kamarnya yang tertutup rapat lalu memasuki kamarnya yang bernuansa biru muda. Seketika tubuhnya melosoh di pintu yang sudah ia tutup kembali.


Air mata kembali mengalir di pipinya.


Mengingat setiap kata demi kata yang terlontar dari mulut Sakti.


Mengingat malunya ia saat kakinya terkilir dan terjatuh.


Mengingat Sakti yang memapahnya menuju bangku taman, pergi sebentar untuk membeli plester dan sandal jepit untuknya.


Ketika tangan Sakti mencopot heels nya dengan hati-hati, menempelkan plester di kakinya yang lecet, dan memakaikan sandal jepit di kakinya.


"Lain kali jangan lari-lari kalau lagi pakai heels, Nadine..." tegur Sakti.


"Terus kenapa kamu nggak berhenti?" tanya Nadine.


"Buat apa Sakti berhenti? Buat Nadine malu lagi? Atau Nadine maki-maki lagi?"


Air mata Nadine kembali bercucuran. "Sakti, please... Aku minta maaf... Tadi aku benar-benar malu di depan Dikta dan banyak orang..."


Untuk pertama kalinya Sakti melihat Nadine menangis. Tangannya terulur menghapus air mata Nadine yang semakin deras mengalir. "Jangan nangis, Nadine... Sakti minta maaf... Sakti udah buat Nadine malu..."


"Aku juga minta maaf, Sakti... Mungkin kamu benar, sushi itu **ng**gak enak... Kenapa aku nggak percaya sama kamu...? Kenapa tadi aku nggak coba sushi kamu...? Mungkin makanan itu emang dibuat nggak enak untuk kamu..."


"Udah, jangan nangis... Sakti nggak mau lihat Nadine nangis..."


Sakti meraih Nadine ke dalam pelukannya yang hangat. Nadine balas memeluk Sakti. Rasanya nyaman, hangat dan damai.


Seolah-olah memang itulah tempat untuk mereka.


Rasanya seperti sudah menemukan rumah.


Perlahan Sakti melepaskan pelukannya, dan mereka saling tatap di taman yang sepi dan minim cahaya.


"*Sakti ngg*ak ngerti sama Nadine... Sakti nggak tahu apa yang ada dalam pikiran Nadine... Sakti cinta sama Nadine! Mungkin Sakti nggak tahu diri! Nggak mungkin Nadine bisa balas perasaan Sakti! Nadine cuman butuh Sakti, kan? Bukan cinta?"


Nadine tertegun.


Apa ia tak salah dengar?

__ADS_1


Sakti mencintainya?


__ADS_2